
Arrida menutup mulutnya tak percaya jika Uwais pernah merasakan cemburu.
"Kenapa? Kamu kaget kalo aku pernah cemburu?" tanya Uwais setelah melihat ekspresi gadis yang ada dihadapannya itu.
"Iya," kata Arrida cepat. "Apa kakak masih cemburu dengan mereka?"
"Tidak, karena aku tau kamu menolak mereka semua, tapi gak tau kalau Rasya,"
"Emang menurut kakak, apa aku akan menerimanya?"
"Tidak, dan jangan sampai." kata Uwais yakin, "Trus, apa kamu masih cemburu pada mereka?" tanya Uwais kemudian.
"Cewek-cewek itu?"
"Iya!"
"Tidak, hanya saja masih agak sebel ma mbak Karina,"
"Kenapa? bahkan setelah hari itu aku gak pernah bareng dia lagi," jelas Uwais.
"Karena dia masih memberi perhatian sama kakak, bahkan di ulang tahun kakak aja, dia ngasih jam tangan, kenapa harus sama kayak aku sih?"
Uwais tersenyum sambil menggeleng.
"Biarlah, toh aku tidak memperhatikan dia."
"Bagaimana dengan mas Bryan? Apa kakak cemburu?"
"Tidak, aku justru lebih mengkhawatirkan kamu ... Aku khawatir kalau Bryan dan Laura menyakiti kamu!"
"Ah iya, mbak Laura." Arrida mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kamu cemburu?"
"Nggak, karena kakak tidak pernah menanggapinya,"kata Arrida penuh keyakinan, "Aku akan cemburu pada cewek yang suka kakak, tapi kakak baik pada dia ... Itu seperti memberikan harapan buat dia, dan itu jelas membuat aku sakit hati."
"Tapi aku gak pernah memberikan harapan apapun."
"Aku tahu." ujar Arrida
Tiba-tiba ponsel Uwais berbunyi. Ada sebuah panggilan.
"Siapa?" tanya Arrida sebelum Uwais menerima panggilan itu.
Merasa tidak ada yang perlu ditutupi, Uwais memperlihatkan nama kontak yang meneleponnya.
"Mbak Karina" kata Arrida lirih "Jawablah!" perintahnya kemudian.
"Gak usah, nanti juga diem sendiri."
"Gak baik buat orang menunggu. Sini!" Arrida merebut ponsel dari tangan Uwais. Lalu menggeser gambar telepon warna hijau, speaker diaktifkan, hingga suara dari Karina bisa terdengar sangat jelas.
"Wais, akhirnya kamu mau jawab teleponku, apa kamu udah nerima kadoku? Selamat ulang tahun ya..." kata Karina dengan nada suara yang terdengar sangat bahagia.
Arrida melirik Uwais. Memberi isyarat agar Uwais menjawabnya. Namun Uwais menggeleng.
"Halo, Wais ... kamu disitu?"
Melihat tidak ada tanda-tanda Uwais akan menjawabnya, Arrida memutuskan sambungan teleponnya. Ia lalu membuka aplikasi hijau untuk memberikan jawaban.
"Mau apa? Gak usah jawab apapun! Termasuk melalui chat," kata Uwais ketika melihat Arrida akan mengetikkan sesuatu di ponselnya
"Kenapa seh kak, jawab aja, biar dia gak penasaran!"
"Tapi dengan menjawab telepon atau men-chatnya sama aja memberi celah harapan buat dia!"
__ADS_1
Arrida terdiam, ia membenarkan apa yang dikatakan oleh Uwais. Namun ia tetap saja mengetikkan sesuatu.
"Iya, sudah saya terima, terima kasih,"
Itu isi chat kepada Karina.
Tak lama ada balasan masuk.
"Apa ku bilang? akan ada kelanjutannya, iya kan?" kata Uwais seperti menyalahkan Arrida.
"Maaf, mungkin karena aku merasakan sebagai cewek, gimana rasanya jika dicuekin,"
"Kalo dia pintar, seharusnya dia akan berpikir untuk tidak berharap banyak dari orang yang nyuekin."
"Maksud kakak, orang yang masih berharap itu bodoh gitu?"
"Iya."
Arrida menarik nafas panjangnya. Ia seperti mencerna sesuatu.
"Ayo kak, ikut aku!" ajak Arrida. Ia menarik tangan Uwais.
"Kemana?" tanya Uwais sambil bangun dari duduknya, lalu mengikuti langkah gadis kesayangannya itu.
"Anterin aku ke mall."
"Mau apa?"
"Ayok, gak usah banyak tanya."
Uwais pun menurut. Dia menggelengkan kepalanya, tak menyangka, jika gadisnya ini, begitu tegas dalam memberi perintah.
