Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
91. Aku gak akan lupa, Ar


__ADS_3

"Alhamdulillah ... !" Arrida tersenyum sambil mengusap kertas yang dipegangnya ke wajah. Ia keluar dari ruang TU fakultas/bagian akademik. Ia segera berlari hendak keluar kampus. Namun sayang, tiba-tiba ada yang menghalanginya. Seorang cowok berwajah oriental, memiliki postur tubuh ideal, dan bermata sedikit sipit.


Arrida menarik nafas panjangnya, ketika melihat cowok yang ada dihadapannya itu, tersenyum dengan sangat manisnya. Dia yang selama satu semester ini selalu saja mengganggunya. Bryan.


Ya, hampir setiap waktu, jika Arrida ke kantin, sudah dipastikan akan ada Bryan yang ikut duduk di dekatnya. Arrida tak bisa mencegahnya apalagi menolaknya. Jadi dia lebih memilih membiarkannya dan menjaga hatinya.


Bahkan terakhir kali Bryan mengganggu Arrida, adalah sekitar satu minggu yang lalu yaitu ketika dia mengungkapkan perasaannya pada gadis bermata indah tersebut.


**flashback on**


Ketika itu, Arrida baru saja keluar dari perpustakaan, dan Bryan menghalangi langkahnya. Perasaan kesal selalu saja hadir jika sudah bertemu dengan Bryan. Namun, Arrida lebih memilih berdamai dengan hatinya, daripada harus mencari masalah dengan orang yang memang sudah bermasalah. Pikirnya.


"Aku perlu bicara sama kamu, Da!"


"Eh, gak salah denger, Mas ... biasanya gue elo kalo ngomong,"


"Gak papa biar lebih formal, karna yang mau aku omongin kali ini sangat spesial,"


"Apa?"


"Duduk disana, yuk!" kata Bryan sambil menunjuk bangku taman fakultas.


"Disini aja, Mas." tolak Arrida


"Kalo disini, ya ... gak spesial namanya."


Akhirnya, Arrida pun menurut dengan sangat terpaksa. Dia mengikuti langkah Bryan menuju bangku taman yang dimaksud.


"Aku cinta kamu, Da" kata Bryan dengan sangat percaya diri. Keduanya kini sudah duduk di bangku yang ditunjuk oleh Bryan tadi.


"Hah? Arrida bengong.


"Aku sungguh-sungguh, Da .. Aku cinta kamu, kamu mau gak jadi pacar aku?"


"Apa, Mas?" kata Arrida bingung.


"Gue nunggu jawaban lo, Ida ... apa perlu gue beri lo waktu buat berpikir?" kata Bryan


"Oh, gak perlu, Mas! Mmh, tapi maaf banget, aku gak bisa terima Mas Bryan,"


"Kenapa? Lo dilarang pacaran sama kakak lo itu?" tanya Bryan, dengan menyebutkan kata 'Kakak' yang dimaksud adalah Uwais.


Ya, akhirnya memang hanya orang-orang terdekat saja yang mengetahui hubungan sesungguhnya antara Arrida dan Uwais. Sementara yang lain, mereka hanya mengetahui jika Arrida dan Uwais adalah kakak beradik.


"Nggak, Mas, gak ada hubungannya dengan siapa atau apa, tapi ini menyangkut hati aku ... Aku gak bisa terima, Mas, karena aku gak punya perasaan apapun kepada, Mas! Maaf!"


"Plis, Da ...!" mohon Bryan


"Maaf, Mas, banyak cewek yang lebih baik dari aku buat Mas! Bukannya Mas juga punya banyak cewek ya?" kata Arrida cuek. Ia tahu jika Bryan adalah seorang playboy.


"Jangan ungkit itu, gue udah putusin semuanya ... Itu demi elo, Da ...Dan yang gue inginkan sekarang adalah elo, Da! Cuma elo!"


