Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
100. Saya sudah memiliki calon istri


__ADS_3

"Adduh ketahuan ya ... kalo aku ada disini?" Hati Arrida bermonolog.


Arrida mengangkat wajahnya, ia menatap wajah tampan cowok pujaannya itu dengan perasaan yang campur aduk. Bahagia, cemburu, dan penasaran. Senyum kecilnya sengaja ia tampilkan di wajahnya.


"Ayo kita pulang!" ajak lelaki itu pada Arrida.


Arrida hanya mengangguk. Namun, pandangannya beralih kepada wanita yang sebelumnya menyapa ketiga rekannya di meja seberang. Ia kini berjalan menuju meja Arrida.


"Hai," sapanya lembut.


Uwais hanya menoleh.


"Apa ini yang namanya Arrida?" tanyanya.


"Iya, dia Arrida,"kata Uwais.


"Hai, kenalkan aku Karina!" ucapnya sambil mengulurkan tangannya pada Arrida.


Ragu-ragu, akhirnya Arrida menjabat tangan Karina.


"Ya udah, ayo kita pulang!" ajak Uwais, setelah Arrida dan Karina bersalaman. Ia langsung menarik tangan Arrida, kemudian meninggalkan kantin dengan sengaja tanpa melihat ke kanan dan ke kiri. Keduanya terdiam. Hanya saling menggenggam. Hingga mereka tiba di parkiran.


"Ayo naik!" perintah Uwais pada Arrida. Ia sudah naik ke motornya bagian depan.


"Tapi aku pakai sepeda, kak."


"Gak papa, biar aku ambil besok. Atau aku minta Kirno buat mengambilnya... Naiklah!" perintah Uwais sekali lagi.


Arrida pun akhirnya menurut. Ia duduk di belakang Uwais, dan kemudian motor pun melaju dengan kecepatan sedang.


🌼


Arrida duduk di kursi dekat tempat sholat, menunggu Uwais yang sedang ke pantry.


"Diminum Ar!" kata Uwais sambil menyimpan segelas jus alpukat kesukaan Arrida dihadapan gadis itu.


"Makasih, Kak," kata Arrida sambil menerima gelas jus itu.


Uwais duduk dihadapan Arrida, memperhatikan wajahnya yang selalu terlihat cantik.


Arrida membalas tatapan itu dengan penuh tanya. "Ada apa?"


"Dia Karina, partner praktek lapangan ku seminggu ini. Tiap minggu, partner kita dirolling ... Tadinya aku gak mau, aku ingin berpartner dengan teman pria, tapi sudah jadwalnya, terpaksa aku laksanakan." jelas Uwais tanpa diminta oleh Arrida untuk menjelaskan siapa sebenarnya Karina.


"Aku gak nanya kok, kak!" kata Arrida santai. Walau hatinya masih cemburu.


"Aku tau, tapi aku merasa perlu menjelaskan!"


"Kenapa baru sekarang? Atau ... kalau aku tadi gak ngelihat, mungkin kakak gak akan pernah menjelaskannya sama aku!" kata Arrida.


"Maaf, awalnya memang aku gak bermaksud untuk cerita, karena bukan hal penting sebab dia hanya partner kerja. Namun sekarang menjadi penting, aku harus menjelaskannya sama kamu, agar tidak salah paham."


"Salah paham apa maksudnya?" tanya Arrida.


"Aku gak mau kamu nyangkain aku dan dia ada apa-apa!"


"Bahkan kalaupun kakak dan dia ada apa-apa, apa hak aku melarangnya?" tanya Arrida sambil menyedot jus alpukatnya.


"Kenapa kamu bilang kayak gitu?" Uwais bingung, apakah selama ini hubungannya tidak penting bagi Arrida, atau dirinya lah yang tidak penting bagi Arrida? Ya, semenjak liburan kemarin, memang Arrida selalu menunjukkan sikap yang tidak terlalu peduli untuk hubungan mereka.


