Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
69. Kebersamaan yang diridhoi Allah


__ADS_3

Suara bel pintu terdengar sore itu di kediaman Arrida. Saat itu hanya ada Arrida dan Bu Sofia yang sedang memasak di dapur. Mempersiapkan hidangan berbuka puasa. Pak Arthur masih di tempat kerjanya, begitupun Adnan, dia sudah bekerja dalam tiga bulan ini di sebuah perusahaan yang memproduksi ban sepeda motor.


"Kamu buka pintu sana!" perintah Bu Sofia pada Arrida, yang kemudian di iyakan oleh anak gadisnya itu.


🌼


"Assalamu'alaikum" Ucapan salam dengan senyum yang mengembang di wajah tampan milik cowok pujaan hati Arrida.


"Wa'alaikumsalam... kak Uwaisss!!" Arrida berteriak terkejut dengan kehadiran Uwais. Pasalnya Uwais bilang akan pulang sehari menjelang lebaran idul Fitri.


Uwais masih saja tersenyum, tanpa mengatakan apapun.


"Kok bisa? katanya kakak mau pulang malam takbiran?"


"Gak jadi Ar... Alhamdulillah tugasku sudah beres. Perkuliahan juga udah libur. Dan Aku terima ide kamu" Uwais


Arrida mengernyit. Dia mencoba memahami maksud Uwais .


"Eh, kakak masuk dulu" Kata Arrida mempersilahkan Uwais masuk ke rumah. Uwais menurut. Lalu duduk di sofa ruang tamu. "Kakak, bawa apa itu?"


"Ini sup buah, buatannya Roni, tadi aku mampir beli, lumayan buat buka puasa" Uwais menyerahkan plastik berisi sup buah.


"Makasih ya kak, ntar aku kasihin bunda"


"Ayo, aku juga mau nyapa bunda"


🌼


"Lho Uwais? kapan pulang?" Tanya Bu Sofia ketika menyimpan makanan di meja makan.


" Tadi pagi sampai rumah, bun" kata Uwais sambil mencium punggung tangan Bu Sofia.


"Oh! baru dateng ya ...kamu buka puasa disini ya"


"Maaf bun, mau buka puasa di rumah, udah lama pengen makan bareng mamah, papah n mas Fariz"


"Besok kalo gitu ya" Bu Sofia memberi saran.


"Coba besok dilihat Bun, niatnya besok mau ngajak Arrida buka puasa di luar, boleh bun?"


Bu Sofia hanya melirik Arrida.


"Arrida ngajakin khataman tadarus Bun. Tadinya kita lomba,di bulan Ramadhan ini siapa yang bisa lebih dulu mengkhatamkan Al-Qur'an, nanti dapet hadiah. Eh gak taunya, kemarin Arrida punya ide buat khataman bareng"


"Wah ide bagus tuh" Seru Bu Sofia


"Oooh itu maksudnya kakak terima ide aku?" Arrida akhirnya mengerti yang dimaksud Uwais dengan 'terima ide'


"Iya bun, kangen waktu PMR, karena pembinanya pak Salman, pasti setiap acara buka puasa bersama diawali dengan baca Al-quran satu orang satu juz"


"Iya kak, kemarin juga masih seperti itu" Arrida menanggapi. Ia ingat beberapa hari yang lalu ketika anggota PMR melakukan buka puasa bersama


"Trus mau khataman dimana?" tanya Bu Sofia lagi


"Niatnya mau khataman di masjid bada Ashar, lalu takjil ke tempat Roni, trus makan di tempat makan bareng-bareng ma Nana, Hani, dan Asep... trus sholat tarawih"


"Hah... emang mereka udah tau?" Arrida terheran


"Iya udah diatur dan di sepakati, gimana bun boleh?"


"Boleh aja... Nanti bunda bilang ma ayah ya... Oiya, lusa mau ikut ke panti ga? buka puasa disana"


"Boleh bun" Uwais menerima ajakan Bu Sofia.


🌼🌦️🌼


Keesokan harinya, bada Ashar, Uwais menjemput Arrida. Mereka sudah sepakat akan mengaji juz ke 30 bersama lebih tepatnya hanya surat Adh-Dhuha sampai surat An-Nas.


