Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
121. Ayah terbaik


__ADS_3

Arrida tertawa kecil. Ia merasa aneh dengan panggilan itu. "Catriku", namun ia sangat menyukainya.


"Eh, kak, waktu kakak bilang ke bunda, mau dateng abis lebaran, bunda bilang apa?" tanya Arrida mengalihkan topik pembicaraan.


"Ya dateng aja, sekalian, udah lama juga gak ketemu mamah sama papah."


"Yah, kok tanggapan bunda cuma kayak gitu? Kakak gak serius kali bilang mau ngelamar!"


"Serius, Cinta ... Besok lihat aja waktu lebaran!"


Arrida terdiam.


"Kenapa?"


"Kak, apa bunda setuju ma hubungan kita?"


"Setuju."


"Tapi, kok bunda malah ngijinin orang itu dateng juga pas lebaran ya?" gumam Arrida masih tidak mengerti.


Uwais menggelengkan kepalanya gemas. Ia memang tidak berniat untuk menjelaskan yang sebenarnya dan juga memang sengaja membiarkan Arrida mencerna sendiri kejadian yang sesungguhnya.


"Mungkin biar kamu bisa lihat dia seperti apa? Siapa tau berubah pikiran!" celetuk Uwais.


"Kakak, kok ngomongnya gitu sih?"


"Ya udah, kita buktiin, kalo aku, kok yakin ya, kamu gak bakal nolak waktu dia dateng?" goda Uwais.


Arrida menyipitkan matanya, menatap dengan tatapan tak suka.


"Kakak, kok gitu sih? Harusnya kan kakak cemburu, lalu mempertahankan aku, dan nyuruh aku untuk nolak dia! Emangnya kakak ikhlas ya kalo aku ama dia? Kakak gak bener-bener sayang ma aku ya?"


"Aku sayang kamu, Cinta ... Pokoknya kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku!"


"Lalu, kalo aku ma dia, apa kakak bahagia?"


"Udah ah, jadi gemes sendiri kalo ngomongin ini! Kita lihat aja lebaran nanti ya."


Arrida mengangguk dengan penuh kebingungan.


"Kira-kira, siapa duluan ya yang dateng? Kakak atau dia ya? Atau jangan-jangan pada dateng di hari yang sama? Adduh ... !" Arrida bermonolog, namun Uwais bisa mendengarnya, dan itu membuat Uwais makin gemas, sehingga ia pun terkekeh.


"Eh, Kak ... Kalo kalian datengnya bersamaan ... Bakal seru tuh, entar kayak cerita dongeng... Ahh, kerennya ... Berasa jadi putri yang dilamar dan diperebutkan para pangeran!"


"Hish, ngayal!" Uwais menyentil kening Arrida, "Itu gak akan terjadi, Cinta ...." lanjutnya.


"Assalamu'alaikum." Suara salam dari seseorang menghentikan percakapan keduanya.


"Wa'alaikumsalam ... Eh, Bang Arman udah dateng!" kata Arrida.


"Hei, kamu udah selamat? Diculik si uler, hm?" tanya Arman sambil terkekeh.


"Ih, Bang Arman gitu amat seh ma Rida," kata Arrida sambil mengerucutkan bibirnya.


"Hahaha, abisnya, ada-ada aja kisah kamu, yang diculik buaya lah, kebakaran lah, trus diculik uler pula ...."


"Hee iya ya, Bang, kayak cerita dongeng kan, diculik, lalu diselamatkan pangeran," komentar Arrida merasa bangga.


Tak


Sekali lagi Arrida mendapatkan sentilan dari Uwais di keningnya.


"Aww ... Kak," Arrida mengusap keningnya yang disentil walaupun sebenarnya tidak terasa sakit.


"Ngayal mulu." komentar Uwais.


"Ish, bukan ngayal, tapi bagaikan, meng- um-pa-ma-kan," kata Arrida sambil menekankan ucapan pada kata 'mengumpamakan'.


