Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
23. Janji kelingking


__ADS_3

"Kamu pacarnya Uwais?"


Itu pertanyaan dari Fariz pada Arrida. Gadis itu terkejut dengan pertanyaan yang tiba-tiba cukup membingungkan.


"Eh bukan, Mas, saya cuma adik kelasnya, kebetulan kak Uwais senior di PMR,"


Fariz mengangguk. Lalu dia mengalihkan pandangannya pada pak Arthur.


"Om, kayaknya kita bakal jadi keluarga deh, anaknya om bakal jadi adik ipar saya suatu saat nanti," Fariz menyampaikan apa yang ada didalam pikirannya.


Pak Arthur hanya tertawa kecil.


"Kenapa kamu bisa yakin?" tanya pak Arthur.


"Feel om, emang om gak ngerasain sesuatu pada mereka?"


"Bener, Mas, aku juga ngerasain hal yang sama, waktu ngedenger nama Uwais dan melihat langsung anaknya, aku udah ngerasain deket banget, beda aja!" Adnan berkomentar, pria yang usianya sekitar 4 tahun lebih muda dari Fariz itu memberikan pendapatnya.


"Ya, kan ... Kamu merasakan itu pada Uwais, dan saya merasakannya pada Arrida!" sahut Fariz yakin.


"Hahaha ... Ini kok malah kakak-kakaknya yang jadi comblang ... mereka kan yang punya hati, kalo jodoh silahkan aja, asal jangan nikah sekarang-sekarang, mereka masih punya kewajiban belajar dan meraih cita-citanya!" kata


pak Arthur sambil menggelengkan kepalanya.


Walaupun sebenarnya, dalam hatinya juga merasakan sesuatu, waktu melihat Fariz, belum melihat Uwais. Tapi sesuatu apa, pria yang usianya sudah hampir berkepala lima ini belum bisa menggambarkannya.


Arrida, Nana dan Hani saling pandang dan terkekeh.


Tak lama kemudian, Uwais yang sudah selesai ditangani oleh dokter, keluar dari ruangan.


Pak Arthur terkejut saat melihat Uwais, wajahnya sangat familiar. Ingatannya kembali ke beberapa tahun yang lalu saat masa masa kuliah. Sesaat. Kemudian dia mencoba mengalihkannya, karena yang sekarang dia hadapi adalah seorang anak laki-laki yang baru saja terluka karena menolong anak perempuannya.


"Gimana keadaanmu, Nak, saya ayahnya Arrida," pak Arthur memegang pundak Uwais sambil sedikit mengusapnya.


"Alhamdulillah, sudah lebih baik, Om!" jawab Uwais ramah. Kemudian dia melirik ke arah kakaknya.


"Papah sama Mamah belum bisa kesini, Dek, jadwal penerbangannya tadi di cancel karena cuaca cukup buruk. Kamu udah lebih baik, kan?" Fariz menjelaskan bahwa orang tua mereka yang berada di luar kota belum bisa datang.


"Iya, Mas, Alhamdulillah, Wais gak papa kok,"


"Maaf ya, Nak ... Saya benar-benar sangat berterimakasih ... Mungkin ke depannya, Om masih minta bantuan kamu untuk ikut menyelesaikan kasus ini!" kata pak Arthur sambil meminta bantuan pada Uwais untuk memberi keterangan pada pihak berwajib yang menangani kasus Arrida dan pak Jefry.


"Iya Om, gak papa, kapanpun diperlukan saya siap!" ujar Uwais mantap. Kini tatapannya beralih pada gadis bermata bulat yang sudah sejak tadi menatapnya semenjak dia keluar dari ruang penanganan pasien.


Menyadari kalau Uwais juga menatapnya, Arrida segera bangkit dari kursinya menyapa Uwais.

__ADS_1


"Berapa jahitan kak?" tanya Arrida ketika sudah ada dihadapan Uwais.


"Hah??" Uwais malah merasa aneh. Dia heran kenapa bisa-bisanya gadis ini malah nanya jahitan di perutnya?


"Kenapa?" tanya Arrida yang kini malah ikutan bingung.


"Kamu gak nanyain keadaaanku gitu? Kok malah nanya jahitan?"


"Lho untuk apa, bukannya tadi ayah sama mas


Fariz udah nanya ya, jadi, kan, aku udah tau kalo kak Uwais udah lebih baik," jawab Arrida cuek.


"Ya ampun, Dek, bener-bener ni anak, gak peka!" Adnan mengacak rambut adiknya yang menurutnya tidak peka dengan maksud Uwais yang ingin juga ditanyain keadaannya.


Uwais malah kini yang tersipu, karena Adnan lebih mengetahui maksudnya daripada gadis yang sedang merapikan rambutnya yang tadi diacak oleh Adnan.


"Jahitannya lumayan banyak, aku gak sempet ngitung tadi, mau kamu hitung?" Uwais bercanda, dia hampir saja membuka kaosnya.


"Eh gak usah, gak usah, aku udah tau, jahitannya banyak, kan?" kata Arrida sekalian memberi isyarat agar Uwais tidak perlu membuka kaosnya.


Pak Arthur tertawa sambil menggelengkan kepalanya melihat kepolosan anak gadisnya. Sementara Fariz, Adnan, Hani dan Nana ikut menertawakannya.


