
"Benar itu Wais?" Pak Ridwan tak percaya dengan apa yang diceritakan oleh pak Arthur. Ia juga merasa bangga terhadap anak bungsunya itu.
"Iya Wan, kini aku semakin yakin, aku gak salah karena mengijinkan Uwais untuk bersama Arrida, apalagi ternyata dia anakmu. Segala kebaikan dan sikap suka menolongnya rupanya berasal dari kamu, Wan" kata pak Arthur penuh keyakinan.
"Ah Arrida, ternyata gadis cantik itu anak kalian ya... pantesan waktu pertama melihatnya aku juga seperti melihat wajah kalian... beberapa kali dia juga menolong anakku" Kata Pak Ridwan, dia juga mengagumi sosok Arrida.
"Tidak, Uwais lah yang beberapa kali menolong anakku" kata pak Arthur membela.
"Hahaha... mungkin memang mereka ditakdirkan untuk saling menolong" kata pak Ridwan sambil tertawa.
"Seperti kamu menolong aku" kata pak Arthur , ia ingat betul betapa banyak yang sudah dilakukan oleh pak Ridwan kepadanya. Termasuk mendonorkan ginjalnya.
"Tidak, kamulah yang banyak menolong aku" pak Ridwan pun memujinya, ia juga ingat betapa banyak orang tuanya pak Arthur membantu pak Ridwan hingga pak Ridwan bisa menyelesaikan kuliahnya.
Yah masa lalu memang tinggal cerita namun bisa menjadi kenangan dan diambil hikmahnya.
"Mungkin anak-anak kita memang ditakdirkan untuk saling tolong, sama kayak bapak-bapaknya" Bu Tania berkomentar membuat tawa hadir diantara mereka.
"Ya sudah, kalau gitu, kita tidak perlu bersusah payah menjodohkan mereka, karena ternyata, mereka sudah saling suka" kali ini pak Arthur memberi komentar.
"Ah benar, senang rasanya kita akan jadi besan" pak Ridwan ikut berkomentar.
"Tapi Yah, Bun...." Uwais seperti hendak menyanggah sesuatu
"Iya iya Uwais... kamu akan ngelamar Arrida langsung kan kalau kamu udah sukses, sekarang biar jalani seperti ini dulu, begitu kan?" pak Arthur langsung paham maksud Uwais.
"Tenang aja, ntar kalo kamu udah siap, baru kita launching ya" kata Bu Sofia membuat Uwais tambah yakin.
Uwais pun tersenyum sebagai rasa terimakasihnya.
"Oh iya, kamu sengaja pulang, karena besok acara perpisahan sekolah Arrida kan?" tanya Bu Sofia kembali
"Iya Bun... Uwais udah janji, kalau nilai dia bagus, Uwais akan pulang"
"Wah kamu memang motivator handal, pantesan dia semangat banget belajarnya, ternyata biar kamu pulang" goda pak Arthur. Padahal yang sebenarnya, Uwais pulang akan mengantar Arrida dan keluarganya untuk mengurus pendaftaran di universitas B di kota X.
πΌπ¦οΈπΌ
Sudah sejam yang lalu Uwais menunggu di gazebo dekat GOR sekolah, hingga akhirnya acara perpisahan selesai. Dan saat ini, Arrida bersama kawan-kawannya sedang berfoto ria bersuka cita.
"Sejak kapan kakak disini?" sapa Arrida ketika dia keluar dari GOR sekolah. Ia melihat cowok tampan pujaannya itu sedang duduk manis memainkan ponselnya.
"Halo cantik" Sapa Uwais penuh pujian pada gadis kesayangannya itu, yang saat ini memang terlihat berbeda, dia mengenakan kebaya, dengan wajah yang dirias, dengan polesan makeup yang simpel, sangat anggun dan cantik. Uwais segera menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya.
"Aah... bukannya aku udah cantik dari dulu ya?" Arrida sengaja sok percaya diri
"Makin cantik" kata Uwais singkat.
Arrida malah terkejut. Dia pun mengerjapkan matanya berkali-kali. Tersipu malu.
"Benarkah?" kata Arrida sambil mendekatkan wajahnya pada Uwais.
"Aisshhh... anak ini malah senengnya menggoda" kata Uwais yang langsung memalingkan mukanya ke arah lain sambil tertawa kecil.
"Katanya cantik.... kok malah ngelihatnya ke arah lain??" Arrida berengut.
Uwais segera menoleh, ia tidak ingin gadis itu akhirnya cemberut.
"Jangan menggoda, kamu terlalu cantik" kata Uwais sambil menatap kedua mata Arrida yang sangat indah.
__ADS_1
Arrida mulai tersenyum kembali, tatapannya masih sengaja ingin menggoda Uwais. Beraksi dengan mata yang sengaja di kedip- kedipkan.
"Khaan, kamu sengaja" Uwais mengulum senyumnya. Satu telunjuknya menyentuh kening Arrida lalu mendorongnya perlahan agar tidak terlalu dekat dengan wajahnya.
"Tapi suka kan?" Arrida masih iseng menggoda Uwais
"Suka... suka banget... tapi kalo kamu sengaja melakukannya lagi, aku cium lho"
"Waahh" Arrida langsung menutup mulutnya.
"Ck... ternyata cowok tampanku sudah mulai vulgar" kali ini Arrida menyipitkan matanya menatap Uwais.
"Haha, ini lagi, ga usah natap gitu Ar..."
"Kenapa? horor ya?"
