Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
125. Dilamar malah bingung


__ADS_3

"Allohu Akbar! Ya Alloh ...!" Arrida terkejut. Ia menutup mulutnya, ketika melihat sebuah kotak cantik berada di atas meja di kamar.


To: Arrida-ku


Semoga manfaat ya


Itu tulisan yang tertera di kotak tersebut. Arrida segera mengambil kotak itu kemudian keluar dari kamar mencari sosok yang ada dalam pikirannya saat ini.


"Kak!" panggilnya ketika melihat Uwais baru saja dari pantry mengambil segelas air putih hangat.


"Eh, kenapa keluar lagi? Butuh sesuatu?β€œ tanya Uwais saat Arrida ada dihadapannya.


"Ini! Makasih banyak, ya," kata Arrida sambil memperlihatkan sebuah kotak di tangannya.


"Oh," Uwais tersenyum melihat kotak yang ada di dalam genggaman tangan Arrida.


"Aku buka ya, Kak!" kata Arrida penuh semangat. Tangannya membuka kertas yang membungkus kotak tersebut. Sebuah ponsel.


"Maaf ya, baru bisa ngasih, semoga manfaat! Aku baru sempet beli kemaren ... Aku titip Lani buat nyimpen di kamar! Maaf, seharusnya bisa digunakan tadi pas jalan-jalan," jelas Uwais.


"Gak papa, kak, soal foto-foto, kan, seharian tadi, hape kakak malah aku yang pegang!"


Uwais tersenyum.


"Pantesan, Lani diajak beli hape dari kemarin nolak terus," kata Arrida sambil mengingat sesuatu.


"Kenapa gak ngajak aku?" tanya Uwais.


"Karena pasti kakak yang beliin, aku pengen beli dari uangku! Eh, taunya kakak kakak juga yang beliin!" kata Arrida setengah cemberut.


"Tapi gak papa kan?" tanya Uwais lagi.


"Emm, gimana kalo aku bayar? Aku ganti uangnya kakak! Kalo masih kurang, bayarnya nyicil ya, abisnya, ni hape kayaknya mahal deh!"


"Boleh tapi gantinya jangan pake uang,"


"Mm? Trus pake apa?"


"Pake cinta kamu!"


"Itu kan udah aku kasih buat kakak, aku udah gak punya stok lagi!" kata Arrida kemudian tertawa kecil.


"Kalo gitu, hati kamu!"


"Itu juga udah, hatiku padamu, Kak!"


"Kalo gitu hidup kamu!"


"Wohhoyyy ... Beli hape berasa jadi tumbal!" komentar Arrida.


Uwais terbahak. Ia mendekat beberapa senti ke hadapan Arrida.


"Kalo gitu ini aja deh!" tunjuk Uwais pada kening Arrida. Ia menggunakan telunjuk tangan kirinya, karena tangan kanannya sedang memegang gelas. Gadis itu menggeleng cepat. Uwais tersenyum, padahal beberapa kali ia pernah mencium pucuk kepala Arrida, dan gadis itu tidak menolaknya. Dia juga pernah mencium kening Arrida ketika gadis itu dalam keadaan tidak sadar karena pengaruh obat bius dari Bryan.


"Kalo ini?" tanya Uwais sambil menunjuk mata Arrida. Gadis itu mulai tak karuan. Ia masih menggeleng.


"Kalo ini?" tanya Uwais lagi sambil menunjuk pipi Arrida. Gadis itu menggeleng lagi dengan sangat cepat. Ia menahan nafasnya. Canggung.


"Ini?" tanya Uwais lagi sambil menunjuk hidung Arrida. Wajahnya sudah semakin dekat dengan wajah gadisnya itu. Hingga Arrida kebingungan, namun ia masih menggelengkan kepalanya. Nafasnya mulai tak beraturan. Hatinya berdebar kencang.


"Kalo ini?" tanya Uwais, kali ini menunjuk bibir Arrida.


