
Hari ini hari terakhir ujian kelas dua belas. Suasana sekolah sudah lumayan sepi karena siswa kelas dua belas banyak yang sudah pulang. Tadi hanya satu pelajaran yang terakhir diujikan. Jadi semakin beranjak siang, sekolah sudah tampak sepi.
Arrida keluar dari ruang BK, dia baru saja menemui Bu Sofia di ruangannya untuk menyerahkan barang yang tertinggal di rumah kepada Bu Sofia. Netranya menangkap seseorang yang sedang berjalan di koridor sekolah. Seseorang yang hampir setahun ini selalu bermain di taman hatinya. Uwais.
Senyumnya mengembang. Ada kerinduan yang teramat sangat kepadanya karena selama kelas dua belas melaksanakan ujian, kelas sepuluh dan sebelas belajar di rumah.
Ia pun segera menghampirinya, rasanya sudah tidak sabar ingin melihat wajah tampannya dari dekat.
Namun ketika sudah mendekat, dia merasa ada sesuatu yang berbeda dari Uwais. Wajahnya tampak pucat kemerahan, ada keringat di sekitar keningnya, bibir merahnya juga tampak kering, matanya pun kemerahan seperti menahan perih, dan saat ini dia mengenakan sweater yang cukup tebal.
"Kak" Panggil Arrida pelan.
Uwais tersenyum lembut sambil mengedipkan matanya pelan.
"Kakak sakit?" Arrida langsung mendekatinya membuat jarak terkikis.
Uwais mengangguk pelan. Entah kenapa saat ini kepalanya terasa sangat berat. Tidak hanya itu saja, pandangannya pun terasa berputar. Uwais menarik nafas panjang. Keningnya berkerut. Bahkan ketika ia ingin menatap gadis yang dirindukannya selama seminggu lebih itu, matanya terasa sangat perih dan berat.
"Kakak mau kemana?"
"Pengen ke UKS"
Tanpa diminta, Arrida langsung menggandeng lengan Uwais dan menemaninya ke ruang UKS.
"Istirahat kak" Arrida meminta Uwais untuk berbaring di tempat tidur ruang UKS.
Uwais menurut.
"Kakak udah makan?"
Uwais mengangguk.
"Udah minum obat?"
Uwais menggeleng. "Ambilkan minum aja Ar" kata Uwais sambil membuka tasnya dan mengambil obat dari dalamnya.
"Oh kakak udah punya obatnya ya, tunggu bentar" Arrida mengambil air dari dispenser, lalu menyerahkannya kepada Uwais.
"Makasih Ar" kata Uwais setelah meminum obatnya. Dia menyerahkan kembali kepada Arrida gelas yang airnya sudah habis dia minum.
Uwais memejamkan matanya. Dia tidak berbaring, hanya duduk bersandar di bantal yang dia posisikan berdiri di kepala tempat tidur
__ADS_1
Tangan Arrida terulur, punggung tangannya menyentuh kening Uwais, membuat Uwais membuka matanya, melirik sekilas pada Arrida. Lalu memejamkan matanya kembali dan membiarkan Arrida menyentuh keningnya.
"Kakak panas banget....demam tinggi ini" kata Arrida panik, punggung tangannya kini beralih ke leher Uwais. Dan itu membuat Uwais membuka matanya kembali lalu memperhatikan wajah panik Arrida.
"Kakak lemes banget??? kita ke rumah sakit aja ya"
"Ar, aku gak akan pingsan, gak usah panik gitu"
"Ih gak usah ngeyel" kata Arrida masih menyentuh kening dan leher Uwais bergantian. "Kalau gak, kita pulang aja"
"Kalau kamu kayak gini, malah aku tambah gak karuan Ar"
"Maksudnya?"
"Jantung ku makin berdetak kencang Ar... apa kamu gak denger?"kata Uwais sambil menatap Arrida begitu dalam
Arrida segera menarik tangannya dari leher Uwais, namun secepat kilat, Uwais meraih tangan kanannya itu dan menggenggamnya dengan kedua tangan, sampai Arrida tak bisa menariknya.
"Makasih Ar, lagi... dan lagi .. kamu nolongin aku"
Arrida mengangguk pelan sambil menarik tangannya dengan sangat pelan juga.
"Kita pulang ya kak, aku antar naik taksi, sepeda kakak titipkan pak Yono aja"
"Ya udah kita pulang, aku yang antar"
Uwais menggeleng, dia tidak ingin merepotkan gadisnya itu, dan lagi dia memang sudah akan dijemput oleh Fariz.
