Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
135. Merasakan cinta


__ADS_3

Uwais menghentikan langkah kakinya ketika dia tiba di depan rumahnya. Ia menatap dengan perasaan yang tidak dapat digambarkan jelas oleh kata-kata.


"Turunkan aku, Kak!" perintah Arrida, dan Uwais pun menurunkannya.


"Makasih, ya!" ucap Arrida.


Uwais mengangguk.


"Apa Kakak ingat sesuatu?" tanya Arrida pada Uwais.


"Tidak, hanya hatiku saja yang merasa tidak asing,"


"Ayo kita ke dalam, ketemu mamah," ajak Arrida.


Uwais mengekori langkah Arrida untuk masuk ke rumah.


🌼


"Alhamdulillah, kalian pulang," sapa bu Tania. Dia baru saja selesai memasak dengan ala kadarnya bahan yang ada. Hanya mie goreng dan telur ceplok, itu pun dari pemberian bantuan. Keadaan rumahnya sudah lebih bersih walaupun masih belum rapi.


"Iya, Mah!" kata Arrida sambil mencium punggung tangan bu Tania.


"Gimana kabarmu, Nak?" tanya bu Tania pada Uwais sesaat setelah ia mendekapnya. Ia juga sempat menghapus air mata yang mengalir di pipinya.


"Lebih baik, Mah, kata dokter, kondisi tubuhnya sudah bagus, soal ingatan, kalo ada apa-apa bisa dikonsultasikan! Di rumah lebih baik, siapa tau kak Uwais bisa cepet inget!" jelas Arrida.


Bu Tania mengangguk.


"Bunda mana, Mah?"


"Bunda pulang dua hari yang lalu,"


"Tapi kan disana gak ada siapa-siapa!"


"Bunda dapet kabar kalo Adnan ditemukan,"


"Bener, Mah? Alhamdulillah, bang Adnan hidup, kan, Mah?"


"Iya, tapi terluka parah, Hani juga hidup tapi dia keguguran,"


"Allohu Akbar!"


"Iya, bundamu gak sempet ngabari kamu, dua hari yang lalu, mamah nganterin pulang, buat bantu beres-beres rumah, trus dapet kabar dari tetangga, kalo Adnan dan Hani ditemukan, di tempat yang berbeda,"


"Oh, ya Alloh ... Makasih," ucap Arrida lalu sujud syukur.


"Nenek ...." panggil seorang anak kecil, ia berteriak sambil menangis.


Ketiganya menoleh ke arah sumber suara, dari dalam kamar.


"Siapa, Mah?" tanya Arrida.


"Aulia, dia ditemukan sama ustadz Dzikri, ustadz yang hadir di rumah sakit saat kalian menikah," kata bu Tania lalu bergegas menuju kamar. Disusul kemudian Arrida dan Uwais di belakangnya.


"Alhamdulillah," kata Arrida, dia sempat memandang Uwais.Lalu membelai kepala Aulia yang berada dalam gendongan bu Tania.


"Lalu bagaimana mbak Rara, mas Fariz dan Tsania?" tanya Arrida.


"Belum ditemukan, mamah juga gak tau apakah mereka hidup atau nggak! Mamah berharap, mereka ditemukan, walaupun sudah meninggal, biar bisa dimakamkan di samping papah," jawab bu Tania terisak.


"Omais ...." panggil Aulia pada Uwais. Kedua tangannya terulur minta digendong.


"Dia manggil kamu, Kak," kata Arrida.


Setelah menatap Arrida sebentar, ia pun menggendong keponakan kecilnya itu.


"Padahal, dia nangis terus lho, gak mau sama orang lain, mamah jadi gak bisa ngapa-ngapain,"

__ADS_1


"Wah, tapi ni dia mau, Mah, digendong Kakak," ujar Arrida.


"Ya udah, biar dede ini sama saya saja!" kata Uwais dengan bahasa formal.


Bu Tania melirik Arrida dan tersenyum.


"Nak, ini Mamah, ini ponakan kamu Aulia, kamu dari dulu selalu bareng ponakan kembarmu, mereka dekat denganmu, gak usah kaku, santailah, nanti juga lama-lama ingat, ga usah canggung!" kata bu Tania. Arrida dan bu Tania tertawa kecil.


Akhirnya Uwais pun bermain bersama Aulia, sementara Arrida dan bu Tania merapihkan rumah.


"Assalamu'alaikum,"


Tiba-tiba terdengar orang yang mengucapkan salam dari arah ruang tamu.


"Wa'alaikumsalam," jawab Arrida segera berlari ke ruang depan.


"Ya Alloh, mas Fariz!! " pekik Arrida melihat kedatangan Fariz, dia berjalan menggunakan kruk (tongkat ketiak), masih ada perban di tangan kanan dan kepalanya.


"Mamaaah, mas Fariz, Mah!" teriak Arrida sambil memapah Fariz menuju ruang belakang.


Bu Tania menuju sumber suara, begitupun Uwais yang ikut berlari sambil menggendong Aulia.


Pertemuan penuh haru pun terjadi. Fariz segera mendekap bu Tania. Kemudian, ia mengambil alih Aulia dari tangan Uwais, menciumi putri kecilnya itu berkali-kali.


"Gimana kabarmu, Dek?" tanya Fariz sambil menepuk pundak dan mengacak rambut Uwais.


Uwais hanya mengangguk dan tersenyum canggung. Fariz bingung, karena Uwais hanya memandangnya dengan tatapan datar.


"Mas, kak Uwais hilang ingatan," jelas Arrida.


