
"Arrida, mau gak?" tanya bu Tania membuyarkan lamunan Arrida.
Gadis itu terhenyak.
"Eh iya, Tan," tatapannya beralih pada bu Tania yang memanggil namanya.
Dengan perlahan ia menganggukan kepalanya, tanda dia menerima Uwais.
Senyum Uwais mengembang. Sementara yang lain tertawa.
"Kamu serius?" tanya bu Tania sengaja menggoda Arrida.
"Serius, Tan, pake banget!" kata Arrida cepat.
Pak Arthur dan pak Ridwan tergelak, yang lain pun ikut tertawa hangat.
"Ya udah ... Mm ... Alhamdulillah, saudaraku Arthur, langsung saja, tanpa pembawa acara, saya sebagai ayah dari Uwais Asy Syauqi datang ke sini bermaksud ingin menyambung silaturrahmi dengan meminta Arrida untuk menjadi istri dari anak kami, Uwais. Bersediakah, jika kita berbesanan?" tanya pak Ridwan pada pak Arthur.
"Alhamdulillah, dengan senang hati kami bersedia berbesanan dengan Anda, saudaraku, Ridwan, dan dengan tangan terbuka kami bersedia menerima Uwais sebagai menantu kami dan merestui Uwais menjadi suami dari anak kami Arrida Lathifatunnisa." jawab pak Arthur.
"Alhamdulillah," ucap semuanya yang ada di ruangan itu hampir bersamaan.
"Gimana Uwais? Bener, ini Arrida pilihan kamu?" tanya pak Arthur pada Uwais.
"Iya, Yah, dia Arrida yang sudah Wais pilih untuk menjadi tujuan hidup dan masa depan Wais!" jawab Uwais sangat meyakinkan.
"Kenapa kamu memilih dia?"
"Karena Wais mencintainya sejak pertama kali bertemu,"
"Kamu yakin akan selalu mencintainya?"
"Sangat yakin, Yah,"
"Kamu janji tidak akan menyakitinya?"
"Wais janji, Wais akan selalu berusaha membahagiakannya, Yah!"
"Dia anak perempuan ayah satu-satunya, kami menyayangi dan merawatnya dengan penuh kasih sayang, kami tidak pernah membiarkan dia menangis, kami selalu menjaganya agar jangan sampai sakit dan terluka, dan jika dia berbuat salah, kami selalu menasihatinya dengan cara yang baik," kata pak Arthur, membuat Uwais terdiam, mendengarkan dengan sangat serius.
"Kelak, jika dia sudah menjadi istri kamu, tandanya kami sudah menyerahkan padamu, mempercayaimu untuk menjaganya dengan penuh kasih sayang, membimbingnya dengan cara yang baik, bersabarlah padanya jika dia berbelok sikap, tanggung jawabmu untuk meluruskannya," jelas pak Arthur dengan nada yang sangat berat, seperti menahan tangis.
"Tugas dan kewajiban seorang suami itu gak gampang, di pundaknya memikul tanggung jawab yang besar, tanggung jawab di dunia hingga akhirat, paham, Wais?" tanya pak Arthur dengan pelupuk mata yang sudah berlinang.
"Apa kamu bersedia menerima anak ayah dengan segala kekurangannya?" ucap pak Arthur dengan cairan bening yang akhirnya keluar dari sudut matanya. Ia tidak pernah menyangka akan berada pada tahap ini, tahap dimana kelak ia akan menyerahkan anak gadis kesayangannya pada orang lain.
Suasana begitu hening dan penuh haru. Bahkan para wanita yang ada di ruangan itu sudah menangis mendengar penuturan pak Arthur, terdengar tarikan lendir dari hidung mereka, akibat menangis. Pun dengan Arrida, ada haru yang menyeruak, menelusuri relung hati seorang ayah yang tegas dan berhati lembut.
"InsyaaAlloh, Ayah, Wais akan menerima apapun Arrida, Wais akan menyayanginya sepenuh hati, menjaganya, membimbingnya dan berusaha untuk selalu membahagiakannya," ucap Uwais memberi ketenangan hati pada pak Arthur.