"Gak usah nolak, biar nanti aku hubungi mas Fariz"kata Arrida sambil mengemasi tas Uwais, kemudian menarik tangan Uwais agar bisa berdiri.
Uwais menurut. Dan kini mereka sudah berada di dalam taksi yang telah melaju sekitar lima menitan. Dan semenjak naik taksi, Uwais langsung menyandarkan tubuhnya di kursi jok mobil sambil memejamkan matanya. Arrida membiarkannya, agar Uwais tertidur selama dalam perjalanan.
Bugg
Kepala Arrida jatuh ke pundak tepatnya lengan Uwais. Uwais terkejut, dia membuka matanya ketika kepala Arrida jatuh di lengannya. Karena badan Uwais yang tinggi, makanya kepala Arrida tidak sampai ke pundak Uwais.
Uwais menoleh, melihat gadis kesayangannya itu sedang tertidur.
"Ya Allah ... anak ini...malah dia yang tidur" Uwais menggeleng sambil tersenyum. Dan ia pun membiarkannya, membiarkan gadis itu tidur dengan nyaman di lengannya. Telapak tangannya yang satu sempat terulur untuk menyentuh pucuk kepala Arrida dan mengusapnya lembut.
🌼
__ADS_1
"Bangun Ar, udah nyampe rumah ini" Uwais membangunkan Arrida, tangannya menepuk pipi gadis itu dengan sangat lembut.
Arrida tersadar, matanya mengerjap beberapa kali. Tangannya mengusap-usap mata dan wajahnya sendiri, sambil mencari kesadaran yang sempat hilang saat tidur.
"Eh, kok malah aku yang tidur ya?" Arrida mulai sadar. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Uwais tersenyum, ia membuka pintu taksi kemudian keluar dari taksi sambil menggenggam tangan Arrida dan menariknya untuk ikut keluar dari taksi.
Arrida tak melepasnya, ia membiarkan tangannya digenggam oleh Uwais, hingga mereka tiba di depan pintu rumah Uwais.
"Masuk Ar" Uwais membuka kunci pintu rumah lalu mengajaknya masuk.
"Kok sepi? Bu Tania gak di rumah?"
"Mamah ikut papah keluar kota, sementara bang Fariz masih di kantor Ar"
"Hah... berarti cuma ada kakak ma aku disini?" Arrida ragu-ragu untuk masuk, ia menghentikan langkahnya
"Gak papa Ar... gak akan di apa-apa in juga" Uwais menarik tangan Arrida hingga akhirnya mereka masuk ke dalam rumah.
"Kamu duduk dulu" Uwais memerintahkan Arrida untuk duduk di sofa ruang tamu. Baru kali ini dia membawa 'teman perempuan' secara pribadi ke rumahnya... dan bagi Arrida, baru kali ini juga dia menginjakkan kakinya di rumah seorang 'cowok' secara pribadi bukan karena bersama teman-teman.
"Kak... kakak udah mendingan?" tanya Arrida sebelum Uwais melangkah ke ruang keluarganya. Ia mengekori Uwais.
"Iya, cuma sekarang pengen banget tidur"
Arrida diam. Ia bingung. Kalau memang Uwais mau tidur lalu untuk apa dia di rumah Uwais.
"Kamu disini, temani aku sampai mas Fariz pulang, mau ya?" pinta Uwais sambil menjawab kebingungan Arrida.
"Buat nyaman diri kamu aja ya, kalau mau minum atau makan ada di dapur dan di ruang makan, atau cari aja di kulkas ya, kamu juga bisa nonton tivi" tambahnya lagi.
Arrida yang masih bingung hanya mengangguk.
"Kakak mau dibuatin apa?" Arrida menawarkan sesuatu. Dan itu membuat Uwais jadi diam memikirkan sesuatu.
" Minuman hangat boleh deh... kamu bisa??" kata Uwais seakan menginginkan sesuatu yang dibuatkan oleh Arrida
"Bisa... kakak tunggu ya" kata Arrida yakin.
Arrida segera ke dapur. Walaupun dia bingung letak bumbu-bumbu, tapi dia berhasil menemukan dimana jahe disimpan. Dia memerlukan jahe karena akan membuat minuman susu jahe. Sementara itu, Uwais akhirnya mengurungkan niatnya untuk tidak menuju kamarnya, ia lebih memilih tiduran di sofa ruang keluarga, menunggu Arrida menyiapkan minuman hangat sambil menyetel televisi.
__ADS_1
Dan tak lama kemudian, susu jahe panas pun telah siap. Arrida membawanya ke ruang keluarga, ia yakin Uwais ada di ruangan itu karena televisi menyala.
...🌸🌸🌸🌸🌸...