Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
43. HUT Sekolah (3) : Tumpeng cantik


__ADS_3

Hari Kamis ini, diselenggarakan acara eksternal yaitu lomba atletik tingkat sekolah dasar. Sehingga para pesertanya terdiri dari siswa yang berusia 9 sampai 13 tahun. Suasana sekolah begitu ramai. Seluruh anggota OSIS, Pramuka, PMR, dan PKS (Patroli Keamanan Sekolah) dikerahkan untuk mengawasi keadaan. Ada yang berjaga di gerbang sekolah, di tempat parkir, di area lomba, di kantin, dan ada yang standby di UKS. Bahkan Arrida, Hani, Nana dan Roni serta Asep, bertugas berkeliling di area lomba sambil membawa perlengkapan P3K di ransel kecil atau tas mini mereka.


Hari sudah mulai sore, para peserta lomba pun sudah mulai banyak yang meninggalkan area lapangan sekolah. Tinggal beberapa peserta saja yang masih ada di sekolah.


Arrida mengipas wajahnya dengan telapak tangan. Ia duduk dibawah sebuah pohon tak jauh dari lapangan area perlombaan atletik. Menepi dan menyepi. Dia ingin mengistirahatkan sejenak tubuhnya, karena yang dia lakukan seharian tadi cukup membuatnya lelah, setelah tadi menolong seorang anak yang tiba-tiba tak sadarkan diri karena kelelahan. Untung saat itu Arrida melewatinya dan memberikan pertolongan, kemudian melalui walkie talkie, ia meminta rekannya datang membawakan tandu, lalu membawa anak yang pingsan tersebut ke ruang UKS.


Sebelumnya lagi ada yang tiba-tiba sakit perut, Arrida segera menolongnya memberi pijatan hangat di perut siswi SD tersebut. Ada juga seorang siswi berusia sekitar 12 tahun yang tiba-tiba betisnya kram, saat dia berlari di perlombaan cabang sprint (lari cepat jarak 100 meter). Akhirnya didampingi guru pembimbing, dia dibawa ke pinggir lapangan, Arrida yang melihatnya segera menghampiri, kemudian dia mencoba melakukan pijatan ringan agar otot yang kram meregang, ia menggosoknya dengan lembut agar otot menjadi rileks. Ah, Arrida benar-benar melakukan yang dia ketahui dari materi yang disampaikan saat latihan PMR.


"Nih, diminum dulu, Ar," Uwais datang menghampiri Arrida, sambil menyerahkan sebotol air mineral. Ia tau apa yang dilakukan gadis kesayangannya itu seharian ini. Kini ia duduk dihadapan Arrida agak menyamping.


"Makasih, Kak," jawabnya sambil menerima botol tersebut, kemudian membukanya dan meminumnya.


"Hari ini kamu hebat, uda banyak berbuat baik, uda berapa orang kamu tolong? Kamu udah kayak dokter yang jadi sukarelawan,"


Arrida hanya tersenyum tanpa ingin menjawab.


"Gimana kaki Kakak?" tanya Arrida sambil meneguk kembali minumannya.


"Udah lebih baik, sementara kalo ke sekolah, dianter jemput ma Roni,"


"Syukurlah ...." kata Arrida singkat.


"Cape, Ar?"


"Lumayan, tapi sangat menyenangkan. Bisa membantu orang lain itu ada kebahagiaan tersendiri,"


"Hmmm bener itu ... sayang banget ... kakiku lagi sakit, kalo nggak, kita pasti udah kerja bareng, Ar,"


Arrida melirik dan tersenyum.


"Kakak yang sehat dulu ya," kata Arrida sambil menarik nafas panjang. Ia menyandarkan punggungnya di pohon. Memejamkan mata, seakan menikmati semilir angin yang berhembus.


"Kamu juga jaga kesehatan, ya," Uwais memperhatikan wajah teduh milik Arrida. Ada peluh menetes dari keningnya, mengenai anak rambutnya. Tangan Uwais terulur mengusap peluh di wajah Arrida dan menyingkirkan anak rambut yang menutupi matanya. Dan itu membuat Arrida membuka matanya terkejut. Menatap Uwais dengan nafas tertahan, ia menelan salivanya dengan susah payah. Ah, perhatian seperti inilah yang selalu membuat hati Arrida berdebar kencang.


"Kamu pasti lelah, tidur aja sebentar, biar aku temani ya," Uwais ikut duduk mensejajari Arrida, namun dia memilih mendekap kedua lututnya yang ditekuk sengaja memunggungi Arrida, agar Arrida bisa lebih rileks dan leluasa untuk mengistirahatkan tubuhnya, walaupun hanya dengan memejamkan matanya sesaat. Dia tahu kalau gadis itu tidak akan benar-benar tidur apalagi jika ada yang memperhatikannya.


'Please Kak, mana bisa aku tidur disamping kamu kayak gini,'" gumam bathin Arrida.