"Alhamdulillah, ayah pegang janji kamu, Wais!" ucap pak Arthur.
__ADS_1
Uwais mengangguk dengan sangat mantap. Ia mengusap air mata yang keluar dari sudut matanya.
"Arrida, kamu akan menjadi istri dari Uwais, bersediakah kamu untuk setia mendampingi Uwais dalam segala hal? Menerima segala kekurangannya? Menaatinya dalam syariat, mendukung dan mendoakannya?" tanya pak Arthur kini pada anak gadis kesayangannya.
Arrida mengangguk mantap.
"Alhamdulillah," ucap semuanya hampir bersamaan.
"Arrida, kalo anak papah, besok-besok berbelok sikap, gak boleh dipendam sendiri, apalagi bilang sama ayah bundamu, bilang sama kami, biar kami yang meluruskannya, kamu hanya cukup berlapang dada, dan mendoakannya, ya!" pinta pak Ridwan pada Arrida.
Arrida mengangguk lagi.
"Ya sudah, Uwais, kamu mau bilang sesuatu?" tanya pak Ridwan pada anak bungsunya itu.
"Papah, Mamah, maafkan Wais, belum bisa membahagiakan Papah dan Mamah, terimakasih sudah mengijinkan Wais meminang gadis pilihan Uwais. Doakan Wais agar bisa jaga amanah ini!" kata Uwais pada pak Ridwan dan bu Tania, yang kemudian mendapat anggukan dari mereka.
"Ayah, bunda, InsyaaAlloh Wais akan menjaga amanah ini, Wais seperti ini adanya, namun Wais selalu berusaha untuk membahagiakan lahir batin putri ayah dan bunda, dan akan selalu menjaga hidupnya, terima kasih atas segala amanah dan kepercayaan yang Ayah, Bunda berikan pada Wais, mohon doanya semoga Wais bisa selalu menjaga dan membawa semuanya di jalan yang Alloh ridhoi," kata Uwais kali ini pada pak Arthur dan bu Sofia dan mendapatkan anggukan dari keduanya.
"Aamiin," semuanya kompak mengaminkan.
"Dan, untuk Arrida Lathifatunnisa, Kakak begini adanya, hanya punya cinta untuk mendampingimu, dan punya kepercayaan padamu bahwa kamu akan selalu mendampingiku, bersediakah Cinta menjadi istriku kelak? Menjalani kehidupan bersama di dunia hingga akhirat?" kata Uwais dengan memanggil namanya sendiri tidak lagi dengan 'aku' tapi dengan kata 'kakak'.
Arrida mengangguk penuh haru. Air matanya menetes. Ia tak kuasa menahan rasa bahagianya. Ia mengiyakan semua yang dipinta oleh Uwais.
Uwais menampilkan senyuman terbaiknya. Begitupun dengan Arrida. Semua yang hadir di situ menjadi saksi bahwa keduanya telah melakukan lamaran, dan akan menuju jenjang yang lebih serius yaitu pernikahan. Kemudian prosesi itu diakhiri dengan penyematan gelang emas mutiara oleh bu Tania ke pergelangan tangan Arrida.
Selepas sholat Maghrib, semuanya menikmati acara ramah tamah, makan malam kemudian berbincang ringan. Orang tua Arrida dan orang tua Uwais duduk bersama di dalam rumah, sementara yang muda duduk berbincang di luar ruangan, di taman belakang.
"Selamat untuk kalian ya ... Sekarang udah semi resmi," kata Nana mengucapkan selamat. Arrida dan Uwais hanya tersenyum.
Uwais hanya mengangguk dan tersenyum.
"Berarti, kakak selama ini ngetawain aku ya kalo kita lagi bahas soal orang yang dijodohkan." kata Arrida sedikit cemberut.
"Mana ada aku ngetawain, aku hanya merasa lucu aja, tadinya aku mau cerita yang sebenarnya, tapi kata bunda biar jadi surprise buat kamu," cerita Uwais.
