
Arrida selesai diobati. Dia juga sudah membersihkan diri. Begitupun dengan Uwais. Mereka mengenakan baju yang disediakan oleh seorang warga, karena baju mereka sangat kotor dan bau.
"Sudah, kalian pulanglah! Tidak usah meneruskan kegiatan! Kamu bawa motor, kan, antarkan dia ya!" perintah pak Sofyan, salah satu guru pendamping acara bakti sosial dari bidang kesiswaan. Dia memang mempercayakan Arrida pada Uwais. Pak Sofyan sudah sangat mengenal Uwais, hampir tiga tahun ini dia menjadi walikelasnya. Dia hafal betul dengan sifat anak didiknya. Dia juga begitu mengagumi sosok Uwais. Seorang remaja yang suka menolong, amanah, dan berani.
"Tapi Pak ...." Arrida merasa tidak enak.
"Gak papa, kalian juga besok harus mempersiapkan buat kegiatan donor darah, kan?"
Uwais dan Arrida mengangguk bersamaan.
"Ya udah, segera pulang, nanti keburu hujan, udah mendung, lagian, disini juga kegiatannya udah hampir selesai, paling tinggal taman baca dan pembagian sembako, semua bisa dihandle teman-teman kalian!" kata pak Sofyan menjelaskan agar keduanya tidak usah khawatir dengan kegiatan bakti sosial.
Akhirnya mereka pun menuju motor yang diparkirkan oleh Uwais di dekat mushola.
"Pake nih!" perintah Uwais sambil menyerahkan sebuah helm.
"Tumben bawa helm dua!" Arrida mengambil helm dari tangan Uwais lalu memakainya.
"Tadi kan kesini bareng Roni!"
"Wah, berarti nanti kak Roni pulang sendiri dong!"
"Ya nggak lah, kan masih banyak temen yang lain,"
Arrida tersenyum, sebenarnya tanpa dia tanyakan pun, dia sudah tau kalau Roni akan pulang dengan yang lainnya. Dia hanya ingin berbasa-basi saja. Karena sebenarnya ia hanya tidak ingin terlihat gugup disebabkan hatinya saat ini sedang tak karuan, membayangkannya saja sudah bahagia luar biasa, berdua naik motor dengan seseorang yang disukai.
"Kok bengong, lagi mikir apa?"
"Eh, gak papa," Arrida tersadar dari lamunan sesaatnya.
"Bisa naik kan?" tanya Uwais.
Arrida mengangguk. Sebenarnya agak sulit juga untuk dia menaiki motor Uwais, karena lututnya masih terasa sakit apalagi kalau di tekuk, tapi Uwais memegang lengannya erat, membantunya untuk naik.
"Kayak pernah ngalami hal ini ya, Ar?"
Arrida menatap Uwais penuh tanya. Kini dia sudah di atas motor bagian belakang.
"Waktu pertama kali kita ketemu," kata Uwais mengingatkan kejadian ketika mereka pertama kali bertemu.
Tiba-tiba terdengar oleh telinga Uwais suara perut Arrida yang keroncongan. Ia pun tersenyum menatap Arrida yang sengaja mengalihkan pandangannya karena malu.
"Gak usah malu gitu, suaranya keras banget, laper yaaa," ledek Uwais.
Arrida akhirnya nyengir, sambil mengusap-usap perutnya.
"He ehm," Arrida mengangguk manja. Berharap cowok yang ada dihadapannya mengajaknya makan siang.
__ADS_1
Uwais melihat jam di pergelangan tangan kirinya. Ternyata memang sudah mendekati waktu istirahat makan siang.
"Wah, bentar lagi emang acara imashol (istirahat makan sholat).... Gimana? Mau nunggu disini aja biar bisa makan bareng temen-temen?"
"Ih gimana sih kak, pak Sofyan kan udah nyuruh kita pulang, masih ngarep nasi kotaknya gitu?"
"Hehe, bercanda Ar, diledekin malah serius ... Ya udah, sebelum pulang cari makan dulu yuk!" kata Uwais sambil menaiki motornya. Arrida menyunggingkan senyum kecilnya. 'yes'
Langit semakin gelap, angin berhembus lumayan kencang. Uwais pun memutuskan untuk berhenti di sebuah warung mie ayam dan bakso di pinggir jalan.
"Disini gak papa ya," kata Uwais yang kemudian mendapat anggukkan dari Arrida.
Akhirnya mereka pun masuk, dan duduk di tempat lesehan dengan meja yang lumayan kecil. Sepertinya memang sengaja disediakan hanya untuk dua orang saja. Uwais dan Arrida segera memesan seporsi mie ayam dan seporsi bakso.
"Kenapa milih bakso, Ar?" tanya Uwais sambil menambahkan kecap ke dalam mie ayamnya
"Suka aja, rasanya gurih," jawab Arrida sambil menambahkan dua sendok sambal ke dalam mangkuk yang berisi baksonya
"Heiii, jangan banyak-banyak sambalnya, perutmu kan tadi masih kosong," Uwais menahan tangan Arrida yang akan menambahkan sambal untuk yang ketiga kalinya.
