Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
87. Uler dan buaya gila


__ADS_3

"Halo, kita ketemu lagi kan?" sapa Bryan pada Arrida dan Lani setelah selesai orientasi sore itu. Bryan sengaja mencegat mereka yang sedang berjalan keluar kampus.


"Bukannya dari tadi emang kita ketemu ya, Mas ... bahkan mas nya curi pandang terus pada dia!" kata Lani sambil menunjuk ke arah Arrida yang ada disampingnya dengan isyarat dagu.


"Lho, kamu lihat ya."


"Iya lah .... mas nya itu ngasih instruksi ke semuanya tapi yang dilihat fokusnya cuma satu orang! Hmm ... Senior macam apa ini?" kata Lani seakan merendahkan Bryan.


"Abis temenmu ini punya magnet yang luar biasa, jadi bikin aku pengen terus ngelihatin dia!"


"Hish, gak usah gombal ...!" kata Lani sebal.


Arrida hanya menarik nafas panjang. Sesekali tatapannya ia tujukan ke arah gerbang kampus.


"Kamu nunggu seseorang?" tanya Bryan pada Arrida.


"Hmm" jawab Arrida singkat.


"Halo adek ipar ...!" tiba-tiba terdengar suara genit dari arah belakang Arrida. Suara milik Laura. Dia memang sengaja datang ke gedung fakultasnya Arrida, ingin mencari perhatian dari Arrida yang menurutnya adalah 'adik Uwais'.


"Hadeuuh ... satu lagi ... kali ini uler ... mimpi apa ya semalam.. bisa ketemu uler ma buaya barengan gini" kata Arrida dalam hati. Ia menjuluki Bryan dengan sebutan 'Buaya', sementara Laura tetap dengan julukan 'uler'nya.


"Laura? Ngapain lo kesini?" tanya Bryan merasa aneh dengan kedatangan Laura di gedung fakultasnya.


"Mau ketemu adek ipar lah." jawab Laura cuek. Ia tidak terlalu peduli dengan Bryan, cowok yang pernah menjadi pacarnya selama tiga hari saja, yaitu setelah masa orientasi, awal mereka masuk perkuliahan. Mereka putus karena diketahui kalau ternyata Laura bukanlah satu-satunya yang menjadi pacar Bryan kala itu.


"Hah, siapa maksud lo?"


"Ya ini, Arrida, dia adiknya Uwais!"


"Tunggu!! Jangan bilang Uwais yang disukai Metha!" tebak Bryan. Dia ingat betul, Metha pernah menolak cintanya gara-gara dia menyukai Uwais bahkan mengakui Uwais sebagai pacarnya.


"Emang bener!"


"Uwais si penjual bakso itu?" tanya Bryan memastikan.


"Iya!!" Laura malas menanggapi.


Bryan masih tak percaya, dia memang tidak begitu mengenal Uwais, hanya saja mendengar nama Uwais, kebenciannya menggelora lagi, seakan harga dirinya runtuh karena label playboy nya begitu direndahkan saat menyukai Metha yang berani menolaknya disebabkan oleh seorang Uwais si penjual bakso.


"Sial!!! Kenapa lo harus jadi adiknya Uwais seh!" kata Bryan kali ini menggunakan kata 'lo' bukan lagi 'kamu'


Laura terkekeh puas.


Sementara Arrida dan Lani hanya diam mendengarkan keduanya berbicara.


"Ayo, Lan!"ajak Arrida sambil menarik lengan Lani meninggalkan keduanya. Ia ingin segera menuju gerbang, karena dia sudah melihat sosok yang sangat dirindukannya sedang melewati gerbang kampusnya.


Bryan hanya menatap kepergian Arrida dan Lani. Sekilas ia juga melihat sosok yang sangat dibencinya yaitu Uwais.


"Eh tunggu!" Laura berlari mensejajari Arrida dan Lani.


Dari jauh Uwais tampak mengerutkan keningnya. Seperti tidak nyaman melihat keberadaan Laura di dekat gadis kesayangannya.


Arrida tersenyum bahagia ketika sudah ada di hadapan Uwais. Senyumnya pun dibalas indah oleh cowok pujaannya itu. Ah, kenapa ada yang merasa curiga ya? Bryan ... dia yang dari tadi memperhatikan Arrida pergi hingga tiba di hadapan Uwais merasakan jika tatapan mata yang diberikan oleh Uwais pada Arrida bukanlah tatapan seorang kakak kepada adiknya. Tapi, lebih seperti seseorang yang sangat mencintai gadisnya.


