
"Kak ..." panggil Arrida sambil menjauhkan kepalanya dari dada Uwais. Tangan Uwais pun melepasnya.
"Apa? Hm?" tanya Uwais.
"Kenapa kenceng banget dag dig dug-nya?"
Uwais terkekeh.
"Soalnya, kamu nempel di dada aku ... emang hati kamu gak dag dig dug?" tanya Uwais kini.
"Nggak tuh." kata Arrida berbohong.
"Coba sini aku denger." kata Uwais mendekatkan kepalanya di depan dada Arrida.
"Aish, jangan ambil kesempatan yaaa!" kata Arrida sambil menyilangkan kedua tangannya di dada. Uwais terkekeh. Lalu mengacak-acak pucuk kepala Arrida dengan sangat gemas.
πΌ
"Hai, Da, Bang Wais!" Tiba-tiba seseorang menyapa mereka ketika mereka sedang makan di gerbong makan kereta/restorasi (kantin). Dia adalah Andri.
"Andri?" kata Arrida terkejut. Uwais hanya menatap cowok itu. Mereka sedang duduk bersebelahan sambil menikmati makanannya.
"Tadinya, aku gak yakin kalo itu kalian, tapi setelah dilihat dari deket, ternyata dugaanku bener." kata Andri sambil duduk di hadapan Arrida dan Uwais. Ia membawa secangkir capuccino hangat.
"Jadi, kamu udah lihat kita?" tanya Arrida.
"Iya, waktu kalian jalan mau kesini, aku ada di dua gerbong dari gerbong kantin."
"Oh, kok kita gak lihat kamu ya?" tanya Arrida lagi.
"Karna posisiku membelakangi kalian waktu jalan, dan aku ngelihat kalian pas ke kantin"
"Hmm... gitu ya" kata Arrida .
"Kamu pulang juga, Ndri? liiburan ya?" tanya Arrida sekali lagi. Uwais hanya diam, ia sedang menghabiskan makanannya.
"Iya, mumpung liburan semester, Da, kangen ma rumah"
"Hmm, kalo gitu sama,"
"Bang Wais juga?"tanya Andri pada Uwais.
"Aku cuma nganter Arrida, paling beberapa hari aja di rumah, trus pulang, soalnya mau ngurus praktek lapangan." jawab Uwais.
Andri mengangguk.
"Kamu mau makan juga, Ndri? Aku pesenin ya ...." tanya Arrida.
"Gak, ga usah, ini udah capuccino kedua ku, jadi perutnya udah ga nyaman buat makan"
"Oh ya uddah." kata Arrida sambil memakan suapan terakhirnya.
Selama satu semester ini, Andri cukup sering bertemu dengan Arrida dan Uwais, bahkan beberapa kali, dia suka ke resto sekedar menikmati capuccino hangat kesukaannya. Jadi, mereka bertiga terbilang cukup dekat.
"Da, kamu masih suka kontakan ma Nana Hani, kan? Gimana kabar mereka?" tanya Andri.
"Baik, ni ntar kita juga mau ketemuan."
Andri mengangguk.
"Mmm ... Mereka cerita sesuatu gak, Da?" tanya Andri seperti memastikan sesuatu.
" Cerita apa?" tanya Arrida.
"Yaaa apa aja gitu,"
__ADS_1
"Ya, banyak hal lah yang kita ceritain, kenapa?" tanya Arrida penuh tanda tanya.
"Eh, nggak, gak ada apa-apa."
"Jangan bo-ong!"
Andri hanya terbahak tanpa ada niatan menjelaskan.
Dan akhirnya mereka bertiga pun mengobrol lumayan lama di gerbong makan.
πΌ
Arrida dan Uwais kembali ke gerbong mereka. Sementata Andri pun kembali ke kursi di gerbongnya.
"Kak, besok kalo liburan udah selesai, aku kembali ke kampusnya ama Andri aja ya, gimana? boleh kan?"
"Apa!" Uwais mengeryitkan keningnya. Itu bukan pertanyaan, tapi lebih pada penekanan rasa tidak percayanya. Ia tidak menyangka bahwa gadisnya memiliki pemikiran seperti itu.
"Kenapa? Gak boleh ya ... Kakak kan udah mulai sibuk dengan praktek lapangan, jadi, kakak gak perlu jemput aku, lagian capek lho kak bolak balik."
"Gak boleh ... Pokoknya aku jemput."
"Kakak cemburu yaaa?" Arrida menggoda Uwais.
"Gak usah bercanda, Ar." Uwais kembali ke mode normal.
"Iya iya, nanti, aku sendiri aja gimana, biar kakak ga perlu repot bolak balik."
"Aku gak pernah merasa repot kalo itu untukmu."
Arrida tersenyum penuh keharuan dan kebahagiaan.
πΌ
Uwais tersenyum saat menatap gadis kesayangannya itu. Gadis itu sedang tidur dengan kepala menempel kaca jendela kereta. Lalu ia memberi sebuah bantal agar Arrida bisa bersandar dan tidur lebih nyaman. Tak lupa ia menyelimuti gadis itu. Sebelumnya Uwais memang sudah memesan dua bantal dan selimut. Tak berselang lama, Uwais pun ikut tertidur di sampingnya.
