
"Kenapa wajahnya jutek gitu, hm?" tanya Uwais pada Arrida, siang itu, ketika Uwais menjemputnya. Hanya Arrida, karena seperti biasanya Lani sedang pergi ke tempat Arin, sepupunya. Mereka berjalan menuju sepeda yang terparkir di tempat parkir kampus. Kali ini, Uwais memang sengaja ingin menjemput Arrida menaiki sepeda karena tahu kalau Arrida sendirian, tanpa Lani.
"Aku dikerjain sama buaya" gerutu Arrida.
"Siapa?"
"Bryan,"
Uwais menoleh sekilas pada Arrida. Ada rasa marah yang tiba-tiba saja hadir di hatinya.
"Tapi kamu gak papa kan?" tanya Uwais penuh kekhawatiran.
"Gak papa, Kak ...." jawab Arrida penuh kelembutan.
"Bener?"
"Iya kak..."
"Kamu jaga diri ya .. hati-hati! Kalau ada apa-apa kasih tau aku!"
"Kenapa? Kakak mau buat perhitungan?"
"Bisa jadi, atau mungkin lebih dari itu!" geram Uwais. Dia membayangkan jika kedepannya, Arrida akan selalu diganggu oleh Bryan, sementara dia tidak selalu berada disamping Arrida
menemaninya.
"Tenang, Kak ... aku masih bisa menghadapinya."
Uwais menarik nafas panjang. "Aku percaya, kamu dari dulu emang gadis tangguh,"
"Hahaha..... berasa keingetan mukulin pak Jefry ma geng kakaknya Erfi."
"Iya, tiada ampun," Uwais terkekeh.
"Abisnya sebel banget dengan orang-orang itu!" kata Arrida dengan nada jengkelnya.
"Iya, iya aku paham kok ... ! Oh iya, Sabtu ini kan kamu free, kuliah umum mulai hari Senin, gimana kalau kita jalan-jalan, sekalian pengen ngajakin mbak Fika, agar terhibur ... " ajak Uwais pada Arrida.
"Boleh !" Arrida menyetujui ajakan tersebut.
Uwais tersenyum.
"Jangan lupa ajak Lani ya, karena aku juga akan mengajak Kirno, bang Arman dan bang Dika, itung-itung liburan buat mereka"
"Hmm siap ... Mbak Fika emang butuh hiburan, biar fresh, biar dia bisa merasa tenang dan nyaman" kata Arrida. Ia sudah tahu yang apa yang terjadi dengan Fika.
Ternyata, Fika salah dalam memilih pasangan. Karena, Bobby yang menjadi suaminya bukan orang normal, ia memiliki penyimpangan **** yaitu Sadomasokis. Dimana, seseorang yang memiliki penyimpangan ini akan merasa terpuaskan jika telah menyiksa pasangannya.
Ketika itu, setelah Fika memutuskan kabur dari rumah lalu pergi mengikuti Bobby, ke provinsi Y, mereka pun menikah. Dan malam itulah Fika tau bahwa suaminya itu memiliki penyimpangan seksual. Dan itu merupakan awal dari penderitaannya. Selama seminggu ia bertahan di rumah Bobby. Kemudian ia berhasil kabur, dan bersembunyi dari satu kota ke kota lain. Bahkan Fika sampai mengganti identitasnya. Ia bisa bertahan hidup karena ATM nya selalu ada saja uangnya. Yang kemudian ia tahu dari cerita Uwais ternyata pak Ridwan tidak pernah absen mengirimkan uang kepada Fika.
"Ini jatah Fika, aku tidak akan memblokir ATM nya, agar dia bisa menggunakannya jika dibutuhkan, karena aku gak tahu gimana kehidupannya sekarang? Apa dia baik dan bahagiakah dengan lelaki itu? Yang jelas aku sangat menyayanginya" Itu kata-kata pak Ridwan pada Bu Tania yang sempat didengar oleh Uwais.
Hidup Fika memang berantakan selama hampir tiga tahun ini, dia hidup hanya dalam persembunyian. Ia tak berani untuk pulang ke rumah. Ia merasa malu untuk bertemu dengan keluarganya terutama orangtuanya.
Namun, beberapa hari yang lalu, ketika ia memutuskan membeli ponsel. Itulah awal dia bisa bertemu dengan Uwais. Karena dia melihat sebuah tayangan di media sosial tentang resto Cinta Pluto.
