Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
27. Siapa suruh kakak ganteng


__ADS_3

Tak lama kemudian Fariz kembali ke kamar rawat Erfiana bersama Uwais dan kedua orang tuanya. Uwais memang seharusnya banyak beristirahat, namun dengan keadaan yang terpaksa dia bersama orang tuanya menemui ibunya Mike di kamar rawat Erfiana dengan maksud mengklarifikasi persoalan yang sedang dihadapi.


Fariz, Uwais dan kedua orang tuanya sudah berada di kamar rawat Erfiana, terlihat Arrida sedang duduk disamping ibunya Mike di kursi dekat tempat tidur pasien, sementara Mike, tengah duduk di atas tempat tidur di sisi Erfiana.


Ayahnya Uwais akhirnya duduk di sofa yang ada di sudut ruangan itu, diikuti Fariz dan Uwais. Wajah Mike masih menunjukkan sikap tidak bersahabatnya. Wajah tampannya menghilang karena aura negatif yang dia keluarkan akibat emosinya apalagi ketika melihat Uwais.


Tapi tidak dengan Uwais, wajah tampan dan kalemnya, tertangkap jelas oleh pandangan ibunya Mike. Sehingga ibunya menyadari kenapa anak gadisnya itu begitu menyukai anak muda yang duduk di dekat ayahnya itu. Walaupun sebenarnya wajahnya terlihat agak kacau karena pipinya terlihat bengkak akibat pukulan yang diberikan oleh Mike.


Bu Tania menghampiri ibunya Mike sambil melihat keadaan Erfiana.


"Maaf Nyonya ...." Hanya itu yang disampaikan oleh bu Tania. Dia mengusap pelan pundak ibunya Mike.


"Rachel ... bu Rachel," kata ibunya Mike memperkenalkan diri. Tangannya terulur mengusap pelan punggung tangan bu Tania di pundaknya.


"Saya benar-benar tidak tau, kalau anak saya yang menyebabkan putri anda seperti ini," ujar bu Tania turut prihatin dengan kondisi Erfiana.


"Bukan salah anak anda, tapi putri sayalah yang tidak mampu mengendalikan dirinya,"


"Saya minta maaf, Tan ... Saya tidak tau akan berakibat seperti ini," kini Uwais yang menghampiri bu Rachel.


"Tapi jujur saya memang tidak bisa membalas Erfi, saya juga sama sekali tidak pernah memberikan harapan apapun padanya," kata Uwais meyakinkan.


Uwais ingat betul sebelum hari puncak penolakan cintanya, gadis yang terbaring lemah itu, pernah memberikan surat berisi pernyataan cinta kepadanya sebanyak tiga kali. Namun semuanya tidak direspon olehnya. Sampai akhirnya gadis itu mengungkapkan perasaannya melalui chat di aplikasi hijau.


{"Kak Uwais jangan ragu lagi sama perasaanku ... Semenjak aku ditolong kamu, aku hanya ingin menjadikanmu bagian dari hidupku, gak ada yang lain, please ... **J**angan tolak aku ... I love you❤}


Kira-kira seperti itu lah kata kata yang ada di chat. Namun masih juga diabaikannya.


Uwais memang tidak suka menanggapi segala macam bentuk pernyataan cinta yang diberikan para gadis di sekolah kepadanya. Dan dia bukan tipe orang yang suka menulis surat balasan, atau membalas chat para gadis yang menyatakan cintanya. Dia lebih memilih untuk tidak mau ambil pusing, karena dia selalu menerapkan "batasan sikapnya" atau "menjaga jarak" kepada para gadis. Baginya, dengan batasan yang dilakukannya itu sudah bisa menjawab bahwa dia menolak cinta para gadis tersebut. Dan sudah seharusnya para gadis itu mengerti dengan sendirinya.


Dia memang tidak ingin menolak langsung para gadis yang menyatakan cinta kepadanya, karena akan terlihat sangat memalukan dan merendahkan si gadis. Dan menurutnya itu akan sangat menyakiti perasaan si gadis. Jadi lebih baik dia bersikap biasa, seakan-akan para gadis itu tidak pernah menyatakan cintanya. Toh dia memang tidak pernah tebar pesona apalagi memberikan harapan palsu. Kecuali memang jika para gadis itu sudah bertindak berlebihan, barulah dia memberikan sikap yang tegas.


Seperti yang Erfiana lakukan. Puncaknya lima hari yang lalu. Setelah berkali-kali dia menyatakan perasaannya melalui chat, akhirnya Uwais pun menjawabnya dengan sangat ramah untuk pertama kalinya.


"Maaf, saya tidak bisa membalas perasaanmu, tetaplah menjadi gadis yang baik, rajinlah belajar ya,"


Ternyata balasan chat seperti itu tidak lantas membuat Erfiana jera, hingga dia pun menelepon Uwais. Dan bertanya kenapa dia tidak bisa menerima cintanya dan apa syarat yang harus dipenuhi untuk bisa menjadi pacar Uwais.


Itu pertanyaan bodoh menurut Uwais. Maka diapun tidak terlalu menggubrisnya.

__ADS_1


**flashback on**


"Halo," sapa Uwais sesaat setelah jam sekolah usai, ia tau yang menelepon adalah Erfiana.


"Kak, *kenapa sih, aku ditolak mulu? Emang kurangnya aku apa? Aku cantik, aku kaya, aku juga pintar? Syarat apa yang harus aku penuhi untuk menjadi pacar k*amu?" tanya Erfiana sambil merengek.


