Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
52. Putri tidur


__ADS_3

"Ar, bangun Ar" Uwais membangunkan Arrida yang sedang tidur di sofa ruang keluarganya.


Tadi, setelah Uwais menikmati wajah cute milik Arrida, ia memutuskan untuk bangun, kemudian memindahkan Arrida dengan menggendongnya ala bridal style ke sofa, agar gadis kesayangannya itu bisa tidur lebih nyaman menggantikan dirinya tidur di sofa.


"Arrida Latifatunnisa... bangun Ar" Uwais mengulangi panggilannya sambil menepuk pipi Arrida pelan. Arrida belum membuka matanya, namun keningnya sudah mulai berkerut. Seperti sebentar lagi akan sadar.


Tiba-tiba terdengar bunyi bel dari arah pintu ruang tamu, Uwais pun mengurungkan untuk membangunkan kembali Arrida. Ia lebih memilih menghampiri suara bel yang baru saja terdengar.


🌼


Samar-samar terdengar di telinga Arrida suara orang yang sedang berbicara di ruang tamu, ia pun membuka matanya, memperhatikan keadaan disekitarnya.


Secepat kilat dia langsung duduk, melihat ke kanan dan kirinya. Dalam ingatannya, terakhir kali, dia berada dalam posisi duduk tertidur di tepi sofa di samping Uwais. Tapi kenapa ketika dia bangun sudah ada di sofa?


"Ar, udah bangun?" Tanya Uwais menyapa, dia baru saja dari ruang tamu, di tangannya ada sebuah bungkusan. Ternyata yang menekan bel adalah orang yang mengantarkan makanan yang dipesan oleh Uwais.


Arrida menoleh menatap cowok pujaannya itu sambil tersenyum kikuk.


"Kamu sholat dulu, udah jam dua lebih, nanti kita makan bareng... nih pesanannya sudah dateng" Uwais menghampiri sambil menunjukkan bungkusan yang ada di genggaman tangannya.


"Kak... Emm... aku tidur? siapa yang mindahin aku ke sofa?"


"Siapa lagi? disini kan gak ada siapa-siapa"


"Kakak yang mindahin aku?"


Uwais mengangguk.


"Siapa yang sakit, siapa yang tidur?" Goda Uwais sambil duduk diatas meja kayu dihadapan Arrida.


"Abisnya... nungguin orang tidur bikin ngantuk, jadi ikutan tidur deh" Arrida nyengir.


"Ya udah, kamu sholat dulu, terus kita makan, lalu aku antar kamu pulang"


"Emang kakak udah baikan?"


"Alhamdulillah, udah enakan, setelah minum obat dan tidur bentar, kepalanya udah gak berat lagi"


Arrida mengulurkan tangannya, memegang kening Uwais, memastikan suhu tubuhnya.


"Udah gak papa Ar, setelah istirahat tadi, aku udah merasa lebih baik " kata Uwais sambil menurunkan tangan Arrida kemudian menggenggamnya.

__ADS_1


Arrida mengangguk. Entah kenapa, akhir-akhir ini Uwais sering sekali menggenggam tangannya, dan anehnya dia sendiri tidak menolaknya, bahkan merasa nyaman dan tenang ketika Uwais menggenggam tangannya.


"Ya udah aku sholat dulu ya kak"


"Hmm ... ayo aku tunjukkin tempat sholatnya" ajak Uwais


🌼


"Kakak yakin mau nganterin aku?" tanya Arrida pada Uwais sambil menyuapkan makanannya. Dia sudah menyelesaikan sholatnya. Kini keduanya ada di ruang makan. Mereka sedang makan siang.


"Iya, nanti kita naik taksi"


"Kok jadi bolak balik gini ya?"tanya Arrida terkekeh


"Gak papa, aku gak mau kamu tidur di taksi dan gak ada yang bangunin"


"Hehehe.... udah sering kali Kak, naik taksi langsung tidur, soalnya kalo gak ada temen, suka ngantuk, ntar kalo udah nyampe ... pak supir pasti bangunin aku"


"Iya kah? kata siapa kalau gak ada temen kamu tidur? buktinya,tadi juga ada aku, kamu tidur, "


"Itu karena kakak juga tidur"


"Kalau waktu naik motor?"


"Waktu di bawah pohon?"


"Itu juga, aku kan capek, jadi ngantuk deh"


"Kalau tadi?"


"Mmm maksud kakak, pas ngompres kakak ya"


"Iya"


"Itu juga karena nungguin kakak tidur, jadi aku ikut tidur"


"Dasar putri tidur" Ledek Uwais gemas.


Arrida hanya nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia sadar betul kalau dirinya memang mudah sekali untuk tidur.


