
Api sudah berkobar hampir melahap setengahnya gedung bagian utara asrama, para penghuninya berlarian keluar menyelamatkan diri, beberapa unit mobil pemadam kebakaran dan mobil polisi berdatangan.
Uwais dan Andika datang ke lokasi, mereka juga ikut panik. Terlebih Uwais, dia mencari seseorang yang sangat dicintainya di antara orang-orang yang lalu lalang.
"Arrida... kamu dimana?" gumam Uwais, ia memutar tubuhnya, mencari ke sekeliling. Kemudian bergerak menuju gedung yang menjadi sumber kebakaran. Terlihat para petugas pemadam kebakaran sedang sibuk memadamkan api, dan mengevakuasi penghuni asrama dibantu dengan para petugas kepolisian. Ingin rasanya Uwais menerobos masuk ke dalam gedung, namun dihalau oleh para petugas, akhirnya, ia hanya bisa menunggu dan mencari.
Setelah kurang lebih lima belas menit berlalu, Uwais pun melihat gadis kesayangannya keluar dari gedung dengan keadaan yang lemas dan saling merangkul dengan kedua temannya. Ketiganya terbatuk, dan mengibas-ngibaskan tangannya menghalau asap.
Uwais segera berlari mendekat, ketika ketiganya sudah benar-benar di luar.
"Ar... " panggilnya penuh kecemasan.
"Kakaak.... "balas Arrida saat pandangannya sudah benar-benar jelas melihat. Gadis itu tersenyum dengan perasaan lega. Ada rasa haru dan bahagia bercampur menjadi satu.
"Aku tau kakak pasti dateng... " ucap Arrida.
Uwais segera mendekapnya.
"Syukurlah kamu gak papa, Ar...."
"Aku gak papa kak," kata Arrida sambil melepas dekapannya.
Keduanya saling menatap dan tersenyum, merasa lega dan bahagia. Namun tiba-tiba saja tubuh Arrida ambruk.
"Ar, " Uwais segera menahan tubuh Arrida agar tidak sampai jatuh ke tanah, lalu menggendongnya dan mencari pertolongan.
πΌ
Arrida kini berada di rumah sakit, ia mendapat perawatan bersama korban kebakaran lainnya. Tidak ada korban jiwa, hanya saja banyak yang mendapatkan luka, baik luka berat maupun ringan.
Dari semalam Uwais tidak beranjak dari sisi Arrida, ia setia menemani Arrida hingga gadis itu sadarkan diri.
"Kamu pingin apa, hm?"tanya Uwais setelah membeli sarapan.
"Gak pingin apa-apa, Kak. Cuma pengen kakak ada disini aja."
"Iya, aku disini, aku suapin sarapan ya." kata Uwais sambil mengambil piring sarapan yang sudah disediakan rumah sakit.
"Kakak tadi beli apa?" tanya Arrida.
"Cuma nasi uduk, mau?"
"Iyalah, itu aja." kata Arrida menolak makan nasi yang disediakan rumah sakit. Uwais pun menyiapkannya.
"Sini kak, biar aku aja yang makan, gak usah disuapin."
" Bisa?"
Arrida mengangguk, kemudian dia bersandar di kepala tempat tidur dibantu Uwais.
"Ayah bunda mau kesini, jengukin kamu."kata Uwais.
"Kakak udah telfon?"
"Iya, waktu kamu belum sadar, bentar ya, aku hubungi bunda, biar kamu bisa ngobrol."kata Uwais sambil melakukan panggilan.
Arrida mengangguk. Ia menyuapkan nasi ke mulutnya.
"Kak, maaf hape dari kakak tidak aku bawa, barang-barang yang lain juga tidak bisa aku selamatkan."
"Hei ... kenapa kamu malah mikirin itu, kamu selamat aja, aku sudah bersyukur banget, soal hape, kita beli lagi nanti ya."
"Tapi itu hadiah sweet seventeen aku dari kakak."
"Kenapa? Merasa kehilangan?"
"Iya, itu kan hadiah terindah buat aku di usia tujuh belas tahun, kak,"
"Nanti aku kasih hadiah lagi, yang terindah buat kamu,"
"Tapi usia tujuh belas tahunku kan udah lewat, udah gak ada lagi sweet seventeen."
"Nggak papa, nanti setiap tahun kita jadikan momen spesial ya," kata Uwais sambil melihat layar ponselnya. Terhubung.
Akhirnya Arrida pun mengobrol dengan bu Sofia via ponsel Uwais.
"Iya, Bun, rencana Uwais, kalo udah bisa pulang, ntar Arrida mau di resto dulu, dan kalo masih belum boleh pulang, Arrida mau Uwais pindahkan ke kamar rawat, biar lebih nyaman."kata Uwais, kemudian mengakhiri pembicaraan dengan bu Sofia.
"Jadi, kakak mau mindahin aku ke kamar?" tanya Arrida.
"Iya, kita lihat hasil pemeriksaaan dokter hari ini ya, soalnya, kalo harus di rawat bareng-bareng kayak gini bakal gak nyaman."kata Uwais sambil memperhatikan di sekitarnya, yang ternyata banyak pasien di sekitarnya korban kebakaran asrama.
