
"Ridaaa ... gue seneng banget!" Lani berteriak bahagia di kamarnya kemudian ia mendekap Arrida dengan sangat erat. Ia baru saja datang setelah seharian tidak di asrama.
"Hei, ada apa?" tanya Arrida sambil melepaskan dekapannya. Ia begitu penasaran.
"Tau gak? bang Kirno nembak gue, gue seneng banget ..." cerita Lani berseri.
"Hah benar kah?" Arrida ikut tersenyum.
"Iya, jadi tadi, dia janjian ma gue abis Maghrib,"
"Oh, pantesan bang Kirno ijin pas Maghrib ga di resto"
"Iya, dia ngajak gue jalan, kita ke alun-alun kota, sambil lihat bintang, dia bilang gini... 'Aku suka kamu, Lan, mau gak jadi pacar aku' ... gitu, Da"
"Wah, senengnya ..."
"Iya, satu semester, Da ... gue nungguin momen ini, akhirnya terjadi juga, gue langsung aja jawab 'ya, aku mau' ... gitu, Da." kata Lani sambil merentangkan tangannya, tubuhnya berputar-putar kemudian menjatuhkan diri ke tempat tidur. Dia tidak berhenti tersenyum bahagia.
"Duh, bahagia banget yaaa"
"Banget, Da ... kamu tau kan rasanya waktu ditembak orang yang kita sukai ... saat dia ngungkapin perasaannya ma kita, itu luar biasa banget kan?" tanya Lani seakan tahu kalau Arrida pun pernah merasakannya.
Arrida mengangguk. Ia tersenyum garing. Hatinya nyeri. Uwais tidak pernah menyatakan perasaannya. Ia tidak pernah merasakan 'ditembak cinta' oleh Uwais, justru dialah yang mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu. Bahkan sejak Arrida mengungkapkan perasaannya dua setengah tahun lalu pun, ia tak pernah mendapatkan balasan apapun dari cowok pujaannya itu.
Ya, sejujurnya, ia sendiri tidak pernah tau apakah Uwais menyukainya atau tidak karena tidak pernah ada kata 'suka, cinta, ataupun sayang' dari mulut Uwais untuknya. Yang ia tahu, Uwais begitu banyak memberi perhatian dan dukungan kepadanya. Yang Arrida rasakan selama ini hanyalah sebuah keyakinan yang ada di dalam hatinya saja. Sebuah keyakinan bahwa Uwais menyayanginya, terlihat dari semua sikap-sikapnya pada Arrida. Makanya, walau tanpa ada ucapan 'cinta' ataupun 'sayang', ia tetap menjalani hubungannya dengan Uwais sampai saat ini, karena rasa nyaman, dan saling menjaga hati. Itu saja.
"Beruntungnya kamu, Lan!" ucap Arrida lirih.
"Hei ... kenapa sedih?"
"Aku gak pernah merasakan apa yang kamu rasakan"
"Hah, yang bener? lo serius, Ar?"
Arrida mengangguk.
"Kak Uwais belum pernah bilang cinta atau sayang ke elo?"
Arrida menggeleng.
"Lalu, waktu kalian jadian gimana?"
"Aku yang ngirim surat cinta ke dia!"
"Waw keren ... terus?"
"Ya udah, kita jalani ... mengalir gitu aja, dan dia gak pernah bilang cinta, atau bilang maukah kamu jadi pacarku ... kayak bang Kirno ke kamu!"
"Tapi mungkin aja dia pernah bilang sesuatu ke elo, sehingga lo mau ngejalani ini semua?"
"Dia cuma bilang aku adalah salah satu dari tujuan hidupnya, dan dia minta aku untuk jaga hati, karna dia juga menjaga hatinya"
"Ouwh ... itu keren, Da! Berarti kak Uwais udah menetapkan lo sebagai masa depannya, dengan bilang gitu dia bermaksud untuk selalu menjaga kamu dan memperjuangkan kamu."
"Aku juga berpikir gitu, Lan! Tapi kadang aku juga pengen dengar kata-kata romantis kayak gitu, bahkan saat berjauhan, dia gak pernah bilang aku kangen kamu ataupun rindu kamu."
"Yang bener?"
"Iya... paling kalo ketemu aja, dia cerita gini ... kalau aku merindukan seseorang, maka aku akan lihat indahnya langit malam atau mengenang seseorang yang jauh disana saat hujan, dan yang dirindukan itu adalah aku ... atau dia cuma bilang ... kalau aku adalah yang pertama dan untuk yang terakhir, "
"Wah ... itu so sweet banget, Da!"
