
"Aku ingat semua, Cinta!"
"Termasuk makam papah sama ayah?" tanya Arrida.
"Iya, kita pernah kesana kan sama mas Fariz," jawab Uwais sangat meyakinkan.
Arrida mengangguk.
"Jadi, ini beneran kak Uwais yang dulu aku kenal dengan semua ingatannya?"
"Iya, Cinta!"
Arrida berbinar.
"Kenapa?" tanya Uwais.
"Gak papa, aku seneng aja, apa Kakak inget waktu ultahku ke tujuh belas?"
"Banyak yang terjadi, yang mana? Waktu kamu tampil? Atau waktu ke panti asuhan? Atau pas kejadian konser?"
"Setelah aku tampil, kakak nungguin aku di gazebo,"
"Oh iya, kenapa?"
"Apa kakak ingat satu doaku yang tidak sempat kakak aminkan?"
"Adakah doa yang tidak aku aminkan?"
"Ada, waktu aku bilang 'Semoga kakak gak lupain aku',"
"Iyakah?" tanya Uwais bingung.
"Iya, padahal doa yang sebelumnya pas aku bilang 'Semoga di ulang tahun kakak yang ke sembilan belas tahun ini, kakak makin sholih, sehat, sukses, dan barokah', Kakak mengaminkannya!"
"Benarkah?"
"Bener Kak, saat itu kakak malah memprotes doaku, Kakak bilang 'Itu kamu ngasih doa atau minta sesuatu' dan kakak bilang lagi 'kita ya harus selalu ingat Allah, dan ingat orang tua kita, mana bisa ingat aku doang', trus aku protes, kan ranahnya berbeda, Kak,"
Uwais mengangguk, ia mulai mengingat percakapan saat di gazebo.
"Ternyata inilah yang terjadi, Kakak melupakan aku, karena tidak mengaminkan doaku saat itu,"
"Maaf ya, aku ga tau, dan ga sadar, jika aku tidak mengaminkan doamu waktu itu!"
"Hmm," Arrida mengangguk. "Rasanya sedih banget dilupakan oleh orang yang dicintai, apalagi suami sendiri!"
Uwais menyunggingkan senyuman tipisnya. "Maaf ya, aku tidak pernah benar-benar berniat melupakan kamu,"
"Iya, aku tau Kak, tapi sungguh, hal itu sangat menyedihkan buat aku,"
"Dan melupakanmu itu adalah hal yang sangat menyakitkan buatku!" ujar Uwais. Hati Arrida terenyuh. Ia pun mengembangkan senyumannya. Dan akhirnya, setelah makan siang mereka pun melanjutkan dengan menonton film di bioskop.
๐ผ
Seperti mengulang kencan pada waktu itu, sore harinya, Uwais membawa Arrida ke taman bunga untuk melihat matahari terbenam. Kali ini Uwais memilih tempat paling ujung taman, mereka duduk di rerumputan, menghadap danau. Tempatnya cukup sepi, hanya dua atau tiga pasangan yang ada di dekat mereka, sementara pengunjung lainnya, banyak berkumpul di dekat panggung area taman bunga, karena hari ini akan ada band tanah air mengisi acara ulang tahun taman bunga. Belum lagi seperti acara sebelumnya akan ada pesta lampion dan kembang api.
__ADS_1
"Ah, hangatnya?" ucap Arrida saat melihat senja di ufuk barat.
"Ehm? Kok hangat? Bukannya indah?" tanya Uwais.
"Matahari terbenam akan selalu indah, dan keindahan itu akan tergantikan dengan adanya malam,"
"Lalu?" Uwais masih bingung dengan kata 'hangat' yang dikatakan oleh Arrida.
"Perasaan ini, Kak, perasaan yang selalu menghangat jika aku bersama kakak, apapun keadaaannya, walaupun senja telah berganti malam! Tapi kalau tanpa kakak, menyaksikan matahari terbenam sendirian, gak ada apapun yang dirasakan, apalagi kalo malam udah datang, yang terasa hanya sepi!"
Uwais tersenyum, ia juga merasakan hal yang sama dengan perasaan istrinya itu.
