
"Kamu siapa?" tanya Uwais sambil mengernyitkan keningnya, ia seperti sedang mengingat-ingat sesuatu. Namun yang terjadi justru ia merasakan sakit di kepalanya, sehingga satu tangannya memegang kepalanya yang sudah diperban.
Arrida mencoba tenang, ia sudah mengetahui resiko yang akan dia hadapi, termasuk kondisi Uwais saat ini. Uwais hilang ingatan.
"Kakak gak inget aku?" tanyanya hati-hati.
Uwais seperti berpikir keras. Lalu ia memegang kepalanya yang terasa sakit.
"Biar aku panggilkan dokter, tunggu ya!" kata Arrida langsung berlari mencari dokter Indah.
πΌ
"Masih terasa sakit?" tanya dokter Indah pada Uwais, setelah memeriksa keadaannya.
Uwais menggeleng sambil memegang kepalanya.
"Ini dimana?" tanya Uwais bingung.
"Ini di rumah sakit lapangan!" jawab dokter Indah.
Uwais mengerutkan keningnya.
"Masnya tau nama mas?" tanya dokter itu kemudian.
"Saya ...." Uwais memejamkan matanya, "Saya, saya ...." Keningnya masih berkerut, dia benar-benar bekerja keras untuk mengingat, hingga kepalanya kembali terasa sakit.
"Udah gak usah dipaksakan, sekarang, masnya minum obat, lalu istirahat ya, yang tenang," kata dokter Indah. Ia mengisyaratkan agar Arrida mengambil obat yang telah disediakan, kemudian membantu Uwais untuk meminumnya.
Uwais masih menunduk, seperti menahan sakit di kepalanya, namun ia menurut apa yang diperintahkan oleh dokter Indah untuk minum obat dan beristirahat.
Setelah meminum obat yang diberikan Arrida, Uwais pun berbaring, ia bermaksud untuk rileks, agar sakit yang dirasakan di kepalanya berkurang.
"Ya udah mas, saya tinggal ya, kalo butuh sesuatu, minta saja sama mbaknya ini, saya masih harus nolongin pasien lain!" kata dokter Indah sambil menunjuk Arrida, dengan tujuan jika Uwais membutuhkan sesuatu dia bisa meminta pada Arrida.
"Kamu tau saya siapa?" tanya Uwais pada Arrida, sesaat setelah kepergian dokter Indah.
"Iya, saya tau!"
"Aku siapa?"
"Nama kakak, Uwais Asy Syauqi,"
"Uwais ... Uwais, Uwais," ucap Uwais sambil memejamkan matanya. Mencoba tidur. Ia tidak ingin memikirkan apapun karena rasa sakit di kepalanya begitu luar biasa.
"Ya Alloh, jangankan mengenali aku, untuk tau dirinya sendiri aja sangat kesulitan," gumam Arrida dalam hati sambil menangis. Ia kemudian mengusap pelan punggung tangan Uwais.
πΌ
"Gimana sekarang? Sudah lebih baik?" tanya dokter Indah pada Uwais, saat itu Arrida baru saja datang ke rumkitlap (Rumah Sakit Lapangan) bersama bu Tania dan bu Sofia.
Mereka sengaja berdiri di kejauhan memperhatikan Uwais yang sedang diperiksa oleh dokter Indah.
"Iya, Bu," Uwais menganggukkan kepalanya.
"Bagus!"
"Bu, itu yang suka ada di sini mana?" tanya Uwais menanyakan keberadaan Arrida.
"Siapa?"
"Yang cantik!" jawab Uwais.
"Kamu tau dia cantik?"
"Iya, dia cantik banget!"
"Kamu suka?"
Uwais merona, seperti anak kecil.
Dokter Indah tersenyum, dia merasa Uwais mulai ada perkembangan, bahkan dia bisa mengenali dan mengidentifikasikan jika Arrida cantik. Ini pertanda otaknya mulai bekerja dengan baik, bisa memerintahkan hati untuk merasakan suka dan memberi penilaian terhadap seseorang.
"Tuh orangnya datang, kamu udah tau namanya?" tanya dokter Indah. Ia menunjuk Arrida yang sedang berdiri di kejauhan.
Uwais menggeleng kemudian tatapannya beralih melihat ke arah Arrida.
"Nanti kenalan ya!" perintah dokter Indah pada Uwais. Lalu ia menghampiri Arrida.
"Temani ya, ajak bicara yang ringan, jangan paksakan dia untuk mengingat sesuatu, biarkan otaknya rileks dulu, sehingga otaknya siap dengan sendirinya untuk mengingat!"
Arrida mengangguk.
"Gimana anak saya, Dok?" tanya bu Tania pada dokter Indah.
