
"Katanya pakaian masih lengkap, kok kamu bisa bilang Uwais melakukannya?" Bu intan masih penasaran. Yang lain juga. Kecuali pak Lukman yang sudah membaca isi chat antara Audy dan Uwais (KW).
"Itu karena ... Area sensitif saya sakit dan mengeluarkan darah ... Saya chat dia, dan mendesaknya apa yang terjadi ketika di hotel. Dia jawab dia khilaf, tapi itu terjadi karena dia mencintai saya jadi dia tidak bisa menahannya ... dan saya memaafkannya, tapi...." Audy kembali menangis.
"Tapi apa?" Bu Intan masih bertanya.
"Tapi setelah kemarin saya kasih tau kalau saya hamil, nomernya langsung tidak aktif nyampe sekarang ... Makanya saya marah, Bu, dia tidak mau bertanggung jawab!" kata Audy penuh kekecewaan.
"Tapi, saya berani bersumpah tidak melakukan hal itu!" Uwais berani menjamin bahwa dirinya tidak bersalah.
"Dasar bren*sek!!!" Audy marah. Bu Sofia langsung mengelus punggungnya Audy agar bisa tenang.
"Tenanglah!!" perintah Pak Tino membuat suasana di ruangan itu menjadi hening.
"Audy ... Sebelum kamu mendapatkan chat asing atas nama Uwais, apa kamu pernah punya masalah dengan orang lain? Mungkin ada orang yang membenci kamu atau kamu yang membenci dia?" tanya Pak Tino dengan sangat hati-hati.
Audy terdiam kembali, mengingat sesuatu. Lebih tepatnya seseorang.
"Ada Pak ... Ruben ... Sebelum ada chat asing, saya pernah nolak dia, dia kayaknya gak terima, tapi setelah itu dia tidak pernah ganggu saya, Pak,"
"Tunggu ...." Pak Tino mengingat seseorang.
"Apakah Ruben anak kelas 12 IPA 4?" tanyanya kemudian pada Audy.
"Iya, Pak," jawab Audy singkat.
Pak Tino dan pak Lukman saling memandang. Selama ini mereka memang sedang mengawasi beberapa anak yang perilakunya memiliki kecenderungan melanggar aturan, bukan hanya di ranah sekolah tapi juga di luar sekolah, seperti nongkrong di jalanan di malam hari, balapan liar, dan main di klub malam. Dan salah satu nama yang masuk dalam daftar pengawasan adalah Ruben.
"Di kafe apa kalian janjian dan hotel mana?" tanya Pak Lukman kini pada Audy.
Audy pun menjawabnya.
"Biar kasus ini kami tangani, Audy tenanglah, nanti pihak sekolah akan bertemu dengan orang tuamu, dan Uwais ... Sementara kamu dalam pengawasan kami, dan bila diperlukan kami juga akan memanggil orang tuamu!" Pak Lukman menyampaikan keputusannya.
Uwais hanya mengangguk. Ia serahkan semuanya pada pak Lukman.
Bu sofia dan Bu Intan segera menghubungi orang tua Audy. Pak Lukman dan pak Tino dibantu pak Sofyan, segera menghubungi kepala sekolah. Dan atas ijin dari kepala sekolah, mereka juga sudah menghubungi polisi, mereka meminta bantuan pihak kepolisian untuk menyelidiki kasus ini. Secara kebetulan, kepala sekolah memang punya channel dengan pihak polisi, sehingga lebih memudahkan mereka untuk bekerjasama dalam penyelidikannya.
Kini mereka sedang mengidentifikasi nomer Uwais palsu, dan memeriksa CCTV hotel juga kafe sebulan yang lalu.
__ADS_1
πΌπ¦πΌ
"Yang bener, Da? Masa kak Uwais kayak gitu?" Nana tak percaya.
"Aku juga kaget, Na, tapi lihat mbak Audy aku jadi kasihan ...."
"Lalu apa kata hatimu?" tanya Hani. "Kamu percaya?" lanjutnya.
"Mau nggak percaya, tapi kejadian, masa iya mbak Audy bohong, ini kan hal yang memalukan, Han,"
"Sabar ya, Da," Nana mengelus pundak Arrida.
"Kamu sedih banget ya, Da?" tanya Hani kini.
"Nggak, cuma kecewa aja dan nyesel, baru pertama kali mencintai orang, ternyata malah mencintai orang yang salah ... Nasiiib nasiiib,"
"Belum tentu benar, Da... Hati kecil kamu pasti mengatakan kalo kak Uwais tidak salah!" Hani menyemangati.