"O ya, kakak inget gak, waktu kakak kasih gelang ini, kakak bilang, agar aku selalu ingat kakak, sementara kakak juga bilang, tanpa aku ngasih sesuatu, kalau kakak akan selalu mengingatku!" kata Arrida sambil menunjukkan gelang berinisial A yang dulu diberikan oleh Uwais saat ulang tahun yang ke enam belas.
"Aku ingat, dan maaf karena aku pernah melupakanmu!"
"Kayaknya, aku juga harus kasih gelang biar kakak selalu ingat aku!" kata Arrida dengan raut wajah penuh penyesalan.
"Kamu kayaknya masih marah en nyesel ya, aku pernah lupain kamu? Hm?"
"Iya, rasanya ada yang gak ikhlas disini, kenapa coba kakak bisa melupakan aku!" jawab Arrida cemberut.
"Itu kan karena bencana, Cinta, itu takdir!"
"Aku tau, itu takdir! Apa Kakak tau perasaan aku, saat tiba di kota S? Campur aduk, apa mungkin aku masih bisa bertemu kakak, orang tua, keluarga dan orang-orang yang aku sayangi? Aku gak sanggup bayangin hal buruk walaupun akhirnya harus aku terima, aku hampir aja putus asa, tapi Alloh menunjukkan semuanya kepadaku, aku ketemu kakak, jasad papah dan ayah," Mata Arrida kembali berkaca-kaca.
"Ya Allah, makasih udah nuntun Arrida-ku untuk menemukanku! Dan makasih Cinta, udah bersabar dan bertahan untukku," Uwais ikut berkaca-kaca, merasakan perjuangan Arrida mencarinya.
"Allah yang menguatkanku, peristiwa itu bener-bener mengerikan!" komentar Arrida.
"Sangat! Sangat mengerikan, semoga Alloh melindungi kita, dan semoga papah dan ayah, juga orang-orang yang terkena bencana husnul khotimah,"
"Hush, Ar, difilter kalo bicara, jangan sampai kita nyalahin Allah, apapun kejadiannya itu sudah ketetapan Allah yang terbaik dan diridhoi oleh Allah, andai kata itu terjadi, ikhlaslah, kembalikan pada Allah, hanya itu caranya kamu bisa menerima!" jelas Uwais. Arrida hanya terdiam, ia merasa bersalah seakan-akan memprotes Tuhan. Uwais yang mengerti apa yang dirasakan Arrida, segera menggenggam tangannya.
"Aku juga ga bisa bayangin, jika hal itu terjadi, tapi aku yakin, dengan berjalannya waktu, lukamu akan sembuh dan tanpa aku, kamu bisa hidup dan menemukan kehidupan lebih baik lagi!" ujar Uwais.
"Kenapa kakak bilang gitu? Apa iya, aku bisa hidup tanpa Kakak? Bahkan jika kakak memang meninggal saat itu, aku udah minta sama Alloh agar aku diijinkan nyusul kakak, aku ingin bersama kakak, di kehidupan ini, dan di kehidupan akhirat!"
Uwais tersenyum tipis. Perasaannya campur aduk. Hingga ia tidak dapat berkomentar apapun.
"Kenapa Kakak diam?" Arrida menoleh, memperhatikan Uwais yang hanya terdiam dengan tatapan kosong mengarah ke danau.
"Lagi mengaminkan apa yang kamu katakan, andai itu pun terjadi padaku, aku pasti juga akan melakukan hal yang sama!"
Arrida pun ikut terdiam. Ada keharuan menyeruak di hatinya. Tatapannya dia alihkan ke arah danau.
"Apa boleh kita berharap mati?" tanya Arrida tanpa menoleh sedikitpun pada Uwais.
"Tidak boleh, tapi kalau berharap kita selalu bersama di dunia dan akhirat, tentu saja boleh," ucap Uwais sangat meyakinkan.
"Ah, iya bener! Aamiin!" ucap Arrida pasti. Ia kemudian menyandarkan kepalanya di lengan Uwais sambil mengeratkan genggaman tangannya.
"Aku udah kehilangan ayah, dan aku gak mau kehilangan Kakak, kalian adalah cinta pertamaku,"
"Kamu juga cinta pertamaku dan terakhir untuk aku!" kata Uwais sambil tersenyum. Lalu tangannya merogoh saku celana. Dia mengeluarkan sebuah kotak beludru mungil. Berisi sebuah cincin.