πΌ
Arrida dan Uwais pun tiba di tempat parkir. Kemudian mereka segera menaikinya dan keluar dari gerbang kampus. Mereka tidak peduli pada banyak mata yang memandang keduanya. Malah mereka seperti sengaja ingin memperlihatkan kedekatan mereka pada semua orang.
"Oi, kenapa ngelihatin mereka segitunya." kata Arga, salah satu senior di kampus Arrida yang memiliki wajah seperti Sahrukan. Ia mentoyor belakang kepala Bryan, kemudian duduk di sampingnya. Bryan memang dari tadi duduk di kantin dekat tempat parkir, menikmati segelas es cappucino.
"Cemburu?" tebaknya.
__ADS_1
"Nggak ... Lo ngerasa aneh gak ma mereka?"
"Nggak! Kenapa? Biasa aja, kenal juga nggak."
"Mereka itu, katanya kakak adik, tapi cara mereka berinteraksi lebih seperti sepasang kekasih! Menurut lo gimana? Apa lo percaya?" Tanya Bryan pada Arga.
Arga kemudian mengalihkan pandangannya ke arah dua sejoli yang sedang naik sepeda. Walaupun mereka sudah melewati gerbang, namun keduanya masih bisa terlihat dengan sangat jelas.
"Lo dapet kabar darimana kalo mereka kakak adik?"
"Laura!"
"Lo percaya dengan omongannya?"
"Bisa jadi!"
"Lo naksir anak baru itu?"
"Dia gadis beda ....bikin gue penasaran."
"Halaaaah mana ada gadis cantik yang gak lo penasaran?" Arga mengambil es cappucino milik Bryan dan meminumnya dengan santai. "Semua gadis cantik yang lo tau, pasti lo penasaran dan harus bisa lo dapatkan! Emang tu anak baru mau lo jadiin yang ke berapa? Gak kapok udah ditolak Metha? Lagian ... Bukannya Lo juga belum putus ma Dania? Santi dan Lucy?"
"Ah, mereka terlalu gampang. Tidak menantang!"
"Hahahah ... Lalu Metha?"
"Sampai sekarang gue masih penasaran ... Dia unik, tapi sayang dia malah pindah, semua gara-gara dia, si penjual Bakso!!" kata Bryan sambil menunjuk ke arah gerbang. Yang ia maksudkan adalah pada Uwais.
"Kenapa? masih sakit hati ditolak Metha gara-gara dia lebih milih Uwais?" sindir Arga. Ia tahu betul kejadian antara Metha dan Bryan, bagaimana sahabatnya itu ditolak oleh Metha, gara-gara gadis itu lebih menyukai Uwais bahkan ia juga tahu, saat Metha rela berkelahi dengan Laura di koridor kampus demi seorang Uwais. Dan itu jugalah yang menjadi penyebab Metha memilih untuk pindah kuliah.
Bryan hanya menatap tajam Arga seakan ingin meninjunya, namun sesungguhnya, dia juga membenarkan semua yang dikatakan oleh sahabatnya itu.
"Hahaha.... berarti cap playboy lo kualitasnya sudah mulai diragukan .... karena ada yang bisa menolak ke playboy-an lo!" Arga terbahak. Ia sama sekali tidak terpengaruh dengan tatapan tajam dari Bryan.
"Sialan lo!" Bryan melempar bungkus rokok yang ada dihadapannya ke kepala Arga.
Bryan menarik nafasnya hingga terdengar di telinga Arga. Ia memang tidak memungkiri, bahwa saat itu dia merasa sangat terhina sudah ditolak oleh Metha, dan hal itu hanya diketahui oleh Arga, sahabat yang siap kapanpun dimintai tolong olehnya.
"Tapi makasih ya, tadi tu si Ida lo suruh ke gue"
"Hei! Itu kan lo yang ngemis-ngemis ke gue!"
Bryan terbahak. Ia ingat betul ketika dia memaksa Arga agar bisa mencari kesalahan Arrida, lalu membiarkan hanya dia seorang yang dihukum olehnya.
"Apa yang lo lakuin ke dia?" tanya Arga penasaran.
"Bermain-main dikit! Dia benar-benar unik dan menarik ... Gue pengen tau sejauh mana pertahanannya melawan pesona gue."
