Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
103. Cemburunya kita.


__ADS_3

Arrida mengangguk. Kemudian kedua tangannya terangkat. Matanya terpejam.


"Ya Allah, semoga hidup kami semakin baik lahir bathinnya ... barokahkanlah dan bahagiakanlah kami, serta ridhoi cinta kami selamanya." ucap Arrida sengaja dikeraskan suaranya.


Kemudian ia membuka matanya.


Ada sebuah senyuman yang pertama kali dia lihat ketika membuka matanya. Senyuman dari lelaki yang selalu menghiasi hatinya setiap hari. Lelaki yang selalu membuat harinya bermakna. Lelaki yang selama hampir empat tahun ini telah mengisi hidupnya dengan kisah kasih yang penuh warna. Lelaki yang untuk pertama kalinya membuat dia merasakan getaran aneh dan indah.


Ternyata, saat Arrida memanjatkan doanya dengan suara yang keras, Uwais menoleh ke belakang, ia tersenyum dan mengaminkan doa gadis cantik kesayangannya itu.


"Lho kakak kok malah ngelihatin aku? bukannya berdoa?" tanya Arrida.


"Sudah, dan aku juga sudah mengaminkan doamu."


"Oh," Arrida mengangguk.


"Kenapa kamu mengeraskan suaramu ketika berdoa?" tanya Uwais.


"Agar kakak gak perlu bertanya apa isi doaku ... dan kakak bisa mengaminkan langsung doaku," kata Arrida nyengir.


"Aku suka doamu." komentar Uwais cepat.


Arrida tersipu.


"Lalu apa doa kakak?"


"Mmm ... Karena aku gak bisa menjagamu dengan baik, aku hanya meminta kepada Alloh untuk selalu melindungi kamu, dan menjaga kamu hanya untukku"


"Aih egois sekali doanya?"


"Aku pingin egois, pasti Alloh pun gak papa."


"Gak boleh kak"


Uwais tersenyum.


"Aku hanya meminta, semoga Alloh selalu memberikan yang terbaik buat kamu."


"Kenapa kakak gak minta yang terbaik buat kita?" atau buat kakak sendiri?"


"Karena yang terbaik buat kita, kan udah kamu yang


ngedoain."


"Trus kenapa tidak berdoa untuk diri kakak sendiri?"


"Sudah"


Arrida mengeryitkan keningnya.


"Yang mana?"tanyanya kemudian.


"Segala yang terbaik yang Alloh kasih untukmu adalah yang terbaik untukku." kata Uwais yang membuat hati Arrida berdesir indah. Dalam hatinya, ia pun mengaminkan apa yang dikatakan oleh lelaki pujaannya itu.


"Ayo aku anter kamu pulang. Lani pasti sudah nungguin. Jam malamnya udah mau abis kan?"


"Iya kak, aku rapihin dulu."kata Arrida sambil melepas mukenanya dan melipatnya.


🌼


Siang itu, setelah perkuliahan, Arrida segera ke resto. Seperti biasa ia akan membantu melayani pembeli.


"Lho kakak udah pulang? tumben? Biasanya jam lima baru dateng." tanya Arrida pada Uwais yang baru saja datang. Ia melihat jam di dinding resto menunjukkan pukul setengah tiga sore.


"Kamu lupa Ar, ini kan hari terakhir praktek lapangan, jadi tadi hanya perpisahan dan penyelesaian laporan-laporan."


"Oh iya ya ... " kata Arrida sambil mengangguk. "Oh iya kak, aku ada titipan." sambungnya, sambil mengajak Uwais ke belakang. Ia mengambil sesuatu dari tasnya. Sebuah kado.


"Apa ini? Dari siapa?"


"Tuh ada tulisannya!" kata Arrida sambil menunjuk sebuah tulisan di bungkus kadonya.


"Laura?"


"Hmm" Arrida mengangguk "Tadi, dia datang ke kelas, nitipin ini!"

__ADS_1


Uwais menggelengkan kepalanya. Malas.


"Ah iya ... tadi juga aku ada yg ngasih ini!" kata Uwais sambil memperlihatkan sebuah paper bag yang didalamnya ada sebuah kotak. Sejak tadi dia memang menenteng paper bag tersebut.


"Dari siapa?" tanya Arrida


"Entahlah tadi pas mau pulang dari tempat praktek ada yang ngasih ini."


"Ya udah buka aja." perintah Arrida.


"Hmm... Eh, tunggu dulu, itu bunga siapa?" tanya Uwais saat dia hendak membuka bungkus kado. Tatapannya melihat sebuah buket bunga yang ada di atas kursi dekat dengan tasnya Arrida.


"Punyaku, dikasih Rasya sebagai ucapan ulang tahun," jawab Arrida.


"Siapa Rasya?"


"Temen sekelas,"


"Dia suka sama kamu?"


"Kata Lani sih iya,"


"Dia pernah menyatakan cinta?"


"Belum, tapi dia pernah menawarkan tumpangan."


"Kamu mau?" tanya Uwais.


"Enggak."


"Kenapa?" tanya Uwais sekali lagi.


"Karena aku bawa sepeda kakak"


"Jadi, kalo kamu gak bawa sepeda kamu bakal ikut dia?"


"Mungkin, bisa jadi ... " jawab Arrida cuek. Ia melihat kecemburuan di wajah tampan lelaki pujaannya itu.


"Kenapa? kakak cemburu?" tanya Arrida kini.


