Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
146. Extra part


__ADS_3

Malam itu, Arrida dan Uwais sedang menunggu band utama tampil, mereka sengaja tidak ikut berkerumun, mereka lebih memilih duduk di bangku taman yang agak jauh dari panggung, sambil menikmati eskrim.


"Beneran nih kakak gak mau eskrim nya?"


"Aku udah kenyang, Cinta, makanlah, kamu membutuhkannya, buat pertumbuhan tulang, biar tinggi, gak segini aja!" kata Uwais sambil memegang pucuk kepala Arrida.


"Ish," Arrida menyipitkan matanya melirik Uwais.


"Hahaha, kamu emang lucu dan menggemaskan, Cinta!"


"Emang!" Arrida malah sengaja mengerjapkan kedua mata genitnya berkali-kali.


"Hmmm anak ini, malah menggoda,"


"Kenapa? Takut tergoda? Takut khilaf ya, Bang?" goda Arrida makin genit.


"Gak lah, kalo sekarang khilaf dapet pahala kok, udah sah ini!"


"Ooooy senang sekali rupanya ni abang," kata Arrida sambil kembali menikmati eskrim.


Uwais tergelak mendengar celotehan Arrida.


"Tunggu, Ar!"


"Ada apa?"


"Aku nyicip eskrimnya ya!" kata Uwais langsung menarik tengkuk Arrida, dan menikmati eskrim yang ada di bibir Arrida.


"Emph," Arrida pun pasrah dengan apa yang dilakukan suaminya itu, tak masalah, dia juga menyukainya.


"Ih, nakal! Tuh kan, es krimnya jadi jatuh!" Arrida protes, setelah Uwais membersihkan sisa es krim di sekitar bibir Arrida.


"Kamu megangnya yang gak bener!"


"Aku megangnya bener, Kak, tapi kalo ada yang nyerang aku mendadak kayak tadi aku bisa apa?" kata Arrida sambil tertawa kecil.


Uwais tergelak.


"Tau gak, soalnya bibir kamu lebih manis rasanya, daripada es krim!"


"Ish, tapi kan, aku jadi gak makan es krim!" gerutu Arrida.


"Ya udah, tunggu disini ya, aku beli lagi!"


Arrida mengangguk.


Di saat Uwais membeli es krim di kedai, tiba-tiba dari arah panggung terdengar ricuh, sangat kacau. Arrida menjadi bingung dan penasaran, ia bangun kemudian menghampiri kerumunan. Tak disangka dari arah lain berlarian lagi massa. Ternyata mereka hanya ingin melihat dari dekat band tanah air terkenal yang sedang naik daun saat ini.


Arrida sempat terdorong, dan terjatuh dengan sangat kuat, hingga menyebabkan dirinya pingsan. Untung saja, Uwais segera datang dan menolongnya. Ia menggendong istrinya itu lalu dibaringkannya di rerumputan.


Digoyangkan tubuhnya agar sadar.


"Ar, bangun, Ar!" ucapnya. Ia benar-benar panik.


"Ya Alloh, kenapa lagi ni?"


Uwais mendekap tubuh Arrida sangat erat. Menghujani keningnya dengan kecupan penuh khawatir.


Disaat orang-orang sedang ramai mendengarkan musik dan lagu yang dinyanyikan oleh band yang sedang tampil, Uwais justru sedang cemas menunggu Arrida sadar. Ia biarkan kepala Arrida di atas pangkuannya, sambil satu tangannya memijat tangan istrinya itu.


Kira-kira sepuluh menit berlalu, akhirnya Arrida sadar.


"Cinta, kamu gak papa, mana yang sakit?" tanya Uwais sambil mengusap wajah Arrida.


Wanita itu mengerutkan keningnya seperti kebingungan dan menahan sakit di kepalanya. Tanpa menjawab pertanyaan Uwais, dia menatap Uwais.


"Aku dimana? Apa aku udah mati? Apa ini surga? Apa kamu malaikat? Ya Alloh, tampan bangeeeet!" Arrida menangkup pipi Uwais.