__ADS_1
"Arrida Lathifatunnisa, kamu adalah istriku, bidadari dalam hidupku, sahabat sholihah ku dunia dan akhirat!" Dipegangnya satu tangan Arrida, lalu dia sematkan cincin indah itu di jari manis Arrida.
Wanita itu tersenyum. Wajahnya berbinar, merona merah muda.
"Ini cincin pernikahan, maaf, baru bisa menyematkannya di jari manis kamu!" kata Uwais. Kini dia menggenggam kedua tangan istrinya itu. Namun Arrida segera melepas kedua tangannya dari genggaman Uwais, dan hal itu membuat suaminya merasa aneh dan bingung.
Secepat kilat tangan kanan Arrida meraih telapak tangan kanan Uwais, menjabatnya erat, lalu mencium punggung tangannya, sebagai rasa hormat dan cinta pada suaminya itu.
"Kakak adalah suamiku, malaikat pelindung ku, sahabat sholihku dunia akhirat, makasih, sudah mau menjadi imam dalam hidupku!" ucap Arrida penuh haru, air mata kebahagiaan pun mengalir dari kedua sudut matanya. Ia masih menunduk menciumi punggung tangan suami tersayangnya itu.
Uwais mengangguk, ia juga sempat menitikkan air mata haru dan bahagianya. Tangan yang satunya terulur mengusap pucuk kepala istrinya penuh kelembutan.
"Terima kasih, Cinta! Terima kasih telah mencintaiku, terima kasih telah menerimaku menjadi pendamping hidupmu!"
Arrida kembali duduk tegak, masih ada sisa-sisa air mata di kedua pipinya. Kini ia menatap wajah tampan cinta pertamanya itu yang sudah resmi menjadi pendamping halalnya. Bahagia.
Uwais mendaratkan ciuman di kening Arrida sangat dalam dan lama. Dan beberapa detik kemudian, satu tangannya meraih tengkuk istrinya itu, lalu mencium bibir mungil dan cantik itu penuh kelembutan dengan perasaan yang membuncah indah di dalam hatinya. Hangat.
Awalnya Arrida terkejut, namun dengan segera ia pun menyambutnya, dan meluapkan segala rasa yang ada di dalam hatinya. Hingga kedua tangannya meremas sisi kemeja Uwais. Ia tahu, inilah first kissnya.
Kedua hati mereka berdebar indah, degup jantungnya pun berdetak tak karuan. Namun, keduanya sengaja membiarkan perasaan mereka menari dengan irama yang tak karuan itu.
"Maaf, jika pernikahan kita tidak seperti yang kamu inginkan dan sempat kita rencanakan, tapi mudah-mudahan kita bisa sakinah, mawaddah warohmah dan barokah until jannah!" kata Uwais setelah melepaskan ciumannya, dan mendekap erat wanita kesayangannya itu.
Arrida mengangguk dalam dekapan Uwais.
"Semoga ayah dan papah, bisa melihat kebahagiaan kita ini ya, Kak!" ucap Arrida sambil mengeratkan dekapannya.
"Iya," Mereka pun saling menikmati kehangatan dalam dekapan mereka.
"Aku mencintaimu kamu, Ar!"
"Aku juga mencintai kakak!"
"Aku yang sangat mencintai kamu, Cinta!"
END
...๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ...
Alhamdulillah, akhirnya bisa khatam kisah "Arrida dan Uwais" nya. ๐๐๐๐
Makasih kak readers ya selalu menyemangati agar bisa Up terus walau banyak kendala. ๐
Semoga Kak Readers menyukainya๐
Maaf masih banyak kesalahan dan kekurangan๐
Makasih telah setia membaca๐ฅฐ
Makasih telah setia mendukung๐ฅฐ
Makasih udah nge 'like' sama Uwais dan Arrida๐ฅฐ Semoga kak readers sehat selalu, bahagia selalu...๐คฒ๐คฒ๐คฒ๐๐๐
...Love you all๐๐๐...
__ADS_1
...Hatiku Padamu Kak Readers ๐๐๐...
Sabtu, 16 April 2022/14 Ramadhan 1443H