Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
21. Gak papa, tenang ya


__ADS_3

Arrida ketakutan, dia tidak tahu harus melalukan apa. Ingin rasanya dia keluar dari mobil, walaupun harus melompat, tapi pintu mobil telah terkunci.


Meskipun begitu Arrida terus saja berusaha membuka knop pintu mobil.


"Diamlah Arrida! Bekerja samalah! Aku gak akan nyakitin kamu!"


Sebenarnya Arrida samar-samar mengenali suara orang yang di sampingnya itu. Namun dia masih ragu. Dia menoleh dan memperhatikan orang tersebut.


"Ini aku, Arrida!" Orang itu tahu jika dia sedang diperhatikan. Kemudian tangan kirinya melepas topi, masker dan kacamatanya.


"Pak Jefry!" Arrida terkejut dan semakin ketakutan.


"Apa yang mau Bapak lakukan?" tanya Arrida takut-takut.


"Aku akan membahagiakanmu, Da,"


Arrida menggelengkan kepalanya.


"Tolong turunkan saya Pak, saya mohon!" kata Arrida sedikit merengek.


"Kamu harus jadi milik aku, Da, tidak ada yang bisa lebih membahagiakanmu selain aku, tidak juga orang tuamu apalagi cowok-cowokmu tadi!" kata pak Jefry sambil terus fokus menyetir.


"Please, Pak, saya mohon ... Bapak gak akan bahagia dengan saya Pak, karena saya tidak suka dengan Bapak!" rengek Arrida dengan ketakutannya.


"Kita akan bahagia, Da, kalau pun kamu belum mencintaiku, kelak kamu akan mencintaiku seiringnya waktu kita bersama,"


"Jangan, Pak, saya murid Bapak, masih kecil, masih jauh umur saya untuk ...." Omongan Arrida terhenti ketika tangan kiri pak Jefry naik ke atas memerintahkan untuk Arrida diam.


"Kamu gak usah banyak bicara, Da, aku tau kamu! Kecil-kecil cabe rawit ... Kamu makin pedes, Da, aku gak rela kalau kamu sama cowok-cowok gak jelas itu, mereka belum punya masa depan!" Pak Jefry mulai emosi, dia memperlihatkan kecemburuannya mengingat Arrida banyak bermain cowok menurutnya.

__ADS_1


"Kamu mainnya harusnya sama aku aja, gak boleh yang lain, paham!" seru pak Jefry penuh ketegasan bercampur kesal.


Arrida menarik nafas panjang, air matanya sejak tadi tidak dapat dihentikan. Habis pula kata-kata untuk meminta agar pak Jefry mau melepaskannya.


"Ya Allah tolonglah Rida, melalui siapapun!" doa Arrida dalam hati.


Kini Arrida lebih memilih untuk diam. Dia sedang berpikir. Mencari cara untuk bisa kabur ketika sampai di tempat yang dituju oleh pak Jefry. Dan dia tiba-tiba teringat akan ponselnya, ia yakin Adnan dan teman-temannya saat ini sadang mengkhawatirkannya, dan sudah pasti akan menghubunginya. Ponselnya memang tadi sebelum mengantar Nana ke toilet sengaja di mode hening, agar saat nonton di bioskop tidak mengganggu. Makanya dia pun tidak mendengar ada nada dering dari ponselnya.


Namun, untuk saat ini rasanya tidak mungkin gadis itu mengambil ponsel di tasnya. Ia tidak ingin mengacaukan rencana pak Jefry yang pada akhirnya malah merusak niatnya untuk melarikan diri.


"Nah gitu lebih baik, Da, kamu diam, kamu udah mulai menerimanya, kan? Kita pasti bahagia, Da!" pak Jefry tersenyum lebih seperti menyeringai.


Arrida yang sempat meliriknya, malah semakin ketakutan. Ia pun mengalihkan pandangannya ke keluar jendela mobil. Oh tidak, lengkap sudah ketakutan Arrida karena tiba-tiba saja hujan turun. Padahal sore tadi cuaca masih cerah ketika matahari terbenam di ufuk barat. Dia semakin berpikir keras bagaimana caranya agar bisa melarikan diri dari pak Jefry.


Enam puluh menit berlalu. Pak Jefry menghentikan mobilnya setelah masuk tempat parkir sebuah hotel. Jarak tempuh yang cukup jauh, untuk sampai di hotel ini.


"Ngapain kita kesini, Pak?" tanya Arrida, membuat pak Jefry menutup kembali pintu mobil yang telah dibukanya.


Hati Arrida sebenarnya percaya pada ucapan pak Jefry, tapi dia lebih memilih untuk pergi dari pak Jefry. Karena, walau bagaimanapun, pak Jefry bukanlah orang yang baik.


Dengan menguatkan hatinya dan penuh keyakinan diri, di saat pak Jefry membuka pintu mobil, hal yang sama pun dilakukan oleh Arrida. Ia membuka pintu mobil, kemudian langsung keluar dan berlari sekencang mungkin. Pak Jefry yang merasa kecolongan, penuh kesal dan sesal langsung mengejar Arrida. Dia merutuki dirinya yang lengah.


