
Akhirnya, masalah Arrida selesai, Erna memposting konfirmasi permintaan maaf yang menyatakan bahwa semua postingan tentang Arrida adalah hoax. Semua hanyalah rekayasa. Seharusnya Erna dikeluarkan dari sekolah, selain kasus fitnah, mencemarkan nama baik, juga kasus memprovokasi untuk melempari Arrida. Namun dengan pertimbangan dia sudah kelas dua belas dan telah mendapatkan maaf dari Arrida, maka dia hanya mendapatkan skors selama 3 minggu saja. Sedangkan yang melempari Arrida mendapatkan skors 1minggu.
Sementara pak Jefry, sejak hari itu dia tidak dapat dihubungi. Padahal pihak keluarga Arrida dan pihak sekolah akan memprosesnya hingga ke jalur hukum. Namun pihak keluarga pak Jefry, yang sebenarnya mereka juga tidak tahu keberadaan pak Jefry, meminta penangguhan kasus agar jangan sampai keluar dari ranah sekolah, selain mereka malu, mereka juga berpendapat akan mencoreng nama sekolah.
Akhirnya diputuskanlah pemecatan atau pemberhentian kerja secara tidak hormat untuk pak Jefry. Dan pihak sekolah menghubungi Departemen Pendidikan untuk tidak pernah memperkerjakan yang namanya Jefry Montenegro sebagai guru dimanapun dia berada. Namanya telah di backlist dalam data kependidikan.
Kasus pelecehan yang menimpa Arrida ini hanya diketahui Arrida, Uwais, Nana, Hani, pihak BK, kepala sekolah, pihak keluarga, serta Departemen Pendidikan terkait.
Arrida sempat tidak masuk sekolah selama sehari, ia sengaja menenangkan diri. Dan hari ini dia sudah bersemangat untuk kembali ke sekolah. Tidak tampak lagi kecemasan dan ketakutannya seperti kemarin.
"Bismillah ...." ucap Arrida dalam hati ketika dia sampai di sekolah. Ia tersenyum melewati pintu gerbang. Langkahnya pasti, namun entah mengapa, seperti ada yang mengganggu perasaannya. Ia pun menghentikan langkah kakinya. Menengok ke belakang, seperti mencari seseorang atau sesuatu. Entah apa. Tapi yang dicari tak ada.
🌼
Arrida berpapasan dengan Wisnu saat berjalan menuju kelasnya. Keduanya menghentikan langkahnya. Wisnu terlihat salah tingkah. Arrida melangkah ke samping kanan Wisnu, bermaksud untuk berjalan menghindarinya. Namun, Wisnu malah berjalan menghalangi. Sehingga membuat Arrida mengalihkan langkahnya ke sisi kiri Wisnu, namun Wisnu melakukan hal yang sama. Akhirnya Arrida pun terdiam, kini mereka berhadapan.
"Bisa aku lewat kak?" Arrida memulai pembicaraan.
"Ah, iy.. iyya," Wisnu sedikit menggeser tubuhnya, Arrida pun bergerak melangkah.
"Tunggu, Da!" kata Wisnu, membuat Arrida menghentikan langkahnya.
"Ada apa, Kak?" Arrida menoleh. Nada suaranya sedikit ketus.
"Aku minta maaf, aku salah, aku sudah percaya dengan postingan itu,"
"Hmmh," Arrida hanya mengangguk tanpa ingin mengatakan apapun.
"Tolong, jangan berubah Da, walau kamu udah menolak, setidaknya kita bisa berteman,"
"Maaf Kak, rasa sakit memang bisa diobati, tapi semua gak bisa sama lagi!" tegas Arrida.
__ADS_1
Bagi sebagian orang menghina itu gampang dilakukan, tanpa harus mengerti perasaan orang yang dihina. Andai kita sedikit saja mau merasakan bagaimana rasanya dihina, pasti tidak ada diantara kita yang akan menghina satu sama lain. Pun bagi Arrida, memaafkan orang yang menyakiti bisa saja dia lakukan, namun untuk bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, jelas tidak mungkin. Biarlah yang menghina akan merasakan sendiri rasa bersalah dan penyesalan.
🌼
Hari ini pulang sekolah Arrida dijemput oleh Adnan. Dia menunggu di halte bersama Nana dan Hani. Saling mengobrol dan bercanda. Namun, entah kenapa, hatinya merasa tidak tenang, sering kali dia menoleh ke belakang, kanan ataupun kiri, seperti ada seseorang yang mengawasinya.