"Gak mantep, Kak, masih belum pedes,"
"Mungkin perutmu gak sakit tapi kasihan kesehatan ususmu, udah, makanlah, dan nikmati saja, jangan berlebihan,"
Arrida cemberut, bibirnya manyun.
"Jadi, gak selera makan ya kalo gak pedes?" tanya Uwais.
Arrida diam saja, dia hanya memainkan sendoknya mengaduk-aduk mie yang ada di dalam mangkuk.
"Nih tambahkan!" Akhirnya Uwais menyerahkan mangkuk kecil yang berisi sambal pada gadis yang ada dihadapannya saat ini.
Wajah Arrida berbinar. Ia segera meraih sambal itu dan memasukkannya ke dalam mangkuk baksonya hingga dirasa pedas kuah baksonya pas menurut lidahnya.
Uwais hanya menggeleng melihat tingkah gadis kesayangannya itu.
"Rasanya jadi apa?" tanya Uwais sambil menyuapkan mie ayam ke dalam mulutnya.
"Gurih pedas," Arrida memang tidak terlalu menyukai saus ataupun kecap. Dia hanya akan menambahkan sambal ke dalam baksonya.
"Oiya, kalo kakak kenapa lebih milih mie ayam?" tanya Arrida kini.
"Karna porsinya lebih besar, dan bisa buat perut lebih kenyang,"
"Hah, jadi bukan karena kesukaan kakak itu mie ayam ya?" Arrida tidak habis pikir, ternyata alasan Uwais memilih mie ayam hanya karena porsi mie nya lebih banyak daripada mie yang ada didalam bakso
"Kenapa?" Uwais tertawa kecil melihat ekspresi gadis yang tengah menikmati baksonya.
__ADS_1
"Jadi, sebenernya, siapa yang laper sih?" tanya Arrida seperti menyindir Uwais, karena yang dia tau tadi perutnya lah yang keroncongan.
Uwais terkekeh. Dia tidak menjawab pasti pertanyaan Arrida. Karena sebenarnya mereka berdua sama-sama lapar.
"Sebenarnya, aku suka mie ayam karena manis, perpaduan kecap sama bumbu ayamnya, itu nikmat banget, tambah sambal jadi ... Manis pedas," kata Uwais akhirnya menjelaskan kenapa dia menyukai mie ayam.
Arrida mengangguk paham.
"Mau coba?" tanya Uwais.
"Nggak ah, udah kebayang manis pedas ...." kata Arrida sambil menikmati kuah baksonya. Matanya terpejam. Bibir merahnya mengulum ke dalam beradu dengan lidahnya, merasakan nikmatnya rasa kuah bakso.
Dan cara dia menikmati kuah bakso itu, ternyata tidak lepas dari perhatian Uwais. Uwais terdiam, dia tersenyum sambil melipat kedua tangannya diatas meja kemudian memperhatikan gadis kesayangannya itu makan bakso. Dia sangat menyukai cara Arrida menikmati makannya.
"Hei kak, kenapa malah lihatin aku makan? Emang bisa kenyang ya dengan hanya lihat aku makan?"
Uwais makin melebarkan senyumannya.
"Enak banget ya?" tanya Uwais kemudian.
"Hemmm iya... Ini pas banget ama seleraku, kakak mau coba?" tanya Arrida menawarkan.
"Boleh,"
"Hah, seriusan?" Arrida tidak percaya kalau Uwais mau mencicipi rasa baksonya.
"Okke," kemudian dia menyendokkan kuah bakso beserta mienya. Lalu mendekatkan sendoknya tepat di depan mulut Uwais.
"Kalau gitu kamu juga harus cobain punyaku ya," kata Uwais sambil mendekatkan sendok yang sudah berisi mie ayam dan kuahnya ke depan mulut Arrida.
Uwais dan Arrida saling berpandangan, mereka tersenyum dengan tangan yang sama-sama memegang sendok hendak saling menyuapkan. Perasaan campur aduk yang aneh dan indah hadir di hati keduanya. Seperti ada bunga-bunga keluar dari dalamnya.
Uwais membuka mulutnya, begitupun Arrida, kemudian mereka saling menikmati suapannya.
Uwais memejamkan matanya. Bukan, dia bukan menikmati rasa mie kepunyaan Arrida, lebih tepatnya dia seperti menahan sesuatu. Kemudian setelah dia menelan apa yang dikunyahnya tadi, dia pun membuka matanya, dia langsung menyeruput es jeruk miliknya.
"Ar! Ini bakso pakai sambal atau sambal pakai bakso, hah?" Hampir saja Uwais tersedak karena menahan rasa pedas di mulutnya
Arrida tertawa, namun mulutnya dia tutup dengan telapak tangannya.
"Gimana enak kan, Kak?"
"Hmmmh, gurih pedas," kata Uwais mengangguk sambil mengangkat ibu jarinya.
"Punya kakak juga enak, manis pedas," kata Arrida sambil mengangkat tangannya dengan ibu jari yang dikatupkan dengan telunjuk hingga berbentuk 'O', lalu menciumkannya ke mulut. 'mmuach' sebagai tanda rasa nikmat yang sempurna.
...🌸🌸🌸🌸🌸...
__ADS_1