Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
131. Ditemukan.


__ADS_3

Senja semakin temaram, Arrida sudah merasa sangat lelah, bukan fisik, tapi lelah hati dan pikiran, ia memejamkan matanya, menenangkan perasaannya dan berdoa.


"Ya Allah, tunjukkan dan tuntun Rida pada ayah, kak Uwais dan orang-orang yang Rida sayangi," ucap Arrida dalam hatinya.


Samar ia mendengar rintihan dari arah kanan, ia segera membuka matanya mengedar pandangan ke sekeliling arah kanannya. Kakinya melangkah begitu saja melewati jalanan berlumpur dan material sampah serta puing-puing bangunan.


"Hah!! Allahu Akbar, Ya Allah, Kakak!!!" pekik Arrida, ia segera berlari ketika mengenali seseorang yang tertutup sampah-sampah, ada pohon yang tumbang menindihnya, sedangkan yang terlihat oleh gadis itu hanya kepalanya. Itupun sebagian wajahnya terkena lumpur dan tertutup sampah.


"Alloh, Alloh, Alloh," ucap Arrida sambil menangis. Ia membongkar tumpukan material sampah yang menutupi sebagian kepala Uwais. Kemudian meletakkan kepala lelaki pujaannya itu di atas pangkuannya lalu memeluk dan membersihkan wajahnya dari lumpur. Wajah yang menurut Arrida, selalu saja terlihat tampan walau dalam keadaan apapun.


"Alhamdulillah ya Allah, kakak masih hidup," ucap Arrida penuh syukur. Ia bisa merasakan denyut nadi milik Uwais yang terasa sangat lemah. Air matanya mengenai wajah Uwais ketika ia mengecup keningnya.


Ia pun segera meminta bantuan, dengan berteriak minta tolong, sehingga beberapa orang yang juga sedang mencari jasad atau orang yang terluka segera menghampirinya dan membantu memindahkan pohon besar yang menimpa tubuh Uwais. Ternyata setelah tumpukan sampah itu dibongkar dan dibersihkan, terlihat jasad pak Ridwan, berada di bawah tubuh Uwais. Posisinya masih terikat dalam gendongan Uwais.


"Ya Allah! Papah!" Arrida makin menangis.


"Kamu kenal mereka, Dek?" tanya seorang bapak yang usianya sekitar empat puluh tahun. Dilihat dari rompi yang dikenakannya dia termasuk salah satu anggita tim SAR.


"Iya, Pak, ini suami saya, dia masih hidup, namun sangat lemah, dia butuh segera pertolongan, dan yang digendongnya adalah jasad papahnya, yang memang sudah meninggal ... Saat tsunami datang, papah sedang dimandikan!"


"Oh, ya Allah, cinta seorang anak rela menggendong jasad ayahnya, menyelamatkannya, dan luar biasanya, walaupun telah meninggal, ayahnya pun masih bisa menolongnya," kata bapak tim SAR yang bernama Zakaria. Menurut mereka, andai kata tak ada jasad pak Ridwan di bawah tubuh Uwais, sudah tentu Uwais juga akan meninggal karena kehabisan nafas tertutup material sampah. Jadi posisi tadi sangat menguntungkan bagi Uwais.


Saat ini, Uwais sudah dibawa oleh tim SAR menggunakan tandu menuju posko kesehatan untuk mendapatkan penanganan medis.


"Pak, ada satu lagi!" teriak yang lain dari arah kurang lebih lima puluh meter tempat ditemukannya Uwais.


"Iya! Hitam, merah, kuning, hijau?" tanya Zakaria sambil berteriak.


"Hitam!" teriak orang yang tadi mengabarkan telah ditemukan satu jasad lagi.


"Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun," ucapnya. "Segera angkat, masukkan, dan bawa!!" perintahnya kemudian.


"Tunggu!" Arrida segera berlari, walaupun terkena lumpur, samar-samar ia mengenali pakaian yang dikenakan orang tersebut. Dan benar saja dugaannya, jasad itu adalah pak Arthur.


"Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un, Ayah!!" pekik Arrida. Ia semakin menangis.


"Sabar ya, Dek!" ucap Zakaria yang juga sudah mendekati jasad pak Arthur.


🌼


Akhirnya, jasad pak Arthur dan pak Ridwan dibawa ke kediaman Uwais dan oleh kerabat yang ada juga para tetangga, mereka dimakamkan berdampingan. Keduanya dimakamkan di tempat pemakaman umum, beruntungnya, area pemakaman ini terletak di tanah yang tinggi, sehingga tidak terlalu berdampak terkena terjangan tsunami.


Setelah pemakaman, diadakan doa dan tahlil bersama di kediaman Uwais secara sederhana dan seadanya sesuai keadaan. Selanjutnya Arrida memutuskan untuk menemani Uwais di rumah sakit lapangan yang memang sengaja didirikan sebagai rumah sakit tanggap darurat bencana.


Ia kini sedang berdiri di hadapan Uwais yang terbaring lemah tak sadarkan diri. Sebelumnya, Arrida telah membersihkan tubuh Uwais dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang dibawanya dari kediaman Uwais. Ia juga sudah membicarakan banyak hal dengan dokter yang menangani Uwais.

__ADS_1


Arrida menatap wajah tampan suaminya itu dengan tatapan sedih dan tidak dapat digambarkan dengan kata-kata. Lagi-lagi air mata itu mengalir melihat kondisi suaminya. Dia turut merasakan sakit. Kepala Uwais diperban, dan ada luka goresan yang melintang di pipinya, serta ada luka-luka lain di sekitar tangan dan kakinya.