Pandangannya teralihkan ketika melihat seseorang di seberang menggunakan jaket boomber hitam, masker, dan kacamata hitam, serta ada topi yang melindungi kepalanya, dia sedang bersandar di pintu mobil. Seperti sedang memperhatikan Arrida, namun hanya sebentar, karena kemudian dia masuk ke dalam mobilnya sebelum Arrida benar-benar memperhatikannya dengan seksama.
Dan itu membuat kecurigaan Arrida surut , dia pun mencoba untuk berfikir positif. Tak lama kemudian Adnan datang, berhenti tepat di hadapannya. Arrida tersenyum melihat Adnan yang turun dari motornya. Ia sengaja menghampiri ketiganya, karena ternyata dia mengenal salah satu sahabat Arrida.
"Hani? Kamu sekolah disini? Temennya Arrida?" tanya Adnan pada Hani.
"Oooh, jadi kak Adnan abangnya Arrida toh?" Hani menyahut.
"lho uda saling kenal, kah?" tanya Arrida.
"Kak adnan senior di klub badminton ku,Da," Hani menjelaskan.
"Adnan,"
"Nana,"
Nana menjabat tangan Adnan. Terpana.
"Biasa aja kali Na, natapnya gitu amat," Hani mengusap wajah Nana.
Nana hanya nyengir.
"Ya ampun, Da, punya kakak ganteng baru dikeluarin sih, kan sayang, Da," celoteh Nana.
"Hmm, mulai ...." Arrida geleng-geleng. Dia gak habis pikir dengan sahabatnya ini, semua cowok yang penampilannya keren pasti dikagumi habis-habisan.
__ADS_1
"Biar ga digodain kamu, Na, kasihan kan abang aku, ntar diganggu kamu mulu," kata Arrida membuat Nana mengerucutkan bibirnya.
Adnan tersenyum lihat tingkah laku Nana.
"Ya udah, pulang yuk!" ajak Adnan pada Arrida.
Arrida pun mengangguk.
"Jangan lupa Da, Minggu pagi!" ujar Hani.
"Iya, aku inget!"
"Minggu pagi mau apa?" tanya Adnan penasaran.
"Itu lho bang, anak-anak PMR mau bersih-bersih pantai," Arrida mengingatkan Adnan. Karena agenda PMR bersih-bersih pantai sudah pernah dibicarakan saat di rumah bersama pak Arthur dan bu Sofia kemarin.
"Oh iya iya" Adnan mengangguk sambil mengingat.
"Ya udah yuk, Ban,pulang! Han, Na duluan ya!" pamit Arrida.
Arrida bangkit dari duduknya menghampiri motor Adnan, dia mengambil helm dan memakainya. Sementara Adnan telah bersiap duduk di bagian depan. Namun, Arrida sempet merasakan ada yang aneh, dia menyadari sesuatu kalau ternyata mobil di seberang yang tadi dinaiki oleh pria bermasker dan berjaket boomber belum pergi dari situ.
🌼
Hari Minggu yang begitu cerah, matahari bersinar begitu terang, memberikan kehangatan di bumi. Bahkan justru hangatnya makin terasa panas di kulit. Dan hari ini, anggota PMR melaksanakan kegiatan bersih-bersih pantai. Sejak pukul tujuh pagi mereka berkumpul di sekolah, ada truk yang membawa mereka menuju pantai. dan sebagian lagi menggunakan motor.
Sekitar pukul delapan pagi mereka sudah tiba di pantai yang dimaksud. Sebenarnya, pantai yang mereka datangi ini cukup ramai, namun masih dikelola masyarakat, belum dikelola pemerintah, jadi beberapa fasilitas saung-saung atau tenda tempat berdagang yang buat para pedagang itu sendiri. Toilet umum pun dibuat swadaya dari masyarakat. Jadi masih sangat sederhana. Sehingga belum menjadi objek wisata daerah. Tepatnya belum diresmikan. Tapi karena keindahannya dan suasananya yang masih sangat asri justru banyak orang yang berminat mengunjungi pantai ini. Dan sayangnya, lagi-lagi ulah tangan-tangan yang tak bertanggung jawab. Banyak dari para pengunjung yang membuang sampah sembarangan, sehingga menyebabkan sekitar pesisir pantainya berserakan sampah.
Para anggota PMR bekerjasama dengan masyarakat setempat yang ikut mengelola pantai, melaksanakan kegiatan bersih pantai, yang memang telah diagendakan sebelumnya. Hari ini mereka akan mengambil sampah-sampah yang berserakan di pesisir pantai, lalu dikumpulkan kemudian dibawa ke tempat pengelolaan sampah oleh masyarakat.
...🌸🌸🌸🌸🌸...
__ADS_1