
"Maaf," ucap Uwais mencoba mencairkan suasana.
Arrida mengangguk.
"Itu tidak disengaja,"
"Iya, Kak, aku tau, mari kita lakukan kalau kakak sudah ingat, karna kakak pernah berjanji akan melakukannya setelah kita menikah,"
"Benarkah?"
"Iya, kita sekarang memang sudah menikah, tapi keadaan kita, terutama kondisi kakak saat ini, luar biasa, jadi, kalau sekarang kita lakukan, percuma aja, besok kakak tidak akan ingat!"
"Kalo misalnya aku bisa mengingatnya apa kamu mau?"
"Aih gak mau,"
"Kenapa?"
"Soalnya, masih misalnya, masih andaikan, jadi sebaiknya tidak dilakukan!"
Uwais hanya tersenyum. Ia merasa lucu dengan apa yang disampaikan oleh Arrida. Ah, andai saja gadis yang di hadapannya ini tahu, bahwa apa yang terjadi beberapa hari terakhir ini, Uwais mengingat semuanya, mungkin gadis itu bisa saja mengijinkan 'first kiss' itu terjadi, tapi biarlah, Uwais juga menginginkannya jika waktu dan keadaannya benar-benar tepat dan spesial, dan dia tidak ingin merusaknya. Dia juga memang sangat menghargai perasaan gadisnya itu.Terlebih dia sendiri juga masih bingung dan kesulitan mengenali dirinya sendiri, bahkan ingatan masa lalu sebelum bencana, sampai saat ini masih selalu hadir secara acak.
πΌ
"Alhamdulillah, kalian udah dateng!" kata Fika sambil mendekap Arrida, kemudian berganti memeluk Uwais. Ia makin menangis tersedu, mengingat tidak bisa menghadiri pemakaman ayahnya, dan tidak mengetahui bagaimana keadaan di kotanya. Saat ini mereka berada di rumah Fika dan Arman.
Walaupun didekap sangat erat, namun, respon Uwais begitu datar, ia masih bingung, dan wajahnya menyiratkan tanya pada Arrida, 'siapa ini?'
"Ini mbak Fika, adik mas Fariz dan mbaknya Kak Wais!" jelas Arrida pada Uwais.
Fika melirik Arrida penuh tanya. Ia tidak tahu apa yang sudah terjadi dengan Uwais. Karena akses komunikasi belum bisa dilakukan oleh orang umum, maka Fika sama sekali belum mengetahui keadaan keluarganya.
"Kak Wais, hilang ingatan, Mbak!" jelas Arrida.
"Ya Alloh, ya Karim!" Fika makin menangis, ia mengusap pipi Uwais, memperhatikan raut wajah adiknya yang masih saja terlihat tampan walau dalam keadaan bingung.
"Kamu sehat kan, Dek?" tanya Fika.
Uwais tersenyum datar. Ia merasa asing dengan Fika dan panggilan 'Dek'.
"Ini Mbak, Dek, kakak kamu!" imbuhnya.
Uwais mengangguk.
"Dan ini bang Arman, kakak ipar kamu!" kata Fika menunjuk Arman yang ada di sampingnya.
"Sini! Peluk abang!" kata Arman sambil menarik tubuh Uwais, lalu memendekap erat. Satu tangannya menepuk pelan punggung Uwais beberapa kali.
πΌ
Arrida membawa Uwais ke resto dan rumah impian mereka yang terletak di belakang resto.
"Kakak, inget rumah ini gak?" tanya Arrida ketika mereka berdua berada di teras rumah. Sebelumnya mereka telah berkeliling resto dan menikmati secangkir coklat hangat.
Uwais menggeleng, seberapapun dia berusaha untuk mengingat, tapi sia-sia saja, karena tak ada satupun memory tentang rumah itu di ingatannya.
"Ayo masuk, nanti aku ceritakan!" ajak Arrida pada Uwais. Ditunjukkannya satu per satu ruangan, seperti dulu ketika Uwais menunjukkannya pada Arrida. Hingga mereka pun sampai di sebuah kamar yang menurut Uwais akan menjadi kamarnya bersama Arrida.
"Waw, cantiknya!" puji Arrida setelah membuka kamar, "Gimana dengan kamar ini, Kak?" tanya Arrida kemudian.
"Bagus, nyaman, terasa adem, bukan hanya di badan tapi juga di hati, siapa yang mendesign kamar ini?"
"Aku! Kakak yang minta, dan rumah ini, akulah yang mendesign,"
"Kamu pinter!" puji Uwais, kemudian ia duduk di bibir tempat tidur.