"Gak ada Erfi, aku memang gak mau pacaran,"


"Okke, kalo gitu aku akan tunggu sampai kakak siap,"


"Gak usah, aku tidak bisa menyukai kamu,"


"Kakak dimana sekarang?"


" Mau apa kamu?"


Tapi telepon ditutup. Ternyata Erfiana sudah berada tak jauh dari hadapan Uwais. Dia didepan pintu kelasnya Uwais. Erfiana segera masuk ke dalamnya. Di ruang kelas itu hanya tinggal Uwais dan Roni, semua teman sekelasnya telah meninggalkan ruang kelas tersebut.


Tatapan Uwais melengos. Ia menarik nafas panjang. Ia benar-benar tak habis pikir terhadap gadis ini. Roni sedikit terkekeh. Dia tahu apa yang terjadi antara Uwais dan Erfiana. Si Fans gila.


"Kak!" panggil Erfiana.


"Ada apa lagi???" tanya Uwais penuh penekanan


Uwais dan Roni terkejut mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Erfiana. Lari dari tanggung jawab?


Memangnya apa yang sudah dilakukannya?


"Eh, apa maksudmu? Lari dari tanggung jawab? Memang saya sudah ngapain kamu?" tanya Uwais mulai meninggi.


"Sudah bikin aku jatuh cinta sama kakak, se- jatuh-jatuhnya,"


Uwais hanya menggelengkan kepalanya.


"Siapa suruh kakak nolongin aku waktu aku mau ketabrak,"


"Lho, siapapun akan saya tolong,"


"Tapi bagi aku itu spesial, siapa suruh kakak ganteng,"

__ADS_1


Uwais dan Roni saling pandang. Mereka benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran gadis yang ada di hadapan mereka.


"Maksud kamu apa?" Roni kini yang bertanya.


"Iyya, jadi aku kan ga pernah bisa tidur nyenyak, wajah ganteng kak Uwais bikin aku gak bisa move on, hati aku selalu merasakan sakit yang tak karuan, sakit karena jatuh cinta, karena ingin jadi pacar kak Uwais," jelas Erfiana.


"Gila!" gumam Uwais yang masih bisa terdengar oleh Erfiana dan Roni.


"Iya Kak, aku memang gila, sangat tergila-gila sama Kakak, ayolah Kak, obati rasa sakit ini, jangan tolak aku,"


"Udah aku bilang kan, aku tidak menyukaimu, maaf," kata Uwais sambil sengaja menekan kata maaf.


"Belajar lah untuk menyukaiku Kak, cinta datang karna terbiasa,"


"Jangan maksa Erfiana!"


"Cinta butuh paksaan,kan,"


"Tapi kamu gak bisa maksa aku,"


"Aku gak mau tau, pokoknya kakak harus jadi pacar aku!" ucap Erfiana tegas. Entah ada dorongan dari mana, salah satu tangannya terulur menarik kerah baju Uwais, ia hendak mencium bibir Uwais.


Tapi tertahan. Telapak tangan Uwais menghalanginya. Lalu mendorong pelan kepala Erfiana agar menjauh dari wajahnya.


Roni yang sempat bengong melihat kejadian itu, segera menarik Erfiana agar benar-benar menjauh dari Uwais.


"Jangan bersikap rendahan, kamu gadis baik-baik, jangan malah bikin saya makin jadi gak respect sama kamu!!!"


"Kamu akan menyesal Kak udah nolak aku!" Erfiana sudah terlepas dari tarikannya Roni.


"Bukan akan menyesal, tapi saya sudah menyesal karna udah nolongin kamu waktu itu, sangat menyesal, paham!!" kata Uwais sangat tegas.


"Kamu gak bisa giniin aku Kak, dan kamu jangan munafik, kamu suka cewek seksi, kan? Aku juga bisa Kak, aku akan buktikan kalo kakak pasti mau sama aku!" kata Erfiana sambil membuka kancing bajunya lalu melangkah mendekati Uwais.


Uwais dan Roni mulai merinding, mereka malah merasa ngeri sendiri melihat kenekatan gadis yang sepertinya sudah tidak punya rasa malu lagi. Mereka menelan salivanya susah payah. Uwais menarik nafas panjangnya dengan sangat berat, dia sempat tercekat ketika Erfiana sudah tepat dihadapannya.


Kancing baju seragam Erfiana sudah dilepas hingga bawah. Namun sebelum dia benar-benar membuka bajunya dan memperlihatkan tubuhnya, tangan Uwais sudah lebih dulu terulur menahannya. Perlahan dia memasang kembali kancing baju seragam Erfiana. Wajahnya begitu tenang. Bahkan gadis itu hanya diam mematung. Sementara Roni masih saja tegang menyaksikan tontonannya saat ini.


"Jangan seperti ini, kamu gadis baik-baik, tetaplah menjadi kebanggaan orang tuamu ya," kata Uwais sangat lembut sampai Erfiana terpaku tidak mampu mengatakan sepatah kata pun. Hanya perasaannya yang saat ini tidak karuan. Apalagi saat Uwais mengatakan kata orang tua, ia langsung teringat mommy dan daddy nya. Kini yang ada tinggallah rasa malu dan penyesalan.

__ADS_1


**flashback off**


...🌸🌸🌸🌸🌸...


__ADS_2