"Sudah lebih baik, dia sudah bisa mengingat bahwa ada seseorang yang selalu berada di sampingnya, juga sudah bisa menilai seseorang, itu sebuah respon yang baik!" jawab dokter Indah pada bu Tania.
__ADS_1
"Oiya, Rida, luar biasa suami kamu, lagi hilang ingatan aja, tau kalo kamu cantik!" godanya kemudian membuat Arrida tersipu.
"Sana, temui, kayaknya dia udah nungguin kamu! Ya udah, ibu-ibu saya permisi dulu!" kata dokter Indah pada bu Tania dan bu Sofia. Mereka pun mengangguk tanda mempersilahkan.
"Wais, sehat, Nak?" tanya bu Tania sambil mendekap Uwais.
Lelaki itu hanya terdiam dalam pelukan bu Tania. Hangat. Ia segera menatap Arrida, seakan meminta jawaban padanya, siapa ini?
"Ini mamah," ucap Arrida memahami tatapan Uwais.
"Mamah ...." ucap Uwais lirih. Ia membalas dekapan itu dan merasakan kenyamanan. Namun entah kenapa tiba-tiba hati Uwais merasakan debaran yang hebat, hingga menyebabkan rasa sakit di kepalanya kembali terasa.
Akhirnya, karena panik bu Tania pun melepaskan dekapannya kemudian menenangkannya hingga tertidur.
"Ah, cepat sekali dia tertidur, mirip ketika dia masih kecil," ucap bu Tania.
"Gitu ya, Mah?" tanya Arrida memastikan.
"Iya, hmm, Ya Allah, tinggal Uwais dan Fika, sampai sekarang mamah gak tau keadaan Fariz,"
"Aku juga belum tau keadaan Adnan, Tania," ungkap bu Sofia lirih. Untuk saat ini, bu Sofia memang tinggal bersama bu Tania. Karena akses ke tempatnya masih sangat susah.
"Mamah sama bunda tenang ya, Rida udah melaporkan dan memberikan data mas Fariz, mbak Rara, sikembar, bang Adnan dan Hani sebagai orang hilang di tiap posko, juga menyerahkan foto mereka lewat hape."
"Emang sinyal udah ada?" tanya bu Sofia
"Gak lewat internet, bun, di posko kan udah ada listrik daruratnya, kayak di rumah sakit ini, bisa langsung terhubung ma laptop trus di print gambarnya, selainnya itu bisa juga pake aplikasi tanpa internet buat ngirimnya." jelas Arrida.
"Jadi ini gimana Uwais, Nak?" tanya bu Tania.
"Tunggu perkembangan, Mah, tubuhnya aja belum sehat banget, apalagi abis ketindih pohon besar,"
"Ehm, ya Alloh, dia bener-bener berjuang sendiri," ungkap bu Tania.
"Mulai saat ini Rida yang nemenin, Mah, dia gak sendirian lagi," ucap Arrida sangat yakin hingga bu Tania merasa tenang.
πΌ
"Halo, kakak tampan, udah bangun?" tanya Arrida saat tengah malam melihat Uwais terbangun. Ia baru saja menyelesaikan bacaan Al-Qur'annya.
"Butuh sesuatu?" tanyanya kemudian.
"Kamu siapa? Apa perawat?"
"Iya," jawab Arrida sekenanya.
"Bunda? Mamah?"
"Iya,"
"Apa ada orang kesini? Ibuku? Setau aku, dari tadi aku tidur,"
Arrida terdiam sejenak. Ia menyadari jika Uwais telah melupakan kejadian sebelum dia tertidur.
"Apa kakak tau nama kakak?"
"Tampan, kan? Kamu tadi manggil aku dengan nama itu!"
"Bukan, tampan itu kata sifat, artinya wajahnya luar biasa indah untuk dipandang, seperti saat tadi kakak bilang aku cantik!"
"Apa aku mengatakannya? Kapan? Bukannya aku lagi tidur ya?"
"Oh, ya Allah, benar dugaanku, dia melupakan kejadian beberapa waktu yang lalu, padahal dia sudah aku kasih tau namanya Uwais," gumam bathin Arrida.
"Oh, iya maksudnya, kalau perempuan wajahnya cantik, kalau laki-laki wajahnya tampan, gitu, dan nama kakak adalah Uwais!" jelas Arrida.
Lelaki itu mengangguk.
"Uwais ya, kenapa aku ga bisa ingat namaku? Apa aku hilang ingatan?"
Arrida aneh dengan pertanyaan Uwais, bagaimana mungkin orang hilang ingatan bisa menyadari dengan sendirinya jika dia terkena amnesia.
"Kakak tau kalau kakak hilang ingatan?" tanya Arrida hati-hati.
