Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
109. kerinduan


__ADS_3

"Kenapa kakak gak berusaha mempertahankan hubungan ini?"


Uwais tersenyum geli dan lucu. Lihatlah, gadis kesayangannya ini sedang merajuk, benar-benar menggemaskan. Sebelumnya dialah yang keukeuh ingin mengakhiri hubungan, dan dia juga sangat yakin akan menerima perjodohannya, tapi kini, dia sendiri yang meminta agar lelakinya berusaha untuk mempertahankan hubungannya.


"Bukannya tadi kamu yang ingin mengakhiri hubungan kita? Tapi kenapa sekarang kamu yang marah ketika aku menyerahkan semuanya."


"Karena itu bikin aku sakit hati, ternyata bener, selama ini kakak emang gak pernah mencintai aku, bahkan ketika aku akan dijodohkan pun, Kakak menerimanya begitu saja, tanpa ingin memperjuangkan aku, aku benar-benar kecewa ma kakak." Arrida mulai kembali terisak.


"Kenapa aku harus mempertahankan, sementara orang yang aku perjuangkan pun memilih orang lain? Bukankah itu hal yang percuma?"


"Ternyata kakak emang bener-bener egois, sama aja, tiga tahun bersama juga gak ada artinya, kakak sama sekali tidak melakukan sesuatu untuk mempertahankan aku,"


"Kalau aku mempertahankan kamu, apa kamu mau nolak perjodohan itu?"


"Tergantung! Kita lihat usaha kakak!"


"Jadi hubungan kita gak berakhir kan? Kamu ngasih kesempatan buat aku?" tanya Uwais penuh selidik.


Skakmat. Arrida mematung. Dia bimbang dengan perasaannya. Dia sendiri bingung, akankah berakhir atau berlanjut? Jika berlanjut, berarti dia menerima begitu saja sikap Uwais selama ini yang tidak menganggapnya sebagai pacar sekalipun.


"Kenapa? Masih ragu?" tanya Uwais.


Arrida masih terdiam. Ia menatap wajah tampan lelaki pujaannya itu. Ah, rasa rindu itu semakin menggebu, dan jauh dalam lubuk hatinya, dia benar-benar tidak ingin mengakhiri hubungannya. Ia masih ingin selalu bersama dengannya.


"Trus, status ku apa?" tanya Arrida.


"Calon istriku!"


"Hah?" Arrida menutup mulutnya, ia bahagia.


"Kenapa? Atau kamu mau jadi pacarku aja, status yang sama kayak sahabat-sahabatmu dengan pacar-pacarnya itu?"


"Apa boleh keduanya?"tanya Arrida lagi.


Uwais terkekeh kecil.


"Gimana kalo ketiganya?" saran Uwais.


"Hm, apa?" Arrida bingung. "Apa opsi yang ketiga?"


"Jadi istriku aja! Biar halal!"


Arrida tersipu, seperti ada bunga-bunga yang berwarna-warni bermekaran di sekitarnya, saat ini ia benar-benar bahagia. Ah, cepat sekali hatinya luluh.


"Mau nggak, hm?"


Wajah Arrida merona, ada kehangatan menjalar di seluruh tubuhnya sehingga menyebabkan warna wajahnya merah muda.


"Mau, tapi ga pengen sekarang-sekarang," ucap Arrida malu-malu.

__ADS_1


Uwais tersenyum. Ia menarik tubuh mungil gadis itu kemudian memeluknya sangat erat. Kali ini Arrida membalas pelukan itu dengan mengeratkan dekapan dan membenamkan kepalanya di dada bidang milik Uwais, sambil menikmati aroma parfum dari tubuh Uwais.


"Aku sangat merindukanmu, Ar." bisik Uwais di telinga Arrida.


Arrida hanya menganggukkan kepalanya di dada Uwais.


"Maaf ya, karna udah bikin kamu gak nyaman selama tiga tahun ini dengan status hubungan kita. Tapi percayalah, kalo aku sangat serius sama kamu, dan aku gak mau kehilangan kamu, Ar!"


"Jadi selama ini Kakak nganggap aku apa?"tanya Arrida. Ia menjauhkan kepalanya dari dada Uwais. Namun kedua tangannya masih memegang kedua lengan Uwais.


