Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
25. Tapi kan bukan pacar


__ADS_3

"Aku baik Ar, emang kamu gak paham dengan arti senyumku?"


Uwais malah semakin tersenyum menggoda Arrida, senyumannya kini dibuat sok imut.


"Gak!" jawab Arrida singkat dan ketus.


"Hmmmh," bola mata Uwais melirik kecewa dan itu malah membuat Arrida tersenyum karena merasa cowok pujaannya itu begitu menggemaskan.


"Mana ngerti lah Kak dengan bahasa isyarat kayak gitu ... lagian tinggal bilang baik atau sakit kan gampang, jadi jelas jawabannya, dan yang nanya gak perlu mikir, paham Kak?" kata Arrida lumayan panjang, dan dia juga agak sedikit menekan kata Kak agar Uwais tau kalau dia sedang mode gemez.


Uwais sedikit terkekeh.


"Ar ...." panggilnya pada gadis yang selalu membuat hatinya tak karuan.


"Ada apa Kak, butuh sesuatu?"


"Makasih ya, udah nolongin tadi, kamu bener-bener sesuatu, Ar," pujinya tulus.


Arrida tersipu. Wajahnya merona.


"Kak Uwais lah yang udah sering nolongin aku, yang aku lakukan ini gak ada apa-apanya kali Kak,"


"You are my hero now, Ar ...." Uwais tersenyum.


"Ish, itu kan julukan aku buat Kakak,"


"Sekarang julukan itu juga buat kamu dariku," Uwais mengacak pucuk kepala Arrida membuat Arrida mengerjapkan matanya.


"Hisssh, gak usah kayak gitu wajahnya, Ar," tukas Uwais.


"Kenapa?"


"Jadi gemes,"


"Aku kan emang menggemaskan,"


"Ck" Uwais mengalihkan pandangannya ke pintu, berusaha untuk menahan diri agar tidak benar-benar mencubit Arrida apalagi sampai menciumnya. Aish, pikiran macam apa ini yang melintas di otaknya. Dia pun menggeleng kepalanya pelan. Mencoba menetralkan segala pikirannya.


"Mana mas Fariz? Kok belum masuk?" tanya Uwais mengalihkan topik pembicaraan.


"Mas Fariz ke sekolah, mau minta keterangan dari pak satpam, siapa tau pak satpam berhasil nangkap mereka,"


Uwais mengangguk.


"Maaf ya, Ar,"


"Hm?" Arrida menoleh memperhatikan wajah Uwais, seakan bertanya 'kenapa minta maaf '


"Maaf, karena aku kamu ga jadi pulang,"

__ADS_1


"Kalem Kak, aku udah minta ijin kok, bunda ma ayah kan udah tau kakak juga, jadi gak papa, lagian ntar diantar pulang ma mas Fariz,"


Uwais mengangguk mengerti.


🌼


Tak selang berapa lama kemudian pintu kamar rawat ada yang membukanya. Fariz dan kedua orang tuanya.


"Ya Alloh nak, kenapa bisa begini? Wajah kamu nyampe babak belur gini! Mana yang sakit lagi? Kenapa orang-orang itu mukulin kamu? Kamu punya salah? Kenapa mereka tega sama kamu? Kamu punya musuh, Nak?" Bu Tania sudah berdiri dihadapan Uwais. Kecemasan menghias wajahnya. Dia pun memberondong pertanyaan pada Uwais. Dia tidak habis pikir kenapa ada orang yang tega memukuli anak bungsunya itu. Dilihatnya pipi kanan dan kiri Uwais, dibelai lembut kepalanya, lalu disentuh dan diusap-usap lengannya.


"Mamaaah ...." kata Uwais sambil menggenggam tangan ibunya. Sebenarnya Uwais agak risih diperlakukan seperti anak kecil dihadapan Arrida, gadis pujaan hatinya, namun dia sangat nyaman mendapatkan sentuhan lembut dari ibunya itu.


"Uwais gak papa mamah ... Uwais gak punya musuh ... Uwais juga gak ngerti kenapa mereka mukulin Uwais ... Oiya, kapan mamah dan papah datang?"


"Baru aja nyampe di bandara, terus papah telepon kakakmu buat jemput, dan akhirnya kita kesini," Kali ini pak Ridwan, ayahnya Uwais yang berbicara.


"Bener, Dek, kamu gak punya musuh?" tanya Fariz sambil menunjukkan wajah seriusnya.


"Serius Mas, aku kan anak baik, ya gak, Ar?" kata Uwais sambil meminta persetujuan dari gadis yang berdiri di belakang bu Tania.


Fariz, bu Tania dan pak Ridwan menoleh pada Arrida yang dari tadi berdiam diri di belakang ketiganya. Senyuman kikuk terbit di wajah Arrida. Dia menganggukkan kepalanya kaku.


