
"Aku antar kamu ke tempat praktek ya," Uwais memberi usul. Malam itu, mereka sedang duduk di sudut resto sambil menikmati secangkir coklat hangat.
"Kakak serius?"
"Iya, aku serius, aku juga ingin menjemput kamu,"
"Wah, makasih, Kak, aku seneng banget," kata Arrida sambil menangkup kedua pipinya sendiri seperti anak kecil, tampak imut.
"Kakak yakin bisa naik motor? Nggak akan kesasar gitu?" tanya Arrida ragu-ragu.
"Besok, kamu tunjukin aja jalannya, aku pasti bisa kembali, dan bisa menjemput kamu sorenya,"
"Okke!" Arrida bahagia.
πΌ
"Makasih ya, Kak! Hati-hati pulangnya!" kata Arrida sambil menyerahkan helm pada Uwais.
Lelaki itu mengangguk sambil menerima helmnya dan menyimpannya di dalam jok.
"Kakak beneran ga nyasar?"
"Kamu gak percaya?"
"Takut aja, emang kakak masih hafal jalan yang tadi?"
"Hei, aku hanya kehilangan ingatan, bukan bodoh, jalan yang tadi aku tau,"
"Iya, iya, kakak tampan, hati-hati ya!" kata Arrida kemudian menyalami Uwais dan mengecup punggung tangannya.
"Assalamu'alaikum!" ucapnya.
"Wa'alaikumsalam!" balasnya kemudian ia mencium kening Arrida, sehingga membuat gadis berjilbab itu tersipu. Ah, senang rasanya.
"Aku pergi ya, Kak!" pamit Arrida dan mendapatkan anggukan dari Uwais. Namun baru juga beberapa langkah, dia membalikkan tubuhnya. Setengah berlari dia menghampiri Uwais yang sudah berada di atas motornya. Kemudian di mengecup singkat pipi Uwais, dan sesegera mungkin berlalu dari hadapan Uwais tanpa ingin memperhatikan bagaimana reaksinya setelah dikecup pipi olehnya.
Sementara Uwais hanya tersenyum sambil memegang bekas kecupan di pipinya. Bahagia.
πΌ
Arrida menunggu sudah hampir satu jam. Tapi, hingga menjelang Maghrib Uwais belum juga datang menjemput, dihubungi tidak ada jawaban. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang menggunakan taksi.
Tiba di resto, ia tidak menemukan Uwais, ia pun segera mencari Uwais di rumah. Namun sama saja, sosok yang dicari tidak ada, malah ponsel Uwais tertinggal di atas nakas dalam kamar.
"Gimana, Da?" tanya Arman ketika Arrida kembali ke resto.
"Gak ada, Bang!"
"Terus Uwais kemana? Coba kamu hubungi!" perintah Fika.
"Hapenya ada di kamar!"
"Oh ya Alloh, kemana tu anak?" gumam Fika.
"Biar abang yang nyari!" kata Arman.
πΌ
"Ya Alloh, kakak!" teriak Arrida menyambut kedatangan Uwais bersama dua orang polisi ke resto sekitar pukul delapan malam.
"Maaf, Dek, ini mas nya?" tanya polisi pertama.
"Iya, Pak, ini suami saya!"
"Dia ke kantor kami, minta ditunjukkan alamat resto ini! Dia kehilangan arah!" jelas polisi pertama.
__ADS_1
"Ya Alloh, Kakak!" kata Arrida cemas. Ia segera menggandeng lengan Uwais. Menatapnya, memastikan keadaan Uwais baik-baik saja.
"Dia menjelaskan kalau dia hilang ingatan, betul kah?" tanya polisi kedua kali ini.
"Iya, Pak, karena tsunami!" jawab Arrida.
"Oh, korban tsunami?" tanya polisi kedua tampak terkejut.
"Iya, Pak," jawab Arrida singkat.
"Semoga cepat pulih ingatannya ya!" kata polisi pertama.
"Iya, makasih ya bapak-bapak, silahkan duduk dulu, kami sediakan kopi panas!" kata Fika kali ini.
"Oh gak usah, terima kasih, kami harus segera kembali," tolak polisi kedua.
"Maaf telah merepotkan bapak-bapak!" kata Fika lagi.
"Oh, tidak papa, ini adalah bagian dari tanggung jawab kami!" ucap polisi pertama.
"Baiklah, kami permisi dulu, dan ini kunci motornya!" kata polisi kedua sambil menyerahkan kunci motor yang dipakai Uwais pada Fika.
πΌ
"Kakak gak papa?" tanya Arrida cemas. Kini mereka berada di rumah, setelah sebelumnya menunggu kedatangan Arman kembali ke resto.
"Ini, minumlah air hangat ini!" perintah Arrida sambil menyerahkan segelas air putih hangat.
"Aku gak papa, maaf!"
"Udah, Kak, aku gak papa!"
"Kamu pasti nunggu lama ya?"
Arrida mengangguk.
"Gak papa, Kakak, aku justru mencemaskan kakak!"
"Aku gak papa,"
"Ceritain apa yang terjadi?"
"Ban motornya bocor, aku mencari tambal ban, udah jalan jauh ada yang nunjukin, sampai sana ternyata tutup, aku cari lagi, udah jauh ada yang nunjukin lagi, ternyata udah sampai sana bapaknya lagi sakit, lalu aku cari lagi, akhirnya dapet untungnya bapaknya mau, padahal udah Maghrib, aku lupa ga bawa hape, jadi gak bisa ngehubungin kamu!" cerita Uwais yang menurut Arrida seperti anak kecil yang sedang mengeluh, dan itu membuat Arrida merasa iba ingin memanjakannya.