"Eh," Arrida tercekat. Ia langsung menggeleng lagi dengan sangat cepat dan canggung. Nafasnya tertahan. Ia kesusahan menelan salivanya. Tubuhnya mundur beberapa langkah hingga mengenai dinding. Tulang-tulangnya terasa lepas dari sendinya.


Uwais sengaja makin mendekatkan wajahnya, hidungnya hampir menyentuh hidung Arrida.


"Em, e, i-iya, aku bayar, tapi ka-lo udah nikah ya!" kata Arrida sedikit terbata. Kedua tangannya menahan dada bidang milik Uwais. Padahal, mereka sudah pernah saling berdekapan, tapi, entah kenapa, rasa yang hadir saat ini, sangat tak biasa dan tak karuan. Arrida benar-benar salah tingkah, dan Uwais sangat menikmati kegugupan gadis kesayangannya itu.


"Aku akan tagih ya, Cinta, kalo udah nikah! Tiap hari, tiap jam, tiap menit, tiap detik, dan gak boleh nolak!" pintanya tegas.


Arrida mengangguk cepat.


Uwais tersenyum merasa sangat lucu dan menggelikan. Ia sungguh tidak tahan untuk tidak menggoda gadis kesayangannya itu.


"Udah, tidur sana! Besok kan mau pindahan."


"I-iya!" kata Arrida sambil menganggukkan kepalanya cepat, "Eh, itu air hangat ya, Kak? Aku minta dikit ya!" pinta Arrida sambil mengambil gelas yang berisi air hangat, yang ada di genggaman tangan Uwais, kemudian ia meneguknya tiga kali.


"Makasih, ya!" ucapnya sambil menyerahkan kembali gelas yang masih ada sisa air hangat setengahnya itu ke tangan Uwais. Lalu ia melangkah pergi menuju kamarnya, meninggalkan Uwais yang menggelengkan kepalanya sambil tersenyum gemas melihat tingkah gadis kesayangannya itu.


🌼🌦🌼


"Kakak jahat, aku kan jadi gak bisa tidur!"


Arrida mengirim pesan untuk pertama kalinya kepada Uwais dengan ponsel barunya.


"Kenapa? Masih deg-degan? Udah, nggak usah dipikirkan, ntar malah aku tagih sekarang lho," balas Uwais.


Arrida: "Tapi aku jadi mikir, Kak, apa aku nikah muda aja ya? Kasihan Kakak, nunggunya kelamaan."

__ADS_1


Uwais: "Hahaha, sudah, tidur! Gak ada yang ngajak nikah sekarang2! Gak usah banyak pikiran, Cinta, tadi aku cuma usilin kamu aja."


Arrida: "πŸ˜’πŸ˜’πŸ˜’"


Uwais: "πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜"


Arrida: "Ish"


Uwais: "I love you, Cinta, mimpi indah ya"


Arrida: "πŸ˜ͺπŸ˜ͺπŸ˜ͺ😴😴😴"


🌼🌦🌼


"Kak, bagaimana ini? Kata Bunda, besok yang mau dijodohin dateng ke rumah, kakak gimana? Kapan mau dateng?"


Arrida mengirimkan pesan dua hari pasca lebaran.


"Kak aku bingung ini,"


Ini chat di hari H kedatangan orang yang akan dijodohkan oleh ayah dan bunda menurut versi Arrida.


"Kak, aku harus bilang apa? Apa bilang aja kakak juga mau dateng, ya?"


"Kak, katanya kakak udah bilang bunda mau dateng, kok aku jadi bingung sendiri? "


"Kak, aku belum tenang ini,"


"Kakak jangan nyantei dong."


"Kakak serius kan ma aku?"


