Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
6. Rasa khawatir


__ADS_3

"Udahlah, yang penting sekarang , ternyata kita satu sekolah..." kata Uwais sambil melirik Arrida.


"Waktu terakhir ketemu, aku kira itu adalah pertemuan terakhir... sempet nyesel karena ga minta nomer hp kamu, tapi sekarang gak lagi, karena aku bisa ketemu kamu"


"Emang kenapa gitu kak, kalo waktu itu adalah pertemuan terakhir? " tanya Arrida heran


" Gak papa... rasanya sia-sia aja ada cewek cantik dianggurin "


"Haish... playboy nya kumat" Arrida mendelik melirik Uwais


"Hahaha.. gak usah natap gitu Ar... jadi pengen nyubit" Uwais tergelak. Namun tidak mendapatkan respon apapun dari Arrida. Datar.


"Udah ah kak... Aku mau pulang.. Udah sore banget"


"Oh iya... temen - temen kamu mesti udah pulang ya... gimana kalo aku anter? “


" Gak usah kak"


"Sudah ku duga, kamu pasti nolak... Gak papa sih... Lagian aku juga cuma bawa sepeda. Gak mungkin kan nganter cewek cantik naik sepeda? "


"Hisss, bilangnya aja ga niat"


"Eh tunggu dulu Ar, kamu kan baru kelas sepuluh, berarti waktu kamu nganter aku ke rumah sakit itu, kamu baru lulus SMP kan? belum punya SIM juga kan? " Uwais memastikan. Arrida mengangguk.


"Aduh kesalahan besar ini, membiarkan anak dibawah umur mengendarai motor... "


"Gak papa kak, untung nyampe selamat, gak ditilang juga kan, darurat kak... darurat" Arrida nyengir.


Uwais menggelengkan kepalanya. Ada rasa yang sulit diartikan ketika dia mengingat kejadian dibonceng Arrida. Duduk di belakangnya, dan sempat mencium aroma tubuh gadis kecil yang sedang beranjak remaja.


Tidak, saat itu dia tidak berpikiran yang aneh-aneh. Hanya sempat menikmati wangi si gadis kecil yang terkena guyuran air hujan. Itu saja.


Uwais merogoh saku celananya, mengambil benda pipih alat komunikasi, lalu mengotak-atik sebentar.


Tiba-tiba suara ponsel berbunyi dari dalam tas Arrida. Segera Arrida membuka tas dan mencari ponselnya. Setelah mendapatkannya, dia pun langsung melihat siapa si penelepon. Nomor tak dikenal. Asing. Dengan ragu-ragu ia menggeser tombol hijau.


"Assalamu'alaikum...??? " tanyanya pelan, ketika ponselnya menempel di telinga sambil menerka-nerka siapa yang kini sedang meneleponnya.


" Wa'alaikumsalam... Gak usah bingung gitu wajahnya... di save ya... itu nomerku! " Kali ini Uwais yang berbicara lewat ponselnya, sambil melirik Arrida dengan tangan yang masih menempelkan ponsel di telinganya.


Arrida melirik si punya suara, membulatkan tatapannya


Uwais tergelak melihat ekspresi Arrida.


"Kenapa Ar.... ? aku hebat kan... bukan hanya tau nama lengkapmu, tapi nomer kontakmu pun aku punya" kata Uwais memutuskan sambungan teleponnya


Tatapan Arrida melengos. Berdecak. Dia tidak percaya kalau laki-laki yang ada dihadapannya ini sedang bahagia karena memiliki identitasnya.


"Ck... Kakak pasti dapet data aku dari formulir pendaftaran kan?"


"Iya lah... dari mana lagi.... Udah, disave ya"


"Iya.. iya.. kakak dewan senior... " Arrida langsung menyimpan nomer kontak milik Uwais

__ADS_1


"Ya udah yuk... kita pulang"


Ajak Uwais sambil berdiri.


"Apa perlu aku gandeng? " ledeknya


"Hmhhh.. " Arrida mencibir. Dia berdiri. Merapikan tasnya di punggung.


Mereka berjalan menuju pintu gerbang. Suasana di sekolah mulai lengang. Hanya beberapa anak saja yang masih ada di situ.


Kebersamaan mereka terlihat begitu hangat. Sesekali mereka tertawa saling bercanda.


Namun, dari balik jendela ruang PMR ada seseorang yang sedari tadi melihat kebersamaan keduanya. Dari raut wajahnya tampak jelas ketidaksukaannya. Erna.


Uwais mengantar Arrida sampai halte dekat sekolah hingga Arrida menaiki angkutan umum.


***


Hari ini hujan cukup deras mengguyur, namun tak mematahkan semangat para siswa untuk pergi ke sekolah. Arrida diantar ke sekolah oleh ayahnya menggunakan mobil. Ia segera turun ketika mobil telah menepi didekat gerbang.


Dibawah naungan payung ia segera masuk ke halaman sekolah melalui area parkir. Setengah berlari agar segera tiba di kelas. Maklumlah, dia datang agak siang, lima menit sebelum bel masuk.


"Aduhh! " Arrida terjatuh, ketika tanpa disengaja terserempet sepeda. Jelas bajunya menjadi kotor.


"Eh maaf!"


Orang yang mengendarai sepeda menghentikan sepedanya. Dia segera memarkirkan sepedanya sembarang lalu menolong Arrida.


