Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
33. Let's play the game


__ADS_3

"Maaf ya, Ar," kata Uwais setelah memesan taksi.


"Untuk apa?"


"Kamu jadi ikutan basah,"


"Gak papa Kak, aku juga suka kok,"


"Seneng hujan-hujanan?" tanya Uwais.


"Hu-um! Makasih ya, Kak," ucap Arrida tulus.


"Untuk apa?" kali ini Uwais yang bertanya untuk apa.


"Udah bikin aku seneng banget hari ini,"


Uwais menoleh memperhatikan Arrida.


"Ini tuh luar biasa banget Kak, jarang-jarang kan di usia kita kayak gini main hujan-hujanan,"


Uwais semakin menatap gadis disampingnya itu dalam-dalam, tanpa berkata apapun. Ia tidak percaya, kalau untuk membuat gadis kesayangannya ini bahagia, sangatlah sederhana, ternyata cukup dengan mengajaknya hujan-hujanan.


"Hmm, bener juga," Uwais membenarkan apa yang dikatakan Arrida, bahwa tidak semua orang yang sudah remaja apalagi dewasa bisa bermain hujan dengan sangat menyenangkan.


Kini keduanya terdiam sambil menunggu taksi.


"Mau dipeluk? Biar gak dingin?" Uwais mencoba membuka percakapan lagi. Hanya bercanda. Dia tau kalau Arrida pasti akan menolaknya.


"Boleh," jawab Arrida sangat meyakinkan, dan itu malah membuat Uwais bengong. Ia tak percaya kalau gadisnya itu malah mengiyakan tawarannya. Padahal yang sebenarnya Arrida juga hanya ingin mengerjai Uwais.


"Hah beneran? Ya udah, sini!" tangan Uwais bersiap hendak merangkul pundak Arrida.


"Hahaha, gak serius juga kali kak, ga usah aneh-aneh, ga usah macem-macem," kata Arrida sambil menepis lengan Uwais.


"Ck," Uwais berdecak kecewa.


"Hahaha, ga usah modus kakak senior," kata Arrida sedikit memberi penekanan pada ucapannya.


Uwais pun hanya tersenyum sambil mengusap tengkuknya.


"Jadi, tadi kamu berdoa apa?"


"Pastinya sesuatu yang baik dan bahagia," jawab Arrida pasti, "Kalau kakak?" Kini Arrida menanyakan apa yang menjadi doa Uwais


"Emmm, aku hanya minta sama Allah agar Allah mengabulkan doamu," jawab Uwais sambil menatap langit.


Arrida menoleh, ia tidak percaya kalau Uwais hanya meminta yang sederhana dan itu hanya untuknya. Bolehkah sekarang dia merasa spesial dan beruntung bisa diperhatikan oleh cowok pujaannya? hatinya benar-benar berbunga-bunga saat ini.


"Aamiin," bathin Arrida mengaminkan.


"Eh, tuh taksinya udah datang," kata Uwais sambil menunjuk sebuah taksi yang berhenti di pinggir jalan di depan halaman mushola.

__ADS_1


"Ah iya, aku pulang dulu ya, Kak," kata Arrida sambil mengambil tasnya.


Uwais pun menemani Arrida menuju taksi.


"Maaf ya ga bisa nganter kamu nyampe rumah," kata Uwais ketika mereka sudah ada didepan taksi. Telapak tangannya terulur memegang pipi Arrida. Ah, perlakuan kecil yang lembut itu membuat hati Arrida sukses makin berdebar-debar tak karuan.


Gadis itu hanya mengangguk, agak gugup.


"Aku pulang dulu ya, Kak ... Assalamu'alaikum," pamit Arrida, kemudian ia masuk ke dalam taksi setelah Uwais membukakan pintu taksi untuknya.


"Wa'alaikumsalam," jawab Uwais sambil melambaikan tangannya ketika taksi itu berlalu dari hadapannya. Uwais tidak berhenti tersenyum. Ia juga merasakan kalau hari ini memang benar-benar indah.


Sementara di taksi, Arrida juga terus saja mengembangkan senyumannya sambil memegangi pipinya yang tadi dipegang oleh Uwais. Supir taksi hanya menggelengkan kepalanya ikut tersenyum melihat Arrida dari kaca spion.


"Hmm, anak muda lagi jatuh cinta," gumam bathin supir taksi karena melihat penumpangnya dari tadi senyum-senyum sendiri.


🌼🌦🌼


Pagi ini di GOR sekolah cukup ramai, anggota PMR tengah sibuk mempersiapkan acara donor darah.


Nana dan Hani mendapatkan bagian untuk mendata siapa-siapa saja yang mendonorkan darah, baik itu dari pihak guru ataupun peserta didik. Sementara Arrida dan yang lain mendapatkan tugas untuk membantu petugas dari PMI.


"Gimana, Da, lututnya?" tanya Hani sambil menyiapkan beberapa lembar kertas untuk mendata pendonor.