"Apa kamu pernah masuk ke kamar ini sebelumnya?" tanyanya kemudian.
"Belum pernah, ini adalah pertama kalinya aku masuk ke kamar ini, itupun setelah menjadi istri Kakak!"
"Pantesan, lihat ekspresi kamu tadi, seperti terkejut, memangnya kamu belum pernah ke rumah ini?"
"Pernah sekali, waktu tasyakuran, Kakak nunjukin semua ruangan, tapi aku gak pernah masuk ke kamar ini,"
"Kenapa?"
"Biar kejutan! Aku yang mendesign, Kakak yang merapihkannya, dan ternyata benar-benar sesuai ekspektasiku, Kakak pinter," pujinya pada Uwais.
Walaupun lelaki itu masih bingung, namun, dia merasa senang dipuji oleh Arrida.
"Jadi, ini aku yang menata?" tanya Uwais.
__ADS_1
"Sepertinya gitu, siapa lagi?"
Uwais tersenyum.
"Sini! Kita coba tempat tidur ini!" kata Uwais sambil memposisikan diri berbaring di tempat tidur. Lalu menepuk bagian kasur disampingnya.
Dengan malu-malu, Arrida menurut.
"Apa Kakak ingin sesuatu?"
"Aku ingin kamu ceritakan bagaimana pertama kali kita ketemu!"
"Waah, kisah lama, Kak!"
"Siapa tau aku jadi ingat!"
"Okke!"
Arrida pun menceritakan semua dari awal pertemuan saat jatuh dari motor, sampai bertemu kembali di satu sekolah dan Uwais menjadi seniornya di ekstrakurikuler PMR.
"Berarti aku pernah mencium kamu di bis selain kejadian di bis tadi?"
Arrida mengangguk.
"Tidak sengaja juga?" tanya Uwais lagi.
Arrida mengangguk lagi.
"Udah ah, Kak, aku pingin tidur, bentar lagi subuh, pagi ini aku mau ke kampus!" kata Arrida setelah dilihatnya jam di dinding pukul tiga pagi.
"Oh, iya, ya udah, tidurlah!" perintah Uwais sambil merentangkan tangannya.
Arrida tersenyum, kemudian ia membuka jilbabnya, dan meletakkannya di pinggir tempat tidur. Hal itu membuat Uwais tercengang, baru kali itu dia melihat wajah Arrida tanpa mengenakan jilbab.
"Eh, aku inget kamu, kamu yang hampir aku tabrak, sama persis dengan ceritamu tadi,"
"Kakak inget?" tanya Arrida. Ia menyadari, ini adalah pertama kalinya ia melepas jilbab di hadapan Uwais. Dan selama ini, lelakinya itu memang mengenali dirinya tidak memakai jilbab.
"Iya, kamu gadis yang memiliki mata indah dan senyuman manis, aku suka wajah panik kamu,"
"Tatap aku lagi, biar kakak inget sama aku!" pinta Arrida.
"Udah Kak, jangan dipaksakan, besok-besok pasti ingatan Kakak kembali,"
"Sepertinya aku banyak kehilangan kenangan indah bareng kamu!"
"Sementara, Kak ... InsyaaAlloh, kakak pasti sembuh, dan ingatan kakak kembali lagi!" kata Arrida sambil menggenggam tangan Uwais.
Uwais mengangguk, kemudian mengeratkan genggamannya.
"Besok sepulang aku dari kampus, kita ke dokter Arva,"
"Siapa dokter Arva?"
"Dokter syaraf yang direkomendasikan oleh dokter Indah, besok, kita akan memeriksakan kondisi Kakak, ya,"
"Iya," kata Uwais sambil mengusap pipi Arrida.
πΌ
Sekitar pukul delapan pagi, sesuai janji yang telah dibuat melalui ponsel, Arrida pun ke kampus untuk bertemu dengan bu Miranda, selaku dosen wali dan pak Andi selaku dosen pembimbing praktek lapangan. Dia sengaja diantar oleh Uwais. Ia berharap, dengan dibawa ke kampus, Uwais bisa mengingat beberapa kejadian di masa lalu.
"Jadi, kalian akhirnya sudah menikah? Dan ini suami kamu, korban tsunami juga?" tanya bu Miranda, setelah mendengar kisah yang dialami oleh Arrida.
"Iya, bu, tapi karena ingatannya belum pulih, dia lupa jika pernah dipanggil ke ruangan ini gara-gara saya berkelahi di kampus," kata Arrida sambil tersenyum kikuk.
Bu Miranda mengangguk sambil tersenyum mengingat video Arrida berkelahi.