"Iya seh, kak Uwais emang so sweet, suka bikin hati meleleh ... sikapnya, perhatiannya...."
"Dan juga tampan, Da!" kata Lani sambil nyengir.
Arrida terkekeh.
"Walau dia gak ngungkapin kata sayang atau cinta, tapi semua yang dia lakukan ke elo itu, udah sangat luar biasa, Da! Kelihatan banget kalo dia itu sayang sayang banget ma elo, Da."
Arrida mengangguk dan tersenyum kecil, membenarkan apa yang Lani katakan. Memang ia juga merasakan perhatian yang luar biasa dari Uwais, yang selalu membuatnya merasa sangat istimewa.
"Oh ya, Da ... Lo jadi pulang besok?"
"InsyaaAllah lusa, Lan, kalo kamu jadi pulang gak?"
"Kita lihat aja, Da ... Mungkin malah gak jadi pulang,"
"Kenapa?"
"Masih kangen ma bang Kirno" kata Lani sambil nyengir.
__ADS_1
"Ya ampuuun"
Lani terbahak.
"Mungkin, sebaiknya gue disini aja deh, biar bantuin bang Kirno di resto, kan elo ma kak Uwais lagi gak ada."
"Yaa, bolehlah, bolehlah!" kata Arrida sambil tertawa kecil.
πΌπ¦οΈπΌ
"Dek, Arrida tidur tuh di dekat tempat sholat, kasihan, kayaknya capek ... mbak panggil-panggil, tapi gak bangun juga, coba sama kamu gih, suruh pindah aja di kamar mbak," kata Fika pada Uwais.
"Oh iya mba, makasih, biar Uwais yang bangunin, dia kebiasaan, kalo udah capek atau ngantuk, dia emang bisa tidur gitu aja, dimana aja,"
"Wah, lucu juga" Fika terkekeh.
"Iya mbak, ya udah, aku kesana dulu" kata Uwais sambil menunjuk arah tempat sholat.
Fika pun mengangguk, mempersilahkan.
Uwais segera ke tempat sholat. Dia melihat Arrida sedang tidur sambil duduk dengan kepala berada di atas meja di ruangan dekat tempat sholat. Uwais mendekatinya dengan langkah sangat pelan.
"Ar, bangun, Ar!" panggil Uwais sambil menggoyangkan bahu Arrida. Namun gadis itu hanya diam saja, tidak ada tanda-tanda akan bangun. Malah karena guncangan di pundaknya, membuat rambut Arrida menutupi wajah cantiknya.
"Ar ... " panggilnya sekali lagi. Namun, gadis itu masih juga belum merespon.
Tangan Uwais perlahan terulur untuk menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Arrida. Namun ketika menyentuh wajahnya dia terkejut, karena suhu tubuhnya terasa panas. Ia menempelkan punggung tangannya di leher Arrida.
"Ya Allah, kamu demam, Ar" kata Uwais khawatir.
Tak butuh waktu lama, Uwais menggendong Arrida ala bridal style, dan itu malah membuat Arrida terbangun.
"Eh Kak, turunin, kok digendong?"
"Udah, diem aja, kita ke kamar mbak Fika"
"Eh, mau apa?" tanya Arrida heran.
Uwais hanya tersenyum geli mendengar pertanyaan dari gadis kesayangannya itu.
"Menurutmu mau apa?" tanya Arrida masih tetap menggendong Arrida dan berjalan menuju kamar Fika.
"Kakak jangan macem-macem ya"
"Trus kakak mau ngapain? Biar aku jalan sendiri aja"
Uwais tiba-tiba mengehentikan langkahnya, ia melirik pada gadisnya itu. Arrida mengernyitkan keningnya.
"Kenapa?"tanya Arrida
"Ngedenger kamu ngeres, aku jadi berubah pikiran, gimana kalo kita ke kamarku aja, gak usah ke kamar mbak Fika? Hm?"
"Ih, serem itu tatapan .... Gak mau!!! Turunin kak!" pinta Arrida memaksa.
Namun Uwais tak menggubrisnya, ia pun membawa gadis kesayangannya itu ke kamar Fika. Lalu membaringkannya dengan sangat hati-hati.
"Istirahatlah, kamu demam, aku akan beli obat ke apotik. Apa yang kamu rasakan hm?"tanya Uwais sambil duduk disamping Arrida.
