Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
111. Camiku


__ADS_3

Disinilah Uwais, duduk dihadapan para petinggi kampus fakultasnya Arrida.


"Jadi, kamu menjamin dia? Kamu berani bertanggung jawab jika dia melakukan kesalahan lagi?" kata pak Reza pada Uwais. Ia adalah ketua jurusan di fakultas Arrida.


"Iya Pak dan saya pastikan itu tidak akan terjadi lagi, saya berani menjaminnya." kata Uwais.


"Baiklah, kamu tandatangani ini! Lalu mulai sekarang jaga calon istri kamu ini, jangan sampai bertindak bar-bar lagi!" kata pak Reza sambil menyerahkan selembar kertas berisi pernyataan untuk ditandatangani oleh Uwais.


"Ingat! Ini kampus, dunia pendidikan, bukan dunia preman." ujar Bu Miranda selaku dosen wali Arrida.


"Iya Bu, kami mengerti, maafkan kami," ujar Uwais setelah menandatangani surat pernyataan tersebut. Kemudian Arrida dan Uwais berpamitan lalu keluar meninggalkan ruangan.


Arrida berjalan di samping Uwais menelusuri koridor kantor fakultas. Keduanya hanya terdiam. Sama sekali tidak ada pembicaraan. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Kamu walinya? Emang kamu apanya? Kakaknya?" tanya pak Reza pada Uwais saat itu.


"Iya, Pak, saya walinya, saya calon suaminya." jawab Uwais sangat meyakinkan.


Ingatan Arrida terngiang-ngiang kejadian ketika di ruang fakultas. "Calon suami," gumam bathin Arrida, senyum manis terbit di wajah cantiknya. Uwais menoleh, memperhatikan wajah gadis kesayangannya itu dengan segala ekspresinya.


Arrida menyadarinya, sekilas ia menatap lelaki pujaannya itu, kemudian ia menundukkan kepalanya. Malu dan merasa bersalah, karena telah membuat keributan di kampus.


Uwais menghentikan langkahnya membuat gadis di sampingnya itu ikut berhenti.


"Apa yang kamu senyumin, hm?"tanya Uwais


Arrida menggeleng kepalanya. Kemudian menunduk, seakan menyembunyikan ekspresi wajahnya yang diliputi rasa bersalah. Dia menyandarkan tubuhnya ke dinding, sambil pelan-pelan memberanikan diri mengangkat wajahnya, menunjukkan ekspresi permohonan maaf. Kedua tangannya ke belakang, tangan sebelah kiri menggenggam pergelangan tangan sebelah kanan. Mirip seperti anak kecil yang takut dimarahi oleh orang tuanya.


"Hmmmhh" Uwais menarik nafas panjang.


Mereka saling menatap. Uwais menatap gadisnya itu sambil menggelengkan kepalanya. Ia tak habis pikir kenapa gadis seperti Arrida bisa berkelahi di kampus. Sementara Arrida menatap lelaki pujaannya itu dengan perasaan takut-takut. Beberapa kali dia mengerjapkan matanya, karena tidak mampu untuk membalas sorot tajam dari mata indah milik lelaki itu.


"Udah hebat ya?" tanya Uwais pelan sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Arrida.


"A-ku cu-ma mem-bela diri ... Mbak Laura yang dulu-an." kata Arrida terbata.


"Hmm ... Bagus!" komentar Uwais.


"Hah?" Arrida belum mengerti maksud Uwais yang mengatakan 'bagus'. Entah itu sindiran ataukah pujian untuknya.


"Sayang, kamu salah waktu dan tempat."


"Kakak enggak marah?" tanya Arrida hati-hati.


"Siapa bilang aku gak marah ... Aku marah, gara-gara kamu, aku jadi berurusan dengan pihak kampus."


"Ma-af." ucapnya pelan penuh penyesalan. Ia sadar, ia telah melakukan kesalahan dan membuat malu orang tuanya, yang mungkin saat ini diwakili oleh Uwais.


"Hmmh, kamu ini, aku aja yang laki-laki nggak pernah berkelahi di sekolah, atau di kampus.


"Ma-af." ucap Arrida sekali lagi. "Eh, tapi waktu sekolah, Kakak pernah mukulin gurunya, kan?" ujar Arrida mengingatkan Uwais yang pernah memukuli gurunya yaitu pak Jefry.


"Itu gara-gara siapa?" tanya Uwais.


"Aku, heeee." Arrida nyengir.


Uwais masih memperhatikan wajah gadis kesayangannya itu. Ada rasa ngilu ketika melihat luka cakaran di pipi Arrida.


"Ini sakit?" tanya Uwais memastikan. Tangannya terulur mengusap pelan pipi yang terluka karena cakaran dari kuku Laura.

__ADS_1


Gadis itu mengangguk, mengiyakan, jika pipinya sakit, tapi kemudian dia menggelengkan kepalanya, memberi isyarat bahwa dia tidak apa-apa, dan lukanya sudah tidak terasa sakit.


"Ayo kita pulang, kita obati lukanya." ajak Uwais kemudian. Dan akhirnya mereka pun berjalan menuju tempat parkir.


"Naiklah!" perintah Uwais pada Arrida, dan gadis itu pun menurut, ia segera naik ke atas motor tanpa menatap Uwais.


Kini, mereka pun sudah tiba di resto. Arman, Fika, Kirno dan Andika menyambut kedatangan mereka. Bahkan Kirno terus-terusan memuji betapa hebat dan kerennya aksi Arrida saat berkelahi dengan Laura. Tapi Uwais tidak peduli, ia mengajak Arrida ke ruang belakang dekat tempat sholat.


