
Kereta tiba di tujuan sekitar pukul setengah lima pagi. Saat ini, Arrida sedang menunggu Uwais sholat subuh di mushola stasiun. Ia memang tidak ikut sholat karena sedang ada halangan. Sebelum ke mushola, mereka sempat bertemu Andri, namun Andri segera keluar dari stasiun karena sudah ada yang menjemputnya.
"Yuk, kita tunggu taksi di luar aja, sambil cari sarapan." ajak Uwais pada Arrida. Gadis itu bangun dari duduknya,
"Kakak, serius mau sarapan jam segini?"
"Kamu belum laper?"
"Belum kak, bareng kakak semaleman, perutku masih kenyang, hehehe"
"Hahaha, ada-ada aja! Kamu tau, Ar, bareng kamu semaleman, aku malah laper ...."
"Ish, kasihan,"
"Iya, jadi pengen makan kamu."
"Kanibal!" kata Arrida sambil menepuk lengan Uwais.
Uwais terkekeh sambil mencubit gemas hidung Arrida. Dan hal itu malah membuat Arrida makin melayangkan pukulan manjanya berkali-kali di lengan dan punggung Uwais. Sementara Uwais terus saja tertawa sambil berusaha menghindar. Walaupun begitu, tetap saja, pukulan manja bertubi-tubi dari Arrida mendarat cantik di lengan dan punggung Uwais.
"Sudah, sudah, ayo!" kata Uwais mencoba menghentikan pukulan Arrida. Kemudian ia mengajak Arrida pergi sambil menggenggam tangannya. Gadis itu hanya melirik dan tersenyum menatap wajah tampan Uwais dari samping. Ia merasa bahagia bisa bersama dengan orang yang disayanginya, orang yang selalu memperhatikannya, dan selalu menjaga dirinya.
πΌπ¦οΈπΌ
Sore itu Arrida sedang menunggu kedua sahabatnya di sebuah kafe sambil ber chat ria dengan Uwais. Uwais sendiri sudah kembali ke kota X, dua hari kemudian setelah kedatangan mereka ke kotanya.
"Akhirnya kita ketemuan juga." kata Arrida sambil mendekap Hani. Hani dan Nana datang bersamaan.
"Udah lama, Da?" tanya Hani masih dalam dekapan Arrida.
"Gak juga," jawab Arrida, melepas dekapannya, kemudian ia berganti mendekap Nana.
"Gimana kabarnya, say?" tanya Nana ketika didekap Arrida.
"Alhamdulillah baik," jawab Arrida sambil melepas dekapannya.
"Kalian gimana kabar?" tanya Arrida sambil duduk kembali di kursinya. Sedangkan Hani dan Nana ikut duduk di kursi yang ada di hadapan Arrida.
"Alhamdulillah, kita juga baik, Da ...ya, kan, Na" kata Hani sambil minta persetujuan dari Nana. Dan mendapatkan anggukan dari Nana..
Kemudian ketiganya pun bercerita dengan penuh kerinduan dan diselingi canda tawa yang begitu hangat hingga tidak terasa sudah satu jam berlalu.
"Da, Han ... aku mau cerita sesuatu," kata Nana di sela-sela obrolan mereka.
"Ada apa?" tanya Arrida sambil meminum jusnya.
"Aku ... udah punya cowok." kata Nana malu-malu, wajahnya merona.
"What? Serius Na?" tanya Arrida
"Iya," jawab Nana singkat.
"Anak kampus kamu?" tanya Arrida lagi.
Nana menggeleng.
"Lalu?" tanya Hani kini.
"Kalian kenal kok orangnya," kata Nana masih malu-malu.
"Siapa, Na?" tanya Arrida dan Hani kompak.
"Tunggu ya, bentar lagi dia kesini."
"Wah, kenapa kalo kita chat kamu gak pernah cerita?" tanya Arrida.
"Surprise, Da ... aku sengaja gak bilang kalian, biar kejutan aja buat kalian,"
"Udah berapa lama?"tanya Arrida lagi
" Empat bulan ini,"
"Wah, hampir satu semester ternyata ..." komen Arrida lagi.
__ADS_1
"Iya, aku sengaja, pingin cerita kalo kita ketemuan,"
"Siapa sih, Na? Jangan bikin penasaran!" kata Arrida bersemangat.
