
Uwais tersenyum melihat kecemasan dan kebingungan gadisnya itu. Ah, rasanya ia ingin terus menggodanya.
"Biar aku yang bilang ma bunda, tenang aja ya." ujar Uwais menenangkan gadisnya.
"Kakak yakin gak akan terjadi apa-apa?"
"Iya, Cinta," ucap Uwais lembut dan sangat meyakinkan. Sekali lagi, ia mengusap pucuk kepala Arrida. Sangat gemas.
"Sekarang kamu mau istirahat, atau nungguin bunda dateng, hm?"
"Nungguin bunda, sambil minum coklat hangat."
"Siap! Ditunggu ya!" kata Uwais sambil tangannya terangkat ke dahinya menunjukkan sikap hormat.
Arrida terkekeh kecil melihat sikap lelaki pujaannya itu.
πΌ
Tepat pukul dua dini hari, bu Sofia dan Adnan tiba di resto. Arrida, bu Sofia, Adnan saling melepas rindu. Tak lupa, Uwais ikut serta, juga Andika. Sementara, Lani tidak ikut menginap di resto, karena tahu akan kedatangan bu Sofia, ia lebih memilih menginap di tempat Arin.
πΌ
Pagi hari, selesai sholat Subuh, Arrida melihat bu Sofia dan Uwais saling berbincang. Ia sama sekali tidak ingin mendekat. Ia berada di dapur menyiapkan minuman hangat untuk bu Sofia, Uwais, Adnan, Andika dan juga dirinya sendiri.
"Abang kopsus ya, Dek!" pinta Adnan, mengagetkan Arrida yang sedang mengaduk teh hangat.
"Ah, Abang udah Rida buatin kopi hitam,"
"Yah, pengen kopsus neh!"
"Ih, Abang, biasa juga kopi hitam, kan? Sejak kapan jadi suka kopsus?"
"Sejak kencan ma Hani," jawab Adnan enteng.
"Haisshhh!" Arrida menyipitkan matanya. Protes.
"Hahaha, gak usah gitu natapnya, namanya juga udah berdua, pasti ada aja yang berubah, kadang, kita saling merasakan apa yang pasangan kita sukai." kata Adnan.
"Emang, kalo udah bersama, pasti gitu ya?" tanya Arrida.
"Gak juga sih, yaa ... Hanya menyesuaikan aja ... Apa yang disukai pasangan kita, kita pun jadi ikutan suka!"
Arrida menganggukkan kepalanya beberapa kali. Ingatannya kembali pada kebersamaannya dengan Uwais selama ini, terutama ketika mereka sedang makan, seringnya, Uwais mengikuti menu yang dipilihkan olehnya, dan lebih payahnya lagi, sampai saat ini, ia tidak pernah tahu apa yang menjadi makanan favorit calon suaminya itu. "Hadeuuuh payah," gumam bathinnya.
"Hei, kenapa malah ngelamun, ada kopsusnya, kan?" tanya Adnan.
"Eh, iya Bang, ada, tapi ini gimana kopi hitamnya?"
"Duh, gimana ya? Lagi kangen Hani nih, pengen kopsus!"
"Ish, alasan tidak diterima ... Tapi gak papa deh, ntar Rida tambahin susu aja ya, trus disaring ampasnya."
"Iyalah, apapun jadi, yang penting kopsus."
Arrida menggeleng, kemudian meracik kopi hitam menjadi kopi susu.
"Nih, Bang," kata Arrida sambil menyerahkan secangkir kopi susu hasil racikannya.
"Makasih, Dek!" kata Adnan sambil menerima cangkir berisi kopi susu buatan adiknya.
"Bang, Abang masih inget gak kalo Rida mau dijodohkan?"
"Oh itu, iya, masih inget!"
"Abang udah tau orangnya?"
"Gak tau, katanya tunggu aja launchingnya, kayaknya lebaran ini mau dateng deh! Kenapa?"
"Abang serius?"
"Yaaa menurut yang Abang tau seh, dia bakal datang, dan langsung ngelamar gitu, kalo kamunya setuju!"
"Aih, pusing ah! Kenapa coba, gak dibebasin aja buat Rida milih pasangan sendiri?" gerutu Arrida
__ADS_1
"Katanya dia baik, ganteng, sopan, mapan pula, kamu gak penasaran?" ujar Adnan.
"Tapi kan Rida udah punya pilihan sendiri, Bang!"
"Siapa? Uwais?" tanya Adnan yang langsung mendapatkan anggukkan dari Arrida.
"Jadi bener kalian dari dulu itu pacaran?"
"Mungkin!"
"Eh, kok mungkin?"
"Ya, gitu deh, Rida sih, udah nganggepnya calon suami!"
"Ish, calon suami? Emang udah mau merit? Gak boleh! Pokoknya, ntar yang nikah duluan kudu Abang!"
"Yee si abang, terserah Rida lah!"
"Hish, kecil-kecil udah mau merit," ledek Adnan
"Eh, pacar Abang juga anak kecil, Bang!"
Adnan pun terkekeh.
πΌπ¦πΌ
Bu Sofia dan Adnan pun kembali ke kota A, setelah menginap di tempat Uwais dua malam. Baru saja Arrida dan Uwais melepas kepergian mereka.
