
Arrida menatap dari kejauhan sosok cowok pujaannya itu. Saat ini dia sedang diatas balkon gedung kelas sepuluh lantai dua.
"Masih tampan kok Ar" ledek Nana. Saat mengikuti arah pandang Arrida. "Ga usah segitunya ngelihatin dia, mau dia jauh ataupun dekat tetep aja tampan, tak ada duanya"
Arrida tersenyum kecut.
"Bukan masalah tampan atau tidak Na... Tapi lihat tuh, kak Uwais masih selalu dekat dengan cewek" Hani bersuara
"Ooh gitu ya...kamu cemburu Da? mungkin bisa jadi bukan kak Uwais yang ngedeketin, tapi, cewek-cewek itulah yang ngedeketin kak Uwais."Sanggah Nana
"Mau cewek-cewek yang ngedeketin, atau kak Uwais yang ngedeketin, tetep aja mereka terlihat dekat, dan itu bukan hanya bikin cemburu, tapi bikin Arrida ragu sama perasaannya kak Uwais" Hani sedikit protes.
"Yaaa kan sama kayak Arrida Han... dia juga sama aja, suka deket ma cowok-cowok, mungkin itu juga bikin kak Uwais ragu ma Arrida" Sanggah Nana lagi.
"Ya sudah gimana nanti aja lah" kata Arrida seperti menyerah
"Mau nunggu kak Uwais nembak?" tanya Nana menyindir.
"Mungkin dia cuma seneng dekat ma kamu aja, tanpa pengen mengikat kamu Da" Kata Hani memberi kesimpulan.
"Atau mungkin dia masih belum yakin sama perasaannya, atau mungkin dia masih ingin membebaskan Arrida" celetuk Nana.
"Yaaa berbagai kemungkinan bisa terjadi... Biarlah...
mungkin memang aku hanya akan jadi pluto" kata Arrida lesu
"Pluto?" Kata Nana dan Hani bersamaan. Mereka bingung.
"Maksudnya apa Da?" Nana tak mengerti.
"Nggak... gak papa... lupakan" Arrida tak ingin menjelaskan.
Nana dan Hani hanya saling menatap sambil mengedikkan bahu mereka.
"Eh Da, daripada nyesel, gimana kalau kamu ungkapin perasaan kamu aja duluan" Nana memberi ide
"Apa Na???" Arrida tak percaya kalau Nana memberikan ide seperti itu. Menurutnya, walalupun sekarang sudah gak zamannya harus laki-laki yang mengungkapkan perasaannya, namun bagi dirinya, laki-laki lah yang harus mengungkapkan perasaannya pada si gadis, itu baru romantis.
"Hee gak papa lagi Da, jaman sekarang kan sah-sah saja" kata Nana cuek.
"Boleh juga tuh... gak buruk juga ide Nana, Da" Hani menimpali
"Gak... gak... gak mau... Kalau ditolak kayak yang lainnya gimana?Atau kayak Erfi itu?"
"Ya udah, berarti kita akan tau bagaimana perasaan kak Uwais ma kamu.... Andai kata kamu diterima berarti dia memang suka sama kamu, tapi kalau dia nolak kamu, itu tandanya kamu harus move on dari dia, selesai.... dan gak usah ngarepin dia lagi" jelas Hani mantap
__ADS_1
"Iya Da, bener tuh... jadi kita kan gak penasaran... dan lagi...gak mungkin juga kan kamu bakal ngelakuin kayak yang Erfi lakuin?" Nana menambahi
"Ah ide kalian bikin aku merinding" Kata Arrida sambil mengusap kedua lengannya.
"Oh ... Ayolah, cuma ngungkapin ... selesai!" kata Hani enteng.
"Iya Da, dua hari lagi kak Uwais Ujian Akhir, dia mau lulus... masa kamu gak mau tau perasaan kak Uwais yang sebenarnya?"
"Tapi apa iya akan terjawab dengan aku ngungkapin?" Arrida meragu
"Who's know?" Kata Hani sambil mengedikkan bahunya
"Daripada nyesel, Da" Nana menambahi
"Maksudnya?"Arrida tak mengerti.
"Dia pergi sebelum tau isi hati kamu" kata Nana sambil memegang pundak Arrida
"Harusnya... kak Uwais yang melakukannya" Arrida protes
"Tapi dia tidak melakukannya sampai detik ini" kata Hani.
"Gimana kalau kalian yang nanya ma kak Uwais?" Arrida memberi usul
"Kamu yakin kalau kita nanya, kak Uwais akan jujur dengan perasaannya?"
Nana dan Hani tersenyum, mereka seperti saling memberikan sebuah isyarat dengan mata mereka dan kedua alis mereka yang terangkat.
