
"Da, kamu udah lihat video di grup sekolah kan? Kak Uwais benar-benar sendirian saat ini,"
Hani mengirimkan pesan pada Arrida. Namun tak ada jawaban.
πΌ
Uwais benar-benar sendiri. Dia ke mushola sekolah.
Pagi hari seperti ini biasanya sepi, hanya beberapa anak saja yang menyempatkan untuk sholat Dhuha. Apalagi saat ini para siswa tengah sibuk dengan class meeting, yang ada di mushola hanya empat orang, dengan Uwais menjadi lima orang.
"Wooiii! Jangan ngotorin mushola, kelakuan sok alim, taunya busuk! Keluar!!" teriak salah satu murid laki-laki dari arah teras mushola. Dia bersama dua rekannya, sepertinya mereka memang sengaja ingin menghasut siapapun yang ada di situ. Mereka Vano, Dirga dan Trian. Ternyata, mereka masih se-gank dengan Ruben.
Ruben and the gank, memang tidak selalu membuat onar di sekolah, tapi tingkah mereka bisa dibilang cuek dan seenaknya, banyak yang tidak menyukai mereka karena terlalu arogan dan kurang peduli bahkan kurang bersimpati dengan yang lain. Makanya, para siswa lebih memilih untuk cari aman dan tidak terlibat masalah dengan mereka. Seminggu sekali mereka suka bolos sekolah. Rajin masuk kelas tapi tidak suka memperhatikan guru. Kadang tidur atau mainan game di ponsel. Dari segi akademik, mereka termasuk anak-anak yang standar ke bawah.
Mereka lebih senang bermain di luaran, nongkrong di jalan, balapan motor, dan ke klub malam.
"Mas, maaf jangan teriak-teriak disini!" salah satu dari empat siswa yang ada di mushola keluar untuk menenangkan suasana.
"Suruh keluar tuh orang yang sok suci!!" teriak Vano lagi.
"Maksud mas siapa?"
"Eh, jangan pura-pura gatau, itu yang lagi sholat, suruh dia keluar!" perintah Vano.
"Emang lo gatau yang udah dia lakuin?" kali ini Trian yang bersuara. "Dia itu udah ngehamilin anak orang!" lanjutnya.
"Astaghfirullah, mas maaf, sebaiknya ga usah dibahas tentang itu ... Toh itu juga belum tentu benar, pihak sekolah masih menyelidiki,"
"Alaaah jangan ngebelain orang yang salah!" ucap Dirga sambil menunjuk dada siswa tersebut.
"Ada apa ini?" Uwais akhirnya keluar dari mushola, karena mendengar keributan di luar. Dia telah menyelesaikan sholatnya ketika Trian yang berbicara.
"Nah, keluar juga orang yang penuh dosa, abis taubat ya?!!" kata Vano dengan tatapan sinisnya.
"Ada apa Van?" tanya Uwais santai. Ternyata dia mengenali ketiganya. Ia tahu kalau Vano menyukai Erna sejak lama, tapi Erna sama sekali tidak meresponnya, dan justru malah menyukai Uwais. Dan sudah dipastikan selama ini Vano menyimpan kebencian kepada Uwais. Sehingga dengan adanya kasus yang menimpa Uwais, sudah pasti tidak disia-siakan untuk meluapkan kebenciannya pada Uwais.
"Gak usah munafik! Pake sholat Dhuha segala, sayang ni mushola cuma dijadiin tempat lo buat memperbaiki citra lo doang!" kata Vano ketus.
"Ooh, tenang aja Van, saya akan keluar, segera setelah ini, oke!" kata Uwais tenang, dia malah menampilkan senyumannya lalu meninggalkan mereka. Kemudian ia mengambil sepatu lalu memakainya.
__ADS_1
Ketiganya langsung terdiam. Niatnya mau ngajak ribut, taunya yang dihadapi malah tampak tenang dan santai. Bahkan bukannya terpancing emosi malah Uwais terlihat kalem banget, sampai-sampai bisa menampilkan senyum apiknya.
"Ya udah yuk, cabut! Nyebelin, gak asik!!!" kata Dirga mengajak Vano dan Trian pergi meninggalkan mushola.
Sementara siswa yang tadi sempat membela Uwais tampak heran bercampur kagum melihat Uwais yang begitu tenang. Kereeen. Pikirnya.
πΌπ¦πΌ
Langit memang sedang tidak cerah, matahari seperti enggan menampakkan diri, hanya awan- awan kelabu yang menari bersama tiupan angin. Seakan menggambarkan keadaan Uwais saat ini.