"Aku putrinya, dan kakak pangerannya," imbuhnya sambil terkekeh.


"Haish, anak ini!" Uwais agak salah tingkah.


"Ciyee, malu tuh ma bang Arman." goda Arrida


Uwais hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, dia benar-benar merasa sangat gemas.


"Ah, kalian ini, bener-bener bikin iri!" komentar Arman.


"Haha, jiwa jomblo merontaaa!" celetuk Kirno yang baru saja datang menghampiri ketiganya.


Arrida dan Uwais tertawa.


"Iya, Bang, kayaknya, bang Arman ma bang Dika harus dicariin pasangan nih, biar gak jomblo mulu." kata Arrida menanggapi celetukannya Kirno.


"Ooy, ngomongin Si tampan Andika yaa!" Teriak Andika dari arah dapur.


"Ups!" Arrida segera menutup mulutnya begitu mendengar teriakan Andika.

__ADS_1


"Udah, sana! Mandi, mandi!" perintah Uwais pada Arrida yang terlihat salah tingkah karena teriakan Andika.


"Hish, males ah, ntar aja, kalo udah mau berangkat kuliah!"


"Yah, kayak gini bilang putri, mana ada putri males mandi," ujar Uwais.


"Ih biarin ...!" ucap Arrida santai, "Eh, kak, jangan sering-sering mandi, entar cantiknya ilang," sambungnya dengan asal.


"Hey ... Cantik iya, tapi bau juga iya!" protes Uwais.


"Hish, mana ada Arrida bau? Lagian, emang kakak udah mandi?"


"Jangan sering mandi, ntar tampannya ilang!" seru Uwais mengutip kata-kata Arrida tentang sering mandi.


"Hiiiiiy ... " Arrida mencubit lengan Uwais yang ada di atas meja.


"Aw, pedes, Cinta!" kata Uwais sambil mengusap bekas cubitan Arrida di lengannya.


"Aih, kalian ini bener-bener bikin jiwa jomblo bang Arman meronta! Ayo Bang, kasiyaan, kita tinggalin aja mereka, daripada cuma jadi obat nyamuk!" kata Kirno sambil menarik lengan Arman.


Arrida terkekeh mendengar gurauan Kirno.


"Eh, Bang, tunggu! Ceritain, gimana mbak Fika ketemu papah?" cegah Uwais menghentikan langkah Arman dan Kirno.


Arman pun berbalik.


🌼


"Assalamu'alaikum," pak Ridwan mengucap salam ketika dia baru saja tiba di rumah sore itu.


"Wa'alaikumsalam," jawab bu Tania, ia segera ke ruang tamu, lalu menyambut kedatangan pak Ridwan dari kantor. Ia sengaja mengambil tas kantor dari tangan suaminya.


"Tumben, Papah disambut?" tanya pak Ridwan sambil menghentikan langkahnya. Ia merasa aneh dengan sikap istrinya, karena, tidak biasanya dia disambut di ruang tamu dan dibawakan tasnya.


"Ih, biasa kan mamah juga nyambut Papah,"


"Iya, tapi gak dari ruang depan juga ... Biasanya, cuma tinggal cium tangan saat papah udah ada dihadapan mamah."


Bu Tania nyengir.


"Ada apa, hm?" tanya pak Ridwan kemudian.


"Heee." bu Tania memutar bola matanya.


"Ada yang mau ketemu papah, tapi ... Papah yang tenang ya," sambungnya.


"Janji dulu!" kata bu Tania penuh permohonan.


"Iya, Okke, Papah janji!"


"Bener ya ... Papah tenang, dan gak emosi ... Kasihan jantung papah."


"Iya, Mah ... Siapa sih?" pak Ridwan penasaran. Ia meyakinkan pada istrinya bahwa dia akan bersikap tenang.


"Kita ke ruang keluarga yuk." ajak bu Tania sambil tersenyum. Ia memang tidak menawarkan minum, mandi atau istirahat dulu, karena pak Ridwan tidak terbiasa dengan hal itu.


