
Arrida terus berlari tanpa alas kaki, dia sendiri tidak tahu harus kemana, yang jelas dia terus berlari. Suasana memang sudah gelap. Dia tidak tahu arah pulang. Gadis itu hanya bisa berdoa pada Tuhan dan berharap bisa menemukan rumah warga.
"Ya Allah, selamatkanlah dan lindungilah Rida ya Allah ...." gumam bathin Arrida.
πΌ
Uwais, Arka dan Andri akhirnya menemukan rumah tua, dan beruntungnya Laura beserta kedua anak buahnya masih ada disitu. Karena Oji benar-benar tidak bisa bergerak setelah mendapatkan tendangan dari Arrida.
Tanpa banyak perlawanan, Laura dan kedua anak buahnya menyerah, mereka sama sekali tidak bisa berkutik. Hingga tak lama kemudian, datang polisi ke lokasi, mengamankan ketiganya. Sementara tersisa Uwais, Arka, Andri, Diaz dan seorang rekan polisi lainnya, yang kemudian berpencar mencari keberadaan Arrida.
"Ya Allah, dimana kamu, Ar?" Uwais bermonolog. Sudah hampir setengah jam dia mencari Arrida, tapi belum juga ada tanda-tanda keberadaan Arrida.
"Ya Allah tunjukkan dimana Arrida, tuntun aku ya Allah." doa Uwais sambil menutup matanya, ia menarik nafasnya dalam-dalam. Entah dorongan darimana, dia pun kembali ke rumah tua. Tiba di sana, keadaan begitu gelap dan sepi. Rupanya, Arka dan yang lainnya belum kembali, mereka masih mencari Arrida. Sebagai penerang, senter dari ponselnya menyala dengan setia. Ia terdiam lalu menutup matanya. Samar-samar dia mendengar suara yang tidak begitu jelas, seperti tarikan nafas yang tertahan dengan sebuah isakan dari arah belakang rumah tua. Ia pun melangkahkan kakinya menuju arah yang dimaksud.
πΌ
Arrida duduk di tanah, bersandar di dinding belakang rumah tua. Ia akhirnya memutuskan untuk kembali, namun tidak melalui halaman depan, melainkan dari arah belakang, karena dia takut ketahuan Laura dan kedua anak buahnya. Ia sendiri belum mengetahui jika Laura dan kedua anak buahnya sudah diamankan.
Tiba-tiba netranya menangkap sebuah cahaya yang berjalan pelan ke arahnya. Entah bagaimana dengan perasaannya saat itu, namun hatinya merasa begitu tenang dan nyaman, hingga ia tidak sampai kepikiran jika itu Laura atau kedua anak buahnya. Ia hanya yakin, jika cahaya itu adalah sesuatu yang baik untuknya.
"Cahaya itu!" gumam Arrida lirih.
Ada senyuman yang terbit di wajah cantik Arrida, matanya berkaca-kaca, sampai air matanya pun mengalir membasahi pipi gadis itu. Ternyata, hatinya tidak salah memilih untuk kembali ke rumah tua.
"Kakak ...." panggilnya lirih. Ia pun bangun dari duduknya sesaat setelah lelaki pujaannya itu mengulurkan tangannya. Arrida menggenggam erat tangan itu kemudian berdiri. Dan mereka pun saling mendekap sangat erat.
"Akhirnya aku menemukanmu, Cinta!" ucap Uwais penuh kelegaan di hatinya, hingga tanpa sadar dia memanggil Arrida dengan panggilan 'Cinta'.
"Aku tau kakak akan datang ... Makasih." ucap Arrida dalam isak tangisnya.
Hening sejenak. Mereka benar-benar meluapkan berjuta perasaan yang berkecamuk melalui dekapan keduanya. Haru, bahagia, rindu dan cinta saling menyatu.
"Ayo kita pulang, Laura sudah diamankan, kamu bisa tenang." kata Uwais sambil melepaskan dekapannya.
Arrida mengangguk. Namun ketika ia hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba saja Uwais berjongkok di hadapan gadis itu.
"Naiklah!" perintah Uwais pada Arrida, kedua tangannya terulur ke belakang menarik kaki Arrida.
"Eh," Arrida terkejut, dan mau tidak mau dia pun naik ke punggung Uwais.
Arrida mengeratkan rangkulannya, ia sengaja menempelkan pipinya dengan pipi Uwais. Sementara lelaki itu tidak menolak, ia tersenyum sambil membiarkan apa yang dilakukan gadis itu kepadanya.
"Kangen, hm?"tanya Uwais.
"Bangeeet," kata Arrida dengan nada manjanya.
"Aku lebih kangen daripada kamu, Cinta!"