Inilah pertama kalinya, ia bertemu dengan Uwais setelah resmi menjadi istrinya lima hari yang lalu. Ia tidak pernah menyangka dan membayangkan akan bertemu dalam keadaan dan kondisi seperti saat ini.


"Assalamu'alaikum, kakak tampan," sapa Arrida di telinga Uwais.


Dia kemudian menggenggam tangan kanan Uwais yang tidak ada selang infusnya, kemudian ia mencium punggung tangannya penuh takzim untuk pertama kalinya sebagai seorang istri, seakan mengganti salaman yang seharusnya dilakukan saat akad nikah.


"Gimana keadaan Kakak saat ini, sudah lebih baik, kan?" tanya Arrida pada Uwais, padahal dia sendiri tahu bahwa tidak akan mendapatkan jawaban apapun dari Uwais.


"Kak, Kakak bisa tenang, sekarang papah sudah dimakamkan dengan ayah, berdampingan, mereka memang sahabat sejati, sehidup semati, insyaaAlloh sesurga," cerita Arrida sambil menangis.


"Kak, kita sudah kehilangan ayah dan papa ... Aku enggak ingin kehilangan Kakak, Kakak cepet bangun, ya," pinta Arrida masih dalam tangisnya.


"Kak, kapan bangun? Aku kangen, aku kangen sama senyum kakak, candaan kakak dan semua nasehat kakak," Arrida kembali menghapus air mata yang terus saja mengalir.


"Kak, Kakak janji, akan pulang, dan kita akan tinggal bersama di rumah kita, kita bakal hidup bareng, dan sama-sama belajar jadi suami istri yang baik ... Kakak cepet sembuh, ya," kata Arrida sambil berkali-kali mencium punggung tangan suaminya itu.


"Kak, aku janji, aku gak akan ninggalin kakak, apapun yang terjadi," ucapnya saat teringat pembicaraan dengan dokter yang menangani Uwais. Hatinya terasa nyeri. Lagi dan lagi, air matanya mengalir deras.


🌦


"Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumsalam, Dok!"


"Ini, suaminya Adek?" tanya dokter cantik itu.


"Iya, Dok, kami baru menikah,"


"Wah, ternyata pengantin baru, ya"


Arrida menganggukkan kepalanya dan tersenyum canggung.


"Jangan sedih berlarut-larut ya, dalam keadaan seperti ini bukan cuma adek aja yang sedih dan kehilangan, okke, beruntunglah suami adek masih hidup,"


Arrida mengangguk lagi, sambil menahan agar air matanya tidak keluar.


"Gini ya, Dek, ada yang ingin saya sampaikan, tapi jangan terlalu bersedih, yakin ya, semua pasti baik-baik saja!"


"Ada apa Dok?"


"Hmm ... terdapat luka di kepala suami adek, sepertinya dia terkena benturan yang cukup keras, sehingga menyebabkan otaknya mengalami cedera,"


"Maksud dokter kak Uwais mengalami gegar otak?"

__ADS_1


"Emmm, iya, dia mengalami cedera otak traumatik!Maksud saya memberitahukan ini, agar adek bisa lebih sabar merawatnya, karena bisa jadi, terjadi perubahan sikap, perubahan kondisinya sampai mentalnya," Dokter Indah menjeda kalimatnya, "Kita lihat perkembangannya kalau dia sadar, nanti kita akan spesifikasikan untuk perawatan dan penanganan lebih lanjut,"


"Iya, makasih, Dok, informasinya!"


"Iya, tetap tenang ya,"


"Saya paham, Dok, dikit-dikit saya tau tentang penanganan jika kepala terbentur, mudah-mudahan aja, kak Uwais hanya mengalami cedera ringan,"


"Iya, positif aja ya," Dokter Indah menenangkan.


🌦


Mengingat hal itu, Arrida kembali menangis, ia tahu betul apa yang terjadi jika seseorang mengalami cedera otak, baik yang ringan hingga yang berat. Namun ia punya keyakinan, cedera otak yang dialami Uwais tidaklah berat, karena jika iya, sudah dipastikan Uwais dalam keadaan koma. Sampai saat ini Uwais seperti merespon sesuatu, karena selalu terdengar suara rintihan darinya.


Arrida terus menangis, hingga tidak terasa ia merasa lelah, dan tertidur di punggung tangan Uwais.


🌼


Uwais merintih, ia mencoba membuka matanya, lalu memindai keadaan sekitarnya. Matanya perlahan merngerjap beberapa kali. Lalu ia merasakan berat di tangannya.


"Eegh," rintih Uwais lirih. Ia menggerakkan tangannya perlahan.


Arrida segera terbangun ketika merasakan tangan yang ditindih kepalanya, bergerak. Ia pun langsung menatap Uwais, memastikan keadaannya baik-baik saja.


"Kak, Kakak udah sadar? Kakak gak papa, kan?" tanya Arrida panik namun sangat bahagia.


"Kamu?" Uwais menghentikan ucapannya.


Arrida terkejut melihat reaksi aneh yang ditunjukkan oleh Uwais.


"Kamu siapa?"


...🌸🌸🌸🌸🌸...


...Makasih kakak readers...


...Makasih udah setia mampir n baca kisah Arrida dan Uwais sampai sejauh ini...


...Makasih atas dukungannya, like, vote, comment dan favoritnya...


...Sehat selalu ya kakak readers...


...Hatiku Padamu Kak readers pake banget......


...Semoga kak readers tetap suka dan terhibur yaaa...

__ADS_1


...πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ˜πŸ˜πŸ˜...


__ADS_2