"Pengen nangis boleh gak?" Arrida memelas.
Nana dan Hani tersenyum mengusap punggung Arrida.
πΌπ¦πΌ
Sejak pagi, keadaan sekolah bagi Uwais terasa tidak mengenakan hatinya. Ternyata ada postingan di grup sekolah. Berisi gambar Uwais dengan tulisan hot daddy, disampingnya gambar Audy dengan tulisan hot mommy, dan di tengahnya ada gambar bayi dengan tulisan little baby, lalu caption nya #Anak kecil ber - anak kecil
Uwais menarik nafas panjang, ia menggeleng pelan.
πΌ
"Na, Han, lihat Arrida?" tanya Uwais pada Nana dan Hani yang sedang duduk menyaksikan pertandingan voli antara kelas mereka dengan kelas sebelas.
Sedari tadi dia tidak melihat Arrida di sekolah. Sengaja dia mencari gadis itu, karena dia sangat merindukannya. Ada sesuatu yang ingin dia ceritakan. Masalah kemarin.
Nana dan Hani hanya menoleh. Nana menunjukkan wajah ketidaksukaannya. Sementara Hani hanya menatapnya datar. Uwais memahaminya. Ia hanya tersenyum getir.
"Kak Uwais masih sanggup gitu bicara ma kita? Kita kecewa sama kakak! Dan aku nyesel nge-idolain kakak, gak ada akhlaq!" ungkap Nana sinis.
Hani memegang tangan Nana. Hanya gadis ini yang bisa mengendalikan emosinya. Dia lebih tenang.
__ADS_1
"Itu gak bener kan, Kak?" tanya Hani.
Uwais tersenyum penuh makna berharap Hani bisa mengerti kalau senyumannya merupakan jawaban bahwa semua yang terjadi adalah fitnah. Hani menatap Uwais mencoba mengerti arti dari senyuman yang diberikan Uwais.
"Jadi, itu gak bener, kan?" tanya Hani memastikan.
"Semua akan terjawab, Han, yakin aja ... Allah pasti nunjukin yang benar itu pasti benar, yang salah itu pasti salah, kalaupun sekarang aku bilang semua itu fitnah, mana ada yang mau percaya? Disini tetap aku yang salah, bukan Audy!" jawab Uwais.
Hani dan Nana mulai bersimpati. Mereka mulai merasa iba pada Uwais.
"Maafin kita Kak, udah ikutan percaya kalo kakak melakukannya pada mbak Audy!" Hani minta maaf.
"Iya Kak, maafin ya ... Soalnya aku kecewa banget kalo kakak beneran gak ada akhlaq!" kata Nana.
Uwais sedikit terkekeh.
"Lalu dimana teman kalian sekarang?" Uwais menanyakan keberadaan Arrida.
"Belum dateng, Kak," jawab Hani singkat.
"Atau mungkin emang sengaja gak mau dateng," kata Nana. "Males ketemu kakak," lanjutnya.
"Naaaa ...." Hani mencubit lengan Nana memberi isyarat agar diam.
"Ya udah gak papa," Uwais agak kecewa. "Aku pergi dulu ya," kata Uwais akhirnya sambil meninggalkan Hani dan Nana.
"Kasihan kak Uwais ya, berasa Arrida waktu kasus video itu, dikucilkan, diremehkan, lihat ... Dia sendirian!" Hani memberi komentar sambil melihat punggung Uwais yang akhirnya menghilang dari pandangannya.
"Iya, lagian, kemana sih kak Roni, kak Asep, dan kak Rian?" Nana sedikit protes melihat Uwais hanya sendirian, tanpa ada sahabat disampingnya.
"Entahlah, mungkin mereka sibuk," jawab Hani.
"Atau mungkin mereka juga kecewa ma sikap kak Uwais?" tanya Nana lagi.
"Kalo seorang sahabat, kayaknya gak gitu deh, Na, pasti mereka akan saling dukung dan selalu menyemangati!"
"Iya seh, tapi kalo dipikir, mending kak Uwaislah Han, gak ada acara dilempari minuman dan kuah kotor kayak Arrida!" ujar Nana yang mendapatkan anggukan dari Hani.
πΌπ¦πΌ
__ADS_1
"Da, kamu udah lihat video di grup sekolah kan? Kak Uwais benar-benar sendirian saat ini,"
...πΈπΈπΈπΈπΈ...