"Tapi aku bener-bener gak bisa, Mas, maaf! Maaf banget!"


"Kenapa lo nolak gue, Da? Gue janji akan membuat lo bahagia"


Arrida tak percaya dengan ucapan Bryan. Menurutnya, 'playboy' tetaplah playboy. Mulutnya akan manis jika berkata-kata , dan rayuannya bisa bikin wanita merasa tersanjung dan sangat diistimewakan, walaupun penuh kepalsuan.


"Maaf, tapi hati gak dipaksakan" kata Arrida.


"Lo kan belum punya pacar!"

__ADS_1


"Tapi ada hati yang harus aku jaga, Mas."


"Hati siapa?"


"Hati aku lah." jawab Arrida tegas.


"Untuk apa lo jaga hati lo? dan untuk siapa?"


"Untuk sebuah janji akan selalu menjaga hati, dan untuk seseorang yang juga selalu menjaga hatinya untukku."


"Jadi lo udah punya pacar?" tanya Bryan.


Arrida hanya tersenyum. Sadar, bahwa hubungannya dengan Uwais hanyalah "menjaga hati"


"Siapa dia? gue gak pernah lihat lo bareng cowok? kecuali kakak lo itu? Atau ...." Bryan menjeda kalimatnya "Sebenarnya Uwais bukan kakak lo?"


"Rasanya gak perlu aku jawab ... terserah apa prasangka mas pada kami .... Maaf, aku harus pergi" kata Arrida sambil meninggalkan Bryan dengan rasa penasaran di hatinya.


"Sial!! Lo salah, Da, udah nolak gue! Gue pastiin lo bakal jadi milik gue!" ancam Bryan sambil menatap kepergian Arrida.


**flashback off**


"Ada apa, Mas?" tanya Arrida bermaksud agar ia segera pergi dari hadapan Bryan.


"Lo gak kangen gue? Seminggu kita gak ketemu... "


Arrida menggeleng.


"Lo gak kangen gue?" tanyanya sekali lagi.


"Nggak!"


"Maaf, aku nggak bisa, seberapa kuatnya mas berusaha aku tetep gak bisa terima!"


"Tolong hargai perasaan gue!"


"Hah ... coba mas juga belajar untuk menghargai perasaan aku, jangan memaksakan kehendak, apa bisa?" tanya Arrida membalikkan


"Oh iya, aku lupa, kalau mas adalah seorang playboy ... Apa iya, bisa menghargai wanitanya? apa bisa untuk menjaga perasaan wanita-wanitanya?" tanya Arida dengan nada sedikit merendahkan Bryan.


"Lo gak percaya kalau gue udah berubah? Semua karena lo, demi lo!"


Arrida menggeleng cepat.


"Maaf, Mas ... aku buru-buru, aku harus pergi!" tanpa menunggu Bryan menjawab, Arrida segera melangkah pergi meninggalkannya.


"Sial!!" umpat Bryan, ketika Arrida menghilang dari pandangannya.


🌼


Resto begitu ramai ketika Arrida tiba di situ. Ia masih memegang kertas yang didapatkannya tadi dari TU fakultas. Ia ingin menunjukkannya pada cowok tampan pujaannya. Ia memasang wajah gembiranya dengan sangat cantik, walaupun sebelumnya ia sempat kesal karena bertemu dengan Bryan.


Uwais tersenyum melihat kedatangan Arrida, ia sedang membawa nampan melayani pelanggannya. Melihat kesibukan yang ada di resto, membuat Arida mengurungkan untuk menunjukkan kertas yang dipegangnya pada cowok pujaannya itu. Ia memilih memasukkan kertas tersebut ke dalam tasnya. Kemudian, menyimpan tas di tempat biasanya. Selanjutnya dia ikut bergabung dengan yang lain melayani pembeli.


Selama satu semester ini, Arrida memang ikut membantu di resto jika tidak ada jadwal kuliah.