"Tunggu dong..." Nana sengaja mengulur, agar kedua sahabatnya semakin penasaran. "Bentar lagi dia kesini kok," kata Nana sambil mengalihkan pandangannya ke arah pintu masuk kafe.
"Nah, tuh dia datang." kata Nana sambil menunjuk orang yang baru saja masuk ke dalam kafe.
"Lho, Andri???" kata Arrida dan Hani kompak, keduanya langsung mengalihkan pandangannya ke arah Nana, seakan meminta kebenaran dugaan mereka.
Nana mengangguk sambil tersenyum. Bahkan senyumannya semakin merekah saat Andri berdiri disampingnya dan memegang pundaknya.
"Halo, Da, Han ..." sapa Andri sambil tersenyum.
"Tunggu, jadi, waktu yang di kereta itu, maksudnya ini ya?" tanya Arrida pada Andri. Ia teringat ketika di kereta, Andri bertanya apakah Nana atau Hani bercerita sesuatu?
Andri membenarkan.
"Andri dari awal pengen banget publikasikan hubungan kita ke kalian ... tapi akunya yang belum siap" kata Nana terkekeh. "Dan akhirnya, baru sekarang deh aku bilang, karena selain biar surprise, aku bisa lebih enak ngomongnya, karena kita ketemuan langsung," sambungnya.
"Ceritanya gimana nih?" tanya Hani yang merasa kecolongan. Pasalnya mereka masih di kota yang sama namun Hani sama sekali tidak mengetahui hal ini.
Nana hanya tersenyum. "Da, Hani juga punya surprise lho, bahkan kamu bakal terkejut-kejut." kata Nana tanpa mau menjelaskan pertanyaan Hani.
"Bener, Han? Wah, kalian benar-benar sahabat nackal ya."
Hani terkekeh, ia membenarkan apa yang dikatakan oleh Nana.
"Andri juga udah tau kah?" tanya Arrida, ketika melihat Andri senyum- senyum sambil mengambil duduk disamping Nana.
"Iya lah, Nana suka sekali bercerita, dan aku suka banget ngedengerin kalau dia udah banyak bicara, suaranya renyah dan seksi," kata Andri sambil melirik Nana. Nana hanya tertawa kecil.
"Aish, kita jadi obat nyamuk nih, Han ... serasa dunia disewa mereka berdua." gerutu Arrida sengaja menggoda Nana dan Andri.
" Hah iya, bener Da, ayo kita tinggalin mereka, kita cuma jadi obat nyamuk aja disini," kata Hani
"Eh, gak bisa Han, kamu juga punya utang penjelasan surprise yang dibilang Nana lho," kata Arrida pada Hani.
"Okke, Da ... Tapi kamu jangan kaget, dan ekspresinya harus tenang dan kalem yaaaa" kata Hani pelan-pelan.
"Aku baru aja jadian ma bang Adnan tiga minggu ini,"
"Astaghfirullah ... Serius Han?" Arrida membelalak. Hani hanya mengangguk dan tersenyum.
"Ya ampun, surprise bahagia apalagi ini? kamu berarti bakal jadi kakak ipar ku, Han?" tanya Arrida masih dengan rasa tidak percayanya, "Kok bang Adnan gak cerita ma aku?"
"Aku yang minta agar bang Adnan jangan cerita ma kamu ... Maaf, aku juga sama kayak Nana, pengen ngasih surprise ma kamu." jelas Hani
"Dan jujur, kalian sukses bikin aku terkejut." kata Arrida.
Hani, Nana dan Andri terkekeh-kekeh melihat Arrida yang begitu terkejut dengan kabar yang disampaikan oleh kedua sahabatnya.
"Sekarang, siapa duluan yang mau cerita, bagaimana awalnya kalian bisa sampai jadian" tanya Arrida penuh penekanan.
"Nana tuh! Dia yang udah lama jadian, dia juga utang cerita ma aku ... Aku yang disini aja nyampe gak tau kalo Nana punya pacar." gerutu Hani.
"Kecolongan ya Han?"tanya Arrida.
"Iya!" jawab Hani singkat.
Nana dan Andri hanya terkekeh.