"Eh, kakak manggil apa?"
"Cinta."
"Aku suka." kata Arrida sambil membenamkan kepalanya di ceruk leher Uwais. "Makasih, Camiku," ucap Arrida.
"Sama-sama, Cintaku." balas Uwais masih tersenyum.
"Kenapa kakak tiba-tiba mau menggendongku?"
"Karena kamu gak pake alas kaki."
"Oh,"
"Kenapa? Kok 'Oh'?"
"Aku kira, karena kakak tau, kalo kakiku sakit,"
__ADS_1
"Kaki kamu sakit? Ada yang luka?"
"Hmm, tadi pas lari aku gak tau nginjek apa, trus kerasa basah, mungkin darah, tapi aku terus aja lari."
"Pasti sakit, kalo udah nyampe rumah, segera kita obati, ya." kata Uwais membuat gadis itu menganggukkan kepalanya pelan.
Mereka pun tiba di mobil Arka, lebih tepatnya taksi, disampingnya ada dua motor polisi. Milik Diaz dan rekannya.
"Duduk disini, biar aku hubungi yang lain."kata Uwais sambil melakukan panggilan pada Andri. Sementara Arrida telah duduk di kursi taksi bagian belakang.
πΌ
"Ya Allah, ini pasti sakit banget, nyampe belah gini ... kamu mungkin nginjek beling yang sebagian kacanya nancep di tanah, tapi, untung aja lukanya gak terlalu dalam. Tahan ya, biar aku bersihkan dulu." kata Uwais sambil membuka kotak obat.
"Makasih, Kak!"
"Hmm! Nanti kamu tidur di kamar mbak Fika, ya!"
"Emang mbak Fika kapan pulang?"
"Sore, aku juga gak sempet nganterin mereka ke stasiun, karena harus segera nyari kamu."
Arrida mengangguk sambil sesekali meringis merasakan perih pada lukanya.
"Kak, makasih ya, kakak selalu saja nyelametin aku, dari dulu kakak emang my hero."
Uwais hanya tersenyum dengan senyuman khasnya yang limited edition.
"Kamu juga suka nolongin aku, kamu ada disaat aku butuhkan. Ingat? Waktu kaki aku terkilir saat futsal? Waktu aku sakit setelah ujian? Waktu aku dikeroyok geng kakaknya Erfi? Waktu aku jatuh terserempet motor, apa kamu masih inget?"
Arrida mengangguk cepat.
"Dan saat aku tersudutkan karena masalah kehamilan Audy, kamu datang, ngajakin aku sepedaan, memberi aku semangat! Kamu inget itu kan?" tanya Uwais mengingatkan.
"Tapi kakak yang selalu nolongin aku, waktu hanyut, waktu konser, waktu kasus ma pak jefry, kasus ma mas Bryan, kasus ma mbak Laura, dan di saat-saat seperti itu, kakak pasti selalu datang menyelamatkan aku!"
"Tapi tadi, aku sempet kesulitan nyari kamu, aku panik, udah setengah jam aku belum juga bisa menemukanmu, aku hanya bisa berdoa agar dituntun untuk bisa menemukanmu! Dan aku gak tau kenapa, entah ada dorongan darimana, akhirnya aku balik lagi ke rumah tua itu, seperti ada yang mengharuskan aku untuk kembali."
"Maaf, aku tadi lari dan terus lari ... Pokoknya pergi dari rumah tua itu, aku gak mau ketangkep lagi."
"Trus, kenapa kamu bisa kembali ke rumah itu lagi?" tanya Uwais heran. Ia penasaran kenapa tadi dia justru menemukan Arrida di belakang rumah tua.
"Aku gak tau jalan pulang, aku gak tau arah mana yang harus aku lewati, trus, aku keingetan janji kakak."
Uwais mengernyitkan keningnya. Mengingat-ingat janji mana yang dimaksud oleh Arrida.
"Kakak inget, waktu kakak menemukan aku setelah konser?"
"Hmm!"
"Saat kakak gendong aku, aku bilang: 'Kalau aku hilang lagi, kakak harus menemukanku ya' lalu kakak bilang:'Kamu diam di tempatmu, jangan kemana-mana, aku pasti akan datang, menemukan keberadaanmu' ... Akhirnya aku balik lagi ke rumah itu, tapi gak lewat halaman depan, takut ketahuan mbak Laura dan anak buahnya." jelas Arrida.
"Oh, berarti memang karna doa dan panggilan hati kamu, makanya aku bisa balik lagi ke rumah itu ... Makasih ya kamu udah kembali, andai kamu masih juga lari, mungkin nyampe sekarang aku belum menemukan keberadaanmu." ungkap Uwais sambil tersenyum. Tangannya terulur mengusap pucuk kepala Arrida.