Arrida terdiam, tatapannya kosong mengarah ke wajah Uwais. Ia tidak ingin berkomentar banyak.


"Kamu jelas punya hak, Ar ... kamu boleh cemburu, kamu boleh marah."


"Apa aku sepenting itu?"


"Tentu aja, Ar ... kamu sangat penting buat aku, kamu masa depanku, kamu tujuan hidupku."


"Hmm" Arrida hanya diam. Ia merasa tidak terlalu bahagia dengan apa yang Uwais sampaikan.


"Ada apa, Ar? Akhir-akhir ini, sepertinya ada yang menggangu pikiran kamu?" tanya Uwais. Selama ini dia memang ingin menanyakan perubahan sikap Arrida kepadanya.


"Gak ada, kak."

__ADS_1


"Jangan bohong, Ar,"


"Kalaupun ada, lupakan aja, kakak gak perlu tau."


"Kenapa?"


"Karena ini hanya masalah egoku aja."


"Katakan, apapun itu, Ar,"


"Jusnya udah abis kak, kapan kita ke bioskop?" tanya Arrida sengaja mengalihkan. Nadanya sedikit merengek manja.


Uwais menarik nafas panjangnya.


"Kenapa kamu mengalihkan pembahasan, hm?" tanya Uwais.


"Oh ayolah Kak, aku males bahas ini, kita pergi yah ... ya ..." ajak Arrida masih merengek. Tangannya menggoyang-goyangkan tangan Uwais yang ada diatas meja.


"Ya udah, ayo kita berangkat."


Senyum pun terbit di wajah Arrida. Ah, lihatlah cepat sekali wajahnya itu berubah menjadi sangat menggemaskan. Hingga Uwais tak dapat menolak permintaannya.


🌼


Saat ini mereka sedang duduk di kursi penonton, menyaksikan film yang tengah diputar sambil menikmati minuman dan popcorn.


"Kak, aku ngantuk" kata Arrida saat film tengah berlangsung sekitar setengah jam


"Mau pulang? atau tetap disini?"


"Pulang gak papa kak?"


"Ya udah, ayok"


Mereka pun keluar, tidak melanjutkan acara menonton filmnya. Yang terpenting bagi Uwais adalah Arrida dan segala yang dirasakan oleh gadis itu.


"Kak, aku jadi gak ngantuk." kata Arrida ketika tiba di tempat parkir.


Uwais tersenyum.


"Jalan-jalan keliling alun-alun ya"


"Iya, ayok!" Uwais menyetujuinya. Ia hanya menurutinya agar gadisnya itu tetap bahagia. Pokoknya ia hanya ingin memanjakannya.


Uwais pun melajukan motornya untuk berkeliling alun-alun kota. Kemudian Uwais membawa gadis itu ke tempat yang lebih asik. Sebuah tempat di dataran luas yang lumayan tinggi. Seperti puncak. Banyak yang berjualan lesehan disitu, mulai dari wedang jahe, jagung bakar, sate sampai mie rebus. Dari tempat itu, mereka bisa menyaksikan lampu-lampu yang menghiasi kota layaknya bintang-bintang yang ada di langit.


"Waw, indah banget, kak ... kenapa kakak baru ngajakin aku ke tempat ini?"tanya Arrida sambil melihat ke arah lampu-lampu kota yang bertebaran di bawahnya. Saat itu Uwais sudah memarkirkan motornya.


"Kamu suka?"


"Hmm" kata Arrida sambil tersenyum.


"Kita kesana yuk," kata Uwais sambil menunjuk tempat lesehan di dekat orang yang berjualan jagung bakar.


"Ayok!" kata Arrida bersemangat.


Mereka pun segera ke tempat itu, lalu duduk dan memesan jagung bakar.


"Ini bener-bener indah, Kak"


"Aku tau pasti kamu suka."


"Kenapa kakak baru ngajakin aku ke tempat sebagus ini?"


