
Satu tinju lagi Uwais berikan di pipi yang sama, hingga Bryan merasa benar-benar kesakitan, dia bukan hanya mengusap sudut bibirnya, tapi juga menahan sakit di pipinya. Cairan merah dan amis keluar lumayan banyak dari mulut Bryan.
Bryan meludah ke lantai, cukup banyak darah yang keluar, dua giginya ternyata terlepas. Dia pun tersulut emosi, dia turun dari tempat tidur kemudian mendekati Uwais hendak meninjunya. Sayang, Uwais terlebih dahulu menangkisnya. Akhirnya perkelahian diantara mereka pun terjadi. Pukulan dan tendangan dari keduanya mewarnai pergulatan mereka. Beberapa kali Uwais mendapatkan pukulan dan tendangan. Bibir dan pelipisnya terluka. Hidungnya juga sempat mengeluarkan darah. Namun apa yang Uwais dapatkan tidak sebanyak dan separah Bryan. Hingga akhirnya Bryan tumbang, dia terkapar di lantai karena tidak bisa membalas apapun setelah tangannya dipatahkan oleh Uwais.
"Ini untuk tanganmu yang berani menyentuh Arrida-ku!" ucapnya ketika dia mematahkan tangan Bryan.
Uwais menetralkan nafasnya yang masih tersengal.
Ia menatap ke arah Arrida yang masih saja terdiam. Tubuhnya yang hanya mengenakan dalaman, membuat hati Uwais merasa ngilu dan nyeri, rasanya perih seperti tersayat sembilu.
Ia segera mendekati gadis itu. Gadis tangguh yang selalu ceria kini tidak berdaya. "Maafkan aku, Ar!" ucap Uwais penuh penyesalan. Ia benar-benar merasa rapuh, air matanya mengalir tanpa diperintah. Ia segera menarik seprai untuk menutupi tubuh Arrida, kemudian menggendongnya ala bridal style.
Tepat saat itu Andri dan supir taksi yang bernama Arka masuk ke kamar. Diikuti beberapa asisten rumah tangga dibelakang keduanya, mereka penasaran dengan apa yang sudah terjadi.
"Abang gak papa?" tanya Andri pada Uwais.
Uwais hanya menggeleng. Ia pun segera keluar kamar.
"Jika dia bangun, sampaikan, jika dia berani, silahkan tuntut aku, kita selesaikan lewat jalur hukum!" ucap Uwais pada salah satu asisten rumah tangga yang terlihat lebih senior dari yang lainnya. Para asisten rumah tangga itu kompak mengangguk dengan takut-takut.
"Beresin tuh tuan kalian dan dua satpam didepan!"perintah Andri. "Ayo, Bang." ajak Andri pada Arka yang sedang mengambil gambar keadaan Bryan melalui kameranya. Dia juga sebelumnya sudah mengambil gambar keadaan satpam yang terkapar tak berdaya di halaman. Ternyata Arka adalah teman se-kos Andri, dia sedang menyelesaikan skripsinya, sembari bekerja menjadi supir taksi.
Keduanya segera menyusul Uwais.
"Bang, biar motornya aku yang bawa, abang naik taksi aja ma bang Arka." saran Andri pada Uwais. Mereka kini berada di depan pintu rumah, terlihat dua satpam sudah terkapar di dekat teras. Dengan tatapannya yang masih datar menahan perih di hatinya, Uwais menganggukkan kepalanya, mengiyakan apa yang disarankan oleh Andri.
Tiba-tiba sebuah mobil berwarna silver masuk ke halaman, diikuti sebuah mobil hitam di belakangnya. Kedua mobil itu berhenti di depan teras. Sekilas, Uwais menatap orang yang baru keluar dari mobil silver, seorang lelaki paruh baya yang usianya sekitar lima puluh tahun, penampilannya sangat perlente. Orang tersebut menatap Uwais dengan tatapan yang sulit diartikan. Tapi Uwais tak peduli, hanya saja ia merasa mengenal orang-orang yang keluar dari mobil hitam. Itu kelima bodyguard yang tadi siang ingin membawa Fika. Lalu orang perlente itu siapa? Mungkinkah Bobby? Masa setua itu?
"Kalian siapa? Kenapa ada di rumah saya?" tanya orang perlente yang ternyata si pemilik rumah. Sesaat orang tersebut memperhatikan wajah Uwais yang tampak kacau akibat berkelahi, kemudian dia melihat Arrida yang ada dalam gendongan Uwais dalam keadaan berselimut seprai, selanjutnya ia juga memperhatikan keadaan Andri dan Arka, serta kedua satpam yang mulai sadar kemudian mereka berdiri dengan takut-takut, sambil memegang luka bekas pukulan di wajah mereka.
"Om pemilik rumah ini? Berarti, Om ayahnya Bryan kah?" tanya Andri pada lelaki paruh baya itu.
