Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
60. Filosofi sepatu


__ADS_3

Arrida berlari perlahan menuju ruang tunggu stasiun. Kakinya masih terasa agak sakit ketika digunakan untuk berjalan apalagi berlari. Ia mencari keberadaan Uwais. Kemarin sore Uwais ke rumahnya, berpamitan, kalau hari ini dia akan pergi ke kota X.


Diliriknya ke arah kanan dan kirinya, juga belakang. Namun dia tertegun, ketika melihat kereta sedang melaju.


"Oh itu kereta menuju kota X mba...." itu jawaban yang ia terima dari petugas kereta api yang standby di stasiun.


Seluruh sendinya melemas. Ia menarik nafas panjang. Terlambat. Tadinya ia ingin melakukan salam perpisahan. Karena kemarin sore, Uwais hanya berkunjung sekitar seperempat jam saja di rumahnya. Hanya ingin mengetahui keadaan Arrida. terutama keadaan kakinya yang terkilir. Selanjutnya ketika berpamitan, barulah Uwais mengatakan kalau dia akan pergi ke kota X.


Sungguh sedih tak dapat dibendung, Arrida hanya bisa menahannya. Tanpa berkata apapun. Bahkan kini di saat dia cepat-cepat dari rumah berharap bisa bertemu dulu dengan Uwais, semuanya terasa sia-sia


"Ar"


Suara itu. Panggilan itu. Tak mungkin dia masih ada disini. Arrida segera berbalik. Menatap orang yang menyapanya sambil menepuk pelan pundak Arrida.


"Kak Uwais....!" Arrida sumringah tak percaya. Matanya berbinar. "Kakak belum berangkat?"


"Belum" Uwais tersenyum.


"Tapi itu tadi kereta ke kota X sudah berangkat, kakak terlambat atau gimana?"


"Duduk dulu yuk disana" ajak Uwais sambil menunjuk kursi tunggu yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri


Arrida mengangguk kemudian mengikuti Uwais hingga akhirnya mereka duduk berdampingan.


"Keretaku berangkatnya masih 1 jam lagi Ar, mungkin kamu lihat jadwal kereta yang lain"


"Iya ya???" Arrida tampak mengingat. Sebenarnya dia sendiri tidak tau kereta api yang mana yang akan dinaiki oleh Uwais. Dia hanya melihat jadwal kereta api yang berangkat ke kota X paling awal.


"Tadi aku ke rumah kamu, kata bang Adnan kamu ke stasiun, dan aku langsung kesini, aku ingin ngasih kamu sesuatu sebelum aku pergi"


Arrida tersenyum. Ia bahagia ternyata Uwais benar-benar peduli padanya. Walaupun harus berpisah ia yakin hubungannya akan baik-baik saja, meski tak ada kejelasan status mereka


"Aku juga mau kasih sesuatu kak"


"Iya kah?"


"Iya... kakak mau kasih apa?"


Uwais segera mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tas nya. Lalu membukanya.


"Semoga pas ukurannya ya" Uwais memperlihatkan sepatu kets berwarna hitam dengan paduan putih dan abu-abu di bagian bawahnya


"Ini dicoba dulu!" Uwais berjongkok, meraih kaki kanan Arrida. Melepas sandal yang sedang dipakainya. Lalu memasangkan sepatu yang dipegangnya ke kaki Arrida. Pas.


"Eh, kok bisa pas?" Arrida terkejut.


Uwais tersenyum. Gak sia-sia, dia memperhatikan kaki Arrida disaat dia memijat kaki gadis itu waktu terkilir.


Uwais tersenyum lega.


Lalu ia kembali ke tempat duduknya setelah melepas sepatu yang tadi dipakai Arrida


"Aku harap ini dipakai terus ya"


"InsyaaAllah"


"Mulai dari sekarang, aku gak lagi di sekolah nemenin kamu, kamu pakai ini ya sebagai gantinya, biar kamu tetap kuat berpijak, berjalan bahkan berlari tanpa aku, maaf aku ga bisa nemenin kamu mulai saat ini"


"Ih kok jadi sedih gini sih kak" mata Arrida berkaca-kaca.


"Kamu gadis tangguh... bukan gadis cengeng"


"Tapi ....kalo nangis sekarang boleh kan? soalnya kakak bikin aku sedih" Air matanya langsung mengalir. Pipinya basah.

__ADS_1


"Heiii, malah nangis..."Uwais memperhatikan wajah gadis itu dengan seksama


"Kakak bikin aku sedih" Arrida sedikit terisak


"Menangis lah... tidak semua menangis itu menandakan cengeng kok" Akhirnya Uwais membiarkan Arrida menangis. Dan ternyata malah Arrida langsung mengusap air matanya.


"Kok udah nangisnya?"


