Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
22. Pacarnya Uwais?


__ADS_3

"Sialan kamu, Da!!" pak Jefry makin tersulut. Dia tidak menyangka gadis yang dicintainya berani melawannya bahkan sampai memukul kepalanya terus menerus dengan tas.


Uwais menyadari kemarahan pak Jefry, dia segera menarik lengan Arrida hingga membuatnya berjarak dengan pak Jefry. Ia tau Arrida adalah seorang gadis mungil yang tangguh, namun pak Jefry bukanlah tandingannya. Bisa-bisa Arridalah yang celaka atau terluka.


Uwais yang menahan sakit di perutnya mencoba menendang tangan pak Jefry yang memegang pisau, lalu menendang perut pak Jefry, menendang lagi ke bagian tubuh yang lain, sekali, dua kali, tiga kali, dia melakukannya berulang, sampai pak Jefry tersungkur pun Uwais masih saja menendangnya hingga tidak memberikan kesempatan pada pak Jefry untuk melawan dan akhirnya ia terkapar babak belur.


Uwais meminta tas ransel Arrida. Walau sedikit bingung, Arrida pun memberikannya.


"Maaf, nanti akan aku ganti," kata Uwais sambil menarik paksa tali gendongan tas ransel milik Arrida. Hingga tali itu lepas. Kemudian dia membalikkan tubuh pak Jefry sehingga posisinya kini tengkurap, wajahnya menyentuh tanah. Kemudian Uwais mengikat kedua tangan pak Jefry di belakang tubuhnya dengan tali tas ransel milik Arrida.


Selesai mengikat tangan pak Jefry, Uwais pun berdiri mendekati Arrida sambil memegang perutnya yang masih mengeluarkan darah.


"Kamu gak papa, kan?" tanya Uwais memastikan kondisi Arrida. Gadis yang memiliki bulu mata yang lebat dan lentik itu mengangguk pasti, pandangannya beralih ke perut Uwais.


"Yang harus dikhawatirin sekarang itu, kakak," kata Arrida menunjukkan rasa cemasnya. Wajahnya menyiratkan rasa panik. Uwais hanya tersenyum, tatapannya melembut, merasakan kehangatan yang indah karena gadis yang dipujanya, begitu mengkhawatirkannya.


"Hubungi siapapun yang bisa dihubungi, Ar!" perintah Uwais pada Arrida.


Gadis itu menurut. Ia menghubungi Adnan, namun tak diangkat, lalu ia alihkan menghubungi Hani.


Hujan mulai reda, hanya saja masih menyisakan gerimis halus.


"Gimana?" tanya Uwais setelah tau Arrida menyelesaikan panggilannya.


"Mungkin bentar lagi bang Adnan kesini, tadi aku hubungi Hani, karna ngehubungin bang Adnan gak diangkat, aku udah sharelock ke Hani,"


Uwais mengangguk mengerti.


"Kak Uwais gak papa? Masih bisa bertahan?"


Uwais tersenyum lembut. Arrida menggandeng lengan Uwais bermaksud mengajaknya duduk walau di pinggiran jalan.


"Sakit banget ya kak?" tanya Arrida memperhatikan perut Uwais, tangannya terulur memegang luka di perut Uwais.


Uwais hanya diam, hanya memperhatikan gadis manis yang ada dihadapannya saat ini. Ia sedikit meringis saat jemari lentik milik Arrida mengenai luka di perutnya.


"Eh, gak usah dijawab kak, ini sudah pasti sakit ... Aduh, aku harus melakukan apa ini?" Arrida kebingungan.


Uwais menepuk pucuk kepala Uwais.


"Udah, gak papa, yang perlu kamu lakukan cukup diam ya, gak usah khawatir!" Uwais mencoba menenangkan Arrida.

__ADS_1


"Ar, kayak de javu deh!" kata Uwais kemudian.


Arrida menoleh seakan bertanya "maksud nya apa"


"Ingat gak, waktu pertama kali kita ketemu? Kamu paniknya banget, dan wajah ini, ekspresi wajah yang aku lihat pertama kali,"


Arrida terdiam sambil mengingat kejadian pertama kali mereka bertemu.


"Kakak gak akan nuntut aku, kan? Mau ku bawa ke dokter? Ayo aku bonceng!" kata Arrida bercanda, menggoda Uwais.


"No! Gak akan aku biarkan lagi anak dibawah umur mengendarai motor!"


Arrida mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban Uwais. Namun ada kelegaan di hatinya karena Uwais masih bisa diajak bercanda walau dalam keadaan sakit, itu menandakan lukanya masih bisa ditahan.


"Apa yang akan kita lakukan sama pak Jefry?" tanya Arrida sambil menoleh ke arah pak Jefry yang tergolek tak berdaya dua meter dari tempat mereka duduk sekarang.