"Maaf, Pak, jika mas dan mbaknya sudah siap dan memungkinkan untuk memberikan keterangan, bisa kita ke kantor polisi sekarang?" Salah satu dari ketiga polisi yang menunggu di rumah sakit tiba-tiba menghampiri mereka.


"Oh iya Pak, kami siap," ucap Uwais.


Akhirnya mereka semua menuju ke kantor polisi.


🌼


Hari ini Arrida masuk sekolah seperti biasa. Namun ada yang tidak biasa bagi Uwais, saat ini dia ke sekolah diantar oleh kakaknya Fariz. Dia belum diijinkan untuk menggunakan sepeda dan itu akan berlangsung sampai kondisi perut Uwais benar-benar stabil.


🌼


Uwais sedang menunggu Fariz di halte yang letaknya tidak jauh dari sekolah, suasana halte saat itu sudah tidak ramai, karena memang jam pulang sekolah sudah lewat sekitar enam puluh menit yang lalu. Sebenarnya dia sudah memohon agar pulangnya naik angkutan atau taksi tapi Fariz tidak mengijinkannya, karena bu Tania, ibunya Uwais benar-benar mengkhawatirkan keadaan Uwais. Dan itu amanah yang wajib dilaksanakan.


"Lho, kak Uwais belum pulang?" tanya Arrida saat tiba di halte. Dia baru saja keluar dari kelasnya.


"Lho, Ar, kamu juga belum pulang?" tanya Uwais.


"Iya ini, abis nyelesein tugas dulu ma temen sekelompok, tuh temen-temen juga baru pada pulang!" jawab Arrida sambil menunjuk kelima temannya yang juga baru keluar gerbang sekolah, ada yang menaiki sepeda ada juga yang sudah dijemput dengan menaiki motor.


"Kok di sekolah? Biasanya, kerja kelompok kan di rumah?"


"Iya, abisnya kadang kalo janjian suka gak jelas, yang males lah, yang jauh lah, yang lupa lah, jadi kita sepakat aja biar adil, mengerjakan tugasnya di sekolah, semua udah ngumpul," kata Arrida sambil mendudukkan dirinya di samping Uwais.

__ADS_1


"Iya bener juga, gak sekelompok ma Nana dan Hani?" tanya Uwais sambil menoleh ke arah gadis yang sedang membuka ponselnya.


"Nggak, Kak, oh iya, kok kak Uwais belum pulang?"


"Iyya, lagi nungguin mas Fariz, ultimatum mamah, harus diantar jemput oleh mas Fariz, tidak boleh angkutan ataupun taksi!" kata Uwais sedikit mengeluh.


Arrida hanya terkekeh. "Tandanya mamah sayang banget, tuh!" komentar Arrida.


Uwais hanya tersenyum kecil.


"Lho, kak Uwais bawa tongkat pramuka? Untuk apa?" tanya Arrida ketika netranya tidak sengaja melihat sebuah tongkat pramuka bersandar di tembok halte dekat sisi Uwais.


"Oh gak tau, tadi udah ada disini, mungkin ada yang mau bawa pulang tapi malah lupa,"


Gadis itu mengerti apa yang disampaikan oleh Uwais.


"O iya Ar, maaf ya, belum bisa ganti tas kamu!"


"Gak papa, Kak, ga usah diganti, apalah tas, aku malah yang seharusnya berterimakasih ma Kakak, lagi dan lagi, kakak menyelamatkan aku, andai ada kata yang lebih baik dari kata makasih, maka pasti akan aku ucapkan!"


Uwais tersenyum lebar, satu tangannya memegang pucuk kepala gadis yang selalu membuat hatinya tak karuan namun sangat nyaman. Menggemaskan.


"Eh iya, sebagai balasannya, apa yang kakak inginkan?" tanya Arrida menawarkan sesuatu untuk bisa membalas segala kebaikan Uwais padanya.


"Kalau aku ingin sesuatu emangnya kamu bisa mengabulkan?"


"Yaaa, asal jangan minta yang aneh-aneh, jangan yang gak masuk akal dan jangan yang mahal-mahal nyampe ngelebihin uang jajan aku,"


Uwais malah terkekeh.


"Kamu ... Aku ingin kamu," itu jawaban Uwais hanya dalam hati. Dia tidak mengungkapkannya. Rasanya terlalu dini untuk menyampaikan isi hatinya, dia masih belum bisa memastikan kalau gadis yang ada di sampingnya itu juga memiliki perasaan yang sama dengannya, karena terkadang, dia merasa, Arrida bersikap sama seperti lainnya. Dia juga tidak ingin patah hati seperti yang lain, karena harus ditolak. Ini adalah rasa cinta yang dia rasakan untuk pertama kalinya, masa iya harus ditolak, sakit kan.


"Bener ya, besok besok deh, kalo aku pengen sesuatu, aku bilang ya," jawab Uwais kemudian.


"Okke bener ya kak, aku tunggu" kata Arrida sambil menaikkan jari kelingkingnya.


Kening Uwais berkerut ketika melihat Arrida menunjukkan jari kelingkingnya tepat dihadapannya.


"Ini tanda janji, Kak," kata Arrida menjawab kebingungan Uwais.


Uwais tersenyum dan mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Arrida.


"Janji," ucap Uwais pasti.


...🌸🌸🌸🌸🌸...

__ADS_1


__ADS_2