"Ar, kamu gak papa?" tanya Uwais heran, "Jangan aneh-aneh deh," lanjutnya.


"Apa ini mimpi? Kamu orang atau malaikat?" tanya Arrida.


"Kamu tau siapa kamu?" tanya Uwais sambil membangunkan tubuh Arrida dari pangkuannya.


"Aku ... Aku siapa ya?" tanya Arrida pada dirinya sendiri. Tangannya memegang kepalanya yang tiba-tiba berdenyut nyeri. Rupanya saat jatuh, kepala Arrida membentur kuat sebuah bangku taman beton. Ada sebuah benjolan yang cukup besar di kepalanya yang tertutup kerudung.


"Ya Alloh, jangan bilang Arrida hilang ingatan,"Uwais bermonolog.


"Kamu bilang apa?" Arrida bingung.


"Ya Alloh, baru hari ini ingatanku pulih, kenapa sekarang malah Arrida yang hilang ingatan?" tanya Uwais dalam hati.


"Ayo kita pulang, istirahat, besok pagi kita periksa ke dokter Arva," ajak Uwais sambil menarik tangan Arrida agar wanita itu berdiri.


"Ih, gak mau, aku pengen lihat itu!" kata Arrida sambil menunjuk lampion yang beterbangan ke angkasa.


"Oh, ya udah, lihat itu dulu aja, nanti baru kita pulang ya," kata Uwais sambil menarik lengan Arrida menuju area penerbangan lampion di dekat danau.


"Kamu kenal aku?" tanya Arrida pada Uwais ketika mereka sudah tiba di depan danau.


"Kamu Arrida, kamu istriku," jawab Uwais.


"Trus kamu siapa?"


"Aku suamimu, namaku Uwais!"

__ADS_1


"Benarkah? Aku istrinya malaikat tampan?" kata Arrida sambil melirik memperhatikan wajah Uwais.


"Kenapa ditatap terus?" tanya Uwais pada Arrida yang tengah asik menikmati wajahnya.


"Karena kamu tampan banget, aku gak pernah nemuin manusia tampannya kayak kamu!"


Uwais tersenyum gemas, dia tidak tahu harus menjawab apa.


"Kamu mau menerbangkan lampion?" tanya Uwais.


Arrida mengangguk.


"Ayo!" ajak Uwais, kemudian menggandeng tangan Arrida menuju tempat lampion diterbangkan.


"Maafkan aku pernah melupakanmu, Arrida, secara real, aku tak akan pernah melupakanmu!" ucap Uwais setelah mereka memegang lampion berwarna biru muda.


Arrida hanya diam memperhatikan wajah Uwais, tidak ada reaksi lebih kecuali senyum manisnya.


"Ada apa?"


"Kamu tampan banget!" Arrida masih memujinya tidak, tapi memuja lelaki itu. "Benar-benar pujaan hati, Hatiku Padamu, Kak, selalu selamanya!"


"Eh, apa kamu bilang? Kak? Apa kamu tau aku?"


"Tentu saja, kamu suamiku kan, kak Uwais!"


Entahlah apa yang sedang dirasakan oleh Uwais, dia malah menjadi bingung.


"Kamu ingat?" Uwais berbinar. Ternyata Arrida mengingat dirinya.


"Iyalah, bukannya tadi kamu bilang seperti itu? Jika suami maka aku panggil Kak, kayaknya kamu juga lebih tua dari aku!" jawab Arrida.


Uwais kembali kecewa, namun ia bisa merasakan jika tatapan istrinya itu terlihat penuh cinta dan kebahagiaan.


"Kita terbangkan ya!" kata Uwais.


Arrida mengangguk.


"Kamu gak ingin mengatakan sesuatu?" tanya Uwais lagi.


"Udah, terbangkan aja!"


Akhirnya lampion berwarna biru itu pun terbang ke angkasa.


