
Uwais berjalan di koridor menuju ruang lab fisika. Dia membawa alat peraga model atom dengan sangat hati-hati. Ia bermaksud untuk menyimpan alat peraga tersebut. Karena baru saja pelajaran fisika dengan materi fisika atom, pengenalan model atom mulai dari model atom Thomson, model atom nuklir Rutherford, model atom Bohr sampai model atom mekanika kuantum.
"Lho Ar ... ada disini?" tanya Uwais terkejut ketika masuk ke ruang laboratorium. Ia langsung menuju tempat penyimpanan alat peraga model atom yang dipegangnya ke tempatnya.
"Kak Uwais?" Arrida menoleh ke arah suara. Ia juga sama terkejutnya melihat kedatangan Uwais.
"Kamu lagi apa?"tanya Uwais sambil mendekati Arrida yang tengah sibuk merapihkan sesuatu. Dia telah meletakkan alat peraga model atom di tempatnya.
"Ini, tadi abis praktik pengenalan alat ukur listrik,"
"Oh, bu Ina ya," kata Uwais, ia tahu guru fisika Arrida adalah bu Ina wali kelasnya sendiri.
Arrida mengangguk.
"Terus kok kamu sendirian? Yang lain mana?"
"Udah pada ke kantin, ni bu Ina ngasih tugas untuk beresin dulu ini," kata Arrida sambil menunjuk alat alat ukur listrik, seperti ohmmeter, volt meter, ampere meter, dan multi meter.
"Sendirian?" tanya Uwais sambil membantu membereskan alat ukur listrik tersebut.
"Nggak, ama Arfan kok, cuma tadi, tiba-tiba dia ada panggilan alam, jadi buru-buru ke WC,"
Uwais tertawa kecil.
"Nana Hani mana?" tanya Uwais, merasa aneh saja karena sahabatnya dibiarkan beres-beres sendiri.
"Nana lagi sakit Kak, sementara Hani lagi ijin buat persiapan pertandingan badminton,"
"Oh ya?"
"Iya ... Niatnya ni pulang sekolah mau nonton ... bang Adnan juga lagi mau tanding,"
"Aku temenin ya," Uwais mengajukan diri untuk menemani Arrida menyaksikan pertandingan badminton.
"Emang gak ada acara?"
"Nggak lah,"
"Okke ... Eh, ngomong-ngomong kakak ngembaliin apa tadi?"
"Oh itu, alat peraga model atom," jawab Uwais sambil menunjuk alat peraga yang dimaksud.
"Praktek di kelas ya?"
"Cuma pengenalan model atom aja, lagian lab nya juga dipake kelas kamu, kan?"
Arrida tertawa kecil membenarkan ucapan Uwais.
"Eh, tunggu dulu, wali kelasmu Bu Ina guru fisika kan?"
"Iya," jawab Arrida singkat.
"Wali kelasku juga guru fisika Ar, pak Sofyan,"
"Terus kenapa?"
"Ini kebetulan atau takdir ya?"
"Maksudnya?" tanya Arrida tak mengerti
"Kita banyak kesamaan Ar, coba diingat-ingat, tanggal lahir sama, wali kelas sama, jam pelajaran fisika dan olahraga nya sama, terus ... kita sama-sama di IPA satu,"
__ADS_1
"Teruusss?" Arrida masih ingin tau lebih jelas maksud Uwais. Ia menaikkan kedua alisnya.
"Mungkin aja kita jodoh, Ar,"
"Haihhh!! Kakak inget ga, semester kemarin kakak pernah bilang soal magnet ... kalo dua kutub yang 'sama', jika didekatkan itu, pasti akan terjadi tolak menolak, dan kalo berbeda malah akan terjadi saling tarik menarik, jadi kalo kita sama kita pasti saling menolak,"
Uwais mengangguk-angguk, ia teringat beberapa bulan lalu di semester ganjil, ketika dia mendapatkan materi tentang magnet. Saat itu, dia sedang memainkan dua buah magnet di ruang PMR, lalu Arrida,Nana dan Hani datang ke ruangan tersebut. Kemudian terjadilah perbincangan tentang magnet.
"Iya juga ya ... tapi gak papa, kita juga punya perbedaan ... kamu perempuan dan aku laki-laki, kita tidak sejenis, seharusnya bisa tarik menarik kan?"