Namun akhirnya ia pun memejamkan matanya. Sesaat, hanya keheningan. Semilir angin menerpa wajah Arrida. Dan ternyata membuat gadis itu bisa dengan cepat tertidur.


Uwais menoleh kembali memperhatikan gadis kesayangannya itu. Tersenyum.


"Lelah banget ya, Ar," kata Uwais agak pelan, namun tak ada respon. Ia pun menggelengkan kepalanya, karena dia tahu kalau gadisnya itu sudah terlelap.


'Cepet banget dia tidur'


Uwais akhirnya ikut memejamkan matanya, sambil menunduk dalam lipatan kedua tangannya di lutut.


BUgg


Kepala Arrida terjatuh di punggung Uwais, membuat Uwais terkejut. Dia tidak tahu harus berbuat apa, jadi, dia membiarkan gadis itu tertidur di punggungnya.


🌼


Arrida terbangun, dia merasa pegal di leher dan pundaknya serta bagian kiri dari tubuhnya. Matanya mengerjap, mencoba mengembalikan kesadaran, sedikit menyipitkan kelopak matanya ketika cahaya tembus ke dalam netranya.


Penciumannya mengendus wangi yang familiar, parfum cowok pujaannya. Sontak ia membuka matanya lebar-lebar. Lalu bangun dari punggung Uwais memposisikan tubuhnya duduk tegak. Degup jantungnya yang tak karuan segera dia netralkan.


'Ya Allah aku tidur di punggung kak Uwais? bagaimana mungkin bisa? Aku tidur???' hati Arrida bergumam. Ia masih tidak percaya kalau dia bisa tertidur begitu saja. Telapak tangannya menepuk keningnya, kemudian kedua telapak tangannya menepuk kedua pipinya.


"Udah bangun?" tanya Uwais sambil menoleh ke belakang melihat wajah alami bangun tidur gadisnya itu. Ia merasakan punggungnya lebih ringan tak ada beban. Kini dia menegakkan tubuhnya. Pundaknya tertarik ke belakang, seperti sedang meregangkan otot-otot punggungnya. Pegal.


Arrida tak menjawab. Dia diam terpaku. Menatap Uwais namun dengan tatapan yang kosong.


Uwais menyadari kalau Arrida sedang merasa malu dan bingung.


"Iler nya tuh, Ar ... lap dulu, nih punggung ku nyampe basah," canda Uwais.


Spontan Arrida tersadar, dia langsung mengusap ujung bibirnya. Kering.


"Ish ... Kakak," tepukan manja mendarat di lengan Uwais.


"Bercanda, Ar," Uwais terkekeh.

__ADS_1


"Jadi tadi aku tidur ya?" Arrida masih tak percaya kalau dia dengan begitu mudahnya terlelap.


"Iya, lumayan lama,"


"Di punggung Kakak?"


"Iya,"


"Maaf ya, Kak,"


"Kenapa?"


"Pasti punggung kakak pegal,"


Uwais hanya tersenyum, ia mengusap lembut pucuk kepala Arrida. Memberi isyarat kalau dia tidak apa-apa.


'Kan ... aku melting ....' gumam bathin Arrida.


🌼🌦️🌼


Hari Jumat ini diselenggarakan lomba menghias tumpeng dan lomba akustik. Semua kelas sudah sibuk mempersiapkan diri untuk lomba menghias tumpengnya. Penilaian dilakukan oleh para guru yang dipilih menjadi juri. Dan kelas Arrida menjadi juara favorit karena memiliki cita rasa yang unik dan nikmat.


Walaupun tidak menjadi juara satu, tapi menjadi juara favorit tetaplah menjadi kebahagiaan yang luar biasa bagi Arrida dan kawan-kawannya sekelas. Mereka membuat satu tumpeng untuk dilombakan dan yang lainnya diletakkan di kotak nasi, sehingga bisa dibagikan satu-satu kepada anak-anak sekelas. Kini mereka sedang menikmati tumpeng bersama dengan Bu Ina wali kelasnya.


Arrida membuka chat di aplikasi hijaunya ketika hendak membuka nasi kotaknya.


Kak Uwais: "Minta tumpengnya,"


Saya: "Ish, kan punya sendiri, emang kelas kakak gak ada?"


Kak Uwais: "Pengen makan tumpeng juara favorit,"


Saya: "Bukannya kelas kakak dapet juara dua ya?"


Kak Uwais: "Udah ... Cepetan ... laper nih, ditunggu dalam dua menit di gazebo deket perpus,"


Saya: "Kalo gak mau? I**ni lagi makan bareng-bareng ma bu Ina,"


Kak Uwais: "Aku ke kelas manggil kamu,"


"Assalamualaikum," suara yang tak asing lagi di telinga Arrida.


"Wa'alaikumsalam," jawab yang ada di kelas hampir bersamaan. Menoleh ke arah suara di pintu kelas. Suara Uwais mengucap salam.