"Masih ada kakak... aku gak bisa nangis lama-lama"


Uwais tersenyum.


"Kamu tau filosofi sepatu Ar?"


Arrida hanya mengeryitkan keningnya, memberi tahukan kalau dia tidak tahu tentang filosofi sepatu


"Mereka sepasang walau pun berbeda, ,kanan dan kiri... kemana kanan pergi kiri ikut menyeimbangi dan menemani, begitupun sebaliknya.... walaupun mereka melangkah bergantian dan tidak pernah bersama, namun mereka satu tujuan dan.... kalo mereka sendirian, mereka tidak berguna"


Arrida mengangguk, mulai mengerti


"Seperti sebuah hubungan... berbeda, tapi satu tujuan, saling menemani, saling pengertian dan tak berharga jika salah satunya tak ada"


"Apa kita seperti sepatu?" tanya Arrida, memandang penuh tanya pada Uwais.


"Iya"


"Lalu gimana caranya biar kita berharga"


"Bersama"


"Gimana caranya sementara kakak pergi"


"Kepercayaan"


"Jaga hati kamu ya Ar, jangan kasih harapan sama cowok lain ya, Justin, Arfan... dan lainnya"


Arrida mengangguk.


"Kakak juga ya"


Kali ini Uwais yang mengangguk.


"Oiya kamu mau ngasih apa?"


"Ini, tapi gak ada filosofi nya"Kata Arrida nyengir sambil mengeluarkan sesuatu dari tasnya.


"Hhh? gantungan kunci?" Uwais mengernyitkan keningnya.


"Iya... gak ada maknanya, cuma sebuah gantungan kunci aja"


"Tapi kamu pasti punya maksud kan, kenapa kamu mau ngasih ini"


"Iya"


"Apa?"


"Yang pertama...Biar kakak bisa inget aku"


Uwais terkekeh.


"Terus?"


"Yang kedua....biar kakak tetep inget aku"

__ADS_1


"Selainnya itu?" Uwais masih terkekeh


"Yang ketiga.... biar kakak selalu inget aku"


"Heheh" Uwais mengacak gemas pucuk kepala gadis kesayangannya itu


" Makasih banyak ya, ntar aku gantung buat kunci sepeda, jadi kalau kemana-mana inget kamu"


Arrida tersenyum manis. Ia bahagia. Sesimpel itu.


"Kakak ke kampus bakal naik sepeda?"


"Iya, kenapa?"


"Gak pengen naik motor gitu?"


"Nanti kalau sudah diperlukan"


"Jadi saat ini kakak masih suka bersepeda ya"


"Lebih santai, lebih sehat"


"Tapi lebih lambat" sela Arrida


"Kalau gitu berangkatnya jangan telat" sanggah Uwais tersenyum.


"Iyalah iya" Arrida menyerah dan tak ingin membalas argumen lagi dengan Uwais.


"Oh ya kak, kalau kakak udah pergi, bolehkah aku chat kakak?"


Uwais menjawab dengan anggukan


"Mmmm" Arrida tampak ragu


"Apalagi"tanya Uwais


"Bolehkah aku dapetin chat dari kakak tiap hari?" tanya Arrida akhirnya.


"Akan aku usahakan ya" Uwais tidak memberi janji. Ia hanya akan mengusahakannya untuk gadis kesayangannya itu.


"Oh iya...Udah makan belum Ar"


Arrida menggeleng pelan.


" Makan dulu yuk" Ajak Uwais.


"Ayok" kata Arrida singkat


"Mau makan apa?"


"Pengen bakso"


"Ya udah ayo" kata Uwais sambil berdiri, disusul kemudian oleh Arrida.


Mereka makan di kantin stasiun. Saling bercerita. Hingga tak terasa kereta yang akan dinaiki oleh Uwais telah datang. Uwais telah bersiap di peron. Sementara Arrida melihatnya dari tempat tunggu.


Tak lama kemudian Uwais pun segera naik. Namun ia memilih untuk berdiam di dekat pintu kereta. Dia masih ingin memanfaatkan waktu untuk melihat gadisnya itu sebelum kereta benar-benar meninggalkan stasiun.


Arrida melambaikan tangannya, matanya berlinang. Ia berusaha untuk menahan segala rasa sedihnya. Sementara Uwais mengangkat telapak tangannya, tidak melambai, namun memberikan senyuman dan anggukan sebagai isyarat semua akan baik-baik saja. Semangat.


Setahun semasa SMA, dilalui Arrida dan Uwais dengan banyak kisah, kini harus ada perpisahan diantara mereka. Ini sebenarnya yang tidak diinginkan oleh Uwais. Lagi sayang-sayangnya harus pergi. Tapi kisah terus berlanjut. Keduanya yakin akan mampu menjalaninya


...🌸🌸🌸🌸🌸...

__ADS_1


__ADS_2