Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
47. Kamu dekap aku


__ADS_3

Arrida membereskan kotak bekalnya. Mereka telah menyelesaikan makannya sembari menikmati keindahan malam dengan langit yang cerah. .


"Kita pulang ya" Ajak Uwais sambil mengeluarkan kunci motor dari dalam saku celananya. Ia bangun dari duduknya.


Arrida mengangguk walaupun hatinya seperti tidak ikhlas kalau harus segera berpisah dengan cowok pujaannya itu. Karena setelah ini, dia tidak dapat merasakan kehangatan saat bersamanya. Kembali sendiri. Mungkin jika mereka adalah pasangan kekasih, kerinduan bisa tetap berlanjut di chat atau panggilan video. Tapi nyatanya, hubungan mereka hanyalah sebagai teman, tidak lebih. Tidak ada pengakuan cinta apapun diantara mereka. Atau mungkin mereka sedang menjalani teman tapi mesra?


Ingin rasanya Arrida bertanya sebenarnya hubungan dia dengan Uwais apakah akan ada kelanjutannya atau tidak. Namun, dia tidak terlalu percaya diri untuk menanyakannya. Sementara Uwais sendiri masih belum ingin mengganggu sekolahnya Arrida, dia merasa usia Arrida masih dibawah umur, belum genap tujuh belas tahun. Dia sendiri mempunyai prinsip ingin memiliki pasangan satu untuk selamanya, dia tidak ingin salah pilih. Makanya, terkadang dia masih ragu, apakah yang dirasakannya sebuah cinta ataukah hanya rasa kagum biasa karena Arrida gadis yang lucu dan menggemaskan. Oleh karenanya, jika harus membahas pasangan di masa SMA ini, sepertinya terlalu dini, karena dia tidak ingin salah mengikat seseorang untuk hidupnya.


Angin malam menerpa keduanya ketika naik motor, seharusnya yang dirasakan adalah dinginnya malam, namun entah kenapa, rasa dingin itu menghilang menjadi kehangatan. Arrida tidak mendekap Uwais, ia hanya memegang jaket bagian


bawah milik Uwais . Namun suasananya benar-benar terasa hangat.


Plukk


Kepala yang berhelm itu jatuh ke punggung Uwais. Ternyata Arrida terpejam. Dia mengantuk karena sangat menikmati semilir angin malam. Kepalanya hampir ambruk ke sisi, membuat motor tidak stabil, hampir jatuh. Uwais segera menghentikan laju motornya ke pinggir trotoar. Arrida juga terkejut, karena ia hampir saja terjatuh.


"Kamu ngantuk Ar?" Uwais menoleh ke belakang.


Arrida mengangguk


"Bisa tahan kan? tetep melek ya, jangan tidur... bahaya"


Arrida masih mengangguk.


Akhirnya motor pun melaju kembali dengan kecepatan sedang.


Lagi. Kepala Arrida seperti akan jatuh ke samping. Membuat motor yang melaju sempat oleng.


Uwais pun menghentikan kembali motornya.


"Ngantuk banget ya Ar?" tanya Uwais kembali menoleh ke belakang


"Maaf..." Arrida mengerjapkan matanya berkali-kali. Suaranya parau serak manja, membuat Uwais gemas.


Uwais menarik nafas panjang.


Ia melepas jaketnya, kemudian jaket itu ia jadikan sabuk bonceng, sehingga bisa menyangga punggung Arrida, bagian lengan jaketnya ia ikatkan di atas perutnya sehingga membuat jarak diantara keduanya terkikis habis.


"Maaf ya, terpaksa.... kamu dekap aku.... kita jalan, bismillah"


Arrida menurut. Ia benar-benar merasa nyaman dan tenang bisa tidur sambil mendekap Uwais, cowok yang dicintainya. Hingga dia tidak peduli getaran aneh yang indah itu berdesir di hatinya.

__ADS_1


Berbeda dengan perasaan Uwais, dia merasa begitu khawatir dengan Arrida. Ia ingin segera sampai di rumah, agar gadisnya itu bisa segera istirahat.


Mmh.... Arrida mengeratkan dekapannya. Nyaman dan tenang.


Hmm.... Jantung Uwais semakin berdetak kencang saat Arrida mengeratkan dekapannya. Dia malah merasa tidak baik-baik saja dengan hatinya yang sedang berdebar hebat, walaupun dia tidak memungkiri ada rasa nyaman di hatinya. Indah.


Setelah lima belas menit, mereka pun tiba di depan rumah Arrida.


"Ar... udah nyampe... bangun!" kata Uwais setelah menghentikan laju motornya. Ia melepas helmnya, kemudian melepas ikatan jaketnya dan membangunkan Arrida.