"Hmm, kamu yang namanya Arrida?" tanya pak Ridwan memastikan. Dia sudah lama mendengar nama Arrida, semenjak dia sembuh dari kritisnya di rumah sakit beberapa bulan yang lalu.


"Iya, Om, saya Arrida," kata Arrida sambil menyalaminya dan mencium punggung tangan pak Ridwan kemudian punggung tangan bu Tania.


"Cantik, kan, Pah," kata bu Tania pada pak Ridwan yang sedang menatap Arrida penuh tanda tanya. Seperti ada sesuatu. Wajah Arrida samar-samar mengingatkannya pada seseorang.


"Hmmm," pak Ridwan mengangguk.


"Terima kasih ya sudah nolongin anak saya, dan hari ini juga katanya kamu yang nolongin dia waktu dipukuli," kata Pak Ridwan sambil menengok sebentar pada Uwais.


"Itu ... Pas kebetulan saya ada disitu, Om,"


"Tapi kamu cukup berani buat melawan mereka, makasih ya," puji pak Ridwan pada Arrida. Tadi di perjalanan dari bandara ke rumah sakit, Fariz sempat menceritakan kejadian yang menimpa Uwais.


Arrida hanya tersenyum kikuk.


"Eh, nggak kok Om, saya lah yang harusnya banyak ngucapin terima kasih, karna kak Uwais udah sering banget nolongin saya, bahkan terakhir nolongin saya dari pak Jefry, hingga membuat kak Uwais terluka ... Maafin saya ya om, tante, dan terima kasih banyak," kata Arrida sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


Pak Ridwan tersenyum sangat ramah. Dia tidak tahu kenapa begitu melihat Arrida, ada kedekatan yang tidak biasa dihatinya, merasa seakan sudah pernah mengenalnya dalam waktu yang sangat lama.


"Saya kok kayak pernah lihat kamu ya, tapi dimana? Wajah kamu sekilas mirip seseorang," kata pak Ridwan kini.


"Mungkin karna wajah saya terlalu pasaran, Om," kata Arrida sedikit bercanda,kedua tangannya menepuk kedua pipinya.


Mendengar celetukan Arrida seperti itu, membuat keempatnya tertawa. Arrida benar-benar menggemaskan menurut mereka.


Kemudian kedua orang tua Uwais duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Bu Tania sempat menarik tangan Arrida agar ikut duduk di dekatnya.

__ADS_1


"Eh, Dek, bener kamu gak punya musuh?" tanya Fariz sekali lagi menyelidik. Dia kini duduk di bibir tempat tidur pasien.


"Bener, Mas," Uwais bermode serius.


"Atau ada yang dendam sama kamu?" tanya Fariz sekali lagi.


"Maksud mas Fariz?" tanya Uwais belum paham.


"Kata Arrida, saat orang itu mukul kamu, dia bilang 'ini untuk adik gue'... Apa maksudnya?"


"Ya, apa coba Mas, Uwais juga gak ngerti, adik yang mana? Siapa?"


"Kamu pernah nyakitin orang?" selidik Fariz lagi.


"Seinget Uwais nggak pernah Mas,"


"Serius?"


Uwais mengangguk pasti.


"Kalo menurut Mas, motif si kakak ini mukulin kamu pasti terjadi sesuatu sama adiknya, adiknya udah kamu sakitin, mungkin kamu mutusin dia, dan dia gak terima, lalu depresi melakukan hal yang tidak-tidak atau mencoba bunuh diri,"


"Hah, yang bener aja mas kalo buat kesimpulan ... Mana ada Uwais pacaran, lagian dari mana Mas bisa menyimpulkan kalo adiknya itu perempuan, bisa jadi adiknya laki laki, kan?" Uwais bingung.


"Tadi kata pak satpam yang namanya pak Tri, dia pernah beberapa kali melihat salah satu dari keempat orang itu, dia suka menjemput salah satu siswi di sekolah itu,"


Uwais mengangguk, tapi dia benar-benar tidak tahu siapa gadis yang dimaksud.


"Atau kalo nggak, kamu pernah nolak cewek di sekolah?"


Uwais terdiam, mengingat-ingat sesuatu.


"Sepertinya pernah ...."


"Nah, siapa gadis itu?" tanya Fariz.


"Gak tau yang mana Mas, karna gak cuma satu yang udah Uwais tolak,"


"Hah, laku juga adik mas ini, nyampe banyak nolak cewek,"


"Iya Mas, kak Uwais itu banyak dikelilingi


cewek-cewek, dari kelas sepuluh sampai kelas dua belas, banyak yang mengidolakannya," sahut Arrida meyakinkan.


Bu Tania, pak Ridwan, dan Fariz saling menatap bergantian.


"Tapi kan bukan pacar,"


...🌸🌸🌸🌸🌸...

__ADS_1


Halo kak readers


Makasih udah setia baca yaaaa.... lopyuol. sehat selalu kak readers. 😘😘😘


__ADS_2