"Hanya menduga, orang yang tidak tau namanya, tidak mengenali orang, bukankah itu termasuk orang yang hilang ingatan?" tanya Uwais.
"Wah, luar biasa, kakak emang pintar!" Arrida tersenyum. Memuji.
"Jadi, aku memang kehilangan ingatan?" tanya Uwais.
"Iya!"
Uwais mengangguk.
"Eh ini tempat apa? Kenapa aku bisa disini?" tanya Uwais kemudian.
__ADS_1
"Ini rumah sakit!"
"Kenapa tempatnya seperti ini? Bukannya rumah sakit itu tempatnya bagus?" tanya Uwais sambil memperhatikan sekelilingnya. Banyak orang yang terluka dirawat.
Mendengar pernyataan Uwais, Arrida makin menyadari, bahwa ada beberapa hal yang diingat oleh Uwais, namun ada juga yang dilupakannya, dan sayangnya justru yang dilupakannya adalah hal penting.
"Ini rumah sakit lapangan, rumah sakit darurat!"
"Apa kita terjadi bencana?" tanya Uwais lagi.
"Hmm benar kan? Beberapa hal atau pengetahuan, Kakak masih mengingatnya!" ucap Arrida dalam hati.
"Iya, terjadi gempa dan tsunami!"
"Apa?" kata Uwais tampak terkejut.
"Apa kakak tau apa itu gempa dan tsunami?"
"Hei, tentu saja aku tau, aku bukan orang bodoh, aku hanya hilang ingatan!" jelas Uwais.
Arrida tersenyum tipis. Ia merasa lucu. Padahal tadi saja, dia tidak tau makna tampan dan cantik.
"Ah dasar, otak, otak, orang kebentur ya gini ni!" kata Arrida sambil terkekeh, namun hanya di dalam hatinya.
"Iya iya,"Arrida mencoba menenangkan.
"Kapan gempa dan tsunami itu terjadi?" tanya Uwais.
"Empat hari yang lalu,"
"Lalu?"
"Kakak ditemukan hari kedua, itupun sudah menjelang Maghrib! Syukurlah kakak masih hidup!" kata Arrida sambil mengusap air matanya yang tiba-tiba saja keluar.
"Kenapa kamu sedih? Apa kita saling mengenal? Bukannya kamu bilang kamu perawat?"
"Iya, aku perawat pribadi kakak?"
"Maksudnya?"
"Aku ... Mmm, aku ... Istri kakak!"
"Aku sudah menikah?"
"Iya!"
"Kapan?"
"Tiga hari sebelum gempa!"
"Kamu gak bohong? Siapa nama kamu?"
"Arrida!"
Mendengar nama Arrida Uwais kembali merasakan debaran yang hebat di hatinya. Ia memegang dadanya. Mengusap-usap sambil menarik nafas, seperti orang yang sesak nafas.
"Eh, sakit ya? Udah, ga usah diingat, istirahat lagi aja, biar aku ambilkan air hangat!" kata Arrida, yang kemudian menuangkan air hangat ke dalam gelas.
Uwais menerima gelas itu, ia menatap Arrida dalam-dalam. Memperhatikan raut mukanya yang terlihat cantik. Kemudian meneguk beberapa kali air yang ada di dalam gelas tersebut.
"Jangan terlalu diingat, kasihan otaknya, sekarang tidurlah!" kata Arrida sambil membantu Uwais berbaring, kemudian menyelimutinya.
Uwais menurut. Setelah berbaring, ia pun memejamkan matanya.
Arrida hanya memperhatikan wajah Uwais yang saat ini tampak kacau, namun masih saja terlihat tampan. Ia kembali meneteskan air matanya.
"Apapun kakak, aku sangat mencintai kakak, hatiku padamu, Kak!" Arrida bermonolog. Tangannya terulur mengusap pelan punggung tangan Uwais.
Gep
Tiba-tiba tangan Uwais reflek begitu saja menggenggam tangan Arrida yang sedang mengusap pelan punggung tangannya. Ia kemudian mengeratkan genggamannya. Padahal yang terlihat oleh Arrida, Uwais sudah memejamkan matanya. Namun sepertinya dia belum benar-benar tertidur.
"Eh,"
...πΈπΈπΈπΈπΈ...
...Makasih kakak readers...
...Makasih udah setia mampir n baca kisah Arrida dan Uwais sampai sejauh ini...
...Makasih atas dukungannya, like, vote, comment dan favoritnya...
...Sehat selalu ya kakak readers...
...Hatiku Padamu Kak readers pake banget......
__ADS_1
...Semoga kak readers tetap suka dan terhibur yaaa...
...π₯°π₯°π₯°ππ»ππ»ππ»πππ...