"Wah, ada kembang api juga ya," celetuk Arrida.


"Kamu tahu bakal ada kembang api?" tanya Uwais


"Lah, itu tulisannya!" Arrida menunjuk sebuah tulisan di spanduk besar: Anniversary taman bunga dengan acara pesta lampion, pesta kembang api dan penampilan band dari ibukota.


"Iya,"


"Ya udah, duduk di sini!" ajak Uwais sambil membawa Arrida duduk di rerumputan.


Arrida menurut.


Wanita itu sangat menikmati suasana di tempat itu.


"Ada yang sakit?" tanya Uwais sambil meraba kepala Arrida yang dibalut kerudung.


"Di sini sakit!" kata Arrida sambil menunjuk bagian kepala yang sakit karena terbentur.


Uwais mencoba meraba, lalu tangannya menyelusup ke dalam kerudung Arrida.


"Ya Alloh, ini benjol gede banget," kata Uwais sambil mengusap-usap benjolan tersebut.


"Ini sakit banget ya?" tanya Uwais.


"He-emm," jawab Arrida manja.


"Sini," perintah Uwais sambil menarik kepala Arrida agar berada di atas pangkuannya.


"Gak mau!" tolak Arrida masih manja.


"Biar aku usap-usap, nanti sampai rumah kita olesi minyak, agar bengkaknya kempes!"


"Peluk aja!"


"Ehm?" Uwais heran, aneh juga permintaan istrinya ini.


Karena tak ada juga reaksi dari Uwais, akhirnya Arrida menyandarkan kepalanya di lengan Uwais.


"Gini aja kalo gitu," kata Arrida dengan tangan yang melingkar di lengan Uwais.


Lelaki itu membiarkannya, ia juga menyukai apa yang istrinya lakukan. Bermanja.


Tak lama setelah lampion-lampion berlalu, berganti kembang api yang kini menghiasi langit taman bunga.


"Ah, benar-benar hangat," ucap Arrida saat memandang indahnya kembang api, ia mengeratkan genggaman tangannya.


"Apa kakak tau, aku gak mungkin melupakan kakak," ujar Arrida.


"Jadi?" Uwais terkejut, ia memiringkan kepalanya menatap wajah Arrida.


Wanita itu tersenyum. "Apa kakak takut jika aku melupakan kakak?"

__ADS_1


"Jadi kamu bohong? Kenapa ngerjain aku, hm?"


"Heee, aku hanya ingin tau reaksi Kakak!" kata Arrida sambil nyengir.


"Aku gak tau apa maksud kamu, tapi kamu udah buat aku khawatir dengan kondisi kamu, aku tidak peduli andai kamu melupakan aku, aku akan selalu di sisi kamu, berusaha untuk mengembalikan ingatanmu tentang ku, andai kata itu tidak bisa terjadi, maka aku akan berjuang untuk membuatmu mencintaiku kembali!" jelas Uwais.


"Ah, Kakak, kamu selalu buat aku melting!" kata Arrida sambil menarik kepala dari lengan Uwais.


Uwais tersenyum. Kini wajah keduanya saling berhadapan. Satu tangan Uwais terulur mengusap pipi Arrida.


"Beneran kamu gak papa? Kamu gak hilang ingatan?" tanya Uwais memastikan.


"Nggak, Kak, aku niatnya pengen nge prank Kakak aja, tapi ternyata aku gak bisa lama-lama untuk pura-pura lupa,"


Uwais tersenyum.


"Serius? Benjolan di kepala kamu lumayan lho!"


"Iya, tadi sakit banget, tapi sekarang udah berkurang!"


"Bener ya kamu gak papa?"


"Bener Kakak tampan!" Arrida kini menangkup kedua pipi Uwais, kemudian ia mengecup sekilas bibir Uwais. Ah, tidak, Uwais tak memberikan kesempatan untuk melepaskannya, kini justru ia menahan ciumannya. Cukup dalam dan lama.