"Hmmh... Dasar, Laura bodoh...! Mana ada seorang kakak natap adiknya kayak gitu ... playboy gak mungkin bisa diboongin!" Bryan bermonolog.

__ADS_1


🌼


"Kamu mau apa? Gak usah ngikutin kita!" kata Uwais pada Laura. Dia merasa risih, apalagi ketika Laura malah memilih berjalan di samping Uwais.


"Barengin calon suami ma adek ipar gue lah"


"Gak usah gila!" ketus Uwais.


"Emang gue udah tergila-gila ma elo." jawab Laura santai.


Akhirnya Uwais lebih memilih diam tidak menanggapi Laura hingga mereka tiba di resto. Selama berjalan, mereka hanya mendengarkan Laura berbicara sendiri, membanggakan dirinya. Seperti mengatakan andai kata Uwais bersama dengan Laura, maka mereka (Uwais dan Arrida) akan selalu bahagia, tidak perlu berjalan kaki jika ke kampus, bahkan tidak perlu bersusah payah berjualan bakso. Namun, mendengar itu, baik Uwais maupun Arrida tidak ada yang memberikan responnya. Sementara Lani hanya menggelengkan kepalanya, dalam pikirannya ternyata Laura yang tempo hari sempat diceritakan oleh Arin sepupunya memang orang yang angkuh dan semaunya sendiri.


 🌼


Mereka berempat kini berada di resto. Arrida, Uwais dan Lani langsung ke pantry. Arrida menyapa Arman, Andika, dan Kirno. Sementara Lani duduk santai di kursi yang ada di pantry. Sedangkan Laura lebih memilih duduk di kursi pelanggan. Ia memainkan ponselnya sambil menggerutu sendiri, bahkan terkadang terdengar umpatan keluar dari mulutnya.


"Mau pesen apa, Ra?" tanya Kirno, tadi dia memang diminta oleh Uwais untuk melayani Laura. Walaupun sebenarnya Uwais juga tahu kalau Kirno sangat tidak menyukai Laura.


"Gue gak pengen makan, gue cuma pengen Uwais!" jawab Laura penuh percaya diri.


"Ya udah, tapi kalo banyak pelanggan, lo pergi ya, biar tempatnya bisa dipakai yang lain"


"Iya ... Iya, bawel!!" Laura masih cuek dengan ponselnya.


Kirno pun hanya menggelengkan kepalanya, kemudian meninggalkan Laura. Hingga seperti biasanya, Laura akan pergi sendiri setelah bosan, karena Uwais yang selalu sibuk melayani pembeli.


🌼


"Dimana mbak Fika, Kak?" tanya Arrida, ketika masih di pantry.


"Ada di kamar, semalam dia demam!" jawab Uwais.


"Om Ridwan dan Tante Tania udah tau?"


"Belum ... Niatnya nanti kalau Mbak Fika mau bicara, jadi aku tau masalahnya, dan bisa jelas mau gimana-gimananya!"


"Oh ya uddah," Arrida pun mengangguk memahami keadaan Fika.


🌼


"Jadi apa tugas kalian buat besok?" tanya Uwais pada Arrida dan Lani, ketika mereka telah sholat Maghrib. Mereka sedang makan malam lesehan di taman belakang, tempat tempo hari Arrida mengerjakan tugas poster digitalnya.


"Besok kita disuruh bawa yang aneh-aneh, Kak!" gerutu Lani.


"Emang apaan?"


"Ini!" Arrida menyerahkan sebuah kertas, berisi tulisan tugas dari senior panitia PPKMB fakultas.


Uwais menerima kertas itu kemudian membacanya.


*Su**atu malam, Ratu Perak berjalan-jalan ke super market bersama pengawalnya, si Kembar Coklat. Mereka membeli berbagai minuman diantaranya: minuman yang dilindungi, teh gunung, teh hijau baru, dan minuman superhero. Tidak ketinggalan mereka juga membeli makanan berupa Permen Serigala, keripik cacar, kue waktu bagus dan makanan Singa Bergoyang, tak lupa mereka juga membeli buah Putri Salju dan buah yang memiliki jantung. Ketika pulang, mereka bertemu dengan Pocong Ijo dan itu membuat Ratu perak pingsan. Akhirnya si Coklat kembar memberikan keripik cacar dan kue waktu bagus agar si pocong ijo pergi. Setelah itu si Coklat kembar memberi air desa yang menggigit dan manis. Hingga akhirnya Ratu perak sadar. Setelah terbangun, Ratu perak tiba-tiba menginginkan keripik cacar. Karena keripik cacar sudah tidak ada, si Coklat kembar mencari sesuatu sebagai pengganti, dia membeli Spongebob goreng. Dan ternyata Ratu perak sangat menyukai Spongebob goreng* .