"Ya Alloh, Lahaula wala quwwata illa billah!!" ucap Fariz.


"Ini mas Fariz abangnya Kakak, papahnya Aulia!" ujar Arrida.


Uwais mengangguk.


"Rara dan Tsania gimana, Riz, apa kamu tau kabarnya?" tanya bu Tania.


"Papah sudah dimakamkan?" tanya Fariz.


"Iya, papah ditemukan oleh Arrida, jasad papah dalam gendongan Uwais!" jawab bu Tania.


Fariz memejamkan matanya. Ia ingat, terakhir kali bertemu Uwais, adalah saat memandikan jenazah ayahnya.


"Ayah Arrida juga meninggal, mereka dimakamkan berdampingan," jelas bu Tania.


"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un," ucap Fariz sambil mengusap pundak Arrida.


Setelah Dzuhur, mereka ke makam pak Ridwan dan pak Arthur.


🌼


"Minum obat sudah, sekarang kakak tidur ya, sudah malam," kata Arrida pada Uwais malam itu. Mereka baru saja masuk kamar dengan penerangan darurat hanya sebuah lilin.


"Kamu tidur disini kan?" tanya Uwais sambil duduk di sisi ranjang.


"Mm," Arrida sedikit berpikir. Ia meletakkan lilin di atas nakas.


"Katanya kamu istriku,"


"Iya, baiklah, hanya tidur!"


"Memangnya apa? Apa ada yang harus kita lakukan selain tidur?" tanya Uwais bingung.


"Wah kaaccau nih, memangnya apa yang Kakak pikirkan? Akankah kita melakukan sesuatu?" tanya Arrida sedikit menggoda.


"Bercerita! Ceritakan semua yang tidak ku ingat! Papah, gempa, tsunami, dan pernikahan kita!"

__ADS_1


Arrida tersenyum, ia pun duduk di samping Uwais.


"Males ah,"


"Kenapa?"


"Percuma, ntar kalo udah bangun kakak akan melupakan kejadian hari ini,"


"Maaf, tapi saat ini aku bener-bener ingin tau!"


"Ya udah, sambil tiduran ya!"


Uwais mengangguk.


Hening. Sesaat setelah mereka membaringkan tubuh mereka. Keduanya hanya menatap langit-langit kamar yang memang tidak begitu jelas karena gelap. Ada sesuatu yang mereka rasakan. Canggung namun menyenangkan. Getaran halus dan indah hadir dalam hati keduanya, seperti orang yang baru pertama kali jatuh cinta.


"Kakak tau, ini pertama kalinya kita tidur bareng!" ujar Arrida.


"Benarkah?" tanya Uwais sambil memiringkan tubuhnya kemudian menatap Arrida.


"Iya, bener," kata Arrida ikut memiringkan tubuhnya menghadap Uwais.


"Memangnya udah berapa lama kita menikah?" tanya Uwais.


"Sepuluh hari,"


"Kenapa kita bisa menikah?"


"Karena papah kritis, dan ingin lihat kakak menikah,"


Arrida pun menceritakan yang sebenarnya mulai dari pernikahan, hingga kejadian gempa tsunami kemudian ditemukannya Uwais, pak Ridwan, pak Arthur oleh Arrida.


"Aku gak nyangka, ternyata inilah maksud dari perasaan ku yang tidak karuan saat melepas kepergian kakak di bandara!" kata Arrida menutup ceritanya.


"Maaf telah membuatmu susah dan sedih!" ucap Uwais sambil memegang tangan Arrida.


"Tak apa, Kak, tidak pernah ada yang menghendaki bencana seperti ini,"


"Apa kamu sangat merindukanku saat kita berpisah?" tanya Uwais. Tangannya terulur mengusap lembut pipi Arrida.


"Tentu! Tapi sayang yang dirindukan, tak ingat sama sekali!" kata Arrida sambil membiarkan pipinya disentuh oleh Uwais.


"Maaf, aku memang tidak ingat, tapi aku merasakan yang indah di sini! Aku merasa nyaman bersama kamu!" tegasnya.


"Benarkah, Kak?" tanya Arrida. Ia juga ikut mengusap pipi Uwais.


Uwais mengangguk pasti.


"Ah Kak, aku bersyukur, bahkan saat hilang ingatan pun kakak masih merasakan cinta untukku, meskipun kakak tidak ingat aku ataupun kisah kita,"


"Makasih, Kak," ucap Arrida sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Uwais, hingga keningnya menempel di bibir Uwais. Uwais pun tak menolak, ia bahkan sengaja mencium kening istrinya itu penuh perasaan dan kelembutan. Kemudian mendekapnya.


Arrida merasakan haru, ia pun membalas dekapan Uwais dan menangis di dada bidang miliknya. Kemudian dengan nyamannya dia tertidur dalam pelukan suaminya itu. Ia tidak peduli jika besok bangun tidur Uwais akan melupakan kejadian malam ini.


...🌸🌸🌸🌸🌸...


SELAMAT BERPUASA KAK READERS... 1 RAMADHAN 1434H /3 APRIL 2022 AHAD. MAAF LAHIR BATIN YA 😘😘😘


...Makasih kakak readers...


...Makasih udah setia mampir n baca kisah Arrida dan Uwais sampai sejauh ini...


...Makasih atas dukungannya, like, vote, comment dan favoritnya...


...Sehat selalu ya kakak readers...


...Hatiku Padamu Kak readers pake banget......

__ADS_1


...Semoga kak readers tetap suka dan terhibur yaaa...


...πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ˜πŸ˜πŸ˜...


__ADS_2