Arrida mengenal suara itu.


"Kak Uwais" Arrida menatapnya. Laki-laki yang mengenakan jas hujan itu memang Uwais.


Tersenyum sambil membantu Arrida berdiri. Menarik lengannya agar Arrida berdiri tegak. Arrida tak menolak. Kini mereka berada dalam satu payung.


"Kamu gak papa kan? ada yang sakit? "


Arrida menggelengkan kepalanya.


Kedua mata mereka beradu. Saling menatap. Sesaat. Ada getaran aneh yang berdesir di hati keduanya. Dan sulit diartikan.


"Bajuku kotor! " Arrida mengalihkan tatapannya. mencoba menetralisir hatinya. Lalu memperhatikan bagian belakang bajunya lebih tepatnya bagian belakang roknya.


" Ah iya, kamu ke toilet ya, ganti baju...kebetulan hari ini aku pelajaran olahraga, jadi bawa kaos olahraga... kamu pake itu ya." Kata Uwais sambil menarik lengan Arrida menuju kamar mandi yang ada di dekat parkiran.


"Nggak papa kak, aku juga olahraga hari ini, jam pertama. Biar aku langsung ganti aja"


"Iya kah? berarti pelajaran kita hari ni sama? jam ke berapa mapel olahraga mu? "


" Ini nanti, jam pertama"


" Sama ya? tapi selama ini kok aku gak pernah lihat kamu di lapangan? "


"Entah... " Arrida mengedikan bahunya tak mengerti.

__ADS_1


Uwais hanya tersenyum dan mengangguk.


Uwais menyerahkan payung pada Arrida. Dia segera memarkirkan sepedanya di tempat seharusnya.


"Kalau hari ini kayaknya kita bakal bareng olahraganya di GOR, karena hujan sih... pasti aku bakal ketemu kamu. Guru olahraga mu siapa?" tanya Uwais.


"Pak Jefry...! "


"Oh" hanya itu yang bisa Uwais katakan. Ada sesuatu yang sulit dia jelaskan. Rasa khawatir. Namun dia abaikan.Ia pun menjajari langkah Arrida menuju toilet.


" Untung olahraga, walaupun telat masuk kelas, kita bisa langsung ke lapangan atau GOR" ujar Arrida


Uwais mengangguk membenarkan apa yang diucapkan Arrida.


Tiba di toilet. Arrida segera masuk ke bagian putri dan mengganti bajunya dengan seragam olahraga. Begitu pun Uwais, ia masuk ke toilet putra lalu mengganti bajunya dengan seragam olahraga.


Setelah keduanya siap. Mereka pun menuju GOR karena mereka tau teman-temannya sudah ada yang kesana.


Benar saja, GOR sudah tampak ramai, bukan hanya kelas Arrida namun juga ada yang dari kelas Uwais,dan dari tiga kelas lainnya.


"Kamu gak ke kelas dulu Da?" tanya Hani ketika Arrida baru saja gabung dengan kelasnya.


"Iyya, ada kecelakaan dikit, tadi keserempet sepeda"


"Lah kamu gak papa Da? " kali ini Nana yang bertanya


"Nggak, cuma seragam ku kotor, tapi udah aku bersihkan... Ntar kalo masih basah juga ijin sama guru aja pake baju olahraga selama pelajaran lain karena bajunya kotor"


Hani dan Nana mengangguk.


"Oh iya, Sabtu ini, kita pelantikan kan ya?" tanya Nana pada Arrida.


"Iya.... kalian udah siap? " tanya Arrida pada Nana dan Hani.


"Jelas dong... harus selalu siap apalagi bakal ketemu si tampan kak Uwais" kata Nana dengan nada centilnya


Hani menyenggol lengan Nana


"Udah, nanti kita bicarain lagi, tuh lihat pak Jefry lagi ngelihatin kita" kata Hani setengah berbisik. Ketiganya pun setengah berlari mendekati pak Jefry dan teman sekelas lainnya.


🥦🥦🥦


Hari itu semua kelas yang jam pertama nya mapel Penjasorkes menempati GOR. Untuk kemudian tempat olah raga pun dibagi. Ada yang latihan basket, voli, atau hanya lempar pukul bola. Dan pada akhirnya diadakanlah pertandingan antar kelas. Hanya untuk mengisi kegiatan olahraga. Kali ini kelas Arrida melawan kelas Uwais. Sementara yang ditunjuk sebagai pemain masuk ke lapangan basket, yang lainnya duduk menyaksikan dan mendukung pertandingan.


Uwais menjadi pemain mewakili kelasnya. Arrida menyaksikannya. Entah mana yang dia dukung. Walaupun teriakannya memanggil dan mendukung kelasnya, namun tatapannya hanya tertuju pada Uwais.


Sama halnya Uwais, dia sering memandangi arah penonton, pikirannya tidak fokus bermain, karena melihat sesuatu yang membuat hatinya tidak nyaman, tepatnya pada pak Jefry yang terus menerus memperhatikan Arrida.


"Oh.. jangan sampai" hatinya bergumam


Setelah beberapa waktu berlalu, pertandingan pun usai, dimenangkan kelas Arrida. Jam pelajaran olahraga pun selesai. Para siswa sudah banyak yang meninggalkan GOR, ada yang memilih ke kantin ataupun ke kelas.


...🍒🍒🍒🍒🍒...

__ADS_1


__ADS_2