Arrida duduk dihadapan Uwais, disampingnya ada kotak obat. Dengan lembut dan cekatan, Uwais mengobati luka di pipi gadis kesayangannya itu.


"Perih banget ya?" tanya Uwais sambil memperhatikan luka di pipi Arrida.


Gadis itu tak menjawab, ia justru sedang menikmati wajah tampan yang sedang mengobati lukanya.


"Kenapa diem aja, hm?"


"Udah gak perih lagi, lihat kakak."


Uwais menyentil pelan kening Arrida. Ada-ada saja jawaban gadis itu.


"Berapa mata kuliah semester ini yang gak bisa kamu ikuti, hm?"


"Tersisa empat mata kuliah aja,"


"Apa yang harus aku katakan sama ayah bunda?"


"Kakak jangan bilang apa-apa, ntar aku malah diskors sana sini,"


"Kenapa? Mereka juga pasti tau."


Arrida menyendu. "Aku takut dimarahi ayah ma bunda ... Dikuliahin jauh-jauh, malah berkelahi, ntar aku gak boleh pulang."


"Nggak, aku kan kerja disini, itu udah cukup buat hidup, kalo kurang pun kan ada kakak, aku tinggal minta, boleh kan?" ujar Arrida dengan wajah penuh permohonan.


Uwais mengangguk sambil tersenyum.


"Kamu hebat dan keren bisa lawan Laura." komentar Uwais kemudian.


"Hah?" Arrida bengong. Ia cukup terkejut karena Uwais memujinya.


"Kenapa? Aku sungguh-sungguh, tapi, ke depannya kamu harus beneran hati-hati pada Laura."


"Tapi kan mbak Laura udah diskors selamanya, udah gak di kampus lagi." kata Arrida. Ia tahu, kalau akhirnya Laura di drop out dari kampus, karena sudah dua kali terlibat perkelahian.


"Justru itu, dia malah bisa lebih leluasa balas dendam sama kamu, tanpa terikat instansi kuliah manapun."


Arrida mengangguk pelan.


"Takut?" tanya Uwais.


"Nggak, ntar kakak jaga aku, kan?"


"Pasti, aku akan selalu menjaga kamu, Ar!"


Arrida masih menatap wajah tampan lelaki pujaannya itu.


"Ada apa?"


"Keingetan waktu kakak bersihin wajah aku yang cemong, kita bisa duduk sedekat ini, waktu itu, hati aku deg-degan banget gak karuan, dan ntah kenapa, nyampe sekarang rasa itu tetep aja ada." kata Arrida sambil meremas baju di depan dadanya.

__ADS_1


Uwais hanya mengangguk.


"Kakak gak deg-degan?" tanya Arrida penuh selidik.


"Gak usah kamu tanyakan, rasa itu selalu hadir, Ar ... Darah berdesir, jantung berdetak tak beraturan, hati deg-degan, nafas seakan tertahan."


"Apa saat ini kakak juga seperti itu?"


"Hmm"


"Sungguh?"


"Hmm"


"Benarkah?"


"Iya Arrida... gak usah ngegoda."


"Aku serius kak"


"Nah, udah, lukamu udah diobati. Mudah-mudahan gak ninggalin bekas." kata Uwais tanpa merespon ucapan Arrida. Ia merapihkan kotak obat setelah mengoleskan salep luka di pipi Arrida.


"Makasih ya camiku."


"Hmmm?" Uwais mengernyitkan keningnya tak mengerti.


"Camiku, calon suamiku," ucap Arrida lembut, membuat lelakinya itu tersenyum mendengarnya.


...🌸🌸🌸🌸🌸...


...Makasih kakak readers...


...Makasih udah setia mampir n baca kisah Arrida dan Uwais sampai sejauh ini...


...Makasih atas dukungannya, like, favorit n kommentnya...


...Sehat selalu ya kakak readers...


...Hatiku Padamu Kak readers pake banget......


...Semoga kak readers tetap suka dan terhibur yaaa...


...πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ˜πŸ˜πŸ˜...


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Oh ya kak readers, mampir juga yuks di karya sahabatku Chika Ssi judulnya tentang Bintang dan Galaksi pokoknya seru n kereeeen abis...


Blurb


β€œKamu itu nggak pantas ikut lomba! Berkacalah! Lihat wajahmu yang buruk itu! Dipenuhi bercak putih nggak jelas! Aku rasa itu adalah alasan, kenapa kamu dicampakkan sama keluargamu sendiri!" ~ Bulan Purnama


"Jika bisa memilih, aku juga ingin memiliki wajah cantik sepertimu, Bulan. Mengenai lomba ini aku hanya mengikuti lomba baca puisi! Bukan lomba kecantikan! Apa orang sepertiku tidak pantas memiliki prestasi walau hanya secuil?" ~ Bintang Bellatrix


"Kamu itu tidak aneh, tapi unik! Nggak usah dengerin apa kata orang. Pura-pura tuli dan buta, terkadang bisa menjadi alternatif terbaik untuk menjaga hatimu sendiri. Setiap orang dilahirkan spesial, dan kamu adalah salah satunya!" ~ Galaksi Milkyway


(Kisah ini berdasarkan pengalaman pribadi author yang didramatisir)


Happy reading yaaaπŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°

__ADS_1


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


__ADS_2