Arrida belum bangun, tubuhnya terhuyung ke samping. Kalau saja tangan Uwais tidak sigap menahan tubuhnya, sudah pasti Arrida akan jatuh.


"Ya Ampun, kebo juga ni anak"


Uwais segera menegakkan standar motornya. lalu ia bangun dari jok motor dan mendekap Arrida agar tidak terjatuh dari motor.


"Ar, bangun Ar" Uwais mencoba membuka helm yang dipakai Arrida. Dan meletakkannya di motor. Kepalanya kini sudah bersandar di dada Uwais.


"Ar bangun Ar" kata Uwais sekali lagi sambil menepuk pipi Arrida.


Arrida membuka matanya dengan perlahan. Ia tersadar kalau saat ini dirinya sedang berada dalam dekapan Uwais. Malu. Karena wajahnya begitu dekat dengan wajah Uwais.


Uwais sengaja menampilkan senyum apiknya ketika mata Arrida terbuka. Dan itu justru membuat Arrida malah makin menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik Uwais.


Arrida segera sadar, ia langsung mendorong tubuh Uwais agar sedikit menjauh darinya. Kemudian ia turun dari motor.


"Kamu nyaman banget sih Ar tidur di punggung ku, nyampe lupa bangun. Tadinya kalau ga bangun juga, mau aku cium... biar kayak dongeng putri tidur"


"Iiiih... kak Uwaissss!!!"Arrida hendak memukul Uwais. Namun dia menghindar, dan akhirnya terjadi kejar-kejaran kecil.


"Okke,stop.. kamu mau mukul bagian apa hm?" kata Uwais setelah menghentikan langkah larinya, ia menangkap tangan Arrida yang masih melayang hendak memukulnya.


Arrida terdiam. Ia menatap hangat wajah cowok pujaannya itu. Menikmati setiap inchi lekuk wajahnya.


"Masih pingin lama nikmati wajahku hm?" Tanya Uwais menyadarkan Arrida dari keterpakuannya beberapa saat lalu.


Arrida langsung salah tingkah. Ia benar-benar malu. Tapi mau bagaimana lagi, sudah terlanjur ketahuan kalau dia memang sedang menikmati pemandangan indah yang Tuhan kasih melalui makhluk tampan dihadapannya ini.


"Hehehe... tunggu sebentar lagi ya kak... biar aku hafal baik-baik setiap inchi bentuk wajah kakak, dan biar aku paham bagaimana ketampanan bisa begitu terpancar di wajah kakak" Arrida menggombal. Uwais hanya tersenyum. Dia pun menyentil pelan kening Arrida, bermaksud memberitahukan kalau Arrida jangan aneh-aneh.


"Yeeee....ge-er tuh.... " goda Arrida makin menjadi. Ia menoel dagu Uwais. Dan itu malah membuat Uwais salah tingkah karena Arrida terus menggodanya.

__ADS_1


Uwais akhirnya memutuskan untuk melangkah menuju motornya.


"Eits ... tunggu kak, seriusan ini... Biar aku tatap dulu wajah kakak"


"Penting?"


Arrida mengangguk.


"Ya udah berapa lama kamu mau natap aku?"


"Let's see"


"Okke... nih lihatlah... sepuasmu, tapi kamu gak akan macem- macem kan?"


"Nggak lah"


"Ya udah"


Akhirnya Uwais berdiri tegap dihadapan Arrida, ia membiarkan wajahnya dipandang oleh Arrida. Matanya terpejam.


"Ya ampun Kak... kenapa seberat ini mengagumi mu... benarkah keberadaan ku hanya sebagai planet Pluto untukmu? Setelah kamu lulus mungkin saja kamu melupakanku dan menemukan bumi untuk kau berikan energi dan kehangatan" gumam bathin Arrida.


Matanya berlinang. Cairan bening memenuhi kelopak matanya. Sekali kedip butiran kristal bening itupun mengalir di pipinya yang halus.


Uwais membuka matanya perlahan. Agak terkejut juga karena gadis dihadapannya ini tiba-tiba menangis.


"Udah kakak pulang sana!" Kata Arrida segera menghapus air matanya secepat kilat, setelah tau kalau Uwais telah membuka matanya.


"Ada apa Ar? kok nangis?"


"Gak papa ... cuma tiba-tiba aja keingetan ama


pluto"


"Maksudnya?"


"Gak papa.... udah kakak pulang aja"


" Ya udah... aku pulang ya" kata Uwais sambil menuju ke motor. Ia sengaja tak ingin berlama-lama mencari tahu apa maksud Arrida. Biarlah lambat laun pasti dia sendiri akan mengetahuinya.


Dan akhirnya Uwais pun pulang setelah sebelumnya dia berpamitan pada ayah dan bundanya Arrida.

__ADS_1


...🌸🌸🌸🌸🌸...


__ADS_2