"Masa depan ku, tujuan hidupku, calon istriku!"


"Banarkah? Lalu kenapa waktu sore itu kakak bilang sama mbak Laura kalo aku bukanlah pacar kakak?"


Uwais mengeryitkan keningnya, matanya menatap penuh selidik. Otaknya mengingat kejadian bersama Laura terakhir kalinya, yaitu enam hari yang lalu, tepat saat gadisnya itu menghindarinya.


"Sore itu aku mendengar semuanya, sampai saat mbak Laura nanya kakak, apakah aku pacar kakak atau bukan? Lalu kakak jawab bukan!"


Uwais tersenyum.


"Lalu apalagi yang kamu dengar?"


"Udah sampe situ aja, bukannya terus kakak juga pergi ninggalin mbak Laura? Saat itu, aku langsung pergi, aku bener-bener sakit hati, aku gak mau ketemu kakak, aku sebel ma kakak!"


"Ooooh, jadi karna ini, trus kamu menghindariku?" tanya Uwais sambil tertawa kecil.


"Gadis nakal!" kata Uwais sambil menyubit lembut hidung Arrida.


"Ish!" Arrida menepis tangan Uwais dari hidungnya.


"Makanya, jangan dulu pergi,"


"Kan kakak udah mau pergi, aku kira pembicaraan kalian udah selesai."


"Setelah itu, dia ngejar aku, lalu dia nanya, kalo bukan pacar kenapa kita bisa deket banget."


Arrida mendengarkan dengan seksama.


"Lalu?" tanya Arrida kemudian.


"Lalu aku jawab, karna kamu calon istriku! Dan, kamu tau, selama tiga tahun ini aku memang tidak pernah menganggap kamu sebagai pacar, tapi sebagai calon istriku,"


Arrida kembali mendekap Uwais. Ia merasa terharu dan sangat bahagia.


"Maafin aku, Kak, maaf ... aku yang menyebabkan kita salah paham"


"Hmm." jawab Uwais sambil mengusap rambut Arrida yang sudah basah terkena gerimis.


"Kakak pasti sakit hati ya!"

__ADS_1


"Hmm"


"Maaf!"


"Gak papa, kamu juga merasakan sakit yang sama kan?"


"Hu-um, ternyata aku gak bisa jauh dari kakak"


"Dan aku gak bisa hidup tanpa kamu, Ar, aku rapuh." Uwais semakin mengeratkan dekapannya, hatinya merasakan kembali perasaan selama enam hari kemarin. Dari sudut matanya mengalir cairan bening.


"Jangan pernah ninggalin aku ya, Ar."


"Kakak juga,"


"Aku sayang kamu, Ar."


"Aku juga sayang kakak."


"Aku yang sangat menyayangimu, Arrida-ku."


Mereka masih saling mendekap, melepaskan segala kerinduan dan rasa cinta yang membuncah di hati keduanya, menghangatkan kembali jiwa yang sempat membeku dan terpuruk. Gerimis pergi dalam hitungan detik dan langit pun perlahan kembali cerah.


Arrida melepaskan dekapannya, ia menatap wajah tampan lelaki pujaannya dengan penuh rasa cinta. Ia merasa sangat beruntung dan bersyukur bisa memilikinya.


"Kenapa kamu natap aku seperti itu?"


"Kakak ganteng." jawab Arrida dengan polosnya.


"Hahaha," Uwais tertawa kecil "Kamu cantik, Arrida-ku"


"Aku kangen Kakak enam hari ini"


"Aku yang lebih merindukan kamu, aku yang sangat sangat merindukan kamu, Ar."


...🌸🌸🌸🌸🌸...


...Makasih kakak readers...


...Makasih udah setia mampir n baca kisah Arrida dan Uwais sampai sejauh ini...


...Makasih atas dukungannya, like, favorit n kommentnya...


...Sehat selalu ya kakak readers...


...Hatiku Padamu Kak readers pake banget......


...Semoga kak readers tetap suka dan terhibur yaaa...


...πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ˜πŸ˜πŸ˜...

__ADS_1


__ADS_2