Kini mereka berada di mall. Arrida masuk ke toko fashion anak muda, lalu memilih beberapa kemeja pria.
"Untuk apa, Ar?" tanya Uwais ketika Arrida mencoba mencocokkan kemeja yang dipilihnya ke tubuh Uwais.
"Untuk apa, Ar?" tanya Uwais sekali lagi.
"Ih, pilih aja! Atau kelima-limanya ya?"
"Aku udah punya banyak kemeja, Ar ... katakan, untuk apa ini?" Uwais masih bingung dengan tindakan Arrida.
"Aku pengen ngasih hadiah ultah kakak, yang beda dari yang lain, aku gak mau ada yang nyamain."
Uwais tersenyum, wajahnya begitu lembut, hingga Arrida pun merasa tenang dan nyaman.
"Jangan seperti ini ... hanya dari kamu yang istimewa,"
"Tapi aku gak suka, mbak Karina sama-sama ngasih jam,"
"Jadi, kamu ingin gimana? kita kan udah sepakat, akan memberikannya kepada yang lain."
"Aku ingin ngasih kakak kemeja,"
"Ya sudah pilihkan yang menurutmu bagus dan istimewa."
"Kelimanya bagus. Atau ... lima-limanya aja ya."
"Satu aja, pilih yang hatimu merasa klik."
"Semua klik."
"Kalau gitu, yang pertama kali kamu merasa tertarik."
"Ini." kata Arrida sambil menunjuk kemeja motif kotak-kotak.
__ADS_1
"Pas banget, aku suka yang ini. Ya sudah, ambillah, aku yang bayar ya."
"Eh mana bisa, kan aku yang mau ngasih kakak."
"Tapi kamu yang sudah memilihkannya untukku. Udah, gak usah nolak!"
Pada akhirnya Arrida pun menuruti lelaki pujaannya itu.
πΌπ¦οΈπΌ
"Arrida aku mau bicara." kata Rasya pada Arrida. Ia sengaja menghalangi langkah Arrida yang akan keluar dari kelas.
"Rasya, ada apa?" Arrida memutar tubuhnya kemudian kembali masuk ke kelas, dan duduk di sebuah kursi.
"Ini penting, soal kemarin." kata Rasya.
"Emang kenapa dengan kemaren?"
"Aku tau kamu lihat aku dengan cewek," kata Rasya sambil mengingatkan kembali jika kemarin di mall, Arrida sempat melihat dia berjalan dengan seorang wanita, dan wanita itu berjalan dengan bergelayut manja di lengan Rasya.
"Oh yang itu ... terus?" Arrida bingung. Ia merasa tidak penting dan tidak ada hubungannya sama sekali.
"Jangan salah sangka, aku ... dan dia tidak ada apa-apa."
"Kamu mau ada apa-apa juga gak masalah, gak ada hubungannya dengan aku kan?"
"Tapi aku merasa harus menjelaskan, agar kamu tidak berpikir lain."
"Maksudnya?"
"Kamu tau, Da" Rasya menjeda kalimatnya, "Aku sayang kamu,"
Arrida terdiam. Dia memang sudah tahu jika Rasya menyukainya, tapi baru hari ini dia mengungkapkan perasaannya.
"Cewek kemarin bukan apa-apanya aku, aku dan dia emang dijodohin, tapi ayahku masih membolehkan untuk aku menentukan pilihanku sendiri, dan aku milih kamu!" jelasnya kemudian.
"Oh, tapi Sya, aku gak bisa, aku udah punya orang lain di sini." kata Arrida sambil menunjuk dadanya.
"Cowok resto itu kah?" tebak Rasya
Arrida mengangguk pasti.
"Jadi bener kalian bukan kakak adik?"
"Iya,"
"Kalian pacaran?"
"Hmmm" Arrida bingung dengan statusnya. "Kami ... menjalin hubungan saling jaga hati, Sya ... Aku adalah masa depannya, begitupun dia untukku."
"Apa kamu sungguh-sungguh dengan dia? Kamu sudah yakin? Apa kalian akan melangkah ke arah yang lebih jauh?" selidik Rasya.
...πΈπΈπΈπΈπΈ...
...Makasih kakak readers...
...Makasih udah setia mampir n baca kisah Arrida dan Uwais sampai sejauh ini...
...Makasih atas dukungannya, like, favorit n kommentnya...
...Sehat selalu ya kakak readers...
...Hatiku Padamu Kak readers pake banget......
...Semoga kak readers tetap suka dan terhibur yaaa...
__ADS_1
...π₯°π₯°π₯°ππ»ππ»ππ»πππ...