"Kak Uwais lagi ngomongin apa sih?" Arrida tidak ingin terpancing. Karena terakhir kali kalau dia berbicara dengan Uwais yang terjadi hatinya pasti akan hanyut dalam rasa yang tak biasa, rasa aneh yang indah, dan perasaan itu yang susah banget untuk dinormalkan.
Uwais terkekeh.
"Ya udah kalo gitu, gimana kalo kayak atom aja?"
"Apalagi maksud kakak?" Arrida melangkah menuju pintu keluar, dia telah menyelesaikan pekerjaannya membereskan alat ukur listrik.
"Maksudnya ... atom kan memiliki partikel tuh ... Nah, partikel itu saling terikat dan tidak akan terpisahkan," kata Uwais sambil mengekori langkah Arrida. Keduanya kini sudah ada di luar ruangan lab fisika.
"Teruuuus?" tanya Arrida sambil mengunci pintu ruang lab fisika. Sebenarnya Arrida tau maksud dari pembicaraan Uwais, namun saat ini dia benar-benar sedang tidak ingin baper.
"Masa gak paham sih, Ar?" wajah Uwais sok kecewa. Keduanya berjalan meninggalkan lab fisika.
"Gak!" jawab Arrida singkat "Eh Kak, ngomong-ngomong soal atom, kakak mau ga ajarin aku kimia, itung-itung kakak jadi mentor aku, gitu," lanjutnya sambil meminta.
"Emang ada yang susah?" tanya Uwais sambil menoleh ke arah Arrida yang berjalan di samping kirinya.
"Nggak juga sih, ini ada hubungannya ama reaksi redoks, Kak,"
"Oh, reduksi oksidasi?"
"Iya,"
Arrida mengangguk.
"Sekarang kakak mau kemana?"
"Kantin yuk, Ar," ajak Uwais menjawab pertanyaan Arrida.
"Boleh ... Eh, uangku di kelas, tunggu disini ya," kata Arrida sambil melangkah berbelok hendak ke kelasnya.
"Aku traktir," kata Uwais sambil menarik lengan Arrida, mencegahnya untuk tidak pergi ke kelasnya. Arrida menurut, dan akhirnya mereka berdua pun ke kantin.
πΌ
Kini mereka tiba di kantin, namun mereka tidak mendapatkan tempat yang bisa digunakan untuk duduk dan makan.Oleh karenanya, setelah memesan makanan mereka memilih untuk duduk di area gazebo di samping kantin sekolah. Disitu, selain gazebo di sekelilingnya terdapat beberapa bangku taman permanen yang terbuat dari beton.
Arrida dan Uwais memilih duduk di salah satu bangku tersebut, dan kini mereka menikmati jajanannya.
"Wais, Da ...." sapa Rian menghampiri keduanya.
"Yan, duduk!" Uwais menggeser duduknya mendekat ke arah Arrida. Dan Rian pun kini duduk di sebelah Uwais.
"Kak Yan, makan," kata Arrida yang ikutan menggeser tubuhnya lebih menepi ke sisi bangku.
Dia menawarkan jajanan yang sedang dipegangnya.
Jujur, semenjak kejadian pengungkapan cintanya pada Arrida, hubungan mereka tidak terlalu dekat. Bahkan cenderung saling menghindar.
Uwais menangkap kecanggungan diantara keduanya.
__ADS_1
"Dari mana Yan, gak makan?" tanya Uwais menetralkan kecanggungan yang terjadi diantara Rian dan Arrida. Ia menyeruput jus lemonnya.
"Udah tadi," jawab Rian. Entah kenapa dia juga tiba-tiba menjadi merasa canggung berhadapan dengan Uwais saat bersama Arrida "Kalian berdua dari tadi disini?" tanyanya terlihat bingung.
"Lumayan, nih, baru abis separo," jawab Uwais santai. Ia mencoba bersikap biasa seolah dia tidak mengetahui apa yang terjadi antara Arrida dan Rian.
Rian mengangguk. Cowok cool mantan ketua PMR itu berdehem, seperti ingin memulai percakapan.
"Wais, Da ... boleh nanya?" tanya Rian ragu-ragu
"Nanya aja Yan, kenapa sih kayak bingung gitu?" Uwais malah menjadi heran.