"Kak, gimana ini, aku disuruh dandan yang cantik, bunda ada-ada aja, aku kan ingin dandannya cuma buat kakak,"


"Apa aku gak usah dandan ya? Tapi entar bunda ma ayah marah,"


"Kak maaf ya, akhirnya aku dandan, walaupun cuma bedak dan sedikit lipstik di bibir, gak menor juga,"


Uwais hanya tersenyum dan menggeleng membaca beberapa pesan di aplikasi chat berwarna hijau miliknya. Ia sengaja tidak membalasnya. Karena semalam, keduanya sudah berbincang.


"Gak usah khawatir, Ar, aku pasti dateng,"


"Kapan?"


"Besok!"


"Barengan dong ma dia?"


"Kakak dateng pagi sore atau malam?"


"Sesiapnya, itu bunda nyiapin acaranya kapan?"


"Sore!"


"Ya, udah, aku dateng sore!"


"Eh, tapi kakak gak akan buat keributan, kan?"


"Hahaha, Cinta Cinta, kamu terlalu banyak berpikir, kamu siap-siap aja!"


"Tapi, bener ya kakak dateng, ntar biar aku bilang saat itu juga kalo aku pinginnya kakak,"


"Hahaha, iya-iya Cinta, apapun lah buat kamu,"


"Kok aku jadi berasa meranin tokoh di drama ya?"


"Gak akan ada drama, Ar, gak usah ngayal,"


"Ish, aku berasa deg-degan, aku akan perjuangin kakak besok dihadapan keluarga,"


"Hahaha, udah, kamu tidur sana! Jangan banyak mikir, kasihan otak kamu, terlalu banyak bekerja seharian ini!"


"Ish, Kakak ni! Ya udah, pokoknya besok bener ya kakak datang,"


"Iya, Cinta,"


ltulah percakapan yang Arrida dan Uwais lakukan semalam. Arrida yang masih cemas dan bingung. Sementara Uwais cuek, santai dan merasa lucu.


🌼


"Dek, jangan ngelamun mulu di kamar, tuh calonnya udah dateng!" kata Adnan, dia memang sengaja masuk ke kamar Arrida atas perintah bu Sofia, meminta agar Arrida segera turun. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore.


"Yang bener, Bang?"


"Iya!" jawab Adnan singkat.


"Tampan?" tanya Arrida.


"Banget."

__ADS_1


"Sama kak Uwais tampan siapa?"


"Dia." Adnan terkekeh. Padahal ia sudah tahu cerita yang sebenarnya dari bu Sofia.


"Yang bener, Bang? Gagah orangnya?"


"Iya, tampan, gagah, mempesona! Abang kalo cewek juga, gak bakal nolak dia ... Walaupun, sebenernya, abang lebih tampan dan gagah dari dia!" kata Adnan terkekeh.


"Abang serius dong!"


"Serius, Dek! Ya udah, ayok turun, kamu pasti terpesona lihat dia!"


"Tapi, Bang, Rida gak enak, Rida kok ngerasa ngehianatin kak Uwais ya."


"Hahaha, udah turun, lihat sana! Kamu pasti gak akan nyesel!"


"Yah, Bang, ntar, Rida hubungi kak Uwais dulu, dari tadi di telfonin gak diangkat, dikirimi pesan gak dibales!" gerutu Arrida.


"Udah, ayok!" kata Adnan sambil menarik lengan Arrida. Kemudian mereka pun turun dan segera menuju ruang tamu.


"Ini dia putrinya," kata Adnan, seakan memperkenalkan Arrida pada keluarga calon tunangannya.


"Hah?" Arrida terkejut. Ia mematung sesaat, kemudian memperhatikan semua orang yang ada di ruangan itu.


"Kakak, om Ridwan, Tante Tania, mbak Fika, mas Fariz?" kata Arrida mengabsen. Ia masih bingung dan tak percaya. Otaknya masih bekerja keras mencerna apa yang sedang terjadi.


"Ini belum diabsen, Da," kata Fika membuyarkan kebingungan Arrida, "Ini, istrinya mas Fariz, mbak Rara dan ini si kembar Aulia dan Tsania, putri-putrinya mas Fariz!" lanjutnya memperkenalkan tiga orang yang masih asing bagi Arrida, karena memang hari ini adalah pertama kalinya mereka bertemu.