🌼


Pak Ridwan menghentikan langkah kakinya ketika dia sudah tiba di ruang keluarga. Tatapannya sangat sulit digambarkan, antara bahagia, kecewa dan marah.


"Fika ...." panggilnya lirih.


"Papah," balas Fika memanggil ayahnya, dia sudah berdiri sejak kedatangan pak Ridwan ke rumah dan mengucapkan salam.


Keduanya hanya mematung saling menatap, hingga akhirnya Fika berlari kemudian bersimpuh di kaki pak Ridwan sambil menangis dan meminta maaf.


"Maafin Fika, Pah,"


Pak Ridwan langsung menarik kedua lengan Fika agar berdiri.


"Anak nakal, kenapa baru pulang, hm? Apa kamu gak kangen papah?" tangis pak Ridwan sambil mendekap erat anak perempuannya yang sudah empat tahun tidak pernah bertemu.


"Fika kangen, Pah, kangen banget!"isak Fika dalam dekapan pak Ridwan.


"Kamu kan tau, nomer papah, kenapa kamu ga pernah telfon papah, hm?" tanya pak Ridwan sambil mengusap lembut rambut Fika beberapa kali.


Fika tak menjawab. Ia hanya menangis dan mengeratkan pelukan ayahnya. Saat ini dia hanya ingin merasakan kehangatan yang diberikan oleh ayah tercintanya.


Bu Tania ikut menangis, sedangkan Arman yang dari tadi berdiri di dekat sofa ruang keluarga pun ikut mengeluarkan air mata.


"Fika kangen Papah, Fika sayang Papah, Fika salah ma Papah, Fika takut Papah marah, makanya gak pernah hubungi Papah, maafin Fika, Pah, maafiiiiiiin banget!"


"Papah memang marah sama kamu, tapi apa mungkin Papah bisa berlama-lama marah sama kamu. Kamu anak perempuan Papah satu-satunya, kesayangan Papah," ucap pak Ridwan masih dalam tangisnya. Dikecupnya pucuk kepala Fika beberapa kali.


Hangat. Dan Fika masih ingin berlama-lama dalam pelukan pak Ridwan.


"Apa kamu selama ini bahagia, nak? Apa hidup kamu baik?" tanya pak Ridwan sambil membelai rambut anak perempuannya itu.

__ADS_1


Fika hanya menggelengkan kepalanya di dada pak Ridwan.


"Apa suami kamu memperlakukan kamu dengan baik? Apa dia selalu membahagiakanmu?"cecar pak Ridwan.


Fika masih menggeleng di pelukan pak Ridwan. Akhirnya, lelaki yang usianya hampir enam puluh tahun itu, membiarkan anak perempuannya puas menangis dalam dekapannya. Setelah puas, Fika pun akhirnya melepaskan dekapannya.


"Papah,"ucap Fika lirih, ditatapnya dalam-dalam wajah pak Ridwan. Sudah mulai banyak kerutan di wajah senjanya yang tampan.


"Siapa dia? Diakah suamimu? Diakah yang membuat kamu berpaling dari Papah?" tanya pak Ridwan ketika tatapannya beralih ke arah Arman.


Fika masih menggeleng.


"Eh, tunggu! Kayaknya Papah pernah lihat dia!"


Arman segera menghampiri pak Ridwan lalu mencium punggung tangannya.


"Saya Arman, Om, yang di restonya Uwais,"


"Oh iya iya, saya ingat, kamu yang pernah membuatkan minuman spesial penghilang lelah, kan, ya?" ujar pak Ridwan, ia ingat, pernah sengaja mengunjungi Uwais. Saat itulah, dia mengenal Arman, Andika dan Kirno.


"Nanti buatkan lagi ya, minuman seperti itu luar biasa khasiatnya."


"Siap, Om." jawab Arman sambil tertawa.


