
"Kakak kenapa nekat kesini hujan-hujan?" tanya Arrida lagi.
"Karena ingin ketemu kamu, aku ingin minta maaf! Maafkan aku ya!"
Arrida mengangguk pasti.
"Tadi waktu kamu pergi, aku sangat menyesal, lalu aku buka lemari, dan ada jaket ini, aku langsung memakainya!" ucapnya sambil membuka jas hujan.
"Kamu ingat, kan? Ini jaket pertama kali kita bertemu, yang aku suruh pake waktu di rumah sakit, dan kamu kembalikan ketika di perpisahan sekolah,"
Arrida mengangguk lagi.
"Ternyata didalam sakunya ada kertas surat cinta kamu, saat aku baca aku ingat wajah kamu, aku ingat saat aku menyanyikan lagu itu sambil memperhatikan kamu! Saat itulah aku mulai ingat kamu!"
"Benarkah?"
"Iya, makanya aku langsung kesini! Aku salah, aku udah buat kamu sakit hati! Maaf ya!"
Sekali lagi Arrida mengangguk.
Uwais pun mendekapnya kembali.
"Iya, kakak bikin aku sakit hati, kakak tega banget ngomong kayak tadi pagi, kenapa coba harus ada laki-laki lain jika aku memiliki kakak!"
"Ah, kamu bener, untuk apa ada yang lain jika aku punya kamu,"
"Hatiku padamu, Kak, dari dulu, gak berubah, apapun keadaan kakak, meski kakak pernah melupakan aku!"
"Maaf, aku cemburu, aku merasa tidak berguna jadi seorang suami!"
"Aku tau kakak merasakan seperti itu tapi kakak gak boleh bilang tentang cowok lain! Aku kesinggung, lagian waktu sama Rasya dan Andri itu kan dalam keadaaan yang berbeda, dan bukan berarti aku membutuhkan mereka!"
"Iya, Cinta, aku salah, maaf ya," kata Uwais sambil menciumi pucuk kepala Arrida.
"Udah ya marahnya, apa masih mau marah?" tanyanya kemudian.
Arrida menggeleng dalam dekapan suami tersayangnya itu. "Bagaimana aku bisa marah lama-lama kalo sikap kakak selembut dan semanis ini!" ucap Arrida dalam hati.
"Ayo kita pulang, badan kamu udah basah, pasti dingin!" Uwais bangun kemudian mengulurkan tangannya yang disambut oleh Arrida.
"Kakak beneran nggak ada yang sakit atau luka?" tanya Arrida setelah tubuhnya berdiri di hadapan Uwais.
"Nggak ada, Cinta, cuma sedikit aja kerasa linu ini pundak!"
"Yakin?"
"Yakin, Cinta!" ucap Uwais penuh kelembutan dan sangat menenangkan. Arrida pun tersenyum bahagia mendengar jawaban suaminya itu terlebih dengan panggilan 'Cinta'nya. Keduanya pun menuju tempat motor tergelincir.
"Ayo naik, hujan udah reda, kita lanjutkan kencan kita yang tertunda ya, kamu mau?" tanya Uwais setelah menaiki motornya.
"Sekarang?" tanya Arrida.
"Iya, kita pulang dulu, ganti baju," kata Uwais.
Arrida mengangguk bersemangat.
πΌ
"Apa?" tanya Arrida merasa risih ketika Uwais menatapnya sangat lekat, padahal dia sedang merapihkan jilbabnya di depan cermin.
"Kamu makin cantik!" puji Uwais tanpa beranjak dari sisi tempat tidur.
"Iya kah?" tanya Arrida sambil menyematkan sebuah bros motif bunga di kerudungnya. Ia membalikkan tubuhnya menatap suaminya. Lalu menyandarkan tubuhnya di pinggir meja rias .
__ADS_1
"Iya! Ini pertama kalinya aku memperhatikan kamu memakai jilbab,"
"Kemarin-kemarin, Kakak pernah kok ngelihatin aku,"
"Iya, tapi saat itu, perasaanku masih kacau dan ingatanku pun masih belum pulih, mungkin yang aku ingat saat itu adalah Arrida yang tidak berjilbab,"
"Jadi, Kakak suka yang mana? Aku yang berjilbab atau tidak?"
"Keduanya! Apapun dan bagaimanapun kamu, aku suka! Sudah aku bilang, kamu yang tidak berjilbab udah memikat ku pertama kali bertemu, dan sekarang, saat kamu berjilbab, kamu telah memikat ku untuk yang kedua kalinya, membuat aku makin mencintai kamu!" ujar Uwais sambil beranjak dari duduknya mendekati Arrida.
Wanita itu mulai salah tingkah, ia memperlihatkan wajah gugupnya.
"Kenapa ekspresi kamu seperti itu, hm?" tanya Uwais, ia sengaja mendekatkan wajahnya beberapa senti di hadapan Arrida, kemudian memindai mata indahnya.
Arrida menelan ludahnya sangat susah. Nafasnya tertahan apalagi saat kedua tangan Uwais menahan diri di meja rias sehingga membuat tubuh Arrida terkungkung.
"Ka-kak mau apa?"
"Menurutmu?"
"Eh, kakak jangan macem-macem ya!" Arrida mencoba menetralkan perasaannya.
"Aku mau menggodamu, apa tidak boleh?"
"Kak, gak usah aneh-aneh deh!"
"Hei, mana ada suami aneh-aneh sama istrinya, hm? Mau berbuat lebih pun tidak masalah kan?"
Arrida makin gugup dan salah tingkah.
"Lalu kakak mau apa?"
