Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
143. Kiss again


__ADS_3

BRAAAAK


Motor yang dikendarai Uwais tergelincir seketika.


Jalanan sedang sepi, lelaki itu terguling. Saat itu, kepalanya sempat membentur jalanan cukup keras. Rangkaian masa lalu yang sempat hilang mulai bermunculan satu per satu namun masih acak belum membentuk satu rangkaian ingatan yang sempurna. Kemudian, pelan-pelan ia mengangkat tubuhnya dan beringsut menuju trotoar. Ia menahan kepalanya yang masih mengenakan helm. Terasa nyeri dan berat.


Kejadian ini mirip seperti peristiwa kecelakaan motor ketika pertama kali Uwais dan Arrida bertemu. Saat ini pun sama, Uwais celaka karena menghindari seorang wanita berjilbab membawa payung yang sedang tergesa-gesa setengah berlari karena cemas setelah mendapatkan pesan.


"Da, Uwais pergi ke tempat kamu hujan-hujanan!" pesan dari Fika.


Namun kali ini, dia berlari ke seberang bukan ingin berteduh di bawah pohon. Akan tetapi, ia ke seberang, ingin menunggu kedatangan Uwais. Dan tanpa diduga, lelakinya itu justru sudah lebih dulu mengerem laju motornya sebelum Arrida benar-benar tiba di sebrang.


"Kakak, gak papa?" tanya Arrida cemas. Ia sudah menghampiri Uwais di trotoar.


"Bagaimana keadaan kakak? Apa ada yang luka? Ayo kita ke rumah sakit!" lanjutnya dengan sangat khawatir.


Uwais membuka kaca helmnya. Menatap wajah cemas wanita kesayangannya itu. Wajah yang sangat dirindukannya dengan ekspresi yang sangat disukainya. Ia tersenyum dengan senyuman khas limited editionnya, kemudian melepas helmnya.


"Arrida-ku!" panggilnya bahagia. Ia segera memeluk istrinya itu tanpa memedulikan kondisinya saat itu sedang berada di trotoar jalan.


"Ka-kak!" ucapnya terbata, sedikit bingung dengan panggilan khasnya itu, ia masih belum yakin apakah Uwais sudah kembali ingatannya atau belum. Namun, ia pun membalas pelukan Uwais sangat erat, penuh kehangatan, seakan dia lupa jika pagi tadi mereka sempat bersitegang.


"Maafkan aku, Cinta!" ucap Uwais.


Ah, panggilan itu, panggilan yang sangat Arrida rindukan. Rasanya, sakit hati pagi tadi karena ucapan Uwais sirna begitu saja mendengar panggilan kesayangannya itu. Ia pun mengangguk, masih dalam pelukan Uwais.


"Aku mencintai kamu, Ar! Sangat mencintai kamu!" ucap Uwais kemudian penuh keyakinan.


"Apa ... Kakak sudah ingat?" tanya Arrida perlahan sambil mendongakkan kepalanya menatap wajah Uwais yang mulai basah karena air hujan.


"Belum pasti, mudah-mudahan sudah ingat semua ... Yang jelas, aku tau kalau aku sangat mencintaimu, bahkan sebelum kamu mencintaiku!" ucapnya sambil menangkup wajah basah Arrida, kemudian kedua ibu jarinya mengusap air hujan yang membasahi kedua pipi Arrida. Ia pun mendaratkan kecupan di kening Arrida sangat dalam dan lama.


Arrida malah terisak karena bahagia, tubuhnya menghangat. Ia kemudian membenamkan kepalanya di dada bidang milik Uwais dan mendekapnya erat. Tak peduli hujan, keduanya benar-benar melepaskan kerinduan dan berjuta perasaan lain di hati mereka. Hujan mulai mengecil, namun dinginnya suasana masih setia menemani.


Sementara kehadiran semilir angin sempat menyapa kedua insan itu dan kemudian membawa pergi segala kegundahan dan sakit hati yang sempat melanda. Kini, yang ada hanyalah kesyahduan akan rindu dan cinta.


"Apa Kakak ada yang terluka? Ada yang sakitkah? Apa lutut Kakak sakit??" tanya Arrida masih panik, namun ia masih berada dalam dekapan Uwais.


"Nggak ada, cuma aku jadi sesak ini! Agak susah nafas," jawab Uwais.


Arrida mendongak menyelidik, apakah yang dikatakan Uwais serius atau tidak.


Uwais menunduk tersenyum melihat istrinya itu. "Kamu meluknya kuat banget!" ucapnya sambil terkekeh.


"Kaak! Aku serius ya ... Kakak gak tau apa kalau aku ini beneran khawatir, aku takut kakak kenapa-kenapa, aku takut terjadi sesuatu sama kakak dan kakak malah bercan ... Emph!"


Uwais menghentikan ocehan Arrida dengan cara yang tak biasa, namun indah, ia mencium bibir Arrida hanya tiga detik saja. Namun, itu malah membuat Arrida mematung. Matanya mengerjap beberapa kali.


"Kenapa? Sudah boleh kan?" tanya Uwais mencoba bersikap santai, walaupun hatinya juga masih merasakan debaran yang tak karuan.