"Sial! Arrida!" Pak Jefry mengejarnya penuh amarah.


Arrida terus berlari tanpa melihat belakang, dia hanya berusaha untuk berlari dengan sangat kencang, karena dia tau pak Jefry adalah guru olahraganya, sudah tentu tenaganya sangat kuat dan bisa lebih mudah mengejarnya.


Hujan masih mengguyur. Dalam keremangan malam, Arrida terus berusaha untuk berlari sekencang mungkin. Sebenarnya dia ingin ke pos satpam yang menjaga hotel, tapi saat tadi berlari melewati pos satpam, orang yang menjaga tidak terlihat ada di tempat. Jadi dia memutuskan untuk terus berlari hingga kini dia tiba di pertigaan jalan. Sempat menengok ke belakang memastikan pak Jefry sudah sampai mana. Samar-samar ia ingat jalan yang dilaluinya tadi. Dia pun memutuskan berlari ke arah yang sebelumnya dilewati


🌼

__ADS_1


Uwais terus mengendarai motornya. Dalam pikirannya hanya ingin segera menemukan Arrida. Mode khawatirnya membuat dia tidak peduli akan hujan hingga dia tidak bermaksud untuk mengenakan jas hujannya. Sementara Adnan tertinggal lumayan jauh karena sempat mengisi bahan bakar terlebih dahulu dan beberapa kali terhalang lampu merah.


Samar, Uwais melihat seseorang yang sedang berlari berlawanan arah dengannya. Namun dibelakangnya ada orang lain yang sedang mengejarnya. Ia pun segera memutar motornya, berbalik arah, ia yakin yang dilihatnya pasti Arrida, dan yang mengejarnya adalah pak Jefry.


Saat Uwais menghentikan motornya, dia melihat Arrida sudah dicekal oleh pak Jefry. Ia memberontak berteriak dan semakin histeris ketika pak Jefry mengeluarkan pisau lipat dari dalam sakunya.


Uwais segera berlari menepuk pundak kanan pak Jefry yang tangannya sedang memegang pisau. Saat pak Jefry menoleh, kepalan tangan Uwais langsung mampir tampan di pipi pak Jefry, membuat dia hampir tersungkur jatuh. Dari sudut mulutnya mengeluarkan darah.


Dan sebelum pak Jefry mengembalikan keseimbangan tubuhnya, Uwais langsung bergerak menendang tangannya yang memegang pisau hingga pisaunya terlepas dari genggamannya. Namun ternyata, pak Jefry tidak tinggal diam, dia langsung menendang perut Uwais hingga jatuh tersungkur.


"Kurang ajar! Lagi-lagi kamu!" teriak pak Jefry sambil meraih kembali pisau yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.


"Kak!" teriak Arrida. Ia menghampiri Uwais yang terjatuh. Uwais memegang perutnya yang sakit. Belum sampai Arrida di hadapan Uwais, tangan Pak Jefry lebih cepat menahannya, sehingga lengan Arrida kini ada didalam cengkramannya.


"Jangan macem-macem Da, atau saya akan berbuat lebih dari ini! Menurutlah!!!" perintah pak Jefry sambil mengancam, ia mendekatkan pisaunya ke wajah Arrida.


Uwais tau Arrida panik dan semakin ketakutan, ia segera bangkit lalu memukul wajah pak Jefry, cairan merah pun mengalir dari hidungnya sehingga ia melepaskan Arrida dari cengkramannya, lalu memegang hidungnya, mengusapnya sebentar.


Lepas dari cengkraman pak Jefry, Arrida langsung berlindung dibalik punggung Uwais.


"Gak usah banci pak, beraninya sama anak perempuan!" kata Uwais sambil mendorong tubuh pak Jefry hingga dia mundur beberapa langkah. Kemudian Uwais sedikit menengok ke belakang, ke arah Arrida.


"Gak papa, tenang ya!" Uwais menenangkan gadis pujaannya yang sedang luar biasa ketakutan.


Melihat Arrida yang seakan memeluk Uwais malah membuat pak Jefry semakin murka, ia pun tidak segan-segan langsung melayangkan pisaunya ke arah Uwais, namun secepat kilat Uwais menyadarinya dan menahan tangan pak Jefry.


Tangan Uwais dan pak Jefry saling dorong. Uwais yang menahannya agar tidak mengenai tubuhnya sementara pak Jefry berusaha agar pisau itu bisa mengenai Uwais. Tangan mereka berputar ke bawah dan entah bagaimana pisau itu akhirnya sempat menggores bagian samping perut Uwais. Uwais meringis, ada darah segar keluar dari bagian sisi perutnya.


Arrida panik, tidak tau harus berbuat apa. Dia yang tadinya berada di belakang Uwais, langsung menyerang pak Jefry, memukul wajahnya menggunakan ranselnya.

__ADS_1


Pak Jefry sempet agak limbung, dan kondisi itu tidak disia-siakan oleh Arrida, dia terus melayangkan pukulannya ke kepala pak Jefry.


...🌸🌸🌸🌸🌸...


__ADS_2