"Mudah-mudahan sih aku udah bisa pulang ya, Kak."
"Aamiin, jadi, bunda kesini ma bang Adnan?"
"Iya, ayah gak bisa ninggalin kerjaan."
Uwais mengangguk.
πΌ
__ADS_1
"Kak, ada orang mau bawa mbak Fika, katanya suaminya, ini resto lagi tegang." kata Lani pada Uwais siang itu, via telepon. Ya, Lani memang tidak menjadi korban kebakaran asrama karena saat kejadian Lani sedang menginap di tempat Arin, sepupunya.
"Ya Alloh, hmmmh!" Uwais menarik nafas panjang.
"Kak Uwais kesini, biar aku ke rumah sakit, sekalian mau nemenin Arrida."
"Ya udah, kamu segera kesini, aku akan pulang!"
"Iya, ini aku mau naik motor biar cepet." kata Lani
"Hmm," kata Uwais mengiyakan, kemudian mengakhiri sambungan teleponnya.
"Ada apa kak?"tanya Arrida.
"Mbak Fika mau dibawa suaminya! Aku harus segera ke resto. Gak papa ya aku tinggal, bentar lagi Lani kesini." jawab Uwais terlihat panik.
"Iya, Kak, mudah-mudahan mbak Fika gak kenapa-kenapa,"
"Aku pergi ya." kata Uwais sambil mengecup kening dan membelai pucuk kepala Arrida.
"Hmm, hati-hati ya, kak."
πΌ
Uwais segera tiba di resto. Suasana memang tampak tenang namun menegangkan. Kelima bodyguard berdiri di belakang seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun yang sedang duduk di salah satu kursi tempat makan resto. Dia hanya terdiam sambil menikmati secangkir cappucino hangat.
"Wais!"ucap Arman, Andika dan Kirno hampir berbarengan saat melihat Uwais baru saja masuk ke resto.
"Bang, mana mbak Fika?"tanya Uwais sangat cemas.
"Dia di kamar, mengunci diri!"jelas Arman.
"Lalu?"tanya Uwais.
"Itu yang namanya Bobby, suami Fika," kata Arman lagi.
"Tadi sempet ada keributan, untung pak Dwi dan pak Gilang dateng bareng bapak-bapak lain, kebetulan mereka emang mau ke balai pertemuan warga." ungkap Kirno. Ia menceritakan jika pak Dwi, ketua RT dan pak Gilang sebagai satpam, juga bapak-bapak lain sempat menengahi keributan di resto.
"Terus kenapa dia masih di sini?" tanya Uwais.
"Nungguin Fika, sampai dia mau keluar."
Uwais segera menghampiri lelaki yang bernama Bobby itu.
"Maaf, permisi, anda Pak Bobby?"
"Iya, saya Bobby!" jawab lelaki itu tegas.
"Oh, halo adik ipar."
"Maaf, tapi saya harap, Pak Bobby tidak lagi mengganggu kakak saya, dia sudah tidak ingin bersama dengan anda."
"Oh, gak bisa seperti itu, kenapa kamu membela kakakmu yang durhaka sama suami, kabur ... Selama empat tahun sembunyi. Apa itu namanya kalau bukan istri yang kurang ajar?"
"Dia hanya ingin melindungi diri sendiri!"
"Melindungi apa? dari suaminya?"
"Ya,"
"Memang saya kenapa? Dia saja yang tidak becus jadi seorang istri."
"Kalau gitu, lepaskan dia, untuk apa anda mempertahankan seorang istri yang durhaka?"
"Cinta! Saya sangat mencintai kakak kamu."
"Tapi sayang, cinta yang anda berikan tidak bisa diterima oleh kakak saya."
"Pokoknya saya akan membawa dia pulang bersamaku."
"Dan saya tidak akan mengijinkannya."
"Gak usah mempersulit, selama empat tahun ini dia menghilang, syukur saya masih sabar dan mau menerimanya kembali."
"Terima kasih karena anda mau bersabar... tapi, saya tetap tidak akan menyerahkan mbak Fika pada anda."
"Sebentar!" perintah Bobby pada Uwais, ia kemudian menerima panggilan dari seseorang melalui ponselnya.
"Iya, Om, saya di...." Bobby menghentikan ucapannya sesaat, ia memperhatikan di sekeliling resto. "Oh, saya di resto Cinta Pluto." kata Bobby setelah melihat tulisan Resto Cinta Pluto di dinding.
"Baik, Om, saya tunggu!" kata Bobby lagi kemudian mengakhiri panggilannya.
"Pergilah, gak perlu kamu usir saya, karena saya tidak akan pergi dari sini." perintah Bobby pada Uwais.
Uwais sendiri tidak ingin berdebat panjang dengan Bobby, ia pun memilih untuk meninggalkan Bobby, dan menuju kamar Fika.