"Kakak paham?" tanya Arrida. "Kita harus menemukan makanan dan minuman dari cerita itu" kata Arrida kemudian.


"Iya kak, ada lima minuman, dua buah, dua coklat, enam makanan ringan dan jajanan! Pokoknya semua ada lima belas macam!" seru Lani.


"Ya udah, selesaikan makannya, nanti kita cari barangnya" usul Uwais.

__ADS_1


🌼


"Oh iya, kalian tadi ngobrol dengan senior kan? siapa itu?" tanya Uwais mencoba menghilangkan penasarannya yang sudah ada sejak dia menjemput Arrida di kampus. Dia ingat betul, cowok yang sempat mengobrol dengan Arrida tadi, pernah tiba-tiba memukul pipinya tanpa Uwais tau apa penyebabnya.


Ketika itu, Uwais sedang berjalan kaki menuju warung Cinta Pluto. Tiba-tiba sebuah motor berhenti, kemudian turun seseorang masih mengenakan helm menghampirinya. Ia langsung memukul wajah Uwais sebanyak tiga kali. Hingga Uwais sempat tersungkur.


"Tinggalkan Metha! Atau lo bakal dapet lebih dari ini!!" teriaknya sambil membuka kaca helmnya. Kemudian, dia pun meninggalkan Uwais sendirian menahan sakit di wajahnya akibat pukulan orang tersebut.


Uwais bingung. Bahkan dia sendiri tidak begitu mengenal siapa Metha. Ya, walaupun belakangan, diketahui kalau Metha itu adalah teman sekelasnya dan cowok itu adalah si playboy yang mengincar Metha dan mendapatkan penolakan darinya, karena Metha menyukainya. 'Dasar buaya gila'. Itu julukan yang sempat Uwais sematkan pada Bryan.


Lani tersenyum dengan pertanyaan Uwais, ia tahu kalau cowok yang ada dihadapannya sedang cemburu. Namun dia memilih diam, karena menurutnya, pembicaraan kali ini hanya ditujukan kepada Arrida.


"Nah, itu yang mau aku ceritakan ... dia itu yang namanya Bryan pake 'y', Kakak masih inget? yang ketemu waktu di rumah makan pantai, yang aku nabrak dia terus hapenya jatuh, lalu aku kasih nomer kakak ke dia?"


Uwais terkejut. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan orang tersebut dan sepertinya akan ada masalah dengan orang yang sepertinya "menyukai Arrida".


"Oh, jadi dia se-fakultas ma kamu?"


"Iya, Kak ... Oh iya, satu lagi, aku ketemu Andri, si vokalis band, temen sekelas ku waktu SMA, kakak masih inget dia?"


"Apa?!" Uwais tak percaya. Ia mulai merasa cemburu.


"Oh iya, Kak, kata Andri, Kakak pacar Arrida, wajah kalian mirip, dan katanya kalo mirip itu berarti jodoh dunia akhirat" celetuk Lani.


Uwais tersipu sambil melirik Arrida, hatinya lebih tenang mendengar apa yang disampaikan oleh Lani. Itu berarti Andri tidak akan macem-macem kepada Arrida, karena dia tau kalau Arrida adalah 'pacarnya'


"Terus, itu kenapa Laura ada di kampusmu?"


"Yaaa apalagi lah tujuannya, kalau bukan ngedeketin adiknya biar bisa mendapatkan kakaknya" jawab Arrida dengan nada menyindir.


Uwais menarik nafas panjang.


"Ya Tuhan, semoga si uler dan si buaya gila itu tidak akan mengganggu Arrida dan tidak akan menyebabkan masalah untuk hubungan kami" Uwais bermonolog dalam hatinya.


...🌸🌸🌸🌸🌸...


Makasih kakak readers udah mampir


Makasih udah baca


Makasih udah mendukung


Makasih juga like, favorit, vote dan komennya yaaa


Sehat selalu kakak readers


Semoga suka dan terhibur...


☺️☺️☺️πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»


*Oiya kakak readers mampir juga ya ke karya temanku... recommended banget nget.... karya: Nazwatalita ... pokoknya bagus banget....


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–



Happy reading yaaa

__ADS_1


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


__ADS_2