"Kamu istri nakal udah ngerjain suami, aku pastikan kamu akan membayar hal ini,"


"Eh, aku kan gak hutang, kak!"


"Aku gak peduli, lihat aja nanti!" ancam Uwais.


"Uuuuuh aku takuuuut!" kata Arrida sambil menangkup kedua pipinya sendiri dan menggeleng.


Uwais tergelak melihat tingkah istrinya yang sangat menggemaskan.


๐ŸŒผ


"Kakaaaaaaak!" teriak Arrida, sambil bangun dari tidurnya. Suasana di kamar itu sangat gelap, seperti mati lampu.


"Appaa Cintaaa?" tanya Uwais lembut, matanya masih terpejam, tangannya terulur meraba sampingnya.


"Ah, aku kira kakak pergi!" kata Arrida sesaat setelah merasakan sebuah tangan memegang tubuhnya.


"Sudah, tidur lagi, belum adzan subuh!" kata Uwais.


"Ini mati lampu ya,"


"Hmm, tadi jam setengah tiga, sekarang mungkin baru jam tiga!"


๐ŸŒผ


"Kakaaaaaak!"


"Apa Cinta, hm?"


Selalu saja panggilan itu terdengar, setiap saat di rumah Arrida dan Uwais. Sebuah teriakan manja Arrida untuk Uwais, dan jawaban lembut dari Uwais untuk Arrida.


Betapa menyenangkannya mereka menjalani keseharian mereka. Oh ya, mereka tidak memiliki malam pertama seperti kebanyakan pasangan suami istri lainnya. Yang mereka miliki adalah siang pertama. Mereka juga bersama Arman dan Fika selalu mengunjungi keluarga di kota S. Dan jika sudah tiba di kota S, mereka selalu berziarah ke makam pak Ridwan dan pak Arthur.


Kemudian, seperti yang pernah Uwais katakan, jika dia ingin wisuda bersama dengan Arrida pun akhirnya terwujud. Seminggu setelahnya, mereka mengadakan resepsi pernikahan. Pertama di kota S, kemudian di kota X.


Saat resepsi di kota X, keluarga dari kota S pun juga hadir meramaikan.


Bu Tania dan Bu Sofia, hot grand mom.


Adnan, Hani dan putrinya yang masih berusia dua bulan. Ya, akhirnya Hani bisa hamil lagi beberapa bulan setelah keguguran karena tsunami.


Kemudian mas Fariz dan putri kecilnya Aulia. Hot daddy yang satu ini ternyata belum bisa move on dari Rara, apalagi jasad Rara dan Tsania tidak ditemukan.


Andri juga masih jomblo, masih teringat Nana.


Andika sudah memiliki pasangan, May namanya, dia bekerja di resto yang dikelola olehnya.


Kirno dan Lani sudah bertunangan.


Arman dan Fika memiliki putra yang tampan yang diberi nama Armando Ridwansyah, nama antara Arman dan pak Ridwan.


Dan akhirnya Uwais tau kenapa istrinya itu bernama Arrida, Ar dari nama Arthur sementara Rida dari nama Sofia Faridani. Nama yang diambil dari nama orang tuanya.


"Lalu kita mau kasih nama anak kita siapa, hm?" tanya Uwais sambil mengusap perut Arrida yang tengah hamil memasuki usia enam bulan.


Arrida tersenyum, menurut dokter, bayi yang ada dalam kandungannya adalah kembar. Kemungkinan berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Wah, senangnya mereka akan memiliki putra dan putri.


...๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ...


Ayo kak readers ada yang mau kasih nama ga๐Ÿคญ๐Ÿคญ๐Ÿคญ


Akhirnya extra part ini bisa ditulis, tadinya, bagian ini mau dijadikan satu dengan part ending, tapi belum nyampe antara otak sama ngetik.


Syukur lah akhirnya selesai juga


Semoga suka ya Kakak Readers๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ


Sehat selalu, bahagia selalu kak readers


Hatiku Padamu Kak Readers ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2