🌼

__ADS_1


"Makasih ya kak, udah nganterin aku... Nanti hati-hati di jalan, dan semoga kakak lekas sembuh ya" kata Arrida ketika taksi sudah mendekati rumah Arrida.


"Kamu gak nyuruh masuk dulu?"


"Di rumah gak ada siapa-siapa kak, bunda masih di sekolah, Abang masih di kampus, ayah masih di kantor"


"Bukannya tadi juga kita berduaan aja dirumah ku?"


" Itu dirumah kakak, dan kakak sakit... tapi kalo sekarang kakak udah baik-baik aja, aku gak mau... takut ada hal-hal aneh"


"Hal-hal aneh kayak apa hm?" Uwais memposisikan wajahnya sangat dekat dengan wajah Arrida.


Arrida terpaku. Nafasnya tertahan.


"Yang... yang kayak gini nih kak .. ini hal aneh" Arrida terbata. Ia benar-benar gugup saat ini.


Uwais tersenyum. Ia tau gadis kesayangannya itu benar-benar gugup. Ia mengacak gemas rambut Arrida. Lalu kembali ke posisi semula menghadap ke depan. Namun, kali ini kepalanya sengaja ia jatuhkan ke pundak Arrida.


"Jangan gerak, biar kayak gini dulu ya sampai depan rumahmu" kata Uwais sambil memejamkan matanya, menikmati kehangatan bersama gadis kesayangannya itu


Arrida diam mengijinkan. Matanya sedikit melirik wajah Uwais lalu tersenyum manis.


🌼🌦️🌼


Ujian kelas dua belas telah usai. Kini siswa kelas sepuluh dan sebelas, kembali ke sekolah. Suasana sekolah tidak terlalu ramai seperti sebelumnya, karena sekarang berkurang satu angkatan yaitu kelas dua belas.


Saat ini, siswa angkatan kelas duabelas hanya menunggu pengumuman kelulusan. Hampir sembilan puluh delapan persen semuanya sedang mempersiapkan diri untuk meneruskan studynya ke jenjang yang lebih tinggi, ada yang mengambil jalur bimbingan belajar, belajar bersama, les privat atau belajar sendiri.


Namun selain mengisi waktu dengan belajar, ada juga yang justru mencoba berwirausaha, berjualan kecil-kecilan seperti yang dilakukan Uwais dan Roni saat ini. Mereka membuka stand kecil di halaman market depan sekolah. Mereka berjualan minuman boba, milkshake, dan aneka Frozen food. Dan ternyata baru satu hari buka, sudah laris manis. Sangat menyenangkan.


"Wah kak Uwais hebat, udah punya usaha sendiri... ini mau diterusin kalau udah kuliah nanti atau cuma sementara aja?" Tanya Nana. Saat ini Nana, Hani dan Arrida sengaja ke stand milik Uwais. Dari sepulang sekolah mereka sudah mengantri, karena yang membeli banyak, dan giliran mereka masih sangat lama, mereka pun tidak sabar, dan akhirnya ketiganya malah ikut berjualan membantu Uwais dan Roni. Kini, suasana sudah mulai lengang, hanya tinggal dua pembeli tersisa. Uwais sedang membuat minuman bobanya, sedangkan Roni membakar bakso dan sosis. Sementara Arrida, Nana dan Hani sedang menikmati dimsum, bakso ikan, tempura dan milkshake mereka masing-masing.


"Mungkin cuma sementara Na, aku mau kuliah" jawab Uwais sambil menyerahkan minuman boba yang sudah siap kepada pembeli.


"Sayang dong, udah laris ini" Nana berkomentar.


"Diterusin aku Na" sahut Roni. Dia juga telah selesai menyerahkan sosis dan bakso bakarnya kepada pembeli.


"Oiya?" Kata Nana sambil menyeruput milkshakenya.


"Iya, usaha ini sih idenya Uwais... modal paling banyak dia, tapi nanti yang nerusin aku Na, soalnya Uwais akan kuliahnya ke luar kota, kalo aku kan mau usaha dulu biar punya modal buat kuliah, kalo bisa sih... sambil usaha bisa juga kuliah .... aku mau ambil kuliahnya yang di dalam kota aja" jelas Roni.

__ADS_1


Mendengar penjelasan Roni yang mengatakan kalau Uwais akan meneruskan kuliahnya di luar kota, Arrida langsung melirik Uwais. Ada rasa yang tak biasa dirasakan Arrida, seperti rasa sedih karena harus berpisah dengan seseorang yang sangat berharga di hatinya.


...🌸🌸🌸🌸🌸...


__ADS_2