"Tapi nyatanya, kakak ga bisa setiap saat antar jemput aku, walau pada kenyataannya, kakak bisa antar jemput Karina, bukankah itu egois?"


"Aku tidak pernah antar jemput dia. Hanya pulang bareng."


"Bohong, bahkan teman-temannya bilang Karina bareng kakak terus."


"Iya bareng, karena saat itu kami sebagai partner."


"Tapi gak harus pulang bareng juga kan? Kenapa gak pas di tempat praktek aja kalian barengnya?"


"Tiga kali aku pulang bareng ma dia, Ar... Pertama, karena ban motornya bocor, kedua, dia bilang motornya diservis, belum diambil ... Dan yang ketiga kalinya ketika hari terakhir, yang waktu itu kamu bertemu dengan dia di kantin."


"Alasan yang ketiga apa? Kenapa akhirnya dia pulang bareng kakak?"


"Yang ketiga gak ada alasan, dia cuma mau ikut aja ... Dari situ aku menyimpulkan kalau sebelum-sebelumnya dia juga hanya beralasan saja ingin naik motor denganku."


"Trus, kenapa kakak masih mau juga bareng dia hari itu?"


"Dia memaksa,"


"Dan pada akhirnya kakak gak bisa nolak dia kan?"


"Maaf, saat itu, di pikiranku ... Ya sudahlah hari terakhir ini, diniatin nolong orang aja."


"Kebiasaan!"


"Maksudnya?"


"Kalo nolong orang yang biasa-biasa aja, itu gak papa, tapi kalo nolong orang trus dianya ada hati, itu yang berabe."


"Maaf aku lengah, aku ga bisa baca maksud orang."


"Ya udahlah, udah lewat juga. Sekarang, dibuka tuh dari siapa?"


Uwais menarik nafas panjang. Ia tahu, gadisnya ini sedang dalam mode cemburu. Namun ia tetap menuruti perintahnya untuk membuka kedua bingkisan tersebut.

__ADS_1


Sebuah dompet dari Laura, dan sebuah jam tangan, yang kemudian diketahui kalau itu dari Karina.


Arrida menatap malas dan jengkel. Kenapa bisa Karina sama-sama memberikan jam tangan untuk Uwais.


Uwais memperhatikan ekspresi wajah Arrida. Ia tahu, gadisnya itu tidak suka dengan semua hadiah-hadiah itu.


Uwais segera mengambil dompet dan jam tersebut, lalu dimasukkan ke paper bag yang disatukan dengan kertas kado yang membungkusnya. Kemudian membuangnya ke tempat sampah.


"Eh, kenapa kakak buang? Itu hadiah dari orang, harus dihargai,"


"Tidak harus, suka-suka hati orang yang menerimanya,"


"Masa seperti itu?" Arrida segera mengambil kembali paper bag dari tempat sampah.


"Kenapa diambil lagi? Kamu mau aku memakainya? atau menyimpannya?" tanya Uwais.


"Emang kakak gak mau?"


"Enggak, aku sudah punya dompet sendiri, dan jam tangan spesial, untuk apa lagi?"


"Kita kasihin bang Kirno, bang Dika atau bang Arman aja, siapa tau mereka mau?"


"Kalau mereka gak mau?"


"Kasihin ke orang lain yang mau."


"Terserah kamu lah."


"Aku tanya kak, kenapa kakak membuangnya?"


"Karena aku gak suka, dan aku juga gak mau ngelihat kamu cemburu."


"Kakak tau kalo aku cemburu?"


"Bukan cuma tau, tapi bisa merasakannya." kata Uwais sambil melirik buket bunga.


Arrida memahami maksud dari ekspresi wajah lelaki pujaannya itu. Ia pun tersenyum kemudian mengambil buket bunga tersebut, lalu beranjak untuk membuangnya ke tempat sampah.


"Hei kenapa bunganya kamu buang?" tanya Uwais.


"Karena aku gak suka, dan aku juga gak mau ngelihat kakak cemburu."


"Bukannya kamu tadi berniat menyimpannya?"


"Enggak! Aku sengaja nyimpen dulu disini buat nunjukin ke kakak, bahwa ada cowok yang ngasih bunga ke aku,"


"Kenapa? pengen lihat aku cemburu?"


"Iya," jawab Arrida santai.


Uwais terkekeh kecil.


"Kenapa kakak ketawa? Aku juga pengen tau kakak bisa cemburu gak? Soalnya kenapa harus aku terus yang cemburu?"


"Maksudnya?"


"Dari dulu kakak baik ma orang, nyampe orang itu punya perasaan ma kakak, mbak Erna, mbak Audy, Erfi dan masih baaanyak lainnya, emangnya aku gak cemburu, bahkan sekarang ada Karina," kata Arrida.


"Dan aku pernah cemburu pada Justin, Rian, Wisnu, Andri, dan sekarang Rasya," ujar Uwais.


...🌸🌸🌸🌸🌸...


...Makasih kakak readers...


...Makasih udah setia mampir n baca kisah Arrida dan Uwais sampai sejauh ini...


...Makasih atas dukungannya, like, favorit n kommentnya...


...Sehat selalu ya kakak readers...


...Hatiku Padamu Kak readers pake banget......


...Semoga kak readers tetap suka dan terhibur yaaa...


...πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ˜πŸ˜πŸ˜...

__ADS_1


__ADS_2