"Ya Alloh, pasti kakak capek banget ya," ucapnya. Ia berdiri kemudian mendekati tempat duduk dan mengusap-usap rambut Uwais ke belakang.
"Trus, kenapa sampai kakak sama pak polisi?"
"Setelah bannya berhasil ditambal, aku mencoba ke jalan yang seharusnya, tapi aku lupa lagi rutenya malah nyasar! Lalu ada kantor polisi, ya aku minta tolong aja sama pak polisi!"
Arrida paham. Hatinya tergelitik sendiri mengingat kata-kata Uwais 'Aku hanya hilang ingatan bukan bodoh, dan buktinya dia bisa tau jika tidak tau jalan pulang lapor polisi'. Arrida pun tersenyum merasa lucu.
"Emh, kasihan kakak, sini, sayang dulu!" Arrida mendekap kepala Uwais, hingga kepala Uwais menyentuh perut Arrida. Lalu ia mengecup pucuk kepala Uwais.
Uwais terdiam. Ia merasa sangat nyaman diperlakukan seperti itu. Ia pun mengangkat tangannya dan memeluk Arrida.
"Besok gak usah nganter, ya," saran Arrida.
"Tidak, aku akan anter kamu! Tadi aku lupa karena sudah maghrib muter-muter nyari tempat tambal ban,"
Arrida tersenyum.
"Ya sudah, tapi kakak jangan lupa bawa hapenya,"
Uwais mengangguk bahagia, seperti anak kecil yang diijinkan bermain hujan.
__ADS_1
"Kaki Kakak capek ya, udah nuntun motor muter-muter nyari tempat tambal ban?"
Uwais menggeleng.
"Sini, biar aku pijat,"
Uwais menggeleng lagi. Dia benar-benar merasa geli jika kakinya harus dipijat. Tapi Arrida tidak peduli, ia malah sengaja meraba betis Uwais, dan itu membuat Uwais terpingkal. Akhirnya mereka pun bercanda dan tertawa hangat.
πΌ
Seperti halnya kemarin pagi, setelah Arrida mencium punggung tangan Uwais, lelakinya itu mencium kening Arrida. Namun kali ini Arrida tidak memberikan kecupan di pipi Uwais. Dan hal itu membuat Uwais merasa kecewa.
Sore harinya, Arrida menunggu kembali Uwais, namun sudah setengah jam lelakinya itu belum juga datang.
"Halo, Kak, dimana?" tanya Arrida penuh kecemasan. Pasalnya itu sudah panggilan yang ke dua puluh empat dan baru tersambung.
"Eh, maaf, aku ketiduran, tadi kepalaku sakit!" ujar Uwais bingung dan gugup.
"Kamu tunggu ya, aku siap-siap dulu!" lanjutnya.
"Gak usah, Kak! Istirahat aja! Aku akan pake taksi, aku akan segera pulang, ya, tunggu aku!" kata Arrida masih dengan rasa cemasnya.
"Tapi, Ar, aku ingin jemput kamu!"
"Udah, Kak, kepala kakak lagi sakit, istirahat aja! jangan kemana-mana apalagi naik motor!" kata Arrida memerintah. "Ya, udah, aku pulang ya, tunggu disitu, Assalamu'alaikum! " ucapnya kemudian mengakhiri panggilan.
Uwais terdiam. Lagi, ia merasa kecewa atas larangan yang Arrida berikan. Ia juga merasa penuh penyesalan karena telah mengecewakan Arrida untuk yang kedua kalinya.
πΌ
"Kakak, nggak papa, kan? Apa yang kakak rasakan? Kakak butuh apa?" tanya Arrida. Wanita itu benar-benar cemas dengan keadaan suaminya itu.
"Maaf, lagi lagi aku nggak bisa jemput kamu!" Bukannya menjawab pertanyaan Arrida, Uwais justru malah meminta maaf.
"Nggak papa kakak, aku malah sangat menghawatirkan keadaan kakak! Lagian aku kan sudah bilang, Kakak nggak usah antar jemput aku, aku nggak papa, aku juga bisa naik motor sendiri," jelas Arrida.
Mendengar penjelasan istrinya itu, Uwais justru kecewa, dia merasa tidak berguna, dan tidak dibutuhkan.
"Tapi aku ingin nganter kamu,"
"Ya sudah, besok anter lagi gak papa! Tapi kalo lelah atau sakit, jangan dipaksakan!"
Uwais mengangguk.
πΌ
Esoknya, Arrida masih diantar ke tempat praktek lapangannya, namun kali ini, tanpa sepengetahuan Arrida, Uwais memutuskan untuk tidak pulang, ia setia menunggu Arrida di mushola dekat tempat prakteknya.
"Kak, gak usah jemput aku, aku masih ada yang diurus, aku mau menyelesaikan laporan yang tertunda," Arrida mengirim pesan pada Uwais.
....πΈπΈπΈπΈπΈ...
4 Ramadhan 1434 H/ 6 April 2022/ Rabu.
...Makasih kakak readers...
...Makasih udah setia mampir n baca kisah Arrida dan Uwais sampai sejauh ini...
...Makasih atas dukungannya, like, vote, comment dan favoritnya...
...Sehat selalu ya kakak readers...
...Hatiku Padamu Kak readers pake banget......
...Semoga kak readers tetap suka dan terhibur yaaa...
__ADS_1
...π₯°π₯°π₯°ππ»ππ»ππ»πππ...