"Jangan lupakan kami, Da," kata Arman yang baru masuk ke dalam ruang tamu, sebelumnya Arman, Kirno dan Andika duduk santai di teras.


"Eits, kami juga," kata Nana masih dari arah teras. Ia masuk ke ruang tamu bersamaan dengan Hani, Roni, Andri, dan Asep.


Arrida menutup mulutnya karena terkejut, bahagia, dan tak percaya jika semua orang-orang yang dia sayangi datang di waktu bersamaan. Tapi sejurus kemudian, dia melirik Uwais, menatap dengan berjuta pertanyaan. "Ada apa ini? Bagaimana bisa?"


Bu Sofia memahami keadaan Arrida, ia bisa membaca kebingungan yang terjadi pada anak gadisnya.


"Nak, ini yang selama ini bunda dan ayah mau jodohkan!" kata bu Sofia sambil memegang pundak Arrida. Ia menunjuk pada lelaki yang terlihat sangat tampan. Arrida memperhatikan penampilan Uwais. Ah, kemeja itu, kemeja yang diberikan Arrida kepadanya sebagai hadiah ulang tahun.


Arrida melirik bu Sofia, ia masih bertanya-tanya.


"Dek, kamu kan gak pernah nanyain siapa orangnya, kan?" kata Adnan.


"Iya, Nak, ini orang yang dateng sekitar empat tahun lalu, minta ijin sama ayah untuk menjadikan kamu masa depannya, dan ayah sudah mengijinkannya." terang pak Arthur.


"Iya, waktu itu dia baru lulus sekolah," kata bu Sofia, "Dan dapet surat dari kamu!" bisiknya kemudian di telinga Arrida.


"Ya Alloh!" Arrida menutup mulutnya, ia masih tak percaya dengan semua yang terjadi.


"Udah, sini duduk!" bu Sofia menarik tangan Arrida agar duduk di sofa.


"Nah, kamu sekarang kan udah lihat dia, kamu mau gak sama dia?" tanya bu Sofia. Ia ingat, semalam ia berkata pada Arrida: "Dilihat aja dulu, jika gak mau gak usah, jika mau, ya jadi lamarannya,"


Arrida menatap Uwais yang dari tadi menatap ke arahnya sambil tersenyum.


"Ah sepertinya kakak mentertawakan ku selama ini, mentertawakan kebingunganku, eh, nggak, bukan cuma kakak, tapi bunda, ayah ma bang Adnan, hmmmh," gumam bathin Arrida.


...🌸🌸🌸🌸🌸...


...Makasih kakak readers...


...Makasih udah setia mampir n baca kisah Arrida dan Uwais sampai sejauh ini...


...Makasih atas dukungannya, like, vote, comment dan favoritnya...


... Sehat selalu ya kakak readers...


...Hatiku Padamu Kak readers pake banget......


...Semoga kak readers tetap suka dan terhibur yaaa...


...πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ˜πŸ˜πŸ˜...


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Hai kak readers mampir juga yuk, novel sahabat literasi ku, ini novel keren banget 😘😘😘


Judul : Hei Gadis Berkacamata?


Author: Putri Nilam Sari


Blurb


Perjalanan Eisha si gadis berkacamata dalam merubah penampilan dan menggapai impiannya dibantu Adnan seorang pria misterius dan bersikap dingin serta bermasalah di lingkungan nya.


Namun benih cinta yang tumbuh diantara mereka belum sempat mekar karena kesalahpahaman dan kejadian tak terduga.


Hingga Pertemuan tak disangka kembali memulai kisah yang belum usai, namun bagaimana dengan takdir yang memberikan kejutan bagi mereka, akankah kisah mereka berakhir bahagia??


__ADS_1


Happy reading yaa😘😘😘


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


__ADS_2