"Eh, tunggu, kenapa kalian bisa bareng? Mana suamimu, Nak?" tanya pak Ridwan akhirnya.


"Papah duduk dulu ya, nanti kita cerita," saran bu Tania.


"Iya, Om, sebaiknya ngobrolnya sambil duduk, biar saya buatkan minuman penghilang lelah!"


"Haa iya iya, ide bagus!" pak Ridwan menyetujuinya.


🌼


"Maafin Fika, Pah, Maafin Fika ...." ucap Fika masih dalam tangisnya. Ia telah menceritakan semua kisahnya selama empat tahun, juga menceritakan kejadian terakhir di resto yang membuat dia pulang ke rumah.


Pak Ridwan terdiam mendengar kisah tragis anak perempuannya. Sejenak, ia menarik nafas panjang sambil menutup matanya. Hening.


Merasa tak ada respon dari ayahnya, Fika kembali berlutut, ia bersimpuh di kaki pak Ridwan.


"Fika salah, Pah, Fika durhaka ... Maafin Fika, Pah!" tangis Fika.


"Sudah, bangunlah!" pak Ridwan membuka matanya sambil mengusap pucuk kepala Fika.


"Marah Papah, kecewa Papah, sudah tidak ada lagi semenjak Papah melewati masa kritis karena kepergian kamu. Hanya doa yang terbaik yang selalu Papah panjatkan untukmu ... Maafin Papah yang tidak bisa menjaga kamu ... Maafin Papah atas ketidaktahuan papah akan keadaan kamu selama empat tahun ini ... Maafin Papah udah membiarkan kamu menjalani semua ini, kamu pasti menderita selama empat tahun ini!" kata Pak Ridwan kembali menangis. Ia merasa telah gagal menjadi orang tua untuk anak perempuan satu-satunya.


"Kamu gak pulang, karna pasti kamu takut papah marah, kan? Papah sayang kamu, Fika!"


"Papah, Papah gak salah, Fika yang salah, Fika yang durhaka, Fika yang bandel, Papah adalah ayah terbaik," isak Fika. Ia masih berlutut dihadapan pak Ridwan.


"Kamu pasti akan bahagia! Papah janji! Ayo kita selesaikan masalah kamu dengan suami kamu! Segera setelah ini! Papah punya pengacara terbaik! Sudah, tenang ya, jangan menangis."


...🌸🌸🌸🌸🌸...


...Makasih kakak readers...


...Makasih udah setia mampir n baca kisah Arrida dan Uwais sampai sejauh ini...


...Makasih atas dukungannya, like, favorit n kommentnya...


...Sehat selalu ya kakak readers...


...Hatiku Padamu Kak readers pake banget......


...Semoga kak readers tetap suka dan terhibur yaaa...


...πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ˜πŸ˜πŸ˜...


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Oiya kak readers mampir juga yuks di novel milik sahabat literasiku, pokoknya keren abis... mampir ya, jangan lupa... like vote fav n koment ya


Judul :~ BAD WIFE ~


Karya : oktiyan_ghassani.


BLURB.


"Sudahlah, pergi! jangan sok suci kau. Seperti baru di pakai saja." ucap Pria itu yang baru saja melihat tubuh Hanum dengan balutan selimut berdiri, dengan mode kesakitan dan menahan sesuatu seperti mengejan. Ia menatap Hanum berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan.


Hanum masih menangis setelah ingin meraih tas, dan trolly kebersihannya. Menjadi pengganti house keeper di kamar 501 adalah awal kesengsaraan hidupnya, dan Hanum kembali bertemu dengan pria itu. Hanum bagai berada dalam roller coaster yang membuat ia tersanjung tinggi, namun dihempaskan paling terdalam.


'Jika jodoh itu adalah cerminan diri, dari pria baik aΔ·an mendapatkan wanita baik. Mengapa aku tidak termasuk kategori seperti itu?'



...Happy reading yaaa😘😘😘...

__ADS_1


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


__ADS_2