
"Tapi kan bukan pacar,"
Uwais membela diri. Arrida hanya mengedikkan bahunya.
"Ya udah kamu inget-inget siapa cewek yang udah kamu tolak dan terlihat sakit hati banget,"
"Ya gatau lah Mas ... Ga sempet buat ngingat-ngingat,"
"Aish kamu ni Dek ... Jangan suka nyakitin anak orang ... Kasihan,"
"Nggak lah Mas ... Uwais tau kok, Uwais gak mungkin mainin perasaan orang ... Lagian, masa iya Uwais harus nerima semua cewek-cewek itu karena kasihan? Lebih gak mungkin kan ...."
"Ya udah udah ... Sekarang kamu istirahat dulu ya, biar mas mu yang selidikin masalah ini,"kata bu Tania menghampiri Uwais.
"Oh iya Tan, Om, Rida juga mau pamit ...."
"Oh iya, ayuk mas Fariz anter ... Mamah papah mau ikut sekalian pulang?" tanya Fariz pada kedua orang tuanya.
"Nggak ... Nanti aja, kita masih mau disini." jawab pak Ridwan pasti.
"Gak pulang dulu, Pah? Papah sama Mamah kan baru dateng," kata Uwais.
"Gak papa masih belum terlalu malem juga,"
kata pak Ridwan sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Masih jam 8 malam.
Uwais mengangguk. Dan akhirnya Arrida pun berpamitan pulang.
"Eh, tunggu Mas!" Arrida menghentikan langkah kakinya ketika sudah di depan mobil Fariz. Mereka kini sudah berada di area parkir rumah sakit.
"Ada apa, Dek?"
"Aku kayak lihat orang yang mukulin kak Uwais deh,"
"Yang bener? Mana?"
"Ke arah pintu masuk, ayo Mas, cepetan kita kejar!"
__ADS_1
Tanpa harus berpikir panjang, Fariz dan Arrida segera berlari berusaha mengejar orang yang dimaksud.
"Itu Mas, yang pake jaket jeans topi hitam ...." tunjuk Arrida, dia yakin orang yang ditunjuk tadi adalah orang yang memukuli Uwais.
Fariz berlari dengan langkah sangat cepat. Ia tidak ingin kehilangan orang yang dimaksud. Mereka kini tiba di depan sebuah kamar rawat.
Pandangan Fariz beralih ke arah Arrida yang berdiri di sampingnya. Ia terlihat ragu untuk membuka pintu kamar yang ada dihadapannya.
"Buka aja Mas, kalo ternyata salah, bilang aja kita salah kamar," usul Arrida yang kemudian mendapatkan anggukan dari Fariz
Perlahan namun pasti Fariz pun membuka pintu kamar rawat tersebut. Tampak seorang laki-laki yang berwajah oriental sedang mengarahkan pandangannya ke arah pintu tepatnya pada Fariz dan Arrida. Di hadapannya ada seorang gadis sedang terbaring lemah, ada infus di sebelah kanannya. Dan di sebelah kiri tempat tidur pasien ada seorang wanita paruh baya berkacamata sedang menggenggam tangan kiri si gadis yang sedang terbaring.
Fariz menoleh pada Arrida, memastikan apa orang yang memukuli Uwais dan yang mereka kejar tadi adalah orang yang sedang berdiri tak jauh dihadapan mereka saat ini ataukah bukan. Arrida mengangguk. Dia ingat betul dengan wajah tampan namun memiliki aura sangar yang sempat ia pukuli kepalanya.
"Siapa kalian?" tanya pria itu seperti mengintimidasi Fariz dan Arrida. Tatapannya menyelidik, keningnya berkerut apalagi saat menatap Arrida, ia seperti mengingat -ingat sesuatu.
"Mas gak inget saya?" tanya Arrida pada pria itu dengan nada yang lantang.
"Siapa Mike?" tanya wanita berkacamata yang diduga kuat pasti ibu dari si pria berwajah oriental itu.
"Ga tau Mom," jawabnya singkat.
"Mas nya yang tadi sore mukulin temen saya kan yang waktu di halte?"
Kini pria yang memiliki nama Mike ini, menatap Arrida tajam, akhirnya dia ingat kalau gadis yang ada dihadapannya sekarang adalah gadis di halte yang sempat memukuli kepalanya dan teman-temannya.