Bu Ina memberi isyarat agar Uwais masuk. Arrida menepuk keningnya. Ia tidak menyangka ternyata Uwais benar-benar ke kelasnya.


"Arrida ... ini Uwais ada perlu," kata bu Ina memanggil Arrida, setelah sebelumnya berbicara sebentar dengan Uwais


"Tapi Bu ...," Arrida sedikit protes, dia menunjukkan sendok yang sudah ada nasinya, memberitahukan bahwa dia sedang makan.


"Ya udah, kamu bisa lanjutin nanti makannya, atau bawa aja sekalian,"


"Gak papa ni, Bu?"


Bu Ina mengangguk membolehkan.


🌼


Mereka kini di gazebo dekat perpustakaan.


"Kakak emang nekat ya ...." Arrida menggerutu.


"Kan, aku udah bilang, kalo kamu gak datang, aku akan ke kelasmu,"


"Ish, bikin malu tau gak,"


"Gak lah ... kan gak buat salah,"


"Jadi apa yang kakak bilang hingga Bu Ina mengijinkan?"


"Minta gel pereda nyeri yang kamu bawa kemarin di ransel kecil, dicari gak ada, jadi aku bilang aja, karna kamu yang pakai, biar kamu yang cari,"


"Memang kakak butuh buat apa?" tanya Arrida. Dia memang ingat kalau gel pereda nyeri, kemarin dia pakai untuk mengolesi betis anak SD yang kram. Dan seingatnya, setelah dipakai dia simpan kembali ke dalam tasnya

__ADS_1


"Ini," Uwais menunjuk kakinya yang di perban. "Udah saatnya dilepas, kan?"


"Aish ... Kakak kan bisa sendiri," kata Arrida sambil mengetuk kaki Uwais yang diperban.


"Kamu kan dokternya, aku cuma mau dirawat ma kamu,"


"Lebay,"Arrida menyipitkan matanya.


"Haha gak usah gitu natapnya ... horor," canda Uwais. Padahal dia paling suka dengan tatapan Arrida yang seperti ini. Sangat menggemaskan.


"Ntar kalau perban ini udah dilepas nanti diolesi pakai gel pereda nyeri, ya," pinta Uwais.


"Kakak emang pinter cari alasan,"


Uwais nyengir.


"Eh, mana tumpeng favoritnya?" tanya Uwais mulai fokus pada keinginannya makan tumpeng.


"Hah, ini juga, cuma mau makan tumpeng aja, ribet banget, padahal sama aja kan rasanya, bahkan punya kelasnya kakak yang lebih baik, juara dua, kan," Arrida membuka kotak nasinya.


Uwais tertawa kecil.


"Sini biar aku makan," Uwais menarik kotak nasi dari tangan Arrida.


"Tapi, itu udah aku makan,"


"Gak papa," kata Uwais sambil memandangi nasi yang ada dalam kotak.


"Kenapa kak, kok cuma dilihatin?" tanya Arrida heran.


"Pantesan gak juara menghias tumpeng, ala kadarnya kayak gini," komentarnya sambil menyendokkan nasi yang ada dihadapannya itu.


"Hish ... gak usah ngehina makanan ... pamali ... makan mah makan aja,"


"Bukan menghina makanan Ar, tapi ngeledek yang gak bisa ngehias tumpengnya, Bismillah ...." kata Uwais sambil menyuapkan nasi tersebut ke dalam mulutnya.


"Hmhh," Arrida manyun sambil memicingkan matanya.


"Waw, rasanya luar biasa ini, enak banget, pantesan jadi juara favorit," Uwais kembali menyuapkan nasinya.


"Makanya jangan cuma lihat penampilannya doang,"


"Iya iya," Uwais benar-benar menikmati makanannya.


Arrida hanya meliriknya. Jujur, dia juga lapar.


"Kamu ingin makan juga ya,"


Arrida mengangguk.


"Nih," kata Uwais menyerahkan kotak nasi tumpeng miliknya.


"Ini punya Kakak?"


"Hmm," jawab Uwais tanpa menatap Arrida.


"Waw, tumpengnya cantik," komentar Arrida setelah membuka kotak nasinya. Nasi tumpeng bentuk love.


Uwais melirik sebentar, melihat ekspresi gadisnya itu. Sudut bibirnya terangkat. Tersenyum manis


"Cantik kan, makanya aku gak tega memakannya, lihat itu, aku keingetan kamu, jadi, aku kasihkan kamu aja," kata Uwais kemudian.


Arrida tersenyum lebar. Ia bahagia. Apa ini sama aja dengan pengungkapan perasaan? Entahlah ... yang jelas dia sangat menikmati momen ini.


"Makasih Kak, selamat makan ... Bismillah,"


...☺️🌸🌸🌸🌸🌸☺️...




__ADS_1



__ADS_2