
"Jangan ngegoda, Ar!" kata Uwais spontan.
"Hah," Arrida terkejut, mendengar apa yang diucapkan Uwais.
"Kakak, tau aku?" tanya Arrida sangat bahagia.
"Ar ... Ar, apa namamu Ar?"
Arrida menarik nafas panjang, sepertinya dia belum bisa berharap banyak dengan ingatan Uwais saat ini. Ia pun menarik kepalanya, menjauh beberapa senti dari wajah Uwais.
"Kakak tadi bilang jangan ngegoda aku Ar,"
"Iya, aku juga gak tau, reflek aja bilang kayak gitu saat lihat wajah kamu, apa kita sering sedekat tadi?"
"Sangat sering, apa mau dilakukan lagi? Biar ingatan kakak kembali?" Arrida kembali memajukan wajahnya.
"Jangan," kata Uwais sambil menahan wajah Arrida. Telapak tangannya terangkat di udara tidak sampai mengenai wajah Arrida.
"Kenapa? Apa Kakak tidak ingin ingatan Kakak kembali?"
"Bukan gitu, tapi hati aku nggak karuan, rasanya aneh," jawab Uwais sambil memegang dadanya menahan malu.
"Kenapa emang hatinya?"
"Kalo kamu deket, aku deg-degan,"
Arrida terkekeh.
"Apa Kakak suka aku?" tanya Arrida, sengaja memancing ingatan suaminya.
"Iya, Kamu cantik dan baik, aku suka!" jawab Uwais.
"Akan aku buat kakak tidak hanya suka padaku, tapi juga jatuh cinta padaku,"
"Kenapa kamu to the point sekali sama cowok,"
"Gak papa, kan sama Kakak ini, bukankah Kakak memberi ijin jika aku mengatakannya hanya sama Kakak,"
"Benarkah? Apa aku pernah bilang seperti itu?"
"Iya,"
"Wah, apa kita benar-benar punya kedekatan? Apa kita punya hubungan?"
"Sudah ku bilang, kita sangaaat dekat, Kakak adalah suamiku,"
"Hah? Berarti, kamu istriku?"
Arrida mengangguk.
"Sungguh?" tanya Uwais tak percaya.
"Iya!"
"Wah, beruntung sekali aku bisa punya istri yang cantik dan baik kayak kamu!"
"Aku juga beruntung punya suami yang tampan dan baik kayak kakak!"
"Tapi kasihan kamu, punya suami hilang ingatan, aku bahkan gak ingat tentang kita,"
"Gak papa, nanti ingatan kakak pasti kembali,"
Uwais mengangguk masih menatap kekasih hatinya yang telah sah menjadi istrinya.
πΌ
"Benarkah, Dok?" tanya Arrida tidak percaya. Dia bahagia karena kondisi Uwais sudah pulih.
"Iya, kondisi tubuhnya sudah lebih baik, dia bisa dirawat di rumah!" kata dokter Indah pagi itu. Ia telah selesai memeriksa Uwais.
"Lalu soal ingatannya gimana, Dok?" tanya Arrida.
__ADS_1
"Gak papa di rumah, siapa tau, kalau di rumah ingatannya cepat kembali,"
Arrida mengangguk.
"Kalo ada apa-apa, bisa kesini, ini obat dan suplemennya, rutin diminumkan, ya,"
"Baik, Dok,"
πΌ
"Kamu, orang yang hampir ketabrak sama aku kan? Kok kamu dijilbab?" tanya Uwais pada Arrida yang tengah menghampirinya, sesaat setelah kepergian dokter Indah.
Arrida mengerutkan keningnya. Berfikir dan mengingat.
"Kenapa aku disini? Apa yang terjadi? Aku harus segera ketemu papah, dia kritis!"
Arrida paham. Saat ini ingatan Uwais sedang berada pada saat awal pertemuan mereka, ketika Uwais jatuh dari motor saat menghindarinya.
"Kak, tenang ya,"
"Katakan apa yang terjadi?"
"Papah baik-baik aja, kakak hanya perlu beristirahat,"
"Ah!!! Kenapa aku tidak bisa ingat apapun?" tanya Uwais sambil memegang kepalanya yang terasa sakit.
"Karena kakak memang hilang ingatan," ujar Arrida sambil menarik tangan Uwais dari kepalanya.
Uwais menoleh memperhatikan wajah Arrida. Entah kenapa getaran indah itu hadir kembali di hati Uwais.
"Siapa kamu? Kenapa aku seperti sudah lama mengenal kamu? Apa kita saling kenal?"
"Iya, sangat kenal,"
"Nama kamu?"
"Arrida," jawab Arrida pasti.
"Iya, itu panggilan Kakak untuk aku,"
"Ar!" panggilnya dengan mempertegas ucapannya. Tangannya terulur menyentuh pipi Arrida.
Gadis itu langsung menggenggam erat tangan Uwais yang sedang menyentuh pipinya. Air matanya tiba-tiba mengalir. Perasaannya saat ini sangat tak karuan. Ia benar-benar merindukan Uwais. Ia pun mencium telapak tangan Uwais yang tadi digenggamnya.
"Aku kangen kakak," ucapnya sambil terisak.
Uwais mengeratkan genggaman tangan Arrida. Entahlah, perasaannya pun seperti tidak bisa mengelak bahwa ada sesuatu di hatinya, ia merasa ingin melindungi gadis yang ada di hadapannya itu. Ia sungguh tidak suka melihat gadis itu menangis.