"Gimana kalo kita gak jadi kencan, lihat kamu cantik kayak gini, aku jadi ingin yang lain!" goda Uwais, ia sangat menyukai wajah merah muda milik Arrida.
"Apa yang seharusnya suami istri lakukan?" ucapnya seakan bertanya.
"Boleh a-ku mi-lih ken-can?" tanya Arrida terbata.
"Hahaha," Uwais tergelak. "Boleh, tapi ada syaratnya,"
"Apa?"
"Cium aku dulu!"
Wajah Arrida semakin merona.
"Kalo gak, kita gak akan pergi!" kata Uwais sedikit mengancam.
"Tapi kakak tutup mata dulu!"
"Emang kamu tau aku minta cium yang mana?"
"Kakak tutup mata dulu, terserah aku mau cium kakak bagian mana!"
Uwais tersenyum, ia pun menutup matanya.
Mmucch
Arrida mengecup pipi Uwais, kemudian segera berlari keluar menghindar. Sementara Uwais hanya tersenyum sambil menggeleng. Lalu segera mengejar Arrida.
"Lihatlah Bang, Alhamdulillah Uwais udah kembali, seneng rasanya lihat mereka," ujar Fika pada Arman, saat melihat Uwais dan Arrida dari balik kaca resto, mereka menaiki motor sambil tertawa hangat.
"Iya, semoga aja mereka bisa nyusul kamu!"kata Arman sambil mengusap perut Fika.
__ADS_1
"Bang, Rida masih kuliah!" sanggah Fika.
"Apa bedanya ma kamu, hm? Kamu kan juga masih kuliah!"
"Ah iya, kalo gitu terserah mereka lah!"
πΌ
Sesuai dengan yang dijanjikan oleh Uwais, mereka pun benar-benar melanjutkan kencan yang tertunda. Namun tanpa acara ke pantai apalagi harus snorkeling. Keduanya, hanya menikmati jalan-jalan di mall, berbelanja, dan makan siang.
"Apa Kakak sudah benar-benar mengingat semuanya?" tanya Arrida menyelidik. Saat ini mereka sedang menikmati makan siang. Arrida masih tak percaya jika Uwais sudah benar-benar pulih ingatannya. Rasanya malah canggung.
"Sudah! Aku sudah mengingat semuanya, Cinta, termasuk cintaku sama kamu!"
"Serius?"
"Kamu minta bukti apa? Hm?"
"Bagaimana kita bisa menikah? Apa Kakak tau?"
"Karena papah kritis, ya Alloh ...." Uwais menghentikan kalimatnya, matanya berkaca-kaca, mengingat pak Ridwan meninggal dunia.
"Kenapa?" Arrida heran. Lalu menggenggam tangan Uwais yang ada di atas meja. Uwais pun mengetatkan genggamannya itu.
"Kata mamah, papah sedih jika hidupnya belum bisa melihat aku berumahtangga, makanya terpaksa kita harus menikah cepat!"
"Iya bener, padahal usiaku kan belom dua tiga tahun," Arrida mengiyakan.
"Tapi kamu tidak merasa keberatan, kan?" tanya Uwais.
"Nggak, Kak, yang penting kan nikahnya ma kakak!" kata Arrida sambil tertawa kecil.
Uwais tersenyum, kemudian menarik tangan Arrida yang digenggamnya dan mendaratkan ciuman di punggung tangannya.
"Kamu tau, malam itu papah terus memegang tanganku, papah cuma bilang jaga kamu dan anak-anak kita kelak, serta memintaku untuk selalu berbahagia dengan kamu!" cerita Uwais tanpa melepaskan genggamannya.
"Tak lama, papah tersenyum sebentar, kemudian tiba-tiba menarik nafas panjang dengan menyebut nama Alloh, sambil giginya mengerat kuat seperti menahan sakit, dan trus papah memejamkan matanya," cerita Uwais dengan mata yang berkaca-kaca. Arrida ikut berlinang air mata
"Kakak masih beruntung, kakak ada disamping papah saat papah meninggal, sementara aku, ayah aku temukan sudah menjadi jasad!" kata Arrida sambil menangis terisak, teringat saat menemukan jasad pak Arthur.
"Maaf mengingatkan mu pada ayah!"
Arrida mengangguk.
"Kamu tau, saat itu ayah nolongin aku untuk ngiket papah biar bisa aman aku gendong, trus saat kami akan masuk ke rumah mau ke lantai atas, air keburu dateng, dan kami hanyut, ayah sempet megang aku, tapi kemudian kami terpisah, dan saat aku berupaya menyelamatkan diri, entah dari arah mana ada mobil terbawa arus menabrak aku dan papah! Selanjutnya, seperti yang kita alami kemarin!" kata Uwais sambil memejamkan matanya. Bayangan saat tsunami sungguh hadir di dalam ingatannya. Itu adalah peristiwa yang mengerikan dalam hidupnya.
"Apa kejadian pasca tsunami kakak juga masih mengingatnya?"
"Maksud kamu, mulai dari saat kamu menemukan aku?"
"Iya,"
...πΈπΈπΈπΈπΈ...
Hai kak readers. maaf telat Up yaaaa
nu banyak kegiatan di real life Ramadhan ini. jadi memperlambat ngetiknya maapkeun ya.. πππ
Tapi Arrida dan Uwais mengucapkan terimakasih banyak lho...πππ
Makasih masih setia sama mereka.... makasih like, comment dan hadiahnya yaaaa... Sehat n bahagia selalu ya kak Readers
OTW end ya kak... πππ
__ADS_1
Hatiku Padamu Kak readersπππ