"Andri yang ngehubungi aku setelah perpisahan sekolah, kita komunikasi lewat hape dan berlanjut nyampe sekarang."
"Ceritanya kalian LDR-an ya?" tanya Arrida pada Nana dan Andri
"Iya!" jawab Nana singkat.
"Jangan-jangan kalian jadian lewat hape lagi?" kata Hani menduga-duga.
"Enggak, Andri datang pas aku ulang tahun, dia ternyata udah nyiapin semuanya dengan bantuan Ical, nih aku kirim ya video saat Andri nyatakan perasaannya padaku, Ical yang merekamnya" kata Nana sambil membuka ponselnya, lalu mengirimkan video pernyataan cinta Andri padanya ke grup chat ππBest friend ππ . Grup yang hanya terdiri dari Arrida, Hani dan Nana.
Β -------------
__ADS_1
Saat itu, Nana dan Andri sedang duduk di bangku taman. Entah apa saja yang dibicarakan, namun akhirnya sampailah pada saat Andri menyatakan perasaannya pada Nana. Dan dari tempat yang tidak diketahui oleh Nana, Ical sudah bersiap merekam momen indah itu.
"Nana ... Aku memang bukan orang baik, tapi aku akan selalu memberikanmu yang terbaik, maukah kamu menjadi pendamping terbaik dalam hidupku?"
Nana hanya menutup mulutnya. Ia merasa bahagia.
"Tapi ..." Nana menjeda kalimatnya.
"Jangan pake tapi, dan jangan tanya alasan ... Hatiku hanya yakin sama kamu, dan aku melihat ada wajahku di wajahmu, aku yakin kamulah jodohku"
"Gak kecepatan ya Ndri? kita aja berhubungan hanya lewat hape"
Andri menggelengkan kepalanya.
"Selamat ulang tahun, Nanaku ... kalo kamu terima aku, maka ambillah coklat ini, dan kalau kamu tidak menolakku ambillah coklat ini" kata Andri sambil menunjuk sekotak coklat yang ada di tangannya.
"Hei, itu kan bukan pilihan, harusnya kamu bilang, kalau aku terima ambil coklat ini, kalo aku nolak gak usah ambil coklatnya" protes Nana.
"Sengaja, biar aku gak ditolak"
Nana hanya terkekeh.
"Makasih, Ndri ... " kata Nana. Dia kali ini tidak terlalu banyak bicara. Nana malah mengambil kotak coklat yang ada di tangan Andri, membuka bungkusnya, kemudian memakan coklatnya.
Andri bengong.
"Lalu?" tanya Andri bingung.
"Apanya?" Nana cuek masih mengunyah coklat tersebut.
"Pernyataan cintaku diterima ga? Jangan coklatnya doang, Na!" kata Andri dengan wajah sendunya.
Nana terkekeh.
"Nih, ambil lagi coklatnya," kata Nana sambil mengembalikan coklat itu ke tangan Andri.
Andri kecewa. "Di tolak yaa" gumamnya.
Namun Nana langsung menggenggam tangan Andri.
"Makasih ya Andriku ... kamu udah jadi kado terindah di hari ulang tahunku," kata Nana sambil mengerjapkan matanya di hadapan wajah Andri.
Andri pun tersenyum, dan memahami maksud Nana.
"Cintamu aku terima ... Coklatnya juga,"kata Nana penuh rasa bahagia.
"Kok ini coklatnya dikembalikan?"
"Kita makan bareng ya, biar kita nikmati rasa manisnya bersama, rasanya lebih asik jika bersama, daripada makan sendirian"
"Ah, Nanaku... makasih ya"
Andri tertawa bahagia. Kemudian mereka saling menyuapi coklat tersebut.
Β
Β
...πΈπΈπΈπΈπΈ...
...Makasih kakak readers...
...Makasih udah setia mampir n baca kisah Arrida dan Uwais sampai sejauh ini...
...Makasih atas dukungannya, like, favorit n kommentnya...
...Sehat selalu ya kakak readers...
...Hatiku Padamu Kak readers pake banget......
...Semoga kak readers tetap suka dan terhibur yaaa...
...π₯°π₯°π₯°ππ»ππ»ππ»πππ...
__ADS_1