"Jangan nangis, aku lebih suka senyuman kamu," ucapnya.
"Kakak," panggilnya lirih masih dalam tangis.
"Ar ...."
Arrida memejamkan matanya, menikmati panggilan itu.
"Kita pulang ya ke rumah Mamah, mudah-mudahan disana kakak cepat ingat,"
Uwais kembali mengangguk.
πΌ
"Ya Alloh, kacau sekali tempat ini!" kata Uwais saat berjalan berdampingan hendak pulang ke rumah.
"Ini sudah lebih baik, Kak, daripada waktu pertama kali terjadi bencana, ini sudah sebagian dibersihkan!" jelas Arrida. Mereka baru saja keluar dari rumah sakit lapangan beberapa meter.
"Sudah berapa hari dari kejadian tsunami?"
"Empat hari,"
"Apa keluarga ku ada yang jadi korban?"
__ADS_1
"Iya ada, dan ada yang sampai sekarang belum ditemukan,"
"Ya Alloh," kata Uwais singkat. Tiba-tiba saja hadir bayangan kejadian sesaat terjadi bencana di kepalanya, seakan teriakan orang-orang yang mengatakan 'gempa' 'air' dan 'tolong' memenuhi telinga Uwais.
"Kenapa, Kak? Sakit lagi kepalanya? Ingat sesuatu?" tanya Arrida cemas.
Uwais justru malah menggenggam tangan Arrida sangat erat.
"Jangan pergi!"
"Aku gak akan pergi, Kak!"
"Ar, maafkan aku!" kata Uwais yang masih merasa tidak karuan.
"Ada apa?"
Uwais memejamkan matanya, kepalanya terasa berat. Pandangannya gelap. Hampir saja dia ambruk jika tubuhnya tidak ditahan oleh Arrida.
"Ayo, tunggu disini dulu!" ajak Arrida untuk duduk di sebuah pohon besar yang tumbang.
"Kakak, tunggu disini, aku akan minta air hangat dulu ya," kata Arrida sambil berlari.
Tak lama, ia pun segera kembali menuju Uwais dengan sangat tergesa, fokusnya hanya satu, yaitu ingin segera sampai di hadapan Uwais, namun sayang, saat dekat dengan Uwais, kakinya malah tersandung sesuatu yang menghalangi jalannya. Ia terjatuh. Lebih tepatnya tersungkur. Gelas yang dipegangnya terlepas dan airnya tumpah.
"Ar!" panggil Uwais saat melihat Arrida terjatuh. Ia segera bangun dan menghampiri Arrida lalu membantunya berdiri. Gadis itu sempat limbung namun ditahan oleh Uwais.
"Makanya hati-hati!" tegur Uwais.
Arrida hanya terdiam sambil tersenyum, dia ingat, jika dirinya selalu saja ceroboh, dan Uwaislah yang menolongnya.
"Kenapa malah senyum?"
"Gak papa, eh, ya udah aku ambil lagi air minumnya," kata Arrida sambil melangkahkan kakinya. Namun baru juga berbalik dan melangkah, dia limbung lagi dan hampir saja ambruk jika Uwais tidak menahan tubuhnya.
"Udah, ga usah ngambil lagi, ayo kita pulang!" kata Uwais. Ia langsung berjongkok, memerintahkan Arrida untuk naik ke punggungnya.
"Eh, kok aku de javu ya?" tanya Arrida. Ia ingat betapa seringnya Arrida digendong belakang oleh Uwais.
"Kenapa?" tanya Uwais merasa heran dengan
"Gak papa," jawab Arrida.
"Ayo naik, kita pulang, kamu tunjukkan jalannya!" kata Uwais sambil menarik kedua kaki Arrida, hingga gadis itu pun naik ke atas punggung Uwais.
Arrida mendekap suaminya sangat erat, seakan melepaskan segala perasaannya yang ada di hati.
"Kakak tau, aku sering banget digendong oleh kakak seperti ini!"
"Benarkah?"
"Iya, aku selalu saja ceroboh dan tidak hati-hati, dan Kakak selalu saja menolongku! Bahkan sekarang, walaupun Kakak hilang ingatan, Kakak masih bisa menolongku, makasih ya," kata Arrida sambil membenamkan kepalanya di leher Uwais.
Uwais hanya diam mendengar penuturan Arrida, ia justru merasa benar-benar tidak berguna. Nyatanya, gadis yang sudah resmi berstatus istrinya itu, sangat mengharapkan keberadaannya dan bisa melindunginya.
"Maafkan aku, Ar, aku belum bisa ingat apapun, tapi walaupun aku tidak tau kamu, dan tidak ingat dengan apa yang terjadi antara kita, tapi perasaan aku selalu merasa tenang jika ada kamu, aku merasa nyaman, dan hatiku bilang bahwa kamu adalah yang terindah untuk aku!" kata Uwais penuh kepastian.
Arrida malah meneteskan air matanya. Haru.
...πΈπΈπΈπΈπΈ...
...Makasih kakak readers...
...Makasih udah setia mampir n baca kisah Arrida dan Uwais sampai sejauh ini...
...Makasih atas dukungannya, like, vote, comment dan favoritnya...
...Sehat selalu ya kakak readers...
...Hatiku Padamu Kak readers pake banget......
...Semoga kak readers tetap suka dan terhibur yaaa...
__ADS_1
...π₯°π₯°π₯°ππ»ππ»ππ»πππ...