
"Kakak jangan ngerjain aku, kakak ada di sini kan" Arrida membalas chat Uwais.
"Siapa Da?" Nana dan Hani kompak bertanya.
"Kak Uwais, kayaknya ada disini deh"
"Seriusan?" Nana penasaran.
Arrida kembali membuka chat dari Uwais. Sebuah foto selfie. Gambar Uwais sedang duduk di gazebo sekolah.
Arrida tersenyum, ia mengenali tempat itu, lalu ia mengalihkan pandangannya lurus menuju gazebo yang letaknya lumayan jauh dari GOR sekolah. Dari kejauhan tampaklah sosok yang sangat dirindukannya, sedang duduk, dan saat ini cowok itu melambaikan tangannya. Rupanya dia sudah dari tadi duduk di gazebo yang letaknya langsung menghadap pintu keluar GOR, sehingga bisa melihat aktivitas yang dilakukan di dekat pintu GOR.
"Itu kak Uwais... kesana yuk" ajak Arrida pada Nana dan Hani. Ia terlihat sangat tidak sabar ingin segera menemui Uwais.
"Haa ... Iyya bener... Ayo!" Nana bersemangat
"Tunggu... aku uda nahan pipis sejak di panggung, aku ke toilet dulu ya" Hani memberi alasan, padahal dia hanya ingin memberi waktu buat Arrida dan Uwais agar bisa berdua setelah satu semester tidak bertemu.
"Ya udah, aku antar kamu Han... Da, kamu duluan aja kesana" Nana memahami kode yang diberikan oleh Hani dan mereka pun membiarkan Arrida menemui Uwais.
🌼
"Kakak datang?" Tanya Arrida bahagia tak percaya. Wajahnya berbinar. Senyumnya terus mengembang.
Uwais membalas senyuman itu. Sejuk banget ketika mereka saling memandang.
"Sini! duduk disini" pinta Uwais pada Arrida, masih dengan senyumannya. Ia menepuk tempat di sampingnya.
Arrida segera duduk di samping Uwais.
Senyumnya masih saja tidak hilang dari wajahnya. Dia benar-benar tak percaya bahwa cowok pujaannya itu hadir saat ini, di saat ulang tahunnya yang ke tujuh belas tahun. Kebahagiaan yang tak dapat digambarkan dengan kata-kata. Ya, dia tidak dapat berkata apa-apa saat ini. Hanya bisa terus menatap seseorang yang selama hampir setengah tahun ini sangat dia rindukan.
"Selamat ulang Tahun Ar..."Uwais membuyarkan tatapan Arrida. Dia tau gadisnya itu sedang menatapnya penuh rasa ketidakpercayaan jika dirinya sedang berada di hadapannya saat ini.
"Ini beneran kakak??? kakak datang??!" Arrida menepuk-nepuk kedua pipinya sambil mengerjapkan matanya. Masih tak percaya.
"Iya Ar....aku datang" ucap Uwais lembut.
"Beneran?? ini kak Uwais?" Arrida sengaja memiringkan kepalanya memandang wajah Uwais dengan sangat dekat. Matanya masih mengerjap beberapa kali.
Uwais tersenyum, ia benar-benar suka dengan tatapan Arrida seperti itu. Tangannya pun terulur dan mengacak gemas pucuk kepala Arrida
"Aaah ini beneran kakak" Arrida berteriak senang sambil merapihkan rambutnya. "Hanya kakak yang suka mengacak rambutku"
Uwais bahagia mendengarnya. "Bener ya... cuma aku"Uwais memastikan dan gadis itu menganggukkan kepalanya
"Gimana kabarmu?"tanya Uwais kini.
"Aku baik banget kak" Arrida sedikit manja.
"Kapan kakak datang? kenapa gak bilang akan datang? sejak kapan kakak ada disini? Trus tadi berarti kakak lihat aku tampil? trus waktu chat tadi pagi apa kakak udah di kota ini?" Arrida memberondong pertanyaan.
Uwais terkekeh, betapa banyak gadisnya ini memberikan pertanyaan.
"Kak, kok malah ketawa...jawab kak, kapan kakak pulang kesini?"
__ADS_1
"Ar.... pertanyaan mu banyak banget, mana dulu yang harus aku jawab?"
Arrida nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Jawab semua, satu-satu" pinta Arrida.
"Okke ....aku kemarin naik kereta, dan tiba tadi subuh, saat chat sama kamu tadi pagi aku sudah ada di rumah, aku sengaja tidak kasih kabar karena memang ingin memberi kamu kejutan, dan waktu kamu bilang akan tampil, aku udah gak sabar ingin melihat penampilan kamu, aku segera meluncur ke sekolah ini setelah mandi dan makan"
Arrida tersenyum mendengar jawaban Uwais. Ia benar-benar tidak percaya bisa berhadapan langsung dengan cowok yang dirindukannya selama hampir setengah tahun ini.
"Tau kak... aku bahagia banget hari ini" kata Arrida akhirnya
"Tau ... tapi beri tau aku... kenapa?"