"Iya, kenapa dengan anak itu? Dia membuat masalah apa?"
"Maaf, Om, saya yang salah, mungkin saya telah mematahkan tangan Bryan karena telah berani menyentuh calon istri saya," tukas Uwais.
"Kurang ajar!"lelaki paruh baya itu tersulut emosi. Ia marah pada Bryan, anak yang seharusnya bisa dibanggakan justru selalu saja membuat masalah semenjak dia di bangku SMP.
__ADS_1
"Kamu tau kalau tindakanmu salah?"tanya bapak itu lagi.
"Saya tau, saya sudah main hakim sendiri ... Maafkan saya Om ... Saya khilaf, saya terlalu marah melihat calon istri saya hampir saja ditelanjangi. Bukan saja karena hari ini, tapi Bryan selalu menggoda calon istri saya," ujar Uwais sambil. memandang Arrida yang ada dalam gendongannya. "Saya siap bertanggungjawab, Om, kita bisa selesaikan melalui jalur hukum." sambungnya penuh ketegasan.
Lelaki paruh baya itu diam. Dalam hatinya, ia merasa kagum dengan Uwais. Seorang pemuda yang jujur, berani dan bertanggung jawab.
"Gadis ini calon istrimu?" tanya lelaki itu.
Uwais mengangguk.
"Dia gak sadar?" tanyanya lagi
"Dia dipengaruhi obat bius, Om, saya melihatnya ketika Bryan membekapnya pake sapu tangan," Andri yang berbicara.
Lelaki itu menggelengkan kepalanya kesal dengan Bryan.
"Om tidak akan menuntutmu, biarlah Bryan merasakan akibat dari perbuatannya,"
"Tapi, mungkin saya sudah mematahkan tangannya, Om, "
"Uwais, Om,"
"Okke, Uwais ... Om adalah Radith, ayahnya Bryan, Om minta maaf atas kelakuan buruk Bryan ... Kita berdamai saja... Om juga gak mau nama Om tercemar gara-gara Bryan yang akan memperkosa calon istrimu. Om pastikan Bryan tidak akan mengganggu calon istrimu lagi, dan kamu bisa tenang menjaga dia ya," ujar pak Radith sambil melihat Arrida yang ada dalam gendongan Uwais.
"Terima kasih, Om, sekali lagi saya mohon maaf atas kekhilafan saya, "
"Sudah tidak papa, anak itu memang pantas mendapatkannya. Pulanglah, kasihan dia!" kata pak Radith sambil menunjuk Arrida dengan isyarat dagu.
Uwais mengangguk. "Baik Om, terimakasih, kami permisi,"
πΌ
"Arrida udah bersih, kamu mau menemuinya?" tanya Fika pada Uwais yang sedang duduk di ruang belakang resto. Dia memakaikan baju miliknya kepada Arrida.
Uwais mengangguk. Ia pun segera menemui gadis itu, yang sampai saat ini belum sadarkan diri. Perih di ulu hatinya masih saja terasa, ia belum bisa menerima jika Arrida hampir saja menjadi korban pelecehan. Tangisnya pecah, sambil terisak ia mencium kening Arrida dan membelai pucuk kepalanya beberapa kali.
"Maafkan aku ... belum bisa menjagamu dengan benar,"ucapnya. Ia menangis sambil menggenggam dan mencium tangan Arrida, hingga air matanya mengenai tangan gadis itu.
__ADS_1
...πΈπΈπΈπΈπΈ...
...Makasih kakak readers...
...Makasih udah setia mampir n baca kisah Arrida dan Uwais sampai sejauh ini...
...Makasih atas dukungannya, like, favorit n kommentnya...
...Sehat selalu ya kakak readers...
...Hatiku Padamu Kak readers pake banget......
...Semoga kak readers tetap suka dan terhibur yaaa...
...π₯°π₯°π₯°ππ»ππ»ππ»πππ...
ππππππππππππππππππππ
Kak reader mampir juga yuk di novel sahabat literasiku... pokoknya ceritanya keren pake banget.... πππ
Judul: PURA-PURA MISKIN
Author: Momoy Dandelion
Ini Blurbnya:
Pura-pura menjadi orang miskin malah mempertemukan Ruby dengan seorang pemuda kaya yang angkuh dan sombong bernama Melvin.
Lelaki itu tersenyum sinis seakan merendahkan, "Heran kampus bisa menerima mahasiswa jorok seperti ini. Miskin lagi. Ini kampus atau yayasan sosial. Mekanisme yang aneh."
"Hahaha.... Kata-katamu kejam sekali, Vin. Kasihan dia masih baru di sini. Nanti kena mental."
Belum tahu saja mereka kalau orang yang sedang dihina juga anak seorang pengusaha besar.
Happy Reading yaaaπππ
ππππππππππππππππππππ
__ADS_1