"Ish, bener-bener ya, tega banget pada ngerjain aku!" kata Arrida protes.
"Iya bener, abang juga baru tahu tadi malam dari bunda, dan yang bikin abang bangga, calon adik ipar abang ini, sudah mengantongi ijin dari ayah bunda untuk ngedeketin adik abang, salut abang sama kamu," kata Adnan sambil menepuk pundak Uwais.
Lagi-lagi Uwais hanya tersenyum sebagai jawabannya.
"Pantesan, ayah bunda ngebelain dan ngedukung banget, ternyata kamu emang gentle, Wais, sebelum macarin Arrida, terlebih dulu minta ijin ama ayah bunda, kok bisa ya kamu kepikiran sampai sana padahal baru lulus SMA, kan?" tanya Adnan.
"Karena, aku gak mau main-main, Bang, apalagi mainin perasaan anak orang, aku hanya ingin mencintai sekali selamanya, dan lagi, aku bukan ingin pacar, Bang, tapi ingin calon istri!" jawab Uwais.
"Wah, keren, gak pengen pindah ke lain hati gitu?" goda Adnan.
"Gak lah, Bang, satu cukup," tegas Uwais.
Arrida yang mendengarnya tersipu.
__ADS_1
"Lah, Abang kapan ma Hani mau serius?" tanya Arrida mengalihkan.
"Kapan, Yang?" tanya Adnan pada Hani, yang kemudian hanya mendapatkan senyuman darinya.
"Bentar lagi, doain aja, insyaaAlloh, dalam waktu dekat, kalo Hani siap, abang mau ngajak Hani nikah," kata Adnan penuh kepastian.
"Lho, ga nunggu Hani selesai kuliah, Bang?" tanya Arrida pada Adnan.
"Kamu mau, Han?" tanya Nana memastikan, tatapannya pada Hani menyelidik.
"Gak papa, biar halal, lebih baik, kan?" kata Hani sangat yakin.
"Waw, Ndri, kita kapan?" tanya Nana pada Andri.
"Kalo sekarang gimana?" goda Andri. Nana malah menepuk lengan Andri, tanda tidak setuju.
"Tunggu, kalo aku sekarang ngelamar Fika gimana?" tanya Arman tiba-tiba. Semuanya menatap pada Arman, termasuk Fika. Mereka semua tahu, jika Fika baru saja menyelesaikan masalahnya dengan Bobby. Dia yang sekarang, akhirnya resmi menyandang status sebagai seorang janda.
"Bang Arman serius? Gak bercanda, kan?" tanya Fika.
"Serius, pengennya sekarang, tapi kamu masih masa iddah ya? Aku siap nunggu ... Aku juga udah bilang sama Om Ridwan, beliau mengijinkan, tapi beliau bilang, tanya kamu! Fik, kamu mau, apa nggak?" tanya Arman pada Fika.
Semua terdiam memandang Arman yang berdiri di hadapan Fika yang sedang duduk. Mereka ingin tahu jawaban apa yang Fika berikan.
...πΈπΈπΈπΈπΈ...
Makasih kakak readers
Makasih udah setia mampir n baca kisah Arrida dan Uwais sampai sejauh ini
Makasih atas dukungannya, like, vote, comment dan favoritnya
Sehat selalu ya kakak readers
Hatiku Padamu Kak readers pake banget...
Semoga kak readers tetap suka dan terhibur yaaa
π₯°π₯°π₯°ππ»ππ»ππ»πππ
ππππππππππππππππ
Hai kak readers mampir juga yuk, novel sahabat literasi ku, ini novel keren banget πππ
Judul: Bukan sebatas impian Author: Nadziroh
blurb
Renata Nicholas, gadis yang berumur dua puluh dua tahun dan berprofesi sebagai cleaning service tertangkap basah menyembunyikan foto Bagas Ankara, CEO di tempatnya bekerja. Berawal dari sebuah iseng menyimpan foto yang ditemukan di gudang, kini malah membuatnya menjadi bahan ejekan bagi mereka yang membencinya.
__ADS_1
Happy reading yaπππ
ππππππππππππππππ