"Kenapa, hm? Sedih? Masih pengen ada bunda disini?" tanya Uwais ketika melihat Arrida hanya terdiam menopang dagu di meja makan, di depannya ada secangkir susu hangat. Kemudian ia pun duduk di hadapan gadisnya itu.
Arrida hanya mengangguk.
"Besok libur lebaran kita pulang, bentar lagi kan puasa!" kata Uwais.
"Haa ... Iya, Kak! Kakak udah bilang belum soal kita?"
"Kenapa?"
"Semalam, bunda bilang kalo yang mau dijodohkan ma aku, lebaran ini mau dateng ke rumah."
"Kok, oh sih, Kak?"
"Terus, aku harus gimana? Dia kan yang mau dateng, biarkan aja dateng," jawab Uwais santai
"Emang kakak ngebolehin gitu, aku ma dia?"
"Kamu mau?" Uwais malah sengaja menggodanya.
"Ish, gimana sih, kakak gak ngerti banget!"
"Hahaha ... Iya, maaf ... Aku udah bilang kok ma bunda,"
"Trus ...."
"Ya udah,"
"Apanya yang udah sih? Kak, sebenernya kakak serius gak sih ma aku?" Arrida mulai badmood.
"Sangat serius, Cinta," jawab Uwais sangat meyakinkan.
"Trus?"
"Kemarin aku bilang sama bunda, aku serius sama kamu, insyaaAlloh, lebaran ini aku ma keluarga, mau dateng, ngelamar kamu!"
"Hah, trus, ntar barengan dong ma dia?"
"Kenapa bingung?"
"Iya juga ya, aku kan tinggal milih kakak, nerima kakak," kata Arrida sambil mengangguk.
Uwais tertawa kecil. Gadis kesayangannya itu memang sangat lucu dan menggemaskan, bahkan dia benar-benar tidak menyadari jika Uwais tengah mengerjainya.
"Kalau yang datang itu lebih mapan dan lebih tampan, gimana?" tanya Uwais
__ADS_1
"Ah, kenapa kakak nanya kayak gitu? Apa kakak meragukan aku?"
"Aku sangat yakin dengan kamu, tapi apa kamu ga penasaran gitu, siapa dia?"
"Enggak!" jawab Arrida singkat.
"Kamu gak pernah nanyain ke bunda ma ayah?"
"Enggak, lagian aku udah punya kakak, kenapa penasaran dengan cowok lain!"
Uwais hanya tertawa kecil, sambil menggelengkan kepalanya.
"Walaupun dia lebih mapan lho, sementara aku, banyak hutangnya."
"Hmm ... Walaupun dia sangat mapan, belum tentu dia bisa bikin bahagia aku, kalo kakak kan udah selalu membahagiakan aku, berkali-kali nyelametin aku, lah dia udah ngapain ajah?"
Uwais masih tersenyum.
"Kakak tau, bagi aku, kakak tetap yang termapan dan tertampan luar dalem."
"Tertampan?"
"Iya ... gak ada yang bisa menggoda aku kecuali ketampanan kakak,"
Uwais makin terkekeh. Ia mengusap pucuk kepala Arrida dengan sangat gemas.
"Ciyeee, kakak ge-er tuh," ledek Arrida.
"Ck, kamu ini, benar-benar menggemaskan."
"Benar-kah?" tanya Arrida mulai menggoda. Ia mulai mengedip-ngedipkan kedua mata lentiknya.
"Aaaar ... Gak usah ngegoda! Nanti aku cium kamu lho!" ancam Uwais bercanda.
"Whooo ... Camiku udah mulai mesum!".,
"Gak papa, sama catriku ini."
"Hah?"Arrida bingung dengan apa yang diucapkan oleh Uwais.
"Catriku ... Calon istri ...." kata Uwais menjawab kebingungan Arrida.
...πππππππππππππππ...
...Hai kakak readers mampir juga yuks di novel sahabat literasiku.... pokoknya keren abis deh.... πππ...
...Judul karya : MASA LALU SANG PRESDIR...
...(21+)...
...Author: Enis Sudrajat...
..."Aaaaaah ... kamu bikin aku cemas aja sayang!" Richard memeluk Annet dan menyelusupkan wajahnya ke dada Annet yang terbuka....
..."Rich sakit! pelan dong bulu di muka kamu baru tumbuh itu." Annet membuka kancing kaos berkerah yang dikenakan Richard....
...Richard malah terkekeh, menarik tali pita baju Annet yang tak bertangan lalu membuka melempar pakaiannya sendiri....
..."Aku nggak tahan sayang, aku ingat kamu sejak di tempat gym tadi, entah kenapa jagoan ku ini nggak bisa kompromi sama sekali!" Richard menunjuk ke bawah perutnya....
..."Memang kenapa?" Annet berlaga pilon....
..."Coba lihat buka sendiri!"...
...Annet turun dari pangkuan Richard dan membuka celana panjang Rich, membuka pelindung terakhirnya yang sudah kelihatan mengembung karena terdorong sesuatu dari dalam....
..."Wow ... maksimal banget Rich!" Annet mengelusnya perlahan....
..."Habis ikut nge-gym begitu kelakuannya, kamu harus bertanggungjawab, pakaikan sarung pelindungnya, sudah nggak tahan jagoan ku mencari tempat berendam." Annet tersenyum mengambilkan balon pembungkus senjata kesayangan Richard...
...Happy reading yaaaπππ...
__ADS_1
...ππππππππππππππππ...