"Maaf, aku gak jemput kamu" bisik Uwais pada Arrida. Ia menyempatkan diri mendekati gadis itu yang juga sedang melayani pembeli.


Arrida tersenyum dan mengangguk. Ia sangat paham, jika akhir pekan resto memang begitu ramai. Terkadang Uwais memang kesulitan untuk bisa pergi dari resto.


Sekitar pukul dua siang, Uwais mencari sosok gadis kesayangannya itu. Namun tak ada, suasana resto cukup sepi untuk saat ini.

__ADS_1


"Cari Arrida, Dek?"tanya Fika.


"Iya mbak, tau dia kemana?"


"Coba cari ke tempat sholat."


Uwais mengangguk, ia mengerti ada kemungkinan Arrida sedang sholat Dzuhur. Ternyata benar, Arrida baru saja keluar dari tempat sholat.


"Lho, Kak, bukannya tadi kakak udah sholat? Kenapa kesini?"


"Cari kamu!"


"Oh!" Arrida tersenyum. "Ada apa?" tanyanya kemudian.


"Bukannya tadi kamu mau nunjukin sesuatu?"


"Hah, iya bener," Arrida bergegas mengambil tasnya, lalu mengambil kertas yang ingin ditunjukkannya pada Uwais.


"Nih," kata Arrida sambil menyerahkan kertas tersebut.


"Wah, pintarnya, IP (Indeks Prestasi) kamu bisa 3,79!" kata Uwais tersenyum menerima kertas tersebut. Ia melihat nilai-nilai mata kuliah Arrida selama satu semester ini pada kertas tadi yang ternyata Kartu Hasil Studinya.


"Banyak 'A' nya ini ... Bagus!" Uwais mengusap lembut pucuk kepala Arrida.


"IPS (Indeks Prestasi Semester) kakak berapa?"


"Lebih tinggi punyamu, Ar, semester ini, IP-ku cuma 3,45"


"Berarti?" tanya Arrida, seperti menagih janji Uwais padanya.


"Iya, besok kita pulang ya, kita beli tiket abis ini!"


"Eh, bukan yang itu ... "


"Trus apa? yang mana?" Uwais sengaja menggoda Arrida. Ia berpura-pura melupakan sesuatu yang dimaksud oleh Arrida.


"Ah udah lah, mungkin kakak lupa ... Lupakan ajalah, gak penting." Arrida cemberut. Arrida akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Uwais. Namun, tangan Uwais lebih dulu mencekal lengan Arrida, sehingga membuat gadis itu menghentikan langkahnya, dan memandangnya. Kini keduanya kembali saling berhadapan.


"Selamat yaaa, gadis kecilku... terima kasih sudah belajar dengan baik." kata Uwais sambil mencium lembut punggung tangan gadis kesayangannya itu.


Arrida tersenyum bahagia, ternyata Uwais mengingat janjinya. Desiran indah itu begitu terasa di hati mereka. Jantung keduanya berdegup hebat, ada yang bergetar unik dan menggelitik ketika bibir Uwais menyentuh lembut punggung tangan Arrida.


Ya, ketika awal perkuliahan, Arrida dan Uwais sempat membuat kesepakatan, mereka bersaing nilai, siapa yang memiliki IP lebih rendah, maka dia harus mencium tangan yang memiliki IP lebih tinggi.


"Aku gak akan lupa, Ar ... apapun itu tentangmu" ucap Uwais sambil tersenyum manis.


...🌸🌸🌸🌸🌸...


...Makasih kakak readers...


...Makasih udah setia mampir n baca kisah Arrida dan Uwais sampai sejauh ini...


...Makasih atas dukungannya, like, favorit n kommentnya...


...Sehat selalu ya kakak readers...


...Hatiku Padamu Kak readers pake banget......


...Semoga kak readers tetap suka dan terhibur yaaa...


...πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ˜πŸ˜πŸ˜...

__ADS_1


__ADS_2