🌼
Uwais menatap sendu gadis kesayangannya dari kejauhan. Tepatnya di bawah pohon yang terletak di ujung lapangan. Gadis itu terlihat sedang asyik bercanda dengan Arfan di depan kelasnya. Ada sesuatu yang membuat perasaannya tak karuan.
"Kenapa Bro...cemburu?" Roni menepuk pundak Uwais dari belakang.
"Hei"Uwais melirik Roni yang langsung duduk di sebelahnya
"Lagi ngelihatin Arrida kan?"tanya Roni sambil mengikuti arah pandang Uwais.
Uwais hanya menarik nafas panjang. Memberi jawaban 'ya' hanya dengan tarikan nafas
"Kalian gak ada niatan buat hubungan lebih lanjut?" Tanya Roni gemas
"Maksud lo pacaran?"
"Iya lah, gue lihat Arrida juga suka sama elo, Wais"
__ADS_1
"Entahlah... dia juga masih suka deket ma cowok lain"
"Apa bedanya ma elo ...Lo juga masih suka deket ma cewek-cewek"
"Gue nggak....mereka yang ngedeketin"
"Mungkin Arrida juga sama... cowok-cowok itulah yang ngedeketin Arrida.... Memangnya dia ga boleh ya berteman dengan cowok-cowok? hanya berteman tidak lebih....Lo bukan orang yang posesif kan?" tanya Roni penuh penekanan.
Uwais menoleh sambil menarik nafas panjang. Sebenarnya ia mengiyakan apa yang dikatakan oleh Roni namun ia merasa ragu jika Arrida tidak memiliki perasaan yang sama dengannya, belum lagi usia Arrida masih belum genap tujuh belas tahun.
"Sebentar lagi kita udah Ujian Akhir kelulusan.... Lo mau biarin gitu aja perasaan lo?"
"Gue takut Ron"
"Takut kenapa?"
"Takut gak bisa ngebahagiain dia, apalagi bentar lagi kita berpisah, apa iya jarak gak akan jadi masalah buat kita?"
"Ah, iya....prinsip lo itu kan ya.. Yang ingin mencintai satu orang untuk selamanya, yang bisa lo jaga seumur hidup lo" Roni berkomentar. Ia ingat prinsip Uwais yang hanya ingin mencintai satu orang dan menjaga satu cinta itu seumur hidupnya.
Sekali lagi Uwais menarik nafas dalam-dalam.
"Gue gak tau caranya memulai sebuah hubungan kayak orang lain Ron... Bayangan gue dari dulu, kalo sudah menemukan orang yang tepat gue akan ngelamar ke orang tuanya dan menikahinya"
Roni memahaminya. Ia tau benar bagaimana sikap Uwais. Mereka bersahabat semenjak SD dan selalu satu sekolah baik di SMP hingga SMA. Di saat dia dan teman-temannya sudah mengenal cinta pertama di SMP, Uwais sama sekali tidak terpengaruh bahkan sampai kemarin kelas sebelas pun Uwais sama sekali tidak pernah memiliki perasaan lebih pada teman perempuan.
Dan baru kali inilah Uwais merasakan 'rasa' itu.
"Terlalu cepat rasanya gue ngerasain perasaan ini... bayangan gue, perasaan ini hadir kalo udah kelar kuliah, udah kerja, baru bertemu cewek yang klik, jadi bisa langsung lamar n nikah...kalo udah kayak gini, gue harus jaga perasaan ini lama banget, apa mungkin pasangan gue bisa menunggu?"
"Tunggu Wais... emang lo yakin Arrida akan menjadi satu-satunya?"
Uwais memejamkan matanya.
"Emang lo yakin lo ga bakal ketemu cewek lain yang mungkin lebih bisa bikin hati lo klik? siapa tau, Arrida hanyalah cinta pertama lo aja... dan lo tau kan...cinta pertama biasanya gak akan berhasil " Tanya Roni penuh rasa penasaran.
"Gue gak pernah ngerasain kayak gini, tapi gue akan menjaga perasaan ini... gue yakin dengan Arrida Latifatunnisa...."
"Terus kenapa lo gak nyatakan perasaan lo aja ke dia, biar kalian bisa saling menjaga"
"Gue gak tau perasaan dia sampai mana... andai kata kita akhirnya memiliki hubungan, gue ragu apakah dia bisa menunggu?? "
"Kenapa gak dicoba? kita tidak pernah tau kan kalau belum mencobanya... Soal hasil, gimana nanti... semoga saja Tuhan menjadikan dia sebagai cinta pertama dan terakhir buat lo"
Uwais tersenyum melirik Roni. Entah apa yang kini ada di benaknya....
__ADS_1
...🌸🌸🌸🌸🌸...