Uwais memarkirkan motornya di halaman sebuah mushola, tempat pertama kali mereka melaksanakan sholat berjamaah. Arrida dan Uwais segera berwudhu, kemudian Arrida menggunakan mukena lalu mengambil mushaf Al-Qur'an. Mereka mengaji bersama di teras mushola. Persis seperti ketika acara mengaji bersama ketika buka puasa di sekolah.


"Aamiin" Ucap Arrida untuk yang terakhir kalinya. Dia mengaminkan Uwais yang membacakan doa khataman Al-Qur'an. Sejenak, ia sempat menghapus air matanya yang keluar ketika mendengarkan Uwais membaca doa. Ia kemudian menutup Al-Qur'annya dan menyimpannya kembali dengan Al-Qur'an yang tadi dipakai Uwais di lemari yang ada di mushola.


"Yuk kak" Ajak Arrida pada Uwais yang tengah duduk di bibir teras mushola. Saat ini Arrida telah melepas mukenanya. Ia kemudian ikut duduk mensejajari Uwais.

__ADS_1


"Ar, tau ga? kenapa kita khataman disini?"


"Nggak"


" Aku ingat, disinilah aku pertama kalinya menjadi seorang imam ... Aku mengimami seorang gadis ... Entah kenapa saat itu aku ingin banget mengimaminya. Dan bersyukurnya gadis itu mau, padahal bisa aja saat itu kita sholat sendiri-sendiri."


Arrida tersenyum. Ia senang mendengar pengakuan yang diucapkan Uwais.


" Wah, beruntung sekali gadis itu ... Apa aku mengenalnya kak?" Arrida sengaja menggoda Uwais, yang kemudian mendapatkan lirikan yang sempurna dari Uwais. Lirikan mata dengan senyum limited editionnya.


"Gak usah natap gitu kak..."


"Kenapa?"


"Pengen aku makan, sayang masih puasa takut batal"


Uwais terkekeh gemas mendengar jawaban asal Arrida. "Jadi, kamu pengen tau siapa gadis itu?"


"Siapa?" tanya Arrida, walau sebenarnya dia sudah tau jawabannya.


"Arrida Lathifatunnisa"


" Waa beruntung banget gadis yang bernama Arrida itu"


"Heh.. gak usah bercanda Ar"


Arrida terkekeh. "Kakak tau... itu juga yang pertama buat ku, menjadi makmum seorang cowok selain ayah dan abang"


Uwais kali ini tersenyum bahagia. "Katakan, kenapa tadi kamu nangis?" tanya Uwais kemudian


"Kapan?"


"Waktu aku membacakan doa"


"Hmm... itu... aku juga gak tau... air matanya jatuh gitu aja... mungkin terharu karena aku bisa mengkhatamkan Al-Qur'an bersama kakak di bulan Ramadhan ini"


Uwais mengangguk mengerti.


"Apa?"


"Kamu masih ingat kita pernah berdoa disini" kata Uwais sambil menatap langit dan menengadahkan satu telapak tangannya.


"Yang waktu hujan?"


"Iya... Apa doamu waktu itu dan apa doamu tadi setelah membaca Al-Qur'an?"


"Pengen tau aja atau pengen tau banget?"


"Emh, mulai... ntar ujung-ujungnya kamu gak ngasih tau"ujar Uwais.


"Iya iya... Mmm, waktu itu ... Aku hanya memohon ke Allah agar Allah selalu membahagiakan orang yang aku sayangi"


Uwais menatap Arrida tak percaya.


"Dan ternyata kakak meminta pada Tuhan untuk mengabulkan doaku... "


"Dan doa itu terkabul... sejak saat itu, aku selalu bahagia, karena ada kamu" kata Uwais sangat yakin


"Aah.. doa yang curang" Arrida merengek


"Kok bisa?"


"Kakak mendoakan aku, agar Tuhan mengabulkan doaku , sementara aku mendoakan kakak, agar orang yg aku sayangi bahagia... jadi, hanya kakak yang bahagia, aku sedih"


Uwais tertawa kecil.