πΌ
"Dasar! Datang, jauh-jauh, bukannya bertemu dengan Om nya dulu, malah nongkrong disini!" kata seorang lelaki paruh baya yang baru saja masuk resto kemudian menghampiri Bobby.
"Maaf Om, tapi Om kan tau, aku ke sini karena akan menjemput istriku."
__ADS_1
"Oh, istrimu yang durhaka itu?" tanya lelaki paruh baya itu.
"Nah itu om tau!"
"Mana dia?"
"Masih sembunyi, biarkan aja om, aku akan menunggunya, mungkin dia shock ngelihat aku datang!"
"Lho, dia tinggal disini?"
"Iya! Adiknya pemilik resto ini!"jawab Bobby.
πΌ
"Pak Radith?" Uwais terkejut melihat seorang lelaki paruh baya duduk di hadapan Bobby. Dia baru saja keluar dari kamar Fika.
"Uwais?" tanya lelaki paruh baya yang ternyata Pak Radith, ayahnya Bryan.
"Lho? Om mengenal adik ipar saya?"tanya Bobby.
"Dia?" pak Radith menghentikan ucapannya. "Jangan bilang kalau dia adiknya istri kamu!"
"Memang seperti itu!"tegas Bobby.
"Om pamannya pak Bobby?"tanya Uwais dengan terkejut. Akhirnya ia paham, bahwa yang menunjukkan keberadaan Fika adalah Bryan.
"Iya, benar!" jawab pak Radith singkat. "Jangan bilang, keluarga om bermasalah lagi denganmu ya? Kali ini ponakan Om dengan kakakmu, iya?"
Uwais mengangguk.
"Ya Tuhan, ceritakan kenapa sampai kakakmu lari dari suaminya! Karena saya hanya tau cerita versi Bobby!"
Uwais pun bercerita.
"Okke, ayo kita pulang Bobby!" perintah pak Radith pada Bobby sesaat setelah mendengar cerita Uwais.
"Tidak Om, saya tidak akan pergi tanpa Fika!"
"Dia sudah tidak ingin berumahtangga lagi denganmu!"kata pak Radith pada Bobby "Cepat! Bawa dia!" perintah pak Radith pada kelima bodyguardnya
Mau tak mau Bobby menurut. "Aku akan kembali menjemputnya!" kata Bobby pada Uwais sebelum dia benar-benar meninggalkan resto.
πΌ
"Halo, kak Uwais, Arrida pindah ke kamar apa?" tanya Lani via telepon.
"Dia belum pindah kamar, dia masih sama dengan yang lainnya dirawat, memangnya gimana?"
"Tapi dia gak ada, kata temen yang disebelahnya, katanya, tadi Arrida dibawa sama seorang perawat bilangnya mau dipindah ke kamar rawat."
"Astaghfirullahaladziim... Ya Alloh... Apa lagi ini? Laa haula wala Quwwata illa billahil 'aliyyil 'adziim... "
Uwais memejamkan matanya sambil menjambak rambutnya sendiri, air matanya keluar begitu saja tanpa permisi.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Maaf ya kak readers Uwais nya di uji dulu... π€
Makasih kakak readers
Makasih udah setia mampir n baca kisah Arrida dan Uwais sampai sejauh ini
Makasih atas dukungannya, like, favorit n kommentnya
Sehat selalu ya kakak readers
Hatiku Padamu Kak readers pake banget...
Semoga kak readers tetap suka dan terhibur yaaa
π₯°π₯°π₯°ππ»ππ»ππ»πππ
ππππππππππππππππππππ
Kak reader jangan lupa, mampir juga yuk di novel sahabat literasiku... pokoknya ceritanya keren pake banget.... πππ
Judul : Pesona Tuan De Luca
Karya: Komalasari
Ini Blurb nya:
Matteo de Luca adalah putra mahkota dari Klan de Luca, yang merupakan organisasi mafia terselubung dan sangat disegani. Sang ayah begitu menyayangi dan melindunginya. Ia seakan memiliki rasa kurang percaya terhadap Matteo, sehingga membuatnya merasa terkekang. Atas dasar itulah, Matteo mencoba melepaskan diri untuk membuktikan bahwasannya ia mampu.
Matteo melakukan transaksi ilegal dengan seorang sahabat lama yang ternyata mengkhianatinya. Dalam kondisi terluka, Matteo melarikan diri ke kota Venice. Di sana ia bertemu dengan sosok Mia yang kemudian merawat luka dan memberinya tumpangan untuk menginap di dalam kedai milik ayahnya.
Benih-benih cinta mulai tumbuh di antara mereka. Namun, Matteo memilih untuk pergi dan menolak Mia dengan kasar, sehingga membuat gadis itu pergi dan mencoba membuka hatinya untuk pria lain. Akan tetapi, ketika Mia memutuskan untuk menikah, Matteo menjadi kalut dan datang kembali serta meminta Mia membatalkan pernikahannya. Terjadilah penyerangan pada acara pesta pernikahan Mia, yang menewaskan ayah serta suami yang baru ia nikahi.
...**Happy reading yaa πππ...
__ADS_1
ππππππππππππππππππππ**