"Lumayan, Han, untung segera diatasi kemarin, jadi gak nyampe infeksi,"


"Kemarin kok bisa kamu jatuh? Gak mungkin kan kamu kepeleset?" tanya Hani lagi.


"Seriusan, Na? Jangan sampai fitnah, lho!" Arrida mencoba memastikan.


"Heee, sebenernya gak jelas juga sih, makanya kemarin mau ngomong takut salah," jawab Nana sambil nyengir.


"Trus kenapa sekarang kamu bilang kalo mbak Audy yang dorong aku?" tanya Arrida masih penasaran.


"Sebenarnya aku ngelihat waktu dia teriak bilang gak sengaja sok kaget gitu, tatapannya kayak benci banget ama kamu, Da,"


"Hmm, ada apa lagi ini?" tanya Arrida sambil menghela nafas panjang.


"Apa mungkin ada hubungannya ama kak Uwais, Da?" Hani memberi kesimpulan.


"Ah, bisa jadi tuh, kemarin kan kamu ma kak Uwais pacaran mulu," celetuk Nana.


"Hush, jangan ngaco, Na," Arrida mendelik.


"Heee, maksudnya, mesra kayak orang pacaran," kata Nana sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Sebenarnya Arrida memang mengiyakan apa yang dikatakan Nana, kejadian kemarin bersama Uwais memang berbeda, lebih hangat dan dekat, tidak seperti pertemanan biasanya.


"Kalo memang iya, berarti mbak Audy bener-bener cemburu ma kamu, Da," kata Hani memberi kesimpulan lagi.


"Hmmm siap-siap lagi deh, Da ... Jaga diri jaga hati! Emang susah cinta sama idola," kata Nana sambil menyindir usil Arrida.

__ADS_1


"Hehehe, resiko ya, Na, berarti emang bener tuh cinta butuh perjuangan," kata Arrida sambil terkekeh.


"Wah cintamu cukup rumit, Da, penuh rintangan dan tantangan," kata Nana sambil menepuk lengan Arrida.


"Let's play the game," kata Arrida sambil mengedikkan bahunya, membuat ketiganya tertawa hangat.


"Jadi, ceritanya ada kemajuan nih hubungan kamu ma kak Uwais, Da?" tanya Nana kini.


"Entahlah," jawab Arrida singkat.


"Menurut aku, kak Uwais beneran suka deh ama kamu, Da," lagi-lagi Hani menyimpulkan.


"Iya, kemarin itu kita ngelihatnya, kayak pasangan yang sedang jatuh cinta," kali ini Nana yang berkomentar.


"Iya, sikap kak Uwais emang bikin baper kan, ya!" ujar Arrida seperti tidak ingin terlalu berharap yang lebih atas sikap Uwais kepadanya


"Gak seh, Da, sikap dia ke kamu itu beda dari yang lain, sama kita-kita aja gak kayak gitu, iya kan, Na," kata Hani sambil minta persetujuan pada Nana.


"Iya bener, bener banget," Nana menyetujui apa yang diucapkan Hani. "Emang kamu gak ngerasainnya, Da?"


Arrida menarik nafas panjang, dia tak menjawab pertanyaan Nana. Hanya hatinya saja yang menjawab, kalau dia memang merasakan sikap Uwais yang lebih perhatian padanya.


🌼🌦🌼


Arrida tengah duduk manis sambil memperhatikan sekelilingnya. Kegiatan donor darah sudah dimulai sekitar lima menit yang lalu. Para petugas dari PMI sudah bersiap. Hanya tinggal menunggu pendataan dan pemeriksaan kondisi pendonor.


Gadis itu terpaku, ketika melihat Uwais menghampirinya. Kejadian yang dialami bersama kemarin, masih saja membayangi pikirannya. Saat dia sengaja mengeratkan genggaman tangan Uwais dibawah guyuran hujan, dan disaat pipinya di pegang lembut oleh tangan Uwais. Senyum manis terbit di wajahnya.


"Gimana keadaanmu, Ar?" tanya Uwais saat tepat ada dihadapannya.


"Alhamdulillah sangat baik, Kak" jawab Arrida mantap.


Uwais mengembangkan senyum simpul di wajahnya.


"Gimana, motor kakak udah bener?" tanya Arrida.


"Ish, kamu kebiasaan, Ar,"


"Apa?"


"Gak pernah nanya keadaanku, pasti yang ditanya yang lain,"


Arrida mengulum senyum.


"Udah bisa terlihat, kakak sehat dan baik-baik saja, kakak mau donor, kan? Orang sakit gak mungkin donor, Kak,"


"Iya, iyaa," Uwais menyerah. Gadis kesayangannya ini gak mungkin bisa didebat. Terlalu pintar.


Arrida tersenyum seakan menunjukkan penuh kemenangan.


"Oh ya udah Kak, tuh ada bed yang masih kosong," kata Arrida sambil menunjuk tempat tidur untuk pengambilan darah yang belum terisi dan mengisyaratkan agar Uwais menuju bed tersebut.

__ADS_1


...🌸🌸🌸🌸🌸...


__ADS_2