Baru kali ini Uwais merasa tidak nyaman di sekolah. Padahal sebelum ada kejadian ini, ke sekolah adalah bagian dari semangatnya, belajar dan bermain bersama teman, mendapatkan ilmu yang tidak hanya didapatkan di kelas tapi juga di kegiatan ekstrakurikuler, menikmati susahnya mengerjakan kuis ataupun ulangan, ribetnya mengerjakan tugas, melakukan beberapa uji coba praktikum di lab IPA, bermain musik di ruang seni, berolahraga di lapangan atau di GOR, dan jangan lupakan makan menu favoritnya di kantin sekolah. Semua itu benar-benar membuatnya semangat, dan dia selalu bahagia menjalaninya.
Namun saat ini, ke sekolah malah tidak membuatnya semangat. Suasananya begitu menyakitkan. Seorang Uwais yang dulu dikagumi, sekarang hanyalah sampah yang cuma jadi bahan gunjingan. Asing di sekolah sendiri. Tapi apa yang bisa dilakukannya, dia tidak bisa merubah pikiran orang begitu saja. Biarlah... toh, hidup harus terus berjalan. Life must go on. Pasti akan ada akhir dari sebuah cerita.
Waktu menunjukkan jam sembilan pagi, namun bagi Uwais berlama-lama di sekolah saat ini benar-benar tidak membuatnya nyaman, dan membuat orang-orang tidak berhenti menggunjingkannya, mencemoohnya dan juga menatapnya dengan sinis. Dia pun memutuskan untuk meninggalkan sekolah. Makanya, dari mushola dia langsung menuju tempat parkir. Uwais berjalan sambil memainkan ponselnya. Entah apa yang dia mainkan, karena sebenarnya dia hanya ingin berjalan tanpa mempedulikan tatapan-tatapan orang kepadanya
"Sst..!!!"
Uwais mencari sumber suara seperti orang memanggilnya hanya dengan suara desis yang singkat. Saat ini dia sudah tiba di tempat parkir sepedanya.
"Nih!"
"Ups!"
Hampir saja botol itu terjatuh, untungnya dengan sigap Uwais langsung menangkap botol mineral tersebut.
Wajahnya berbinar, ia tidak percaya dengan yang dilihatnya saat ini. Gadis yang sejak tadi dia cari.
"Ar ...." panggilnya bahagia.
"Kenapa?" tanya Arrida sambil menaikkan dagu dan alisnya.
Uwais hanya tersenyum lebar. Bahagia. Terakhir kali melihat gadis ini, perasaannya tidak karuan, bahkan sampai keduanya hanya bisa menatap tanpa bisa menjelaskan apapun. Namun kini, perasaan hati Uwais seakan membaik, melihat gadis kesayangannya itu tampak baik-baik saja seperti biasanya, seakan-akan tidak terjadi sesuatu.
Ia segera menghampirinya. Rasanya sudah tak sabar ingin memandang dari dekat wajah manis milik Arrida.
"Hei! Natapnya gitu banget sih Kak, kayak menang lotre aja!" kata Arrida sambil menjauhkan wajahnya agar tidak terlalu dekat dengan Uwais yang menatapnya bersemangat.
"Lebih dari itu, Ar," ucap Uwais. Senyumnya terus mengembang di wajahnya.
__ADS_1
"Kamu ke sekolah? Sejak kapan?" tanya Uwais kemudian.
"Mau tau aja mau tau banget," jawab Arrida bercanda seperti biasanya.
"Hmm, kebiasaan!" Uwais tertawa kecil.
"Diminum dulu Kak, biar fokus!"
Uwais hanya tersenyum sambil membuka tutup botol air mineralnya kemudian meminumnya.
"Sepedaan yuk, Kak," ajak Arrida pada Uwais.
"Hmm?" Uwais mengernyitkan keningnya. Ia menyadari sesuatu, ternyata gadis ini sedang duduk di sepedanya. "Emang kamu mau kemana dengan naik sepeda?" tanyanya kemudian.
"Ke alun-alun kota,"
"Ayok!" Uwais menyetujuinya. Dia begitu bersemangat akan bersepeda dengan gadis kesayangannya itu.
"Okke, siapa yang kalah dia yang traktir!" Arrida memberi usul.
"Hmhh??!!" Kening Uwais berkerut. Dia tidak mengerti. Kenapa ada kalah dan traktir, memangnya mau balapan?
"Tuh!" jawab Arrida sambil menunjuk sepeda miliknya yang dia parkir dekat pos satpam. Dia tau kalau Uwais bingung diajak balapan karena pasti yang dipikirannya mereka akan ke alun-alun kota hanya dengan satu sepeda saja.
"Kamu dari rumah ke sekolah naik sepeda?"
Arrida mengangguk pasti
"*Hmm ... K*ereen," gumam bathin Uwais.
...πΈπΈπΈπΈπΈ...
Hai kak readers
makasih dukungannya ya
makasih udah setia baca kisah Arrida dan Uwais
sehat selalu ya πππ
__ADS_1