Arrida mengangguk.
"Kak, bukankah hidup aku cukup merepotkan?" tanya Arrida, tatapannya menyelidik, ia penasaran bagaimana reaksi lelaki pujaannya itu.
"Haa ... Iya juga, bukan cukup merepotkan, tapi saaangat merepotkan!" ujar Uwais sengaja menggoda Arrida. Dan sudah dipastikan gadis itu akan mengerucutkan bibirnya. Lucu dan menggemaskan.
"Hahaha, kalo kayak gini, jadi pengen cepet-cepet halalin kamu! Kalau udah nikah kan, dua puluh empat jam aku bisa bareng kamu, jagain kamu!" jelas Uwais. Dan itu membuat Arrida tersipu.
"Eh, tapi kak, bukankah dengan begini perjalanan hubungan kita seru, iya kan? Beda, gak kayak pasangan lainnya, yang biasa-biasa aja!" ungkap Arrida.
"Ah, iya, bener juga, kita saling tolong, saling menyelamatkan, saling jaga!" kata Uwais.
__ADS_1
"Tapi ... pengen juga seh, kayak pasangan lainnya, yang gak ada para saiko, rasanya adem ayem!" kata Arrida dengan wajah memelasnya.
"Ya sudah, kalo kamu udah sembuh kakinya, kita jalan-jalan ya." usul Uwais.
"Bener, kak? Janji ya." kata Arrida dengan wajah sumringahnya, yang kemudian mendapatkan anggukan dari Uwais.
"Kita kencan seharian penuh ya, Kak." pinta Arrida.
"Iya," ucap Uwais sambil tertawa kecil.
Arrida pun menyunggingkan senyuman bahagianya.
"Dah, selesai!" kata Uwais. Ia telah selesai mengobati luka di kaki gadis kesayangannya itu.
"Makasih ya, Camiku!"
"Sama-sama, Cintaku!"
Mereka pun saling tersenyum mesra.
"Nanti, bunda ma bang Adnan dateng!" kata Uwais, mengingatkan Arrida jika tengah malam nanti bu Sofia dan Adnan akan tiba.
"Ah iya kak, gimana ini?" tanya Arrida terlihat cemas.
"Kenapa?"tanya Uwais bingung.
"Apa perlu kita bilang tentang hubungan kita? Aku gak mau dijodohin, aku kan udah punya kakak sekarang!"
...πΈπΈπΈπΈπΈ...
...Makasih kakak readers...
...Makasih masih setia mampir n baca kisah Arrida dan Uwais sampai sejauh ini...
...Makasih atas dukungannya, like, favorit n kommentnya...
...Sehat selalu ya kakak readers...
...Hatiku Padamu Kak readers pake banget......
...Semoga kak readers tetap suka dan terhibur yaaa...
...π₯°π₯°π₯°ππ»ππ»ππ»πππ...
...πππππππππππππππ...
Oh iya kak readers baca juga yuk, novel karya sahabat literasiku... pokoknya keren banget... πππ
"Author : Santi Suki
Judul : Ayu sang Penakluk
Blurb:
Ayu gadis belia yang suka rebahan dan menonton anime sambil ngemil. Kurangnya gerak membuat tubuh Ayu menjadi gendut. Karena tubuhnya yang besar dia dijuluki "Baby Hui". Saat menghadiri pesta ulang tahun Ariesβorang yang disukainya, Ayu dipermalukan di sana, sehingga berjanji akan membalas dendam kepada semua orang yang suka membully dan menghinanya.
Dengan bantuan dan dukungan dari Aprilio, hanya dalam waktu dua Minggu berat badan Ayu turun dari 80kg menjadi 45kg. Penampilan Ayu pun berubah menjadi cantik, langsing dan singset. Membuatnya menjadi incaran para kaum Adam.
Leo salah satu Pangeran Kampus menjadi panik karena kini banyak laki-laki yang suka kepada Ayu. Maka dia pun berbagai cara untuk mendapatkan cinta Ayu.
Setelah berhasil membalas kepada orang yang sudah membully dan menghinanya dahulu, kini Ayu memutuskan untuk mencari cinta sejatinya. Dia dilema harus memilih antara Aries si cinta pertamanya, Leo si Pengagum Rahasia, atau Aprilio yang selalu bersamanya sejak kecil di saat suka maupun duka.
Pilihan Ayu ternyata membuatnya harus banyak melakukan perjuangan dan pengorbanan. Siapakah yang dipilih oleh Ayu?
__ADS_1
...**Happy reading yaaaπππ...
...ππππππππππππππ**...