Wajah Arrida semakin menghangat, memperlihatkan semburat warna merah muda.


"Apa- itu ta-di first-kiss?" tanya Arrida terbata.

__ADS_1


"Bukan, itu hanya kecupan, kamu juga gak membalasnya, kan."


"Jadi, harus dibalas ya?" tanya Arrida polos.


Uwais tergelak, lalu mengusap kerudung Arrida yang basah.


"Mau mencobanya?" goda Uwais.


"Ah?" Arrida melongo. "Di-sini?" lanjutnya sambil memperhatikan sekeliling.


"Nggak lah, nunggu kita siap, suasananya harus tepat, mau kan?" kata Uwais.


Arrida mengangguk. Keduanya memang berniat melakukan first kiss setelah ijab kabul, tapi ternyata pernikahan mereka harus berjauhan.


"Kak, apa nanti masih dikatakan first kiss? Kita udah melakukannya banyak kali, waktu kita SMA aja, udah dua kali, saat di bis, dan di pantai, lalu saat udah nikah, mmm berapa ya ...." Arrida menghentikan ucapannya, seperti menghitung sudah berapa kali mereka saling mengecup bibir.


"Tiga!" kata Arrida.


"Empat!" kata Uwais bersamaan dengan ucapan Arrida.


"Hah kok empat? kapan aja?" tanya Arrida tidak mengingatnya.


"Menurutmu, tiga itu kapan aja?" Uwais malah balik bertanya.


"Waktu di bis perjalanan kesini, trus tadi, trus ...."


"Trus kapan?"


"Waktu aku masih tidur kan, kamu diem-diem nyium aku!" tebak Uwais.


"Hah, Kakak tau?"


"Iya, aku merasakannya!"


"Ups, maaf!" kata Arrida sambil menutup mulutnya.


"Hei, kenapa minta maaf, kamu mau nyium berapa kali pun tak masalah! Lagian kenapa harus diem-diem? Hm?"


"Kan, Kakak masih hilang ingatan!"


"Tapi, aku ingat semuanya, bahkan bukan tiga kali, tapi empat kali,"


"Eh, kapan aja?"


"Tengah malamnya, saat kamu udah tidur, aku menciummu,"


"Haih, jadi itu bukan mimpi ya? Aku kira itu mimpi indahku, pantesan rasanya kayak nyata banget, setelah sekian lama aku gak bisa tidur, akhirnya bisa nyenyak dan nyaman tidur dalam dekapan kakak,"


"Kamu boleh melakukannya tiap malam," kata Uwais.


"Ih, melakukan apa?" pikiran Arrida kemana-mana, dia mengira tentang ciuman.


"Hei, gak usah ngeres, maksudku kamu boleh tidur dalam dekapanku tiap saat, agar kamu bermimpi indah!"

__ADS_1


"Ah, senangnya, makasih ya, Kak!" Arrida melingkarkan lengannya di lengan Uwais, kemudian menjatuhkan kepalanya di lengan Uwais.


"Hm-m, tapi lucu juga, jadi kasihan sama kamu!"


"Kenapa?" Arrida merasa aneh.


"Putri tidur bisa juga gak bisa tidur!"


"Itu karena terlalu banyak masalah dan peristiwa!"


"Kasihan," ucap Uwais sambil mengusap kepala Arrida yang tertutup kerudung.


"Ayo, kita pulang aja, baju kamu basah, ijin sana, gak usah praktek!"


"Emang, tadi aku udah ijin!"


"Kok bisa? Emang boleh ijin lagi setelah kemarin ijin?" tanya Uwais.


"Boleh, pake maksa ... Abisnya, tadi aku khawatir banget waktu mbak Fika bilang kakak mau kesini, mana hujan deres lagi! Aku langsung ijin, takut ada apa-apa sama kakak di jalan,"


"Kamu cemas?"


"Tentu aja, pake banget,"


"Tapi, kenapa malah kamu yang menyebabkan aku jatuh dari motor!"


"Heeeee!" Arrida nyengir, " Maaf," kata Arrida sambil mencium pipi Uwais.


Uwais tertawa bahagia, iapun kembali mendekap Arrida.


"Apa ada yang sakit atau luka, Kak?" tanya Arrida dalam dekapan Uwais.


"Tidak ada yang lebih sakit selain ketika aku tidak mengingatmu, itu benar-benar sangat menyakitkan!"


Arrida tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.


"Aku mencintai kamu, Ar, aku sangat merindukan kamu!" ucap Uwais sambil mengecup pucuk kepala Arrida beberapa kali.


"Aku juga, Kak! Aku sangat mencintai Kakak! Makasih udah kembali, makasih udah mengingatku!" Arrida mendekap sangat erat.


"Makasih, Cinta, kamu udah bersabar menemaniku!" ucap Uwais penuh syukur.


...🌸🌸🌸🌸🌸...


Aseeeeek Uwais sadar.... 😘😘😘


Makasih kakak readers....atas doa dan dukungannya buat Arrida dan Uwais.... 😍😍😍


Makasih like, komen dan hadiahnya ya, smoga Alloh membalas semua dukungan kak readers.... πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°


Sehat sehat sehat selalu buat kak Readers...


Hatiku Padamu Kak readers 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2