"Lalu, gimana dengan praktek lapangan saya, Pak, apa saya harus mengulang semester depan?" tanya Arrida kemudian pada pak Andi.
"Tidak perlu, lanjutkanlah, hanya saja, kemungkinan, akan ada tugas-tugas yang harus kamu selesaikan untuk mengganti hari-hari praktik lapangan yang kamu tinggalkan, komunikasikan dengan partner lapangan kamu minggu kemarin!" jelas pak Andi.
"Baik, Pak, terima kasih banyak!"
"Iya, kamu tau partner lapangan kamu, kan?"
"Sebentar, Pak, saya lihat catatan dulu!" kata Arrida sambil mengambil sebuah buku dari tasnya dan membuka-buka lembaran dari buku itu sebentar.
"Oh, dengan Rasya, Pak! dan minggu ini dengan Meisya!"
"Ya udah, kalo dengan Meisya kan baru berjalan dua hari ini, jadi kamu gak akan banyak ketinggalan laporan, tapi kalo dengan Rasya, kamu ful ketinggalan, dia kerja sendirian selama seminggu kemarin!"
__ADS_1
"Iya, Pak, saya paham, yang minggu awal juga saya hanya tiga hari, terus ijin, partner saya Nino, nanti akan saya hubungi semuanya, untuk membuat laporan,"
"Iya, jangan lupa nanti ada tugas-tugas tambahan ya, khusus buat kamu!"
"Iya, Pak, terimakasih,"
πΌ
"Jadi, aku pernah ke ruangan tadi?" tanya Uwais saat mereka duduk di kantin.
"Iya,"
"Bener, kamu pernah berkelahi di kampus?"
"Iya,"
"Wah, gadis kayak kamu berkelahi?"
"Iya, Kakak ... Ini kalo gak percaya!" Arrida menunjukkan video di ponselnya. Kemudian Uwais menerima ponsel itu dan memperhatikan tayangan video tersebut.
"Kakak tau mereka, kan?"
"Aku cuma tau yang ini, ini kamu kan?" tunjuk Uwais pada seorang gadis yang ada di video itu, Arrida tanpa mengenakan jilbab.
"Iya," jawab Arrida bahagia, karena Uwais mengenalinya.
"Wah, kamu kereeeen, luar biasa!"
Arrida terbelalak. Ia tak percaya dengan reaksi Uwais.
"Serius, Kak?" tanya Arrida tidak percaya.
"Apa?"
"Itu, apa aku sekeren itu?"
"Tentu! Ini keren banget, kamu hebat!" ucap Uwais berbinar.
"Tau gak, Kak, reaksi seperti apa yang aku dapatkan dari kakak ketika itu?"
"Apa?"
Arrida tersenyum tipis.
"Kenapa? Apa aku marah?" tanya Uwais yang hanya mendapatkan senyuman tipis dari Arrida.
"Mungkin," jawab Arrida singkat.
"Maksudnya?"
"Karena aku gak tau, apa yang ada dalam pikiran kakak saat itu?"
"Memangnya aku gimana?"
"Kakak seperti kecewa dengan tindakan barbar ku,"
"Iyakah? Tapi ini keren banget lho!"
"Mudah-mudahan apa yang kakak rasakan saat ini adalah perasaan kakak pada waktu itu,"
"Apa saat itu aku bener-bener marah sama kamu?" selidik Uwais.
"Aku gak tau, aku gak bisa menggambarkan dengan jelas, karna kakak gak pernah marah bentak-bentak ataupun neriakin aku kayak di filem-filem, kakak hanya diam, menunjukkan rasa kecewa dan khawatir yang bersamaan, kemudian kakak nasehati aku sambil ngobati luka aku!"
"Oh," Uwais menganggukkan kepalanya beberapa kali, masih memperhatikan videonya, ia sengaja memutarnya berulang-ulang.
"Kakak tau, kakak adalah orang paling sabar, bahkan saat kita ada masalah atau salah paham, kakak dengan tenang menghadapiku," jelas Arrida.
"Apa aku seperti itu?" tanya Uwais masih bingung mengenali dirinya sendiri.
"Iya! Ya udah, Kak, sekarang kita ke dokter yuk, trus kita cari hape buat kakak!" kata Arrida sambil melihat jam di pergelangan tangannya, hampir tiba waktu janji temu dengan dokter Arva.
Uwais mengangguk.
...πΈπΈπΈπΈπΈ...
Makasih kak readers masih setia ma kisah Arrida dan Uwais. Makasih like, vote dan favorit serta kommentnya.
Selamat berpuasa bagi yang menjalankannya.
Sehat selalu yaπππ
__ADS_1