"Iya" jawab Uwais singkat sambil tersenyum
"Tapi lucu kan"
"Iya"
"Menggemaskan juga kan"
"Iya"
"Jadi kakak suka yang mana?"
"Semuanya"
"Woow"
"Hishh..." Arrida menepuk lengan Uwais gemas.
"Jadi, kakak udah dari tadi disini?" tanya Arrida kemudian.
"Udah sejam yang lalu ...Selamat ya... udah lulus"
"Makasih kakak ... semua berkat doa kakak! Oh iya, makasih ya kak, udah nepatin janji buat pulang, tapi aku bukan lulusan terbaik kayak kakak, nilaiku... masih kurang tiga angka dari yang pertama"
"Itu sudah sangat baik, udah jadi 10 lulusan terbaik kan? Ujian itu yang penting adalah belajar dan doanya, soal hasil... Alloh lah yang memberikannya"
Arrida mengangguk.
"Sini! kita foto berdua, waktu aku lulusan, kita gak punya foto bareng" Uwais memberi ide.
Akhirnya mereka foto berdua. Hanya mengambil tiga kali gambar, dengan wajah yang ceria dan bahagia.
"Udah siap??? Go to campus...." Tanya Uwais pada gadis kesayangannya yang sedang memperhatikan foto yang ada di dalam galeri ponselnya.
"InsyaaAllah! Siap! Udah gak sabar, dari dulu udah pengen kuliah disana, apalagi sekarang ada kakak, makin semangat"
Uwais tersenyum gemas.
"Mana Hani dan Nana?"
"Tuh!" Tunjuk Arrida pas disaat Nana dan Hani datang mendekati mereka.
"Wah kalian benar-benar terlihat berbeda" kata Uwais saat Nana dan Hani tepat berada di hadapannya
__ADS_1
"Kenapa kak ....? makin cantik ya" kata Nana tersipu-sipu.
Uwais mengangguk, mengiyakan. Dia setuju dengan apa yang dikatakan Nana.
"Tapi Arrida tetap yang tercantik" Kata Uwais memberi pendapat.
"Aih... jadi nyesel kesini ya Na" celetuk Hani
"Hmm bener banget, kita tinggalin mereka aja yuk" kata Nana sok cemberut. Ia sengaja menarik lengan Hani untuk meninggalkan Arrida dan Uwais.
Arrida dan Uwais tertawa. Mereka merasa senang bisa menggoda Nana dan Hani.
"Hei, gak usah gitu" Arrida menarik kembali tangan Nana dan Hani. Kini mereka berempat yang tertawa.
"Selamat ya... kalian udah berjuang, udah lulus! kalian yang terbaik!" kata Uwais memberi selamat pada Nana dan Hani.
"Iya kak, makasih banget" kata Nana
"Iya... makasih atas doa dan dukungannya" Kata Hani, ia ingat, beberapa kali Uwais menitipkan pesan melalui Arrida untuk mendukung dan menyemangati dirinya dan Nana.
"Gak kerasa, masa putih abu-abunya udah dilalui" Uwais memberi komentar
"Iya, tiba-tiba udah tiga tahun aja, udah lulus aja, gak kerasa, tapi udah terjadi" Hani menyendu.
"Iya, terlalu banyak kisah yang sulit dilupakan" kata Nana yang juga dengan wajah sendunya.
"Hu um, bener banget" Arrida ikutan sendu.
"Iya Da, jadi inget pertama kali kita ketemu di GOR, trus daftar jadi anggota PMR, trus kamu hanyut gara-gara nungguin Nana di sungai..." kata Hani yang tiba-tiba disela oleh Nana.
"Hah, iya itu... itu pertama kalinya kak Uwais ngekiss kamu Da" Kata Nana sok keceplosan. Padahal dia memang sengaja melakukannya, penasaran ingin lihat reaksi Arrida dan Uwais.
Hani terkekeh. Ia membiarkan Nana berbicara tanpa di filter. Sementara Arrida dan Uwais terkejut mendengar penuturan Nana. Keduanya menelan salivanya dengan sangat berat.
"Itu RJP, Nana" kata Arrida segera menetralkan suasana.
"RJP rasa first kiss" celetuk Nana.
Ah, entahlah, ketika kembali mengenang masa itu, rasa malu-malu dan getaran aneh yang indah, saat ini terasa begitu jelas, seakan keduanya kembali merasakan apa yang dirasakan ketika itu. Jantung mereka berdebar hebat, ada desiran indah di aliran darah keduanya.
Arrida mematung. Ia mengingat kembali apa yang dirasakan saat itu. Malu namun bahagia. Terharu dan penuh syukur. Mungkin saat itu ia belum menyadari bahwa sebenarnya dia telah terikat hati dengan kakak tingkatnya. Uwais Asy- Syauqi.
Sementara Uwais hanya terdiam. Ia ingat betul perasaan itu, perasaan cemas dan tak ingin kehilangan. Lintasan peristiwa saat dirinya mencari, menemukan, menggendong dan menolong Arrida melalui RJP, serta rasa panik dan cemas yang begitu hebat yang sempat ia rasakan, membuat dirinya kalut. Saat itulah dia mulai menyadari bahwa dia telah jatuh cinta pada gadis itu. Arrida Lathifatunnisa.
...πΈπΈπΈπΈπΈ...
Makasih kakak readers udah mampir
Makasih udah baca
Makasih udah mendukung
Makasih juga like, favorit, vote dan komennya yaaa
Sehat selalu kakak readers
Semoga suka dan terhibur...
βΊοΈβΊοΈβΊοΈπ₯°π₯°π₯°ππ»ππ»ππ»
__ADS_1