"Walaupun dia adik orang yang lo benci?"
"Itu tantangannya ... Emang lo yakin kalo mereka kakak adik?"
"Yaaa, terlepas apapun hubungan mereka, mau anak baru itu adik kandungnya, adik tiri, adik kelas, atau adik ketemu gede sekalipun ... yang gue lihat, Uwais ngejaga banget gadis itu"
"Bener kan? Lo juga bisa ngelihatnya juga kan? Mana ada kakak adik interaksinya kayak gitu."
"Jadi, lo mau serius mepetin si Rida"
"Well ... kita lihat aja!"
"Berarti ... ini kedua kalinya Lo berhadapan dengan cewek yang ada hubungannya dengan Uwais! Gimana kalo kali ini si Rida memang pacarnya Uwais?"
Bryan menarik nafas panjang.Ia pun tidak tahu apa yang akan dia lakukan terhadap Uwais, jika memang dia penghalang untuknya mendekati Arrida.
__ADS_1
πΌπ¦οΈπΌ
Hari Sabtu ini, Uwais mengajak Arrida, Fika, Arman, Andika, Kirno dan Lani ke sebuah tempat rekreasi berupa danau dan area outbound. Ia sengaja menutup restonya satu hari, agar bisa puas bermain dan menikmati alam.
"Suka mbak?" tanya Uwais pada Fika. Mereka duduk di tikar yang disediakan oleh pengelola tempat tersebut. Sengaja tidak memilih gazebo. Karena agar bisa langsung menikmati indahnya danau yang disekelilingnya terdapat bunga-bunga yang berwarna-warni.
Fika mengangguk. "Makasih ya dek"
Uwais hanya membalas dengan usapan lembut di punggung Fika.
Arrida merasa terharu melihat interaksi Uwais dan Fika.
"Kenapa, Ar?" tanya Uwais yang menyadari kalau Arrida memperhatikannya sejak tadi.
"Eh, gak papa, cuma keingetan bang Adnan"
Uwais melebarkan senyumannya.
"Minuman dan makanan sudah datang ...." kata Kirno sambil membawa nampan, dibelakangnya masih ada tiga orang pelayan yang juga membawa nampan berisi makanan yang di pesan.
"Wah gak dimana- gak dimana kamu emang senengnya bawa nampan, No!" canda Andika.
"Hahaha, bener juga ya bang, gak papa yang ini itung-itung amal bang" kekeh Kirno.
πΌ
"Ayo kita nikmatin makan dulu, baru setelah itu kita seru-seruan!" kata Uwais sambil mengambil lauk yang sudah ada dihadapannya.
Yang lain kompak ikut makan, tanpa perlu dikomando. Sesekali terdengar candaan yang membuat tawa diantara mereka. Namun, tanpa ada yang menyadari, diam-diam Fika sedang memperhatikan Arman, setelah Arman memberikan sepotong ayam di piringnya. Entah kenapa, ada rasa yang aneh dirasakan oleh Fika, ia cukup ge-er dengan perhatian yang diberikan Arman.
"Dimakan, Fik" kata Arman saat meletakkan ayam di piringnya. Ia memang memanggil Fika tanpa ada sebutan Mbak, karena Fika dibawah dia tiga tahun. "Biar gak kurus kayak gini"
"Ehm makasih, bang"
Arman tersenyum sambil melirik, mendengar suara Fika. Selama hampir seminggu Fika tinggal di tempat Uwais, dia sama sekali belum pernah mendengar suara gadis itu berbicara langsung dengannya. Ternyata suaranya renyah dan seksi.
"Hmm" Arman mengangguk.
Fika menyukai lirikan mata itu. Lirikannya indah.
...πΈπΈπΈπΈπΈ...
Makasih kakak readers
Makasih udah setia mampir n baca kisah Arrida dan Uwais sampai sejauh ini
Makasih atas dukungannya, like, favorit n kommentnya
Sehat selalu ya kakak readers
Hatiku Padamu Kak readers pake banget...
π₯°π₯°π₯°ππ»ππ»ππ»πππ
ππππππππππππππππ
Kakak readers mampir juga yuks ke novel temenku... novel bagus neh π₯°π₯°π₯° karya: Alana Nourah
...HAPPY READING YAAA...
__ADS_1
...πππ...
ππππππππππππππππ