"Kita serahkan ke polisi, biar kasusnya diselesaikan, atas kesalahan penculikan dan pelecehan! Mmm, kamu gak papa, kan, Ar?"


Uwais melihat gadis bermata bulat itu menyendu. Dia menundukkan kepalanya.


"Mengerikan banget hidup aku ya, Kak, hampir saja masa depan ku hilang begitu saja," Arrida menggerutu.


"Apa iya, Kak, kalau aku trauma gimana?"


Uwais hanya tersenyum sambil sedikit menahan perih di lukanya. Dia menggelengkan kepalanya. Bisa-bisanya gadis ini berpikir trauma, sementara dia saja masih bisa bercanda, masih punya nyali untuk naik motor. Andaikata Arrida hanyalah gadis lembut, tidak mungkin dia bisa setenang ini.


"Trauma apanya? Kamu gak lihat sebegitunya kamu mukulin kepala pak Jefry? Dan sekarang aja kamu masih mau naik motor? Kamu itu pemberani, Da,"


"Iyya kah?" Arrida mencerna kata-kata Uwais.


"Padahal sebenarnya ... aku takut lho kak," kata Arrida mencoba jujur pada cowok yang wajahnya mulai terlihat memucat.


"Aku tau,"


Arrida menoleh.


"Aku tau kamu takut, tapi kamu selalu berusaha untuk berani menghadapi!" kata Uwais agak lirih suaranya.


Suara sirine mobil polisi terdengar. Keduanya menoleh ke arah suara. Ternyata, Adnan yang datang diikuti polisi dibelakangnya.


Arrida segera mendekap Adnan, ketika dia menghampirinya. Disusul kemudian Nana dan Hani ikut mendekap Arrida.

__ADS_1


Para polisi segera menangani pak Jefry dan membawanya ke kantor polisi, untuk diamankan. Sedangkan Uwais diberikan pertolongan, lebih tepatnya dibawa ke rumah sakit terdekat. Arrida, Hani, Nana dan Adnan menemani Uwais di rumah sakit.


"Arrida, Adnan!" panggil pak Arthur ketika dia sudah tiba di rumah sakit.


"Ayah!" Arrida langsung mendekap ayahnya.


"Kamu gak papa, Nak?"


"Alhamdulillah gak papa, Yah,"


"Terus yang terluka siapa?"


"Kak Uwais, yang tempo hari juga nolongin Rida,"


"Dimana sekarang?"


"Masih ditangani, Yah, perutnya terluka kena pisau, kata Arrida, tadi Uwais terlalu banyak bergerak karena nendangin pak Jefry berkali-kali, hingga menyebabkan darahnya banyak keluar!" kali ini Adnan yang menjawab. Pak Arthur mengerti.


"Bunda gak ikut, Yah?" tanya Arrida.


"Bundamu masih demam, ayah gak bolehin ikut!"


Arrida mengangguk mengerti.


"Permisi, ini teman-temannya Uwais? Dimana dia sekarang?" tanya seseorang yang baru saja datang, dia Fariz kakaknya Uwais.


"Uwais masih di dalam, Mas, sedang ditangani oleh dokter," jawab Adnan. "Maafin kami mas, kami datang terlambat," kata Adnan penuh penyesalan.


"Gak papa, semua sudah terjadi, gimana kejadian sebenarnya?" tanya Fariz penasaran.


Arrida akhirnya menceritakan dari awal sampai akhir. Dari waktu Uwais menolongnya saat dia dilecehkan disekolah, hingga tadi waktu penculikan selepas acara bersih pantai.


Fariz mengerti, dia juga tidak menyangka di sekolah tempat adiknya menuntut ilmu ada guru yang memiliki kelainan jiwa seperti itu. Dan setelah dijelaskan, Fariz juga siap membantu, untuk mendampingi adiknya agar bisa memberikan keterangan. Atau lebih tepatnya menjadi saksi.


Kini semuanya masih menunggu Uwais selesai ditangani. Perutnya Uwais harus dijahit, karena lukanya cukup lebar dan dalam. Suasana terlihat begitu tegang menunggu. Tiga orang polisi juga masih setia mendampingi disitu, lebih tepatnya melindungi korban yaitu Arrida dan Uwais. Karena kejadian ini sudah melanggar hukum, sengaja membuat orang terluka, penculikan dan pelecehan, terlebih dilakukan pada anak dibawah umur.


Fariz memilih duduk di dekat Arrida. Cukup lama dia memperhatikan gadis yang ditolong oleh adiknya itu. Dia mengangguk-angguk kecil seperti mengerti sesuatu.


"Kamu pacarnya Uwais?"


...🌸🌸🌸🌸🌸...

__ADS_1


__ADS_2