"Banyak banget alesannya kak"
"Apa aja?"
"Yang pertama... karena kakak dateng hari ini"
"Terus?" Uwais tersenyum
"Yang kedua karena kakak dateng melihat aku tampil"
"Hmm ... lalu?"
"Yang ketiga karena kakak dateng saat aku sweet seventeen"
"trus?"
"Yang kelima karena kakak dateng, dan saat ini ada dihadapan ku"
" Kakak tebak, yang keempatnya apa?"
Uwais terdiam, seperti memikirkan sesuatu. Hanya sesaat.
"Karena aku dateng?" jawab Uwais ragu-ragu.
Arrida mengangguk dengan ekspresi lucunya.
"Yang keenam, ketujuh, kedelapan, kesembilan dan ke sepuluh kakak bisa tebak gak?" Tanya Arrida
"Waw banyak banget, kalau aku bisa tebak kamu kasih apa?"
"Kakak minta apa?"
"Kalau aku minta.... sama aja kamu hanya niat ngasih karna diminta, tapi kalau kamu kasih begitu aja... itu seperti surprise bagi orang yang menerimanya"
Arrida mengangguk paham.
"Jadi kalau aku bisa nebak kamu kasih apa?"
"Kakak tebak dulu"perintah Arrida singkat
"Karena 'aku dateng'... benar kan?"
__ADS_1
"Tepat banget!!!" Arrida tersenyum, ia menjentikkan ibu jari dan jari tengahnya sehingga berbunyi, lalu telunjuknya menunjuk ke arah Uwais
"Kok kakak bisa tau seh..." Arrida sok terlihat sendu
"Kebaca ... dari wajah kamu" jawab Uwais singkat
"Heee gitu ya" Arrida nyengir. "Kalau gitu aku kasih kakak hadiah ya..."
Uwais langsung melirik gadis kesayangannya itu. Dia penasaran apa yang akan diberikan olehnya.
"Apa?"
"Aku hanya bisa ngasih doa... Semoga di ulang tahun kakak yang ke sembilan belas tahun ini, kakak makin sholih, sehat, sukses, dan barokah"
"Aamiin" Jawab Uwais tersenyum manis. Ia bahagia bahwa gadisnya ini selalu mendoakannya.
"Dan semoga..."
"Lho masih ada ya doanya?" Uwais menyela. Arrida hanya mengangguk sebagai jawaban. "Semoga apa?" tanya Uwais akhirnya.
"Semoga kakak gak lupain aku"
"Itu kamu ngasih doa atau minta sesuatu?" Tanya Uwais sambil tersenyum gemas
"Aku doain kakak, yang diselipkan pengharapanku untuk kakak, boleh kan? Semoga Allah meneguhkan hati kakak biar gak lupa ma aku"
Uwais tertawa kecil. Ia benar-benar kangen dengan celotehan gadisnya itu.
"Hahaha... mana bisa.... kita ya harus selalu ingat Allah, dan ingat orang tua... mana bisa ingat kamu doang " Uwais tergelitik untuk menggoda Arrida.
"Yah kakak, tingkatan dan porsinya kan beda, ranahnya juga beda"
"Bedanya?"Uwais sengaja memancingnya agar Arrida mau menjelaskan. Walaupun sebenarnya dia sudah tau jawabannya. Ranah cinta yang berbeda. Cinta untuk Allah, cinta untuk orang tua, cinta untuk sahabat, cinta untuk keluarga, cinta untuk guru, dan cinta untuk pasangan. Itu kata pak Salman selaku pembina PMR yang juga guru agama di sekolahnya.
" Gimana sih, inget gak... kakak pernah bilang... Selain Tuhan dan orang tua, ada aku disini dan disini kakak" kata Arrida sambil menunjuk dada dan pelipis Uwais.
Uwais tersenyum, dia bahagia, gadisnya itu mengingat kata-katanya tempo hari.
"Iya inget"
"Aku harap itu gak berubah... gak boleh berkurang apalagi berlebih"
"Berlebih? kenapa gak boleh lebih?"
"Nanti Tuhan cemburu" jawab Arrida sekenanya.
Uwais terkekeh.
"Mana ada Tuhan cemburu, Tuhan gak pernah ninggalin kita, yang ada, kitalah yang sering meninggalkan Nya"
"Tapi Tuhan Maha Sayang, Tuhan masih mau nerima kita walau kita banyak salah" Sela Arrida.
"Iya kamu bener... makanya nomer satu harus Tuhan, untuk disembah dan meminta ridho Nya" kata Uwais mengutip kata-kata pak Salman.
"Nomer dua orang tua, sebagai ladang amal tempat kita berbakti dan meminta doa dan restu" lanjut Arrida, ia juga ingat kata-kata dari pak Salman ketika beliau mendampingi kegiatan PMR.
__ADS_1
" Lalu aku di ranah mana?"
...🌸🌸🌸🌸🌸...