"Hanya tiba-tiba aja kepalaku sakit, Kak, pusing kalo berdiri kayak ruangan ini berputar-putar, dan perutku sakit banget" kata Arrida sambil memegang perutnya kemudian ia menyentuh lehernya sendiri untuk memastikan jika dia demam.
"Ya udah, tunggu ya, aku beli obat dulu"
"Gak usah, Kak ... gak papa, aku hanya sakit karena ...." Arrida mengehentikan kalimatnya.
"Karena apa?"
"Ehmmm..." Arrida tampak ragu untuk mengatakannya.
"Apa?" Uwais makin cemas dan penasaran.
"Aku ... baru dapet"
"Dapet apa?"
"Tamu bulanan kak" kata Arrida sambil menahan malu.
"Oh," Uwais mengerti.
"Tapi, apa suka sampai demam?"tanya Uwais kemudian.
"Nggak sih, mungkin ini karna aku kurang fit aja, terlalu capek ... Aduuh," Tiba-tiba perut Arrida terasa melilit. Arrida langsung meringkuk sambil kedua tangannya menekan perut untuk meredakan sakitnya.
__ADS_1
"Kamu suka minum obat gak?" tanya Uwais lagi.
Arrida menggeleng.
"Trus apa yang harus aku lakukan?"
"Kakak, cukup diem aja, gak usah panik, aku gak kenapa-kenapa"
"Ya udah aku panggil mbak Fika aja, ya" kata Uwais. Ia ingat, dulu, jika Fika mendapatkan tamu bulanan pasti sakit perutnya, bahkan kadang suka pingsan. Dan Bu Tania selalu rajin mengoleskan minyak kayu putih di perut dan punggung Fika, bahkan beberapa kali Uwais juga pernah diminta untuk mengoleskan minyak kayu putih tersebut pada Fika.
Arrida menarik tangan Uwais yang baru saja bangkit dari duduknya, seperti menahan agar Uwais tidak pergi.
"Ada apa,hm?"
"Besok kita tetep pulang kan?" Tangan Arrida masih memegang lengan Uwais.
"Kalo kamu masih sakit, kita cancel." Kata Uwais sambil kembali duduk disamping Arrida. Tangan satunya melepaskan tangan Arrida dari lengannya, kemudian ia menggenggam telapak tangan gadisnya itu dengan erat.
"Eh, jangan kak, aku pasti sehat, nih udah gak kerasa lagi kok, udah bisa lebih tenang," kata Arrida masih membiarkan tangannya digenggam.
Uwais tersenyum.
"Ya udah, sekarang istirahat aja ya," kata Uwais sambil mengusap-usap punggung tangan Arrida yang digenggam.
"Kak... " panggil Arrida pelan
"Ada apa lagi? hm? butuh sesuatu? Aku buatkan air hangat ya atau ...."
"Makasih ... " ucap Arrida memotong perkataan Uwais. Ucapannya terdengar lirih.
"Hmhh? Untuk??" Uwais tak mengerti.
"Segala hal"
"Maksudnya?"
"Perhatian kakak ke aku"
Uwais tersenyum.
"Semua perhatian kakak ke aku, udah banyak banget bahkan berlebih, sampai aku gak tau harus gimana, bahkan untuk hal sakit seperti ini aja, kakak cemasnya minta ampun."
"Siapa lagi kalo bukan aku, Ar?"
"Tapi perhatian kakak ini bikin aku baper terus kak ... Aku semakin dalam merasakannya," kata Arrida sambil memegang dadanya, "Gimana kalo aku gak bisa jauh-jauh dari kakak,"
"Baguslah ... jadi kamu akan selalu dekat denganku."
"Tuh kan ... kakak suka bikin aku meleleh."
Uwais tersenyum, sambil tangan satunya mengusap kepala Arrida.
"Apa kakak sayang aku?" tanya Arrida tiba-tiba.
...πΈπΈπΈπΈπΈ...
...Makasih kakak readers...
...Makasih udah setia mampir n baca kisah Arrida dan Uwais sampai sejauh ini...
...Makasih atas dukungannya, like, favorit n kommentnya...
...Sehat selalu ya kakak readers...
...Hatiku Padamu Kak readers pake banget......
...Semoga kak readers tetap suka dan terhibur yaaa...
...π₯°π₯°π₯°ππ»ππ»ππ»πππ...
πππππππππππππππππ
π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°
Oh ya kakak readers mampir yuks ke karya temenku Aveii... novel bagus neh... pake banget ... πππππ»
...Happy reading yaaa...
__ADS_1
π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°
πππππππππππππππππ