"Oh jadi kamu!" Nada suara Mike mulai tinggi. Dia melangkah mendekati Arrida, namun langkahnya terhenti ketika Fariz pun mendekatinya.
"Tunggu ada apa ini," Wanita paruh baya itu bangun dari duduknya kemudian menghampiri Fariz dan Mike.
"Ada apa?!!" tanyanya tegas pada Mike.
"Gadis itu mukulin kepalaku Mom!" kata Mike sambil menunjuk Arrida yang masih berdiri dekat pintu.
"Saya bisa jelaskan, Tan ... Saya akui saya salah, saya minta maaf karena telah memukul mas nya, tapi saya melakukannya karena dia telah mengeroyok adiknya mas Fariz!" kata Arrida sambil menghampiri ibunya Mike.
Tatapan wanita itu beralih pada Mike, meminta penjelasan.
__ADS_1
"Dia pantas mendapatkannya Mom, dia udah menyebabkan adek seperti ini!"
"Sudah mommy bilang, adekmu yang gak bisa mengendalikan dirinya, kenapa kamu malah main hakim sendiri?"
"Maaf, kenapa dengan adik saya? Kenapa sampai harus dipukuli?" Kali ini Fariz yang bertanya, meminta penjelasan kepada keduanya, berharap siapapun diantara ibu dan anak itu akan menjelaskan masalah yang sebenarnya.
"Itu!! Semua gara-gara adikmu!" jawab Mike sambil menunjuk dengan isyarat dagunya kepada gadis yang sedang terbaring di tempat tidur rawat.
"Erfiana!" Wanita berkacamata itu menyebut nama gadis tersebut.
"Erfi?" Arrida bergumam sambil memandang gadis itu. Dia memastikan kalau gadis itu benar-benar Erfi yang dia kenal di sekolahnya.
"Kamu kenal, Nak? Sekelas?" tanya ibunya ramah pada Arrida.
"Saya kenal, Tan, tapi ga sekelas,"
"Oh," Ibunya mengerti. "Dia udah seperti ini sejak lima hari yang lalu,"
"Kenapa, Tan?"
"Dia malu sama Uwais,"
Arrida dan Fariz saling pandang.
"Dia menyukai Uwais, mungkin hari itu adalah hari yang membuatnya malu dan sakit hati karena rasa sukanya tidak terbalaskan," cerita ibunya Mike.
"Maksud Tante?" tanya Arrida berusaha agar ibunya Mike menceritakannya lebih jelas.
"Hari itu sepulang sekolah dia mengurung diri di kamar, di bilang gak ingin di ganggu, namun ketika hampir tengah malam perasaan tante gak enak, akhirnya tante mencoba untuk ke kamarnya, tapi pintunya dikunci. Tante panggil namanya, gak ada jawaban. Tante minta Mike untuk dobrak pintu dan ternyata Erfi sudah tidak sadarkan diri, entah apa yang dia minum, saat kami lihat dari mulutnya sudah keluar busa," cerita ibunya Erfi.
"Kami segera melarikannya ke rumah sakit. Dia dalam keadaan kritis banget. Sekarang, kondisinya sudah mulai membaik ... Kata dokter seharusnya dia sudah sadar, tapi sepertinya dia tidak punya keinginan hidup, makanya dia ga mau bangun," lanjut ibunya Mike dengan sangat jelas. Dia memeluk Arrida. Tangan Arrida terangkat mengusap lembut punggung wanita yang ia yakini keadaan hatinya sedang sangat sedih.
Fariz hanya terdiam, sementara Mike yang dari tadi juga diam, hanya bisa mendekati Erfiana, lalu duduk di bagian sisi tempat tidurnya, menatap sendu pada adiknya, sampai ada air mata mengalir dari sudut matanya.
"Maaf, nanti saya kembali lagi kesini." kata Fariz seperti hendak pergi. Arrida sempat menoleh padanya.
"Kamu tunggu disini dulu ya, Dek, sebentar aja!" pinta Fariz pada Arrida agar dia mau menunggu dulu di kamar rawat tesebut.
__ADS_1
Gadis itu pun menganggukkan kepalanya.
...🌸🌸🌸🌸🌸...