"Kenapa kamu berpikiran seperti itu, lagian kenapa kamu sedih? Hm?"


"Karena kakak pergi ninggalin aku ke kota X"


Uwais makin tertawa. "Gak usah sedih, berdoa lagi aja... Tadi kamu berdoa juga kan setelah membaca Al-Qur'an... katanya, berdoa setelah membaca Al-Qur'an juga waktu yang mustajab, apalagi ini bulan Ramadhan"


Arrida mengangguk.

__ADS_1


"Apa kakak juga berdoa?"


"Iya"


"Apa doa kakak kali ini?"


"Pengen tau aja atau pengen tau banget?" Uwais sengaja menggoda Arrida dengan mengutip kata-kata yang sering diucapkan gadis itu.


"Haish...." Arrida menyipitkan matanya menatap Uwais. Tatapan yang sangat disukai olehnya


" Gak usah natap gitu Ar, jadi pengen aku makan, masih puasa, ntar batal" Uwais terkekeh.


"Jadi, apa doa kakak? aku pengen tau banget!!" Ujar Arrida sedikit mode serius.


"Okke...okke" Uwais masih tertawa kecil.


"Aku hanya minta sama Alloh agar meridhoi kebersamaan kita"


"Aamiin" Arrida langsung mengaminkan


"Lalu apa doamu kali ini? Serius jawab!"


" Aku hanya berdoa: Bahagiakanlah kami dalam ridho -Mu ya Alloh"


"Aamiin" Uwais juga mengaminkan. Ternyata doa mereka kali ini adalah untuk kebersamaan keduanya.


" Ya udah kak, kita ke kak Roni yuk, udah ditunggu Nana dan Hani juga"


"Okke"


Akhirnya mereka segera ke tempat dagangannya Roni. Sampai disana, Roni malah sedang sibuk melayani pembeli. Selama ini dia dibantu Asep berjualan...Nana dan Hani juga saat ini ikut terlibat melayani pembeli.


"Wah alamat gak jadi buka puasa bareng nih" Komentar Nana sambil menyerahkan bungkusan pesanan pembeli.


"Sabar Na, bentar lagi kok, ini udah mau abis, tadi sengaja gak nyediain banyak" Roni mencoba membuat Nana tenang.


"Jangan semua dijual ke orang kak, kita juga mau" kata Arrida ikut nimbrung melayani pembeli.


"Siaaaap... soal itu mah udah disiapin" Asep yang membalas komentar Arrida.


Hingga akhirnya lima belas menit berlalu. Roni menutup stand dagangannya. Kini mereka berenam berada di alun-alun kota. Tepat sepuluh menit lagi adzan Maghrib berkumandang.


"Seneng rasanya bisa ngumpul kayak gini, berasa masih SMA" Uwais berkomentar


"Kalo kita emang masih SMA kak" Arrida membalas komentar Uwais.


"Iya, kakak-kakak aja yang sudah gak SMA" kata Nana menimpali


"Kadang sedih juga ya ninggalin masa SMA" Roni kali ini yang berbicara


"Iya, kenangan SMA emang susah dilupakan" Kata Uwais


"Apalagi ada seseorang yang gak bisa ditinggalkan... ya gak Uwais?" Goda Asep pada Uwais. Membuat Nana, Hani, dan Roni tertawa. Sementara Uwais hanya tersenyum, dan Arrida tersipu.


" Mudah-mudahan kebersamaan ini diridhoi oleh Alloh" Kata Hani mengatakan permohonan.


"AAMIIN" kompak kelimanya mengatakan aamiin.


Adzan Maghrib berkumandang, mereka pun berbuka puasa dengan takjil yang sudah disiapkan oleh Roni. Kemudian mereka sholat Maghrib. Lalu makan di tempat makan yang sudah disepakati. Saat isya, mereka juga ke masjid, ikut berjamaah sholat Isya dan sholat tarawih.


...🌸🌸🌸🌸🌸...


Makasih kakak readers


Makasih atas dukungannya


Makasih like n favorit nya


Sehat selalu ya...


Semoga suka dan terhibur


β˜ΊοΈβ˜ΊοΈβ˜ΊοΈπŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°

__ADS_1


__ADS_2