"Aku juga baru tau tempat ini ... Ini jalur aku ke tempat praktek lapangan."


"Oh," Tiba-tiba wajah Arrida menyendu.


"Aku baru kesini, Ar, dan itu hanya sama kamu." kata Uwais seakan bisa membaca pikiran Arrida.


Arrida tersenyum tipis.


"Ada apa, hm? apa yang kamu pikirkan?"tanya Uwais.

__ADS_1


"Berarti... kakak tiap hari lewat sini bareng Karina?"


Uwais menarik nafasnya dalam-dalam.


"Iya, tapi mulai Senin ini, aku sudah gak sama dia, sudah dirolling lagi partnernya ..."


Kini giliran Arrida yang menarik nafas panjangnya, seakan ingin melepaskan beban pikirannya. Ia hanya terdiam memandang kembali lampu-lampu kota.


"Maaf ya, Ar ... udah buat kamu sakit hati ... "kata Uwais sambil menggenggam tangan Arrida.


"Eh, kenapa kakak minta maaf?"


"Karena aku merasa harus melakukannya."


"Gak papa kak,"


"Aku tau kamu lagi gak baik-baik aja"


"Apa aku boleh cemburu?"


"Tentu, itu harus ... itu tandanya kamu sayang aku!" kata Uwais lagi.


"Aku gak suka kakak deket ma Karina."


"Aku tau!"


"Dia itu suka ma kakak,"


Uwais terdiam, ia memang sudah mengetahui jika Karina menyukainya. Bahkan tadi sore Karina baru saja mengungkapkan perasaannya pada Uwais ketika mereka akan perjalanan pulang ke kampus.


**flashback on**


"Wais, aku mau ngomong sesuatu." kata Karina saat di tempat parkir. Dia merasa harus berbicara dengan Uwais, karena jika bukan di area praktek lapangan, sudah dipastikan Karina akan kesulitan untuk berbicara dengan Uwais apalagi hal yang sangat pribadi.


"Apa? mengenai laporan Minggu ini? bukannya udah jelas ya? nanti biar saya yang menyelesaikannya" kata Uwais yang hendak menaiki motornya.


"Aku ... Aku suka kamu sejak awal masuk kuliah" kata Karina spontan.


"Eh, kayaknya kita gak terlalu dekat deh, bahkan saya baru kenal kamu minggu ini, karena kamu partner kerja lapanganku"


"Aku tau, kamu sama sekali tidak pernah peduli dengan cewek-cewek di kampus, bahkan aku tau kalo kamu dijuluki si dry ice, kering dan dingin."


"Oh benarkah, saya malah baru tau" kata Uwais cuek.


"Iya, dan aku juga gak tau kenapa, justru kamu yang dingin ini bikin aku makin suka sama kamu"


"Maaf! Tapi saya sudah memiliki calon istri," kata Uwais sangat tegas dan penuh keyakinan.


"Hah benarkah? kok aku gak tau?"


"Memangnya saya harus buat pengumuman? Saya bukan artis yang masalah pribadinya harus dipublikasikan."


"Kamu bohong kan?"


"Arrida Lathifatunnisa, hanya dia yang ada disini" kata Uwais sambil menunjuk dadanya. "Saya kira sudah jelas kan, saya mau pulang, sudah ada janji dengan Arrida. Kamu mau ikut saya seperti biasanya, atau saya tinggal disini?"


Akhirnya tanpa banyak bicara Karina pun menurut.


**flashback off**


...🌸🌸🌸🌸🌸...


...Makasih kakak readers...


...Makasih udah setia mampir n baca kisah Arrida dan Uwais sampai sejauh ini...


...Makasih atas dukungannya, like, favorit n kommentnya...


...Sehat selalu ya kakak readers...


...Hatiku Padamu Kak readers pake banget......


...Semoga kak readers tetap suka dan terhibur yaaa...

__ADS_1


...πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ˜πŸ˜πŸ˜...


__ADS_2