"Kalian berdua jadian?" tanya Rian sangat jelas.
Arrida tersedak karena mendengar pertanyaan Rian. Sementara Uwais yang juga terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba dari Rian hanya menoleh pada Arrida yang tersedak. Tangannya terulur begitu saja menepuk pelan punggung Arrida.
"Pelan-pelan makannya ...." kata Uwais sambil tertawa kecil. Ia tau Arrida tersedak bukan karena makan yang terburu-buru tetapi karena pertanyaan dari Rian.
"Udah pelan kok, Kak," ucap Arrida sambil meminum milkshakenya.
"Terus kenapa nyampe tersedak gitu? Karna dengar pertanyaan dari Rian?" tanya Uwais tanpa ragu-ragu. Ia tampak santai.
"Ya Ampun ... dijelasin banget sih tu pertanyaan," gumam bathin Arrida.
"Ya ampun Yan, pertanyaan kamu aneh-aneh, lihat tuh bikin Arrida tersedak," Uwais mengalihkan pandangannya pada Rian
"Sori sori ... abisnya gue penasaran aja, udah lama pengen nanya, gak nyampe-nyampe. Daripada mati penasaran, mending ditanyain, kan?" kata Rian sambil tertawa, dia sudah mode santai, tidak lagi canggung.
"Bener juga," Uwais mengangguk sambil menghabiskan jus lemonnya.
"Jadi???" tanya Rian melirik pada Uwais dan Arrida bergantian. Ia menunggu jawaban atas pertanyaannya.
"Nggak, kita gak jadian," jawab Uwais seadanya. "Ya kan, Ar?" tanyanya kemudian pada Arrida, ia meminta persetujuan atas ucapannya.
Arrida mengangguk. Jawaban yang diberikan Uwais memang benar, mereka tidak jadian. Ikatan mereka hanya sebatas teman, sekedar kakak tingkat dan adik kelasnya. Tapi entah kenapa, ada rasa nyeri yang dirasakan oleh Arrida. Rasa seperti hanya dia sendirian yang memiliki rasa 'cinta' tanpa ada balasan dari orang yang dicintai. Sakit.
Uwais membaca raut wajah Arrida yang menunjukkan kekecewaan atas pengakuannya itu.
"Sekarang sih belum jadi pacar, Yan, gak tau besok-besok, doain aja, kalo jodoh gak akan kemana,"
Itu jawaban Uwais. Dia bukan tidak peduli dengan perasaan Rian, dia hanya ingin Rian bisa move on, walau bagaimanapun jika akhirnya dia dan Arrida bersama, Rian harus bisa menerimanya dengan lapang dada.
"Okke, gue doain, mudah-mudahan lo gak ditolak," jawab Rian sambil tersenyum canggung mengingat kejadian waktu di ditolak cintanya oleh Arrida. Selama ini Rian memang tidak pernah bercerita pada siapapun jika dia menyukai Arrida dan pernah mengungkapkannya. Walaupun sebenarnya Uwais, Roni, Asep telah mengetahuinya secara tidak langsung.
Arrida tersenyum kaku menatap Rian. Namun rasa sakit di hatinya tadi, sedikit terobati mendengar perkataan Uwais yang mengatakan kalau jodoh tidak akan kemana. Masih boleh kan kalau dia berharap?
...πΈπΈπΈπΈπΈ...
...ππππππππππππππππ...
Halo kak readers mampir juga yuk ke novel sahabatku kak Putri Nilam Sari. pokoknya keren banget ini mah... dijamin seru abis. jangan lupa dukung authornya ya kak readers....
Blurb
Bercerita tentang manis pahitnya kehidupan seorang wanita cantik bernama Sashi yang harus berjuang membesarkan putranya seorang diri setelah kematian suaminya karena kecelakaan. Sashi yang seorang desainer harus mampu mengelola dan mempertahankan perusahaan peninggalan suaminya dari sifat tamak adik iparnya.
Seiring waktu, Sashi berubah menjadi seorang CEO wanita dan seorang Ibu serta akan menguak misteri kematian suaminya. Apakah ketika semuanya terkuak Sashi masih sendiri, atau ia berhasil menemukan pendamping hidupnya?
...Happy reading yaaaaπππ...
__ADS_1
...πππππππππππππππππ...