Oh, lihatlah wajah cowok pujaannya itu saat tidur, benar-benar menggemaskan. Senyum indah terbit di wajah Arrida, karena baru pertama kali ini dia melihat Uwais tidur dalam keadaan yang fresh. Dulu ia pernah melihatnya tidur, namun saat itu Uwais dalam keadaan sakit, jadi yang terlihat hanyalah wajah pucatnya.
"Ya Ampun, masih tampan aja ni orang walau sedang tidur, kok gak luntur sih itu tampannya, malah jadi cute, gini, aduh, bikin hati cenat cenut ini mah" gumam bathin Arrida.
Perlahan, tangan Arrida terulur, ia mengusap lembut pipi Uwais yang bersih.
Gep
Satu tangan Uwais menggenggam tangan Arrida yang sedang mengusap lembut pipinya. Arrida terkejut. Ia jadi kalang kabut. Salah tingkah.
"Tidurlah, gak usah merhatiin terus wajahku, ntar malah kamu jadi gak bisa tidur," kata Uwais tanpa membuka matanya. Tangannya masih menggenggam erat tangan Arrida.
Arrida menutup matanya rapat-rapat, dengan senyum kikuknya, ia merasa malu, seperti maling yang ketahuan aksinya.
"Maaf membangunkan kakak, abis wajah kakak cute banget kalo lagi tidur, jadi pengen megang."
"Hmm, aku tau," kata Uwais sambil menyipitkan matanya menatap gadis kesayangannya itu.
"Eh" Arrida jadi merona.
"Udah tidurlah!" perintah Uwais dengan nada serak bangun tidur, dan itu terdengar lebih seksi.
Arrida menurut, ia kembali menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursinya. Lalu memejamkan matanya. Namun kemudian kepalanya tiba-tiba ditarik pelan oleh tangan Uwais, agar posisinya bisa bersandar di lengan kekarnya.
"Tidurlah dengan nyaman!" kata Uwais, matanya masih terpejam, dan tangannya masih menggenggam tangan Arrida.
Arrida tersenyum, ia memejamkan matanya, menikmati tidur bersandar di lengan kekar milik cowok tampan pujaannya itu. Hening beberapa saat.
"Apa kakak sudah tidur?" tanya Arrida dengan mata masih terpejam.
__ADS_1
"Hmm" jawab Uwais singkat.
"Eh, mana ada sudah tidur bisa jawab."
Uwais tersenyum tipis. Merasa lucu.
"Kamu gak bisa tidur, hm?" tanya Uwais akhirnya membuka mata lalu menoleh ke arah gadis kesayangannya itu.
Arrida mengangguk pelan. Entah kenapa rasa kantuknya itu tiba-tiba saja menghilang, setelah Uwais menggenggam tangannya. Ada kehangatan menjalar di tubuhnya. Bahkan getaran indah di hatinya semakin terasa.
"Kenapa?"
"Karena hati aku cenat cenut."
Uwais tertawa kecil mendengar jawaban Arrida.
"Kok kakak malah ketawa?" tanya Arrida dengan mode cemberut. Ia merasa sedikit tidak nyaman karena Uwais menertawakannya.
"Kamu lucu"
"Aku serius kak, mana bisa aku tidur dengan tangan digenggam kayak gini ... Ngantuk ya jadi ilang."
Uwais tersenyum sambil menyentil pelan gadis kesayangannya itu.
"Oh ya? Dulu yang tertidur sambil kupegang tangannya saat aku sakit siapa? sampai gak nyadar ada yang mindahin ke sofa?"
"Hehehe" Arrida nyengir.
"Udah, tidurlah, buat kamu nyaman, ya" kata Uwais sambil melepaskan genggaman tangannya, kemudian ia mengusap pelan pucuk kepala gadis kesayangannya itu.
Arrida menurut. Sementara Uwais kembali bersandar di sandaran kursinya. Lalu memejamkan matanya. Ia melipat kedua tangannya di dadanya.
Tiba-tiba, satu tangan Arrida melingkar di lengan Uwais. Seakan memeluk lengan kekarnya. Kepalanya sengaja ia sandarkan di lengan Uwais, kemudian ia ndusel-ndusel kan di lengan cowok pujaannya itu, bagaikan anak kucing mendusel di induknya. Uwais hanya tersenyum, membiarkan apa yang dilakukan gadis kesayangannya itu.
"Tidurlah, Ar! " perintah Uwais lembut. Tangannya kembali menggenggam tangan Arrida.
"Hmm" sahut Arrida tanpa merubah posisinya. Hangat. Nyaman. Tenang.
...πΈπΈπΈπΈπΈ...
...Makasih kakak readers...
...Makasih udah setia mampir n baca kisah Arrida dan Uwais sampai sejauh ini...
...Makasih atas dukungannya, like, favorit n kommentnya...
...Sehat selalu ya kakak readers...
...Hatiku Padamu Kak readers pake banget......
...Semoga kak readers tetap suka dan terhibur yaaa...
...π₯°π₯°π₯°ππ»ππ»ππ»πππ...
πππππππππππππππππ
...Oiya kakak readers mampir yuks karya: kak Ria Aisyah...
...Novel bagus neh... punya temenku ... pokoknya kereeeen pake banget.... jangan lupa mampir yaaa π₯°πππ»ππ»ππ»